sulaiman's Site, Jak Piyoh

sulaiman's posts with tag: porno

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag porno
ReviewReviewReviewPornoDec 22, '06 3:54 AM
for everyone
Category:Other
NEGERI PORNO
> > > Sulaiman Tripa

NEGERI ini, sudah menjadi negeri porno. Para pelaku porno seperti berlomba-lomba mendokumentasikan kisah pornonya. Ada orang-orang terhormat, juga ada orang-orang yang belum atau tidak terhormat.
Ironisnya, perilaku porno itu tak tak hanya dilakukan oleh orang-orang dewasa. Orang-orang yang masih berbau kencur juga tak kalah banyaknya. Belum habis kasus YZ (anggota DPR RI yang akhirnya mengundurkan diri) dan ME (penyanyi dangdut lokal), dan seorang oknum petinggi daerah di Kalimantan, tiba-tiba muncul Di (seorang pegawai magang di Pemerintah Bekasi) dengan berbagai pose syurnya. Foto yang diperankan Di, menggenapi beredernya foto-foto syur yang berseragam pegawai, di Jogjakarta, Surabaya, dan Malang beberapa tahun lalu.
Beberapa adegan porno yang terekam lalu beredar itu, merupakan sebagian kecil dari berbagai rekaman yang muncul di Indonesia. Di Bandung pernah muncul Bandung Lautan Asmara yang diperankan oleh dua mahasiswa. Begitu juga di Medan, Cianjur, dan Jakarta.
Yang disayangkan ternyata dari beberapa rekaman, ternyata diperankan oleh anak-anak yang baru gede (ABG). Cukup banyak foto-foto syur yang diperankan oleh mereka yang masih berseragam sekolah.
Untuk pemburu dokumentasi porno, berita-berita tentang adanya kisah terbaru yang dipublikasikan, segera diincar dengan berbagai cara. Pusat-pusat penjual VCD porno di Jakarta, misalnya, sepertinya selalu menemukan sesuatu yang baru untuk dijual kepada pembeli.
Semua perkembangan di negara kita, tentu saja sudah menggelisahkan. Proyeksi jual-beli hasil rekaman juga masih menjadi bisnis yang sepertinya menguntungkan, makanya itu berlangsung terus walau di berbagai daerah terancam dengan berbagai aturan negara.
Lihatlah bagaimana para remaja Indonesia mendokumentasikan kisah persetubuhannya dan ada orang yang mendapatkan dokumen itu, lalu didistribusikan kepada publik yang juga (sebagian) seperti haus kebutuhan ini.
Para remaja kita, terlihat seperti enjoy. Mungkin, karena perkembangan dunia yang begitu pesat teknologinya. Dulu, untuk menonton sebuah film harus menunggu artis memproduksi kasetnya berkeping-keping. Tapi kini, dengan kehadiran berbagai bentuk handycam (besar dan kecil) dan handphone, sangat mudah mendokumentasikan keseharian kita.
Hadirnya berbagai alat teknologi dengan komunikasi dengan persediaan berbagai fasilitas, juga memudahkan banyak orang mendokumentasikan berbagai hal. Dan itu dapat dilakukan di mana saja dengan biaya repodruksi yang sangat murah dan mudah. Bila memiliki personal computer, bisa langsung dikopi ke kepingan compact disk (CD) dan itu bisa diperbanyak hingga berkeping-keping.
Hal ini, kemudian menggambarkan sebuah alat teknologi selalu memiliki dua sisi yang sangat berdekatan: positif dan negatif. Handycam dapat digunakan untuk mendokumentasikan ceramah agama. Handycam juga dapat dipergunakan untuk mendokumentasikan kisah-kisah porno. Handphone bisa digunakan untuk berkomunikasi hal-hal yang baik, tapi bisa juga digunakan untuk hal-hal buruk; tergantung manusianya.
Di Jakarta, dokumentasi itu sangat mudah ditemukan. Di mana-mana, berbagai tempat menyuguhkan kepingan-kepingan CD porno, baik secara sembunyi-sembunyi, maupun terang-terangan.
Tempat yang paling besar menjual CD-CD porno adalah di Glodok. Kawasan ini sudah terkenal sebagai tempat penjualan VCD porno terbesar di Jakarta. Di sana orang seperti tak perlu malu-malu lagi karena orang lain juga datang ke sana tidak malu-malu. Orang-orang membeli berkeping-keping. Penjual membungkusnya dalam plastik pembungkus dan diserahkan dengan tidak malu-malu.
Mungkin, kenyataan seperti sudah mengharuskan kita untuk menanyakan; ada apa dengan negeri kita?
Apalagi ada kenyataan lain, bahwa televisi sepertinya juga cenderung menjadi saluran porno akhir-akhir ini. Sinetron-sinetron selalu bermaterikan tiga nilai: kekerasan, kemewahan, dan keseronokan perilaku remaja di dalamnya.
Ironisnya, hal itu seperti tidak bisa dibendung. Seluruh televisi yang bisa kita tonton dari bumi Aceh, tak terhindar dari kenyataan itu. Dalam sehari semalam, sebuah televisi menghabiskan 18 sampai 20 jam untuk hiburan. Lantas dimana waktu untuk agama, pendidikan, dan informasi yang diklaim juga merupakan bagian dari tujuan hadirnya televisi?
Fenomena negeri porno harus diakhiri. Caranya, negara harus memberi tekanan terhadap para pelaku yang berpotensi merusak moral generasi muda dan tua.
Memang masih ada masalah, yang mana yang dikatakan porno? Sepertinya ini sangat mudah untuk dijawab. Saya cenderung seperti yang diungkapkan Taufiq Ismail, bahwa porno, ketika kita akan malu terhadap apa-apa yang seharusnya memang harus ada malu untuk dinampakkan.
Ukuran masyarakat kota seperti Jakarta, tentu tidak bisa dijadikan alat ukur bagi daerah. Banyak hal yang di Jakarta misalnya, bukan lagi masalah, tapi di daerah-daerah masih menjadi masalah.
Khusus untuk televisi, sepertinya harus ada pressure kolektif kepada pengelola televisi yang terkesan mengejar segala sesuatu dengan keuntungan semata. Sudah saatnya mereka diingatkan bahwa televisi bukan hanya masalah untung atau rugi, tapi termasuk masalah masa depan sebuah bangsa. Dan saya kira, masa depan ini harus diselamatkan!


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design - Copyright © 2005 sonnenvogel.com All rights reserved.