sulaiman's Site, Jak Piyoh

sulaiman's posts with tag: siiiit...

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag siiiit...
Blog EntryFenomena Akhir PekanMay 10, '06 3:56 AM
for everyone

RUNONG PANEUK KEU KAYEE MANYANG

Oleh: Sulaiman Tripa (Penulis)

 

AKHIR-akhir ini, ada sesuatu yang menggelisahkan Polem Suman, seorang pemilik lampoih mamplam di Gampong Baroh. Pohon mamplam, semakin hari semakin tinggi. Apalagi di gampong itu, pohon maplam berusia puluhan tahun. Para pemetik boh mamplam sudah kewalahan ketika masa panen tiba.

Ya, sejak awal 2005, Gampong Baroh sudah panen mamplam besar-besaran. Mamplam di gampong itu bukan mamplam Taiwan yang pohonnya tiga meter kuto. Paling-paling yang ada satu-dua pohon semisal mamplam golek, tapi itu harus dipanjat bila tingginya berdupa-dupa.

Sejak awal masa panen, banyak para mugee yang masuk ke gampong. Sedikitnya ada sekitar 420 mugee gampong, plus sekitar 102 mugee kuta. Ke-622 mugee itu, sama-sama membawa mamplam ke 44 toke di kota. Selama masa panen, hanya 44 toke di kota yang menampung hasil panen. Jumlah toke, sebenarnya sangat banyak. Tapi yang menampung mamplam orang gampong hanya sejumlah itu.

Dari 44 toke, masih ada juga yang di atasnya, namanya toke rayek, yang berjumlah sekitar 6-8 pihak. Merekalah yang menampung segala hasil panen mamplam dari berbagai gampong. Tak hanya dari Gampong Baroh.

Bagaimana pun, keberadaan toke rayek sangat menentukan penentuan harga di gampong. Hanya toke rayek yang berhak menekan sampai ke pemilik lampoih mamplam sekalipun. Sementara para mugee gampong dan mugee kuta, termasuk toke, hanya menjalankan pola jual-beli berdasarkan kebijaksanaan toke rayek.

Entah karena takut karena sudah banyak kemudahan yang diberikan, maka orang-orang yang berperan sebagai mugee dan toke, tak mungkin berbeda dari kebijaksaan itu. Akhirnya, orang memiliki lampoih mamplam (sebagai orang yang jauh dari segala akses) juga akan memilih menerima saja.

Memang ada sedikit gejolak yang menuntut toke rayek lebih arif. Tapi itu disampaikan lewat mugee dan toke. Sementara mereka tidak mungkin menyampaikannya ke toke rayek. Bila seperti itu, biasanya kebijakan yang diambil adalah pemberian kredit baru yang lunak dari mugee. Bila masih belum tuntas juga, akan ditambah dengan sedikit hibah.

Gejolak itu timbul karena masalah runong yang paneuk, yang membuat pemilik lampoih tak bisa memanenkan hasil mamplamnya. Ini masalah sederhana sebenarnya. Di mana dengan memikirkan bagaimana menyambung runong, masalahnya menjadi selesai. Tapi itu tidak dibantu pikir oleh toke. Sedangkan orang gampong sudah tidak bisa menemukan lagi gagasannya tentang menyambung itu.

Orang gampong juga sudah tidak mampu berpikir alternatif: selain runong, masih purieh dan reungkeut yang akhir-akhir sudah jarang digunakan. Inilah masalah-masalah yang tidak dibantu pikirkan solusi oleh toke, sehingga bagi orang gampong, ketidaan itu menjadikan panen mereka tak bermakna karena tidak bisa dipetik.

Sebuah lampoih mamplam yang tidak langsung dipetik ketika boh mamplam sudah matang, maka dapat dipastikan para rombongan lhoeng akan memakannya. Pola makan mereka memang berbeda. Seekor lhoeng hanya memakan sedikit boh mamplam. Seperti ingin menikmati rasanya. Sehabis itu, boh mamplam yang sudah cacat itu dijatuhkan ke tanah. Jelas boh mamplam yang jatuh itu tidak bisa dikumpul untuk dijual. Itu jelas tidak mungkin, selain membawa pulang ke rumah untuk dikupas dan diambil bagian yang tidak dimakan lhoeng untuk dimakan keluarga pemilik lampoih.

Dengan adanya lhoeng juga akan membantu para kameng dan biri yang menunggu jatuh ke tanah. Mereka akan memakannya juga, walau itu sisa lhoeng pajoh. Sepeninggal mereka, masih ada sebangsa makhluk yang kecil seperti sidom dan ulat. Tapi seberapa besar sih para sidom dan ulat bisa menghabiskan itu?

Ini memang tidak besar. Tapi itulah ketergantungan kehidupan yang satu sama lain memang saling membutuhkan.

Dalam konteks kehidupan manusia, proses kehidupan seperti itu menjadi penanda diterimanya secara rasional sebuah tesa usang filsuf Yunani, Aristotoles yang mengatakan bahwa manusia sebagai makhluk sosial.

Dari segi memaknai eksistensi, keberadaan tesa Aristotoles tidak ada masalah. Tapi di luar masalah rasional dan eksistensi manusia, akan melahirkan perdebatan yang rumit (walau itu tak berarti antitesa), terutama menyangkut, siapa dan mengapa harus makhluk sosial itu?

Untuk mencari solusi lewat proses dialektika yang rasional, tentu, masalah yang perlu dituntaskan adalah menyangkut sebuah pertanyaan sederhana: apa sih sosial? Kemudian baru bisa akan melahirkan berbagai lainnya seperti: mengapa, bagaimana, kapan, yang mana?

Tulisan ini sama sekali untuk membedah makhluk sosial dan sosial itu sendiri, namun kegelisahan Polem Suman di Gampong Baroh menggambarkan kepada kita, bahwa memang banyak hal dalam kenyataan yang belum selesai yang bisa saja dijadikan perdebatan makhluk sosial sebagai perbandingannya.

Seperti halnya masalah lampoih mamplam adalah masalah yang sederhana. Siapa saja petani akan mampu menjaga dan merawatnya. Tapi persoalan menjadi tidak sederhana ketika mereka sama sekali tidak memiliki runong, atau bisa jadi mereka memiliki runong, namun runong paneuk.

Walaupun tinggi pohon mamplam sudah berdupa-dupa, menurut saya, sebenarnya ada sebuah konsep yang walaupun tidak sangat efektif, yakni ta sambong runong. Tapi yang terlihat, di Gampong Baroh sepertinya bukan itu masalahnya. Orang-orang gampong, di satu pihak seperti tak mampu lagi berpikir cerdas, bahwa sebuah runong memang bisa disambong. Di pihak lain, para toke tidak mau membantunya, minimal memfasilitasi semua itu agar orang gampong bisa berfikir kembali: sebuah runong bisa disambong.

Tapi ternyata para toke sedang menawarkan produk penemuan baru yang memang harus laku di seluruh donya: katakan saja mamplam Taiwan yang otomatis membutuhkan metode baru, cara perawatan baru, sampai pola memetik buahnya.

Penggantian ini, akan menghidupkan berbagai lingkaran. Tersedianya lapangan kerja bagi tenaga yang mempunyai skill untuk membumikan metode baru. Di samping itu juga, akan tertampung berbagai buku dan laku berbagai tenaga pertanian tentang cara perawatannya, serta otomatis, terpakainya pengetahuan pola memetik buah.

Intinya, masalah runong paneuk tidak hanya persoalan hubungan (katakanlah sosial dan ekonomi) saja antara pemilik lampoih dan toke rayek melalui mugee gampong dan mugee kuta. Masalah ini juga berkait dengan keberadaan semuanya, walau seungguhnya, yang paling untung adalah toke rayek.

Saya kira, melihat antara siapa yang untung dengan siapa yang menerima manfaat, itu harus dilihat dalam lingkup yang berbeda, walau itu masih tetap dalam konteks yang sama.

Saya kira hanya dengan cara itu yang bisa menghilangkan kegelisahan pemilik lampoih mamplam di gampong semisal Polem Suman.[]


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design - Copyright © 2005 sonnenvogel.com All rights reserved.