LUBANG
Sulaiman Tripa
TIBA-tiba, saya teringat lubang. Di beberapa persimpangan jalan di Banda Aceh, saya lihat sudah ada lubang yang dibuat oleh pihak-pihak yang mengurusi telepon, air bersih dan listrik. Padahal jalan itu, baru saja diperbaiki. Jalan itu sebenarnya sudah lumayan bagus.
Suasana ini, sesungguhnya lebih tepat disebut dilubangi, ketimbang hanya disebut sebagai lubang semata. Lubang adalah penanda, sedangkan dilubangi adalah pekerjaan yang membuat penanda.
Kehidupan di Kota Banda Aceh, kita sering dihadapkan dengan lubang karena dilubangi. Kalau kasusnya jalan, biasanya pelakunya tersebutlah perusahaan telepon, perusahaan listrik, dan perusahaan air bersih. Mereka seperti berlomba-lomba untuk membuat lubang.
Sangat sering kita menyaksikan keadaan jalan yang sudah baik, tiba-tiba sudah berlubang kembali. Ironisnya, setelah pekerjaan itu selesai, kerap dibiarkan dengan menutup lubang itu seadanya.
Bayangkan betapa besar potensi kecelakaan di jalan raya, hanya gara-gara lubang. Dan, kita seolah tak bisa menuntut siapa pun untuk bertanggung jawab, termasuk pihak-pihak yang membuat lubang yang seharusnya bertanggung jawab.
Ini pula yang memperlihatkan betapa pelayanan publik di jalan raya yang kita dapatkan ternyata sangat tidak seimbang dengan pajak yang kita bayar, katakanlah pajak kendaraan yang setiap tahun kita bayar.
Jadi dengan satu lubang saja, sudah berimplikasi kepada penghargaan terhadap pelayanan. Itu menjadi satu konsekuensi dari keberadaan lubang yang seharusnya telah dipikirkan oleh pihak-pihak yang bertanggung jawab.
Dengan satu lubang, ternyata beralir seperti air ke proses yang lebih dalam (jauh). Sebuah lubang, ternyata bisa membuka banyak lubang-lubang selanjutnya dalam konteks yang lain. Tentu, sebuah lubang, tanpa pekerjaan berupa dilubangi, adalah omong kosong.
Nah, dengan lubang di jalan ada potensi untuk dibuatkan lubang-lubang yang baru. Ini memang akan mengikuti konteks.
Dalam hal koordinasi, Pemerintah di Banda Aceh. Seharusnya, pihak-pihak yang menangani telepon, listrik atau air bersih, bisa didudukkan oleh mereka yang berwenang untuk merencanakan pelubangan jalan.
Ada dua implikasi dari sana. Pertama, akan ada pahe, paket hemat. Semua anggaran bisa disatukan untuk direncanakan satu melubangi hanya satu lubang bersama-sama. Tapi ini menimbulkan konsekuensi, tidak akan banyak anggaran yang bisa digunakan. Orang yang terlibat tidak akan banyak, otomatis orang-orang yang akan mendapatkan honor juga sedikit. Bayangkan bila dilakukan masing-masing, berapa orang yang akan mendapat honor di masing-masing lembaga itu. Fenomena ini seharusnya sudah saatnya diubah agar tercapainya paket hemat. Dengan pahe, penggunaan anggaran bisa lebih efisien, juga kontrol atas penggunaan anggaran bisa dilakukan dengan rapi. Di samping itu, dengan satu lubang, akan mudah menutupnya dan tidak akan berulang-ulang. Jadi, hana jipeujeut-peujeut, dibuat-buat, kata orang Aceh.
Kedua, dengan begitu kita pemakai jalan raya tidak akan muak dengan pelubangan yang dilakukan itu. Pelubangan hanya dilakukan sekali dan dilakukan bersama-sama, pada sekali waktu, dan akan ditutup bersama-sama pula. Ini tidak akan memperlihatkan ada perulangan. Hari ini dibuka lubang untuk telepon, lalu setelah beberapa hari ditutup –walau dengan kurang rapi. Lalu besoknya, giliran pemasangan entah pipa air bersih, lalu terbiarkan beberapa hari, dan ditutup –biasanya juga kurang rapi. Tidak lama berselang, muncul lagi yang mengurusi listrik, membongkar lubang kembali untuk dimasukkan kabel listrik, setelah itu proses penutupan terhadap lubang-lubang juga sering tidak rapi.
Konsekuensi lubang akan sangat jauh, orang-orang yang terperosok ke dalam lubang bertambah banyak. Apalagi di lubang-lubang yang dilubangi itu, seringkali tak dibuat semacam tanda, semacam bendera merah atau bendera warna apa yang menandakan di sana ada bahaya.
Tahukan apa yang sering dikatakan orang yang terperosok ke lubang? Makian, dan itu sungguh menggelisahkan karena akan menambah catatan dosa, terutama orang yang memaki karena orang yang dimaki sama sekali tidak mendengar.
Bila musim hujan, lubang-lubang itu akan menjadi masalah baru bagi pengguna jalan. Mereka tidak akan bisa mengingat di mana letak lubang-lubang.
Saya cerita tentang lubang jalan. Bukan lubang yang lain. Walau saya akui, dengan lubang jalan, belum tentu tak membuat lubang-lubang yang lain. Namanya dilubangi.[]