Rabu, 28 Maret 2007, 02:46 WIB BUKU Bingkai Desa untuk Anak Kita Reporter : Adi Warsidi
SEBUAH cerita anak dalam keseharian desa yang sudah damai. Saat meunasah kembali ramai, saat kebun-kebun mulai digarap lagi. Tapi, ada sungai yang keruh, ada sawah yang kering. Sulaiman Tripa menuliskan untuk anak-anak kita, sarat petuah, adat dan budaya.
Judul : Meunasah di Gampong Kamoe Penulis : Sulaiman Tripa Penyunting : Mohd. Harun Al Rasyid Penerbit : Lapena Institute, Banda Aceh, Desember 2006 Tebal : 44 halaman
Bisakah membuai anak-anak kita dengan bacaan yang menyatu bersama alamnya? Tentang budaya dan desa-desanya? Bagaimana meunasah (tempat ibadah), sungai, sawah, laut, dan gunungnya? Tidak lagi dengan buku dari dunia lain, dari dimensi lain, yang hanya akan membuat mereka durhaka pada adatnya...
Bisa saja... Sulaiman Tripa menulis untuk anak-anak kita. Tentang sebuah Aceh yang diambil dari dunia anak di pedesaan. Penulis menyajikannya dengan ringan, mudah dipahami anak dengan bantuan ilustrasi yang tepat.
Buku yang khusus untuk pembaca sekolah dasar ini penuh nasihat dan pelajaran untuk bahan renungan. Ada sajian pemahaman tentang budaya dan adat Aceh, tentang pengajian desa, tentang dunia bermain anak-anak yang semakin jarang dijumpai di kota. Bahasanya cerdas, tak menggurui dalam dialog-dialognya, alurnya berjalan tanpa paksaan.
Cerita mengalir dari meunasah, membingkai keseharian hidup Saman sebagai tokoh utama. Suasana dicangkok dalam keseharian sebuah desa di Kecamatan Pante Raja, Kabupaten Pidie. Saman hidup lazimnya anak desa, akrab dengan permainan kelereng, Tak-tak galah, mandi sungai dan sepak bola.
Di luar itu mereka patuh pada kebiasaan di desa, mengaji di meunasah sepulang sekolah. Jauh dari permainan game atau play station. “Nyak Saman harus cepat-cepat ke meunasah, jak beud (pergi mengaji). Sekolah saja tidak cukup,” kata mak mengingatkan. Sebuah dialog dalam buku yang sarat pelajaran.
Bukan hanya itu; ada juga kisah tentang keceriaan anak saat khanduri blang (kenduri sawah) tiba. Tentang aktivitas di sekolah yang jauh dari intrik-intrik. Semuanya ditulis penuh nasihat dalam alur-alurnya. Bagian ini misalnya;
‘... Aku tak mau mendapatkan bantuan, karena aku bukan korban tsunami. Lagi pula kata Abu, aku tak boleh menerimanya karena sumbangan itu untuk mereka yang kena tsunami. “Jangan bilang kena tsunami bila tak kena, nanti kita kena bencana,” ujar Abu mengingatkan...’
Begitulah Sulaiman menuliskan untuk anak kita. Tentang kehidupan yang polos tanpa dosa dan tak ada kepandaian menipu orang. Tapi kadang anak-anak itu kerap tak kita hiraukan keberadaannya, sampai merenggut paksa tempatnya bercengkrama. Lihatlah sungai-sungai yang airnya keruh, yang dangkal bila kemarau dan banjir bila hujan. Melambungkan angan-angan si Saman pada sungai dulu yang jernih.
Anak-anak bukan dibuai dengan kisahnya, tapi juga akan paham bagaimana melihat alam, memahami Aceh dalam budayanya. Dan yang penting tak durhaka pada Abu dan Ummi-nya, pada tanah lahirnya. [A] |