sulaiman's Site, Jak Piyoh

sulaiman's posts with tag: kliping

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag kliping
Blog EntryPemenang Cerber FeminaJul 13, '07 1:06 AM
for everyone

Pengumuan Sayembara Cerber Femina

http://www.femina-online.com/event/event_detail.asp?id=67&views=33

                    

Dari 250 karya yang berpartisipasi dalam Sayembara Penulisan Cerber femina tahun 2006, akhirnya femina berhasil menentukan yang terbaik. Kami memang sengaja memperpanjang masa lomba, dengan maksud agar para peserta memiliki waktu lebih panjang untuk menciptakan karya terbaik. Penangguhan waktu itu memang tak sia-sia. Selain jumlah peserta meningkat, kualitasnya juga cukup menggembirakan.

 

Nilai nominal hadiah bagi para pemenang tahun ini istimewa. Karena pada lomba Cerber tahun 2005 tidak ada pemenang I dan II, maka hadiah untuk kedua peringkat tersebut diakumulasikan untuk para pemenang Sayembara Cerber femina tahun 2006, termasuk dengan menambah 1 (satu) pemenang penghargaan.

 

Kalau biasanya Pemenang I mendapatkan hadiah uang sejumlah Rp10.000.000, maka hadiah kali ini menjadi Rp12.000.000. Pemenang II yang biasanya mendapatkan hadiah uang sejumlah Rp8.000.000, kali ini berhak meraih Rp9.000.000. Hadiah Pemenang III yang seharusnya Rp5.000.000 kali ini mendapatkan Rp7.000.000.  Untuk pemenang penghargaan yang biasanya berjumlah 3 orang dengan hadiah @Rp3.000.000, maka kali ini kami memilih 4 pemenang penghargaan dengan hadiah @Rp5.000.000.

 

Untuk Sayembara Cerber femina selanjutnya, jumlah pemenang dan nominal hadiah akan dikembalikan lagi ke kondisi semula.

 

PENILAIAN UNTUK LOMBA MELIPUTI:

  Isi cerita (daya tarik dan kebaruan tema)

• Cara bertutur (lancar dan memikat)

• Logika dan jalan cerita

• Perwatakan dan pengembangannya dalam konflik cerita

• Bahasa (tertata baik dan enak dibaca)

 

DEWAN JURI:

• Marlini Hasan Pontoh (femina): Ketua

• Ayu Utami (penulis): Anggota

• Veronica Wahyuningkintarsih (femina): Anggota

• Tina Savitri (femina): Anggota

• Terry E.S. Endropoetro (femina): Anggota

 

PEMENANG I - Rp12.000.000

WAHYU SAYEKTI KINASIH, YOGYAKARTA

TANGGUL KALI BEDOG

 

PEMENANG II - Rp9.000.000

SOFIE DEWAYANI, ILLIONIS, AMERIKA SERIKAT

RAHASIA RAHASIA

 

PEMENANG III - Rp7.000.000

SULAIMAN TRIPA, BANDA ACEH

AKHIRNYA SENJA

 

4 PEMENANG PENGHARGAAN  - @ Rp5.000.000

• TAUFIQ SAPTOTO ROHADI, SUMEDANG

MAD MAN SHOW

 

• ASTRID PRIHATINI WD, SOLO

PERHENTIAN TERAKHIR

 

• LISA ANDRIYANA, JAKARTA

DARI TEPIAN SUNGAI MUSI

 

• ELVI FIANITA, TANGERANG

APHRODITE

 

Keputusan dewan juri Sayembara Cerber femina 2006 ini bersifat mengikat, tidak dapat diganggu gugat, dan tidak diadakan surat-menyurat.

 


Blog EntryMenulis BukuMay 31, '07 2:40 AM
for everyone

Lapena Tetapkan Enam Santri Aceh Menulis Buku
Ahad, 27 Mei 2007 08:06

Banda Aceh, NU Online
Lembaga penulis Aceh, Lapena, menetapkan enam dari 97 santri di seluruh Provinsi Aceh yang berhak mengikuti program pembinanaan dan penulisan buku tentang keagamaan.

Koordinator program pembinaan dan penulisan buku bagi santri dayah terpadu, Sulaiman Tripa, di Banda Aceh, Sabtu, mengatakan, sebelum menulis buku, keenam santri, yang terdiri dari tiga laki-laki dan tiga perempuan itu akan mengikuti workshop selama lima bulan.

Keenam santri tersebut adalah Zahrul Bawady (Dayah terpadu Bustanul Ulum Kota Langsa), Adhia Rizki Ananda (Dayah Jeumala Amal Lueng Putu), M. Maimun AR (Dayah Babun Najah, Ulee Kareng), Erlindawati, (Dayah Al-Muslimun Lhoksukon), Uun Auliaus Sakinah dan Raudhatul Jannah, keduanya dari Dayah Ruhul Islam Anak Bangsa Aceh Besar.

Ia menjelaskan, workshop itu sendiri akan melibatkan empat pakar yang sebelumnya terlibat dalam evaluasi. Materi-materi yang akan dipertajam antara lain penggunaan bahasa yang benar, pengorganisasian gagasan serta substansi dan pendalaman materi.

"Bagi peserta yang terpilih kita wajibkan mengikuti sejumlah agenda selama lima  bulan. Kepada mereka juga diberikan sejumlah fasiltas, seperti uang transport, honorarium selama tiga bulan, dan sebagainya. Mereka juga akan kita hadirkan saat peluncuran buku nanti," tutur Sulaiman.

Berbeda dengan dayah salafi (pesantren tradisional), minat menulis santri dari dayah terpadu dinilai cukup tinggi. Ini menjadi potensi tersendiri dalam pengembangan masa depan pendidikan Aceh.

Kegiatan itu sendiri merupakan hasil kerja sama dengan Satker bidang Agama BRR Aceh-Nias.

Pada tahun lalu, kata Sulaiman, Lapena telah melakukan kegiatan serupa, tapi terfokus pada santriwati dayah salafi. "Kegiatan tahun lalu itu telah menghasilkan sebuah buku yang ditulis enam  santriwati dayah salafi. Tahun ini kita coba garap penulisan buku dari santri dayah terpadu. Ternyata minatnya cukup tinggi," lanjut Sulaiman.

Ia menjelaskan, pihaknya menerima sebanyak 97 naskah yang dikirim santri dari 18 dayah terpadu se-Aceh.

Tahun lalu hanya menerima enam naskah. Pada tahun ini menerima sebanyak 97 naskah, sehingga perlu membentuk sebuah tim penilai khusus yang terdiri dari Dr. Mohd. Harun Al-Rasyid, Dr. Nurjannah Ismail, Tgk. Abdul Jabbar dan Fuad Mardhatillah.  

Setelah melakukan evaluasi selama dua minggu tim evaluasi tersebut menetapkan enam calon penulis tetap. "Enam orang inilah yang kita bina untuk melahirkan sebuah buku keagamaan pada tahun ini," ujar Sulaiman yang telah melahirkan sejumlah buku. (ant/sam)

http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=9307


Blog EntrySemarak Cerita Anak di AcehApr 9, '07 7:54 AM
for everyone
Senin, 26 Maret 2007

visi
Semarak Cerita Anak Aceh

Menerbitkan buku tidak hanya sekadar mencetak hasil karya para penulisnya, juga mengabarkan sesuatu yang diharapkan. Hal itu tersirat dari buku-buku yang diterbitkan di Aceh. Dari para penulis yang ada di Aceh ternyata mereka memiliki kepedulian pada anak-anak. Ini dibuktikan dengan hadirnya tiga buku cerita anak dari Lapena dan komunitas Tikar Pandan.

Kepedulian penulis akan masa depan anak-anak Aceh dituangkan dalam bentuk buku dengan kemasan yang menarik. Tidak dimungkiri adanya dana bantuan pada ongkos cetak ikut membuat buku tersebut patut dilirik selain karena isinya yang juga baik.

Tikar Pandan mengangkat tema cerita rakyat Aceh yang ditulis ulang oleh Azahari dan Agus Nur Amal dalam tiga bahasa, Indonesia, Perancis, dan Aceh. Judul Manusia Bersarung Kodok diambil dari salah satu cerita dalam buku yang dikemas cukup menarik.

Sesuai visi awal Tikar Pandan yang ingin mengangkat entitas lokal Aceh, cerita tersebut cukup mewakili khazanah lokal yang patut diberi apresiasi. Dengan demikian diharapkan anak-anak Aceh akan mengingat dongeng petuah dari leluhur mereka yang kini terdokumentasi.

Ini mengingat Aceh terkenal dengan kesenian Didong, cara mendongeng secara lisan, yang kemungkinan akan hilang ketika masyarakatnya tidak tertarik lagi. Namun, jika tercetak dalam buku akan selalu dibaca dan diingat orang bahwa Aceh memiliki dongeng rakyat seperti juga wilayah Indonesia lainnya.

Lain halnya dengan Lapena yang telah menerbitkan dua buku cerita anak karya Sulaiman Tripa dan Herman RN. Kisah keseharian anak-anak Aceh sangat menarik untuk disimak, mengingatkan orang tua akan kehidupan masa kecil mereka. Dan bagi anak-anak Aceh, keceriaan dalam buku dapat mewarnai kehidupan mereka sekaligus melatih anak-anak agar lebih dekat pada buku.

Yang paling menarik adalah buku Indahnya Nikmat Tuhan karya Herman NR, telah membuktikan bahwa Aceh memiliki penulis cerita anak yang cukup andal. Herman pandai bercerita dalam bukunya dan cukup mewakili pikiran serta dunia anak-anak.

Dalam hal ini Herman mampu membuktikan bahwa dia tidak hanya pandai menjadi penutur (tukang cerita) di Institut Tukang Cerita PMTOH Tikar Pandan. Tetapi, dia juga mampu menuturkan kisah dalam bentuk tulisan dengan baik.

(umi/Litbang Kompas)

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0703/26/teropong/3410218.htm


Blog EntryWajah Baru Aceh Penuh BukuApr 9, '07 7:08 AM
for everyone

Teropong, Senin, 26 Maret 2007

pascatsunami
Wajah Baru Aceh, Penuh Buku Baru

Umi Kulsum

Nanggroe Aceh Darussalam, pascatsunami 2004, tampaknya mulai menata hidup baru. Berbagai perubahan terjadi pada masyarakat di ujung barat Indonesia tersebut, termasuk perkembangan dunia literatur di wilayah ini.

Memang, wajah baru Aceh tidak hanya pada struktur politik elite saja. Munculnya buku-buku karya penerbit lokal, kian mewarnai dunia penerbitan buku di Aceh.

Buku-buku yang muncul pun mencerminkan situasi kondusif Aceh yang makin terbuka dengan ide-ide pemikiran baru dan mempertegas akan eksistensi para penulis lokal dan para penerbit yang tetap tinggal di wilayah tersebut. Maklum, di masa lampau cukup banyak penulis dan pemikir Aceh yang memilih keluar dari Aceh demi alasan keamanan.

Kini, setelah situasi membaik muncullah penulis-penulis lokal yang karya-karya sebelumnya sudah cukup dikenal masyarakat Banda Aceh karena mereka sering mengisi halaman koran lokal. Nama seperti Sulaiman Tripa, Kemalawati, Helmi Hass, Fikar W Eda dikenal sebagai penyair dan penulis puisi, kumpulan puisi mereka kini telah diterbitkan menjadi buku.

Bahkan, kumpulan puisi Kemalawati, Surat dari Negeri Tak Bertuan pernah didiskusikan dan diluncurkan di Malaysia. Sebagian besar buku yang terbit pascatsunami merupakan kumpulan puisi, kumpulan esai, dan cerita pendek, seperti Ziarah Ombak, Menunggu Pagi Datang, Nyanyian Manusia, Sepuluh Cermin Merah, Meusyen, Rencong dan Kitab Mimpi. Sementara itu, buku yang merupakan satu cerita utuh hanya beberapa seperti Malam Memeluk Intan dan Indahnya Nikmat Tuhan.

Salman Yoga telah membuktikan dirinya sebagai novelis masa depan cerah melalui Tungku, sebuah novel yang mengisahkan kehidupan orang-orang di pedalaman Gayo yang terjepit dalam peperangan antara Gerakan Aceh Merdeka dan Tentara Nasional Indonesia.

Selain munculnya penerbit dan penulis lokal di Banda Aceh, berbagai buku-mengalir masuk Aceh dari berbagai sumber. Baik sumbangan dari lembaga asing yang bekerja di Aceh maupun dari lembaga lokal seperti Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi Aceh (BRR). Penyediaan buku bacaan untuk masyarakat Aceh merupakan salah satu program dari lembaga sementara di Aceh tersebut.

Menurut Risman A Rahman, Manajer Pendidikan dan Pengembangan Kebudayaan BRR, lembannya menyediakan dana sebesar Rp 630 juta untuk pengadaan buku bagi 40 taman bacaan yang dibangun BRR di Provinsi NAD tersebut. Untuk memenuhi kebutuhan buku yang mereka inginkan, BRR memesan dari penerbit dan penulis lokal termasuk membeli buku-buku dari luar Aceh.

Pembelian buku-buku dari luar Aceh juga sempat dialami oleh penerbit LKiS Yogyakarta ketika mempromosikan bukunya ke wilayah itu. Hal itu diungkapkan oleh Muhammad Saleh dari penerbit LKiS yang pernah membawa buku ke Aceh pascatsunami senilai Rp 12 juta ternyata habis dalam waktu singkat. Beberapa kalangan menilai masyarakat sangat haus hiburan, karena tsunami telah membawa pergi semua yang mereka miliki.

Merekam tsunami

Di sisi lain, terdorong oleh rasa haru dan peduli akan bencana tsunami, beberapa kalangan pun berupaya untuk merekam peristiwa itu menjadi dokumentasi sejarah Aceh. Hal itu dilakukan dengan menerbitkan buku-buku seputar tsunami di wilayah itu sebagai bentuk kepedulian kepada korban peristiwa itu.

Dan, tentu saja dalam semangat untuk membangun Aceh di masa depan dan mengajak korban bencana untuk menghadapi kehidupan mereka selanjutnya. Kelompok seperti Koordinator Bangkit Aceh dan Perhimpunan Jurnalis Indonesia, misalnya, merekam tsunami Aceh dalam bentuk puisi dan berita.

Dokumentasi peristiwa naas tersebut merekam berbagai kesaksian korban yang masih hidup mengabarkan kepada siapa pun yang membacanya, akan kengerian dan kedahsyatan bencana. Demikian pula puisi yang membuat orang mengingat betapa bencana kemanusiaan itu telah meluluhlantakkan sendi kehidupan kemanusiaan yang ada.

Suasana keamanan yang kondusif di Aceh pascatsunami juga telah melahirkan semangat beberapa komunitas yang telah melakukan gerakan kebudayaan—jauh sebelum bencana besar itu terjadi. Seperti yang dilakukan oleh Tikar Pandan, Lapena, dan Aliansi Sastrawan Aceh. Meski dengan latar belakang dan visi yang berbeda, namun berupaya memajukan masyarakat Aceh sebagai masyarakat demokratis.

Komunitas Tikar Pandan, misalnya, memfokuskan aktivitas mereka pada gerakan kebudayaan. Komunitas ini berbasis pada gerakan penguatan masyarakat yang kini berbasis pada penerbitan buku. Hal itu dilakukan mengingat selama ini masyarakat Aceh kesulitan untuk mengakses informasi dan memperoleh buku-buku yang bermutu. Oleh karena itu, dibentuklah divisi penerbitan dengan nama Aneuk Mulieng Publishing.

Sebagai sebuah gerakan, Tikar Pandan kerap membuat lomba menulis yang diwakili oleh salah satu divisi gerakan menulis yaitu Dokarim. Para pemenang yang hasil karyanya dianggap baik, diterbitkan oleh Tikar Pandan. Buku yang diterbitkan Tikar Pandan berupa kumpulan puisi, esai, bahkan sandiwara radio. Tetapi, fokus isi buku mereka adalah sesuatu yang mencerminkan Aceh, baik budaya maupun tradisi.

Sejak organisasi itu didirikan tahun 2002 mereka telah menerbitkan 10 judul. Hal ini pun sudah cukup berat bagi mereka karena kesulitan untuk mendapatkan naskah yang baik dari penulis lokal. Meskipun para pengurus Tikar Pandan rata-rata adalah penulis, tetapi mereka berkomitmen bahwa buku yang mereka terbitkan adalah dari penulis di luar pengurus lembaga itu. Sementara itu, jika pengurus Tikar Pandan menulis buku maka naskahnya akan mereka berikan pada penerbit lain.

Keinginan melakukan pembangunan mental spiritual pada masyarakat akibat bencana tsunami dilakukan oleh Lapena yang seluruh pengurusnya adalah penulis sastra. Untuk mewujudkan visi mereka, Lapena banyak melatih pelajar dan mahasiswa untuk menulis dan memberikan pendampingan kepada penulis pemula yang ingin membuat buku. Maka, salah satu bentuk aktivitas mereka adalah menerbitkan buku.

Keinginan menerbitkan buku juga didorong oleh rasa kepedulian pada sastrawan lokal di Aceh. Karena selama ini masyarakat Aceh mengenal penulis dan sastrawan dari luar Aceh, sebaliknya sastrawan lokal kurang dikenal.

Penerbitan buku di Lapena masih didominasi oleh penulis dari pengurus kelompok itu sendiri, karena mereka umumnya sastrawan. Berbagai naskah yang telah lama mereka tulis tetapi tidak pernah mereka terbitkan kini mereka cetak sendiri. Hingga kini Lapena telah menerbitkan 13 judul buku, yang sebagian besar adalah kumpulan puisi dan fiksi, baik cerpen maupun novel pendek.

Penerbitan buku juga dilakukan sebagai bentuk menghargai profesionalisme yang dilakukan oleh Doel CP Alisah dari Aliansi Sastrawan Aceh yang telah menerbitkan dua buku kumpulan puisinya pada tahun 2002. Dan baru-baru ini ASA masih menerbitkan Lagu Kelu, sebuah antologi puisi penyair Aceh, sebagai bentuk penghargaan terhadap karya para sastrawan dan penyair lokal.

Melihat penerbitan buku di Aceh tentu saja tidak dapat dibandingkan dengan wilayah lain apalagi Pulau Jawa. Sejarah penerbitan di Banda Aceh sendiri tidak pernah menonjol sebelum ini karena ketegangan konflik politik bersenjata di wilayah itu selama hampir 30 tahun.

Terbelit kendala

Penerbitan mereka masih berorientasi pada pembaca di Banda Aceh saja, mengingat untuk keluar Banda Aceh kondisi masih tidak memungkinkan. Maka, setiap judul buku hanya dicetak 1.000 eksemplar saja, dan itu pun belum ada yang dicetak ulang meski telah melampaui waktu satu tahun.

Sekalipun berbagai kendala dihadapi, semangat menerbitkan buku semakin membara. Seperti yang dilakukan oleh Lapena, yang menggunakan modal awal menerbitkan buku pertama berjudul Ziarah Ombak, yang berasal dari uang para pengurusnya. Sulaiman Tripa, salah seorang pengurus Lapena, mengungkapkan, mereka bertahan lantaran telah terbentuk kesepakatan bahwa keuntungan penjualan buku tidak akan dibagikan kepada perseorangan, tetapi untuk kelanjutan penerbitan.

Kesulitan modal juga diakui Reza Indria, salah seorang pengurus Tikar Pandan, bahwa untuk menerbitkan buku terkadang menggunakan modal dari kantong masing-masing. Terkadang jika komunitas itu memiliki sedikit keuntungan dari usaha yang lain, mereka akan gunakan untuk menerbitkan buku. Dari 10 judul buku yang telah diterbitkan Tikar Pandan, mereka belum memperoleh keuntungan sama sekali karena penjualan yang sangat lambat.

Dari semua persoalan yang dihadapi oleh masing-masing komunitas, semangat memulai sesuatu yang baru di Aceh patut mendapat apresiasi. Kendala modal yang biasanya menghalangi orang untuk melakukan kreativitas ternyata bukanlah penghalang bagi orang-orang yang memiliki visi membangun masyarakat.

 

 

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0703/26/teropong/3404133.htm


Blog EntryMasalah Lalu LintasMar 20, '07 3:17 AM
for everyone

SOAL LALU LINTAS, PENTINGNYA PERBAIKAN PERILAKU

> > > Sulaiman Tripa

(Harian Serambi Indonesia, 20 Maret 2007)

 

ADALAH sebuah kenyataan yang tak dapat ditampik, bertambahnya kendaraan turut menentukan kepadatan lalu lintas di Banda Aceh, sebagaimana diungkapkan Bukhari dalam tulisannya “Bagaimana Pengaturan Lalu Lintas di Banda Aceh?” (Serambi Indonesia, 5 Maret 2007).

Sebenarnya tak cuma Banda Aceh, tapi secara umum di Aceh, kepadatan itu sangat terasa. Kepadatan lalu lintas sangat terasa bila berjalan dari Banda Aceh sampai ke Medan. Kendaraan di jalan yang lalu-lalang tidak pernah putus. Jalan selalu ramai. Bahkan malam sekalipun.

Salah satu solusi yang ditawarkan Bukhari, adalah pembuatan (termasuk perbaikan) jalan, terutama jalan-jalan utama, termasuk membuat jalan-jalan alternatif yang membuka akses kepadatan dalam berlalu lintas.

Namun, dalam tulisan tersebut, tidak disebutkan sedikit pun, bahwa perilaku berkendaraan di jalan raya juga menjadi salah satu sebab juga sehingga terjadinya kemacetan di mana-mana. Bahkan kecelakaan sekali pun, dalam kenyataannya, tidak hanya persoalan jalan yang tidak bagus, tetapi juga perilaku pengendara di jalan raya, yang sebagiannya terlihat sangat jauh dari kesantunan.

Tidak disentuh tentang perilaku ini, bisa jadi karena bidang penulis lebih ke fisik. Bahkan bila melihat gelar penulis, langsung tergambar bahwa latar belakang penulis adalah seperti disebutkan. Namun itu juga penting untuk melihat di satu sisi, dan menjadi menarik untuk dilihat juga dari sisi yang lain.

Dengan alasan ingin menambah pikiran tersebut, saya tertarik membuat tulisan ini. Hal ini juga berkaitan dengan apa yang sering saya diskusikan di kampus, bahwa lahirnya banyak peraturan sekalipun, bila tidak diiringi dengan penyadaran, maka segala fasilitas menjadi kecil artinya.

Analogi lahirnya berbagai peraturan, menarik untuk melihat jalan raya. Hal ini bisa diuji, misalnya dengan sebuah pertanyaan: apakah dengan jalan yang bagus, akan menjamin segala ketertiban di jalan raya akan selesai? Jawabannya, belum tentu. Belum lagi misalnya masalah koordinasi yang belum diperlihatkan antar instansi sampai akhir-akhir ini. Semua badan jalan yang sudah dibuat, tiba-tiba sudah ada galian di kanan-kiri jalan untuk kepentingan yang lain, air bersih, telepon, listrik, dan sebagainya. Segala fasilitas itu juga penting bagi kebutuhan masyarakat. Masalahnya, mengapa perbaikan berbagai fasilitas itu tidak dilaksanakan sebelum perbaikan jalan dilakukan?

Kenyataan itu menjadi satu masalah tersendiri yang berpeluang memacetkan lalu lintas. Tumpukan pasir untuk perbaikan ditumpuk di badan jalan. Tanah-tanah hasil galian menyebabkan debu yang tidak sedikit.

Kembali ke persoalan awal, bahwa perilaku di jalan raya juga menentukan kemacetan di jalan raya terjadi. Intinya, menurut saya, jalan bagus belum tentu akan menjamin persoalan kemacetan akan selesai.

Persoalan perilaku, bisa dideteksi lewat beberapa hal berikut: Pertama, kecenderungan orang-orang yang menggunakan jalan raya untuk tidak mematuhi rambu-rambu lalu lintas. Ironisnya, penyakit ini tidak hanya menghinggap masyarakat, karena aparatur pemerintah sekalipun sering terlihat tidak mematuhi rambu lalu lintas.

Rambu lalu lintas, di traffic light, misalnya. Silahkan perhatikan di simpang yang tidak dijaga polisi lalu lintas. Sehingga iklan sebuah produk rokok, sangat kontekstual dengan kenyataan, “taat bila ada yang jaga, tanya kenapa?”

Pelanggaran traffic light tidak hanya terjadi di Banda Aceh. Kota Sigli, Bireun, sampai Lhokseumawe juga seperti itu saya lihat beberapa hari yang lalu. Sehingga pos polisi lalu lintas terlihat di segala sudut traffic light. Kalau di Banda Aceh, perhatikanlah, di depan Polresta sekalipun, masih ada yang melanggar traffic light.

Orang-orang yang melanggar, mungkin tidak pernah bertanya: untuk siapa sebenarnya keberadaan traffic light. Untuk orang-orang yang menjagakah?

Kesantunan di traffic light, sebenarnya dapat menjadi salah satu cermin bagaimana saling menghargai itu sudah pelan-pelan pergi dari jalan raya. Tidak mengikuti perintah traffic light, berarti hanya ingin menang sendiri, tidak ingin memberi kesempatan kepada orang lain dan itu, sebentuk egois.

Kedua, penggunaan jalan satu arah dan dua arah. Di Banda Aceh, ada beberapa titik yang bisa dibuktikan: Simpang Lamnyong (depan Pustaka), Depan Satlantas Lamteumeun, Depan Taman Budaya, Depan Kantor Gubernur, Simpang Prada. Semua tempat itu sudah lazim menggunakan jalan satu arah menjadi dua arah.

Di luar Banda Aceh juga terlihat. Di Sigli, sangat sering terlihat di depan Rumah Sakit Sigli dan bundaran menuju ke kota. Di Lhokseumawe, jalan Merdeka sangat rentan jalan satu arah digunakan menjadi dua arah.

Penggunaan kendaraan satu arah, harus menggunakan pandangannya ke dua arah. Ini juga menjadi penyebab kemacetan. Belum lagi terlihat perilaku pengendara yang angker bila ditegur. Bila terjadi kecelakaan, orang yang menggunakan jalan secara benar yang sering disalahkan. Ini sungguh sebagai fenomena salah minum obat yang menghinggap sebagian orang kita.

Ada satu masalah yang perlu dikaji dalam hal ini, barangkali, di banyak persimpangan, tepatkah haluan untuk memutar kendaraan yang sudah ada. Jangan-jangan ada yang bermasalah, sehingga banyak orang yang ingin praktis.

Ketiga, penggunaan klakson kendaraan. Sedikit saja ada kemacetan, mungkin karena ada orang yang menyeberang, pengendara sangat suka mengobral bunyi klakson. Padahal di negara orang, bunyi itu untuk mengusir hewan yang ada di jalan.

Banyaknya bunyi klakson, memperlihatkan orang-orang yang menggunakan jalan raya sudah tidak sabar, semua ingin di depan dan tidak mau berlama-lama di jalan, walau harus mencuri kapling jalan yang seharusnya dilalui oleh orang lain.

Keempat, ada peningkatan kecepatan kendaraan ketika mau berhadapan dengan lampu merah dan orang-orang yang menyeberang jalan. Sangat sedikit orang yang dengan senang hati mau memberi jalan terlebih dahulu kepada pejalan kaki untuk lewat. Seolah-olah waktu beberapa detik untuk pejalan kaki, seperti sudah lama sekali.

Di banyak traffic light, kecepatan kendaraan terlihat meningkat begitu lampu kuning sudah menyala. Padahal lampu kuning adalah pemberitahuan untuk bersiap-siap berhenti. Tapi di kota kita, begitu lampu kuning justru ditambah kecepatan agar tidak harus berhenti di traffic light.

Kelima, menggunakan badan jalan yang notabene untuk kepentingan umum, dipergunakan seolah milik pribadi. Orang-orang yang menggunakan kendaraannya di jalan untuk balap-balapan menjadi salah satu contoh dalam hal ini. Belum lagi parkir kendaraan yang berlangsung sembarangan; jalan besar yang sampai tiga jalur, kadangkala menghabiskan satu setengah jalur untuk lokasi parkir.

Akhir-akhir ini, mungkin karena alasan tsunami, truk-truk yang membawa material besar, juga masuk ke kota. Bayangkan betapa rentannya jalan raya, terutama di kota akhir-akhir ini.

Semua masalah tersebut, tentu adalah masalah perilaku. Untuk menyambung tulisan Bukhari, bahwa perbaikan perilaku menjadi hal yang penting juga dalam rangka menyehatkan penggunaan jalan raya di nanggroe kita.[]


Blog EntryJejak Perahu AcehMar 13, '07 1:19 AM
for everyone

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0703/06/humaniora/3355664.htm

Selasa, 06 Maret 2007

Jejak-jejak Kejayaan Perahu Aceh...

Ahmad Arif

Ratusan perahu milik armada laut Aceh mengepung kapal-kapal perang Portugis di Selat Malaka. Pertempuran hebat pada 1576 itu menggambarkan armada laut Aceh mampu mengimbangi pelaut-pelaut Portugis, yang dikenal sebagai salah satu penguasa lautan di masa itu.

Dokumen berupa sketsa yang terdapat dalam buku HistÓria de Serviços com Martirio de Luis Monteiro Coutinhoi (Riwayat Pengorbanan sang martir Luis Monteiro Coutinhoi), koleksi Perpustakaan Nasional Reservados No 414 Lisbon, Portugal, itu dipamerkan di Museum Aceh, 26 Febuari-4 Maret 2007. Dalam La Grand Encyclopidie juga disebutkan, armada laut Aceh yang menyerang Portugis di Selat Malaka itu mencapai 500 kapal perang berisi 60.000 tentara laut. Perang antara armada Aceh dan Portugis ini terjadi dalam beberapa babak selama bertahun-tahun, di mana kedua pihak saling mengalahkan.

Armada laut Aceh memang pernah menguasai perairan utara Sumatera. Sebagaimana terlihat dalam lukisan Fernao Vaz Dourado (1568), di muara-muara sungai atau krueng, salah satunya mirip Krueng Aceh yang membelah Banda Aceh, dipenuhi armada perang laut Aceh.

Tak hanya armada perang, menurut Anthony Reid, pakar sejarah Asia Tenggara dari National University Singapura, armada dagang Aceh juga telah mengarungi berbagai belahan dunia hingga ke Laut Merah, dengan komoditas utama lada. Armada dagang ini menyaingi dominasi kapal lada bangsa Portugis hingga di Afrika. Armada kapal dagang ini pula yang merintis terbentuknya aliansi diplomatik antara Aceh de- ngan Sultan Turki Usmani sejak 1500-an.

Namun, kejayaan armada laut Aceh itu hanyalah masa lalu. Sisa kehebatan orang Aceh di laut hanya bisa dilihat jejaknya pada keberanian nelayannya yang biasa mencari ikan hiu hingga ke perairan Andaman, India. Berbicara tentang perahu Aceh kini berarti adalah melulu bicara tentang perahu nelayan.

Timur dan barat

Untuk melihat ragam perahu Aceh, kami melakukan perjalanan menyusuri pesisir pantai timur dari Aceh Timur hingga pesisir pantai barat di Singkil. Berdasarkan wilayah sebarannya, perahu Aceh pada dasarnya terbagi menjadi dua.

Di pesisir barat, perahu memiliki kepala melebar, untuk mencegah ombak masuk ke dalam buritan. Sementara di pesisir timur memiliki kepala runcing dan tinggi. Mereka memang tak banyak mengalami kendala menghadapi ombak tinggi, dan memilih model kepala yang runcing untuk mempercepat laju kapal saat mengarungi laut.

Selain bentuknya, ukuran perahu-perahu di pesisir barat untuk berbagai kategori biasanya lebih besar dibandingkan di pantai timur. Misalnya, untuk bagan, di pantai barat ukurannya satu setengah kali lebih besar.

Perbedaan ini didasari oleh kondisi laut yang berlainan. Di pesisir barat, perahu nelayan beroperasi di Samudra Hindia, dengan ombak yang ganas. Tak ada musim timur atau barat, hampir sepanjang tahun mereka menghadapi keganasan ombak laut lepas. Sementara di pesisir timur, perahu akan beroperasi di kawasan Selat Malaka, yang sangat terpengaruh pada musim angin timur dan barat. Ombak di pantai timur relatif lebih kecil dibandingkan di barat.

Dari ukuran dan fungsinya, perahu-perahu Aceh banyak yang mengalami perubahan dari zaman ke zaman, dan sebagian kini tak bisa ditemui lagi. Julius Jacobs dalam bukunya, Het Familie En Kampongleven, Op Groot Atjeh (1894), terbitan Leiden, menyebutkan, perahu Aceh terdiri dari jalÖ, bidÖk, prahÖ poekat, sampan, dan tÖngkang. Kategori perahu oleh Jacobs ini dilengkapi gambar sketsa.

JalÖ merupakan perahu jenis terkecil di Aceh, terbuat dari sebatang kayu utuh yang dilubangi dengan panjang sekitar 2,5 meter. Dulu, jalÖ banyak mempergunakan layar. Namun, perahu ini jumlahnya kian menipis mengingat sulitnya mencari kayu besar. Beberapa buah yang tersisa itu kami temukan di kawasan pantai Aceh Barat Daya. Saat ini, yang lazim dijumpai adalah jalÖ yang dibuat dari papan. Seperti pendahulunya, perahu ini biasanya hanya beroperasi di muara sungai.

BidÖk berukuran sedikit lebih besar daripada jalÖ, dengan ciri khas adanya dua cadik di kanan-kiri badan perahu. BidÖk biasa digunakan oleh pemancing di sekitar mulut muara hingga 1-2 mil dari pantai. Perahu ini masih banyak ditemui di kawasan pantai barat Aceh, seperti di Pantai Ujung Serangga, Susoh, Aceh Barat Daya.

Lancaster, utusan Inggris yang datang ke Aceh pada tahun 1602—seperti dikutip oleh Denys Lombard dalam bukunya, Kerajaan Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636)—menyebutkan, perahu bercadik dua yang biasanya lalu lalang di teluk menjadi penanda bagi para pelaut Eropa sebelum memasuki wilayah Aceh.

”Ukurannya (bidÖk ) panjang, dalam, sempit, dan lancip. Kedua lambungnya sama, dan pada setiap sisi ada cadik. Perahu ini biasanya juga memiliki layar yang lebar dan apabila angin bertiup keras. Satu atau dua orang menduduki ujung andang- andang bawah atau ujung cadik di sebelah bertiupnya angin sebagai pengimbang berat,” demikian kutipan Lombard.

Prahoe poekat atau perahu untuk menjaring ikan, digambarkan Julius Jacobs, dilengkapi tiga pasang dayung di kanan-kiri dan satu dayung kemudi di belakang. Perahu ini didesain bisa bergerak cepat dengan bentuk yang panjang dan lancip.

Adapun sampan dan tÖngkang digambarkan sebagai perahu untuk mengangkut penumpang dan barang. Dua jenis perahu ini memiliki ”rumah- rumahan” dengan atap di atas geladaknya sehingga bisa menempuh perjalanan yang jauh dengan nyaman.

TÖngkang biasanya memiliki dua hingga tiga tiang layar. Dalam Kamus Aceh-Indonesia (1985) terbitan Pusat Bahasa, tÖngkang merupakan perahu besar, berasal dari Siam, diperlengkapi sekoci seperti kapal Eropa, tetapi lebih kecil dan bertiang tiga. Saat ini, perahu model sampan dan tÖngkang tak bisa lagi ditemukan di Aceh. Perahu untuk penumpang dan barang pun desainnya sama dengan perahu untuk nelayan untuk mencari ikan, seperti yang kami temui pada perahu penyeberangan dari Singkil ke Pulau Banyak.

Hanya ada di museum

Menurut Sekretaris Panglima Laut Nanggroe Aceh Darussalam, M Adli Abdullah, saat ini perahu yang biasa dipakai nelayan Aceh dikategorikan menjadi tep-tep atau lakmana, perahu tempel, labi-labi, dan boat.

Perahu tep-tep memiliki ciri depan lancip dan menjulang tinggi, digunakan untuk memancing. Nama lainnya adalah lakmana (laksamana). Nama ini mengacu pada bentuknya yang tinggi dan gagah, dulu biasa dipakai para laksamana. Mesin yang dipakai biasanya mesin domfeng yang berada di tengah badan perahu dengan kekuatan 16 PK (tenaga kuda). Harga satuannya sekitar Rp 25 juta.

Sementara prahÖ tempel berbentuk mirip tep-tep, namun ujung depannya lebih rendah. Mesin perahu biasa ditaruh di belakang dengan kekuatan 40-80 PK, dan memiliki kecepatan yang tinggi sehingga sering disebut speed boat (perahu cepat). Seperti tep-tep, perahu ini juga berfungsi sebagai perahu pancing tetapi daya jelajahnya lebih jauh, bisa hingga 4 mil dari pantai.

Adapun labi-labi, yaitu perahu dengan mesin yang bisa dicopot, dengan panjang lunas sekitar 12-15 meter dan kapasitas mesin di atas 40 PK. Daya jelajah mencapai 15-10 mil laut. Harga satuan mencapai Rp 120 juta. Perahu ini bisa dimodifikasi menjadi perahu penangkap hiu yang bisa beroperasi hingga ke Andaman. Ini dilakukan dengan cara meningkatkan kapasitas mesin hingga dua kali lipat.

”Perahu penangkap hiu ukurannya memang kecil, tetapi kapasitas mesinnya besar. Mereka harus mengarungi samudra luas hingga mendekati Andaman, India,” kata Adli.

Perahu yang terbesar, menurut Adli, biasa disebut boat dengan ukuran satuan GT. Boat ini memiliki panjang lunas 20-25 meter dengan kekuatan mesin di atas 60 PK. ”Boat ini hanya bermain masih di sekitar zona ekonomi eksklusif. Di zona perairan internasional masih dikuasai nelayan-nelayan dari Thailand dan Jepang,” ujar Adli.

Jika berkaca pada sejarah, jelajah perahu-perahu Aceh saat ini memang jauh lebih sempit. Kini, keramaian muara-muara sungai di Aceh oleh armada dagang dan armada perang—seperti dilukis Fernao Vaz Dourado— hanya bisa ditemui di Museum Aceh. Di Krueng Aceh, yang membelah Kota Banda Aceh, hanya ditemui perahu-perahu kecil nelayan dari kayu. Sejarah armada laut Aceh memang sudah tamat, seiring tamatnya kejayaan bahari di Nusantara....

 

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0703/07/humaniora/3355668.htm

Rabu, 07 Maret 2007

Negeri Bahari (2)
Kisah Para Pembuat Perahu Aceh...

Ahmad Arif

Perahu bagi nelayan Aceh adalah jiwa mereka. Dan, para tukang adalah "pencipta" yang menitipkan ruhnya pada perahu-perahu itu. Selama bertahun-tahun tradisi ini terjaga. Namun, orientasi ekonomi mulai mengubahnya. Kebanyakan tukang perahu, kini sekadar perajin yang mengejar target produksi atau order dari kontraktor.

Menurut Denys Lombard, dalam bukunya Kerajaan Aceh Zaman Iskandar Muda (1607-1636), seorang tukang pembuat perahu termasuk golongan utama dalam masyarakat Aceh zaman dulu. Para tukang ini bertugas membuat kapal nelayan, yang merupakan profesi utama masyarakat Aceh pesisir. Para tukang ini pula yang bertugas membuat kapal- kapal perang, yang menjadikan Kesultanan Aceh disegani sebagai penguasa Selat Malaka dan pantai barat Sumatera.

Seorang tukang harus memilih sendiri kayu terbaik dari hutan yang akan digunakan untuk bahan perahu. Setelah dipilih hari terbaik, pohon itu baru boleh ditebang. Jatuhnya batang kayu akan menentukan kayu itu layak dipakai atau tidak. Ada perhitungan rasional, sekaligus ritual, yang mesti dilakukan sejak proses memilih kayu di hutan untuk lunas hingga saat perahu untuk pertama kali menyentuh air laut.

Saat ini, ritual itu sudah banyak ditinggalkan. Namun, di kawasan pesisir barat Aceh jejaknya masih bisa ditemukan. Para tukang perahu yang kami temui di Aceh Selatan dan Aceh Barat Daya, misalnya, masih menerapkan aturan ini. Salah satunya adalah Tukang Atim (67) dari Desa Pante Raja, Kecamatan Mangging, Kabupaten Aceh Barat Daya. Berkat kepiawaian membuat perahu, istilah 'tukang' pun akhirnya melekat menjadi bagian dari nama sang empu.

Lelaki ini sudah membuat perahu sejak 1965, dimulai dengan magang pada Tukang Kamar, pemilik galangan kapal terbesar di Meulaboh pada era itu. Galangan kapal ini membuat boat pesanan dari berbagai daerah di Aceh, seperti Pulau Sinabang, Banda Aceh, Aceh Selatan, dan Singkil. Perahu terbesar yang pernah dibuatnya adalah kapal penyeberangan Labuhan Haji- Simeulue berbobot 260 ton.

Pada tahun 1980, dia pulang kembali ke desa dan membuat perahu sendiri. Sejak saat itu pula Tukang Atim telah mendidik puluhan tukang perahu di wilayah Aceh Barat Daya dan Aceh Selatan.

Menurut Atim, seorang pembuat perahu harus memiliki tiga hal: panggilan, mengerti tentang kayu, dan memiliki keahlian pertukangan. Namun, yang terpenting adalah panggilan. "Tanpa adanya panggilan, orang mungkin bisa membuat perahu, tapi akan banyak salah. Perahu yang dibuat tidak membawa berkah dan bisa mengancam nasib nelayan pemakai," kata dia.

Tukang Atim yakin, saat membuat perahu seorang tukang harus benar-benar menjiwainya. Dia harus tahu betul kayu yang dipakai, diambil dari mana, dan bagaimana jatuhnya saat ditebang. "Nasib nelayan di laut bergantung pada perahu yang kita buat," ujar dia.

Ilmu atau pengetahuan tentang kayu dibutuhkan untuk menghasilkan perahu yang kuat menahan ombak selama bertahun-tahun. Tiap jenis kayu punya fungsi masing-masing. Misalnya, untuk lunas biasa dipakai kayu seumantok atau damar laut, untuk dinding dari meranti, dan gading-gading atau rusuk kapal dari bak mane.

"Dulu, tukang harus memilih sendiri kayu di hutan untuk bahan perahunya, terutama kayu untuk lunas. Setelah memilih kayu untuk lunas, dia harus mengayunkan kampak untuk pertama kali ke kayu itu. Pecahan pertama kayu yang lepas akibat kapak ini harus disimpan dulu," tutur Tukang Atim.

Kemudian, seorang tukang akan menunggu "tanda" apakah pohon itu boleh ditebang atau tidak. Jika ada tanda baik—bisa dengan mimpi—berarti pohon siap ditebang.

Di sekitar pohon yang akan ditebang ini harus dibersihkan dulu, sebab kayu yang ditumbangkan harus langsung mengenai tanah. Sisi kayu yang jatuh mengenai tanah ini nantinya saat dijadikan lunas, yang juga harus berada di sisi bawah. Tidak boleh terbalik. Jatuhnya kayu saat ditebang juga harus jauh dari pangkal, tak boleh menempel. Kayu seperti ini bisa membahayakan kalau dipakai untuk membuat perahu, bisa menimbulkan korban atau mahantam banie.

"Kalau terbalik, perahu juga rawan terbalik saat di laut. Tukang harus bisa membaca tanda-tanda alam," ungkap dia.

Interaksi dengan pemilik

Selain mengetahui betul kondisi kayu yang dipakai untuk bahan perahu, seorang tukang juga harus membangun komunikasi terus-menerus dengan calon pemilik perahu. "Kita harus mengetahui kemauan calon pemilik perahu, sehingga perahu yang dibuat betul-betul cocok dengan mereka," kata Tukang Atim.

Untuk menentukan ukuran perahu, menurut Tukang Atim, dia memiliki rumus yang dipegang, dan diwariskan secara turun-temurun. Misalnya, jika pemesan meminta panjang lunas perahu 20 meter, berarti lebar perahu 4,5 meter dengan kedalaman 1,7 meter. Jika panjang lunas 25 meter, berarti lebar perahu 6 meter, dan kedalaman 2 meter.

Para tukang perahu sepertinya juga memiliki angka-angka emas, seperti golden section, temuan Leonardo Da Vinci dalam menentukan proporsi rumah terbaik. Proporsi terbaik untuk membuat perahu ini pun biasa diwariskan secara turun- temurun kepada calon tukang yang magang.

Tukang Atim menambahkan, setelah perahu selesai, ada upacara peusijuk atau tepung tawar. Dimulai dengan doa bersama yang dipimpin tokoh agama, dan syukuran dengan mengundang anak yatim atau fakir miskin di kampung, baru kemudian perahu ditolak ramai-ramai ke laut oleh perwakilan warga.

Tukang Mukhtar (62) dari Desa Samadua, Kecamatan Samadua, Aceh Selatan, juga mengaku masih menerapkan tradisi untuk membuat perahu. Mukhtar membuat boat sejak usia 15 tahun.

Salah satu kelebihan Mukhtar adalah mampu melengkungkan papan untuk perahu tanpa dipanaskan atau diklem. Dia cukup menggunakan tali yang dikencangkan, dan mengurut papan itu ditambah sedikit "ilmu" tentang kayu. Mukhtar tak pernah memakai skala atau gambar saat membuat perahu, sejak dari memotong lunas hingga selesai. Semua ia lakukan dengan intuisi, yang telah bertahun-tahun terasah.

Kemampuan Mukhtar melengkungkan perahu tanpa dipanaskan dan tanpa diklem ini diakui oleh tukang-tukang lain di galangan kapal di kawasan Labuhan Haji, Aceh Selatan. Bahkan, beberapa di antara teman- temannya menyatakan bahwa Mukhtar bisa memanjangkan kayu tanpa disambung dan dipendekkan tanpa dipotong.

Seperti Tukang Atim, bagi Mukhtar yang terpenting dalam proses pembuatan boat adalah proses pemilihan kayu. "Tak boleh menebang perahu, memotong atau melintang arah aliran air atau istilahnya kalang batang. Kayu yang membendung arah aliran air ini adalah kayu yang buruk," kata dia.

Namun, aturan-aturan tersebut tak bisa dilakukan oleh Mukhtar saat menerima order membuat perahu bantuan untuk nelayan di kawasan Labuhan Haji, Aceh Selatan, di bawah koordinasi sebuah kontraktor. "Semua kayu sudah disediakan oleh perusahaan. Saya tinggal membuatnya, padahal tak semua kayu ini sebenarnya boleh dipakai," papar dia.

Mukhtar juga mengaku tak tahu untuk siapa perahu-perahu yang dibuatnya ini, sehingga prinsip komunikasi dengan calon pemilik diabaikan. Ia mengaku dihadapkan pada dilema, antara prinsip pertukangan yang diyakininya dan tuntutan untuk membuat perahu sesuai permintaan dan aturan kontraktor.

Tsunami sebenarnya menjadi berkah tersendiri bagi para tukang perahu di Aceh. Kebutuhan perahu yang sangat tinggi untuk menggantikan sekitar 9.000 perahu nelayan yang hancur akibat tsunami, membuat para tukang perahu di Aceh kebanjiran pesanan. Namun, di sisi lain hal ini juga mempercepat lunturnya budaya ritual adat saat membuat perahu. Kebutuhan menghasilkan perahu dengan jumlah banyak dalam tempo yang singkat, membuat sebagian tukang memangkas ritual-ritual itu.

Zaman yang berubah

Sebelum tsunami, lunturnya tradisi ini sebenarnya sudah mulai terasa. Terutama dialami para tukang muda. Abdul Jamal (40), salah seorang pembuat perahu dari Susoh, mengatakan, perahu yang dibuatnya semata berdasarkan perhitungan logis yang cermat.

"Saya tak lagi memakai aturan-aturan adat itu. Tapi saya tetap memakai perhitungan-perhitungan yang cermat. Kuncinya, keseimbangan antara panjang, lebar, dan tinggi perahu. Kayu yang kami gunakan juga yang terbaik, yaitu yang tua dan tak ada cacat," ujar Jamal.

Jamal mengaku pernah membuat perahu dengan kayu (bak) mane yang diambil dari kuburan yang dikeramatkan warga. "Sampai sekarang perahu itu masih bagus. Tapi pemilik perahu tak pernah tahu bahwa kayu itu dari kuburan. Kalau tahu mungkin dia juga tak mau," kata dia.

Abdul Jamal mewakili generasi tukang perahu muda dari Aceh yang mencoba menjawab tuntutan zaman yang serba cepat. Namun, seiring dengan itu, sebuah tradisi yang sekian abad dipegang mulai pupus, salah satunya adalah hilangnya jalinan kepercayaan antara tukang dan pemilik perahu.

 

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0703/08/humaniora/3355669.htm

Kamis, 08 Maret 2007

Negeri Bahari (3-Habis)
Perahu-perahu Itu Telantar

Ahmad Arif

Hingga awal Februari 2007, perahu-perahu bantuan Mensos yang dibuat sejak 2005 masih teronggok di semak belukar di pinggir Kota Calang, Aceh Jaya. Di Lamno (Aceh Jaya), Peunayong (Banda Aceh), Lhok Nga (Aceh Besar), dan berbagai pesisir lain di Aceh, pemandangan boat-boat baru yang ditelantarkan banyak ditemui.

Tsunami yang menghancurkan sedikitnya 9.000 perahu nelayan Aceh telah mendatangkan ratusan lembaga yang menawarkan perahu bantuan. Namun, tak semua perahu itu ternyata terpakai. Di samping dibuat asal jadi, penyalurannya juga tidak terkoordinasi dengan lembaga adat terkait, sehingga banyak boat yang telah diberikan kemudian salah sasaran dan akhirnya telantar.

Nazar (46), nelayan Calang, mengatakan bahwa boat bantuan dari Menteri Sosial (Mensos) di Calang senilai Rp 50 juta per unit itu terbengkalai karena dibuat asal jadi sehingga kualitasnya sangat buruk. Alat tangkap dan mesinnya juga tak sesuai dengan kondisi laut di sana sehingga tak bisa dipakai.

Menurut data dari Sekretaris Panglima Laut Nanggroe Aceh Darussalam M Adli Abdullah, dari sekitar 6.000 perahu bantuan yang telah diserahkan kepada nelayan, hampir separuhnya bermasalah. Penelitian yang dilakukan Transparansi Indonesia di Calang juga menguatkan hal itu. Sebanyak 226 boat bantuan dari Departemen Sosial (Depsos), Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), dan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh Nias yang diterima nelayan Aceh Jaya bermasalah.

"Akar masalahnya terletak pada tiadanya koordinasi antara pemberi bantuan dengan para nelayan," kata Ikhwan dari Transparansi Indonesia yang bertugas di pantai barat Aceh.

Hal senada juga terjadi di Aceh Barat Daya dan Aceh Barat. Menurut Sekretaris Panglima Laut Aceh Barat Daya Ridwan (45), hampir semua boat bantuan pemerintah yang dibagikan kepada nelayan kualitasnya buruk. Misalnya, 25 unit boat bantuan dari Depsos kepada nelayan di sana harus diperbaiki dulu sebelum bisa dipakai.

"Penerima bantuan harus mengeluarkan dana rata-rata Rp 15 juta untuk perbaikan. Boat itu dibuat dengan kayu yang buruk. Modelnya juga seringkali tak cocok dengan kondisi laut di sini yang ombaknya sangat tinggi. Boat itu kebanyakan dibuat bukan oleh tukang di pesisir barat Aceh," kata dia.

Adli Abdullah mengatakan bahwa boat bantuan Depsos untuk korban tsunami di Aceh sebanyak 1.210 unit. Dananya berasal dari APBN 2005 dan telah disalurkan ke 10 kabupaten/kota di Aceh. Harga satu unit boat berkisar Rp 20 juta-Rp 25 juta untuk kawasan timur, sedangkan harga boat untuk pantai barat sebesar Rp 40 juta-Rp 50 juta per unit.

"Sebenarnya tak hanya bantuan dari pemerintah saja yang bermasalah, boat bantuan dari sejumlah NGO juga banyak yang bermasalah," tambah Adli.

Proyek vs kebutuhan

Menurut Adli, kebanyakan bantuan boat untuk nelayan Aceh dibuat oleh donatur tanpa berkoordinasi dengan nelayan ataupun lembaga adat setempat, dalam hal ini Panglima Laut.

"Perahu itu diserahkan kepada kontraktor. Tukang yang membuat hanya mengikuti kemauan kontraktor yang seringkali mengejar target dan keuntungan sebanyak-banyaknya dengan orientasi proyek," ungkap dia.

Adli menyarankan, nelayan yang akan mendapat bantuan sebaiknya diajak bicara sejak awal. Dengan begitu, para nelayan ikut mengawasi proses pembuatan boat-boat tersebut.

"Sesuai tradisi, tukang dan pemilik perahu perlu berkomunikasi sehingga bila ada kekurangan dan kesalahan bisa ditambahi atau diperbaiki," katanya.

Di samping masalah desain dan kualitas yang buruk, banyaknya bantuan boat yang masuk ke Aceh, menurut Adli, tak memperhitungkan perbaikan kualitas hidup nelayan secara jangka panjang. "Kebanyakan bantuan berupa boat kecil dengan mesin tempel atau perahu tep-tep yang hanya bisa beroperasi di sekitar muara atau laut dangkal. Nelayan kecil akan bersaing di wilayah yang sempit. Ke depan, jika jumlah perahu kecil ini semakin banyak, akan terjadi over fishing sebagaimana terjadi di perairan lain," ungkap dia.

Menurut Adli, dana yang berlimpah untuk korban tsunami sebenarnya bisa digunakan untuk memperbaiki kehidupan nelayan, bahkan seharusnya bisa lebih baik lagi dibandingkan sebelum tsunami. Dan hal ini bisa dilakukan dengan mengembangkan boat bantuan ukuran besar, minimal jenis ’labi-labi’, sehingga bisa ke laut lepas. Dengan begitu mereka bersaing dengan nelayan-nelayan dari luar negeri, seperti Taiwan dan Thailand, yang banyak beroperasi di perairan internasional yang berbatasan dengan perairan Aceh.

"Masa depan perikanan Aceh ada di laut lepas. Karena itu, seharusnya dipikirkan untuk membuat boat-boat besar, sehingga ada perbaikan kualitas nelayan Aceh," papar dia.

Boat-boat besar ini, menurut Adli, bisa dikelola oleh sejumlah nelayan melalui koperasi. "Perahu besar ini dimiliki bersama oleh sejumlah nelayan, jangan diberikan kepada satu-dua orang saja," tutur dia.

Regenerasi tukang

Adli menyarankan, di samping memberikan bantuan perahu untuk nelayan, dana yang berlimpah di Aceh seharusnya juga digunakan untuk memberdayakan tukang pembuat perahu. "Antara tukang pembuat perahu dan nelayan tak bisa dipisahkan," ujar Adli.

Apalagi untuk mencari tukang-tukang perahu yang mumpuni di Aceh kini tak mudah lagi. M Yusuf Sulaiman (60), pengelola galangan kapal CV Amal Sejahtera di Lampulo, Banda Aceh, mengakui kenyataan itu. "Banyak tukang yang hilang terkena tsunami. Kami terpaksa mendatangkan tukang-tukang dari luar Aceh untuk bekerja di galangan kapal kami," kata dia.

Galangan kapalnya kini membuat 17 perahu bantuan dengan mesin 400 PK (tenaga kuda), pesanan Palang Merah Belgia, dengan harga per unit—lengkap dengan mesin dan jaring—mencapai Rp 400 juta. Ongkos untuk tukang Rp 30 juta per perahu. Satu perahu biasa dikerjakan oleh 3-4 tukang, dengan satu kepala tukang, dan biasanya selesai dalam tiga bulan.

"Penghasilan tukang lumayan menjanjikan, tapi tak banyak lagi tukang di Aceh yang mampu mengerjakan sesuai target. Kebanyakan tukang kami dari Tanjung Pura, Sumatera Utara. Mereka yang paling siap dan memiliki alat lengkap," ucap Yusuf.

Marzuki (34), tukang pembuat perahu asal Ulee Lheu, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh, mengakui bahwa tsunami telah menghancurkan usaha galangan kapalnya. "Saya kehilangan semua alat dan bangunan galangan kapal. Modal usaha juga habis," tutur Marzuki, yang terpaksa magang di galangan kapal milik orang lain di Lhok Nga.

Hal yang sama dituturkan oleh Rusli (60), tukang dari Desa Meunasah Blang, Kecamatan Peudada, Kabupaten Bireuen. Ia kini tengah membuat perahu untuk nelayan di Desa Batee Tutung, pinggiran Kota Calang, Aceh Jaya, pesanan dari salah satu lembaga swadaya masyarakat (LSM alias NGO).

Rusli mengaku telah membuat perahu sejak tahun 1975. Masa mudanya dihabiskan dengan membuat perahu di berbagai daerah di Sumatera Utara, seperti Tanjung Balai Asahan, Belawan, dan Sibolga. Bahkan, Rusli pernah membuat perahu hingga ke Bengkalis, Riau.

Pada tahun 1990, Rusli kembali ke kampungnya di Meunasah Blang dan membuat perahu sendiri. Semua jenis perahu bisa dikerjakan Rusli, mulai dari sampan, boat tempel, kapal berbobot 300 ton dengan panjang lunas hingga 27 meter, sampai perahu palung atau bagan.

Sebelum tsunami, Ramli biasa hanya bisa membuat enam sampan atau boat tempel. Namun, setelah tsunami, order membuat perahu sangat tinggi. Sejak Mei 2005, dia tinggal di Calang dan mengepalai pembuatan perahu, pesanan dari berbagai NGO untuk korban tsunami. Hingga sekarang dia telah membuat lebih dari 300 perahu berbagai jenis.

Ramli mengaku tak tahu apakah perahu itu bisa digunakan atau tidak oleh para nelayan. "Sebab kami tak tahu untuk siapa perahu-perahu itu," kata dia.

Biasanya dia mengepalai 11 anak buah, tetapi hanya empat orang yang berasal dari Aceh, sisanya dari Sumatera Utara.

"Jika dulu kami yang bekerja di luar Aceh untuk membuat perahu, sekarang banyak orang luar yang datang untuk membuat perahu di Aceh. Susah sekali mencari anak-anak muda di sini yang mau bekerja membuat perahu," ungkap Rusli. Nah, lho!

 

 


Photo AlbumMalam Memeluk Intan (1 photo)Mar 8, '07 6:57 AM
for everyone
"NOVEL PALING DAHSYAT YANG PERNAH MENGANGKAT PERISTIWA TSUNAMI DI ACEH!" (Helvy Tiana Rosa)

Blog EntryKeurupuekMar 8, '07 6:52 AM
for everyone
Keureupeuk Kulet Keubeue Tambo Kulet Leumo



Oleh: Sulaiman Tripa

Abua Subi, masih beraktivitas seperti biasa. Mengkuliti uleue (ular), meuruwa (biawak), sesekali buya (buaya) tamoeng. Kulit-kulit binatang ini kemudian dibawa pulang ke rumah, dibersihkan, dan dijemur seperti orang jemur kulet leumo (kulit lembu) dan kulet keubeue (kulit kerbau). Kalau kulet uleue untuk aksesoris manusia, sementara kulet keubeue untuk makanan. Bila kulet meuruwa untuk menghiasi lingkaran tubuh, sedang kulet leumo untuk mempercantik suara.

Kulet leumo sebenarnya enak untuk keureupuek, apalagi kalau dimasak langsung tumis coco. Kulet tak dijemur dulu. Tapi di Aceh, kulet leumo jarang dihidangkan sebagai makanan, karena ada tambo (beduk). Kulet leumo di Aceh lebih banyak dibuat tambo ketimbang dimakan. Ternyata, kebutuhan tambo jauh lebih penting dalam sebuah gampong karena suaranya sangat penting bagi kehidupan sosial-masyarakat. Konon, di Aceh orang meusie (bersembelih) binatang sangat jarang. Paling kalau meugang atau mauled. Jadi, kulet leumo memang sangat jarang. Apalagi kebanyakan gampong dan masyarakatnya lebih banyak menyukai sie keubeue ketimbang sie leumo. Nah, kulet keubeue jadi lebih disukai untuk makan sejenis keureupuk ketimbang kulet leumo.
Ada dua fenomena yang tampak dominan di sana, yakni; Pertama, orang-orang di Aceh lebih menyukai kulet keubeue ketimbang kulet leumo sebagai makanan (khas). Di samping karena jarang seumeusie, juga kebanyakan orang lebih menyukai sie keubeue.
Kedua, fenomena tambo yang tempat tabuhnya dibuat dari kulet leumo. Perhitungannya, tentu karena tambo berukuran besar, jadi butuh kulit yang besar pula. Kalaulah rapai, reubana, atau geundang, mungkin bisa dipakai kulet kameng (kulit kambing). Itu memang pas. Rapai lebih banyak kebutuhan. Kulet kameng pun mudah didapat ketimbang kulet leumo. Orang yang jualan sie kameng lebih banyak, apalagi gulai kambing di Aceh dikenal enak.
Sebagai benda yang besar, tambo melahirkan suara yang besar pula. Ada dua suara besar di Aceh dalam konteks sosial-budaya, yakni tambo dan su waki. Waki itu semacam juru bicara keusyik di gampong; ya semacam Andi Mallaranggeng-nya SBY (Susilo Bambang Yudhoyono)-lah kalau sekarang. Yang dipilih memang sengaja yang besar suaranya. Itu sih dulu, waktu mikrofon belum dikenal di gampong-gampong. Sekarang sudah lebih mending; mikrofon malah bisa menembus ratusan gampong.
Jadi waki memang memberitahukan orang gampong dengan bersuara keras; kalau ada orang yang meninggal, panggilan gotong royong, panggilan khanduri blang, khanduri gle atau khanduri laot. Ada satu jenis lagi tugas waki, seperti memberitahukan undangan khanduri tertentu, seperti intat linto baro.
Begitu juga tambo, yang biasanya terbuat dari batang pohon pandan yang diperhalus sedemikian rupa yang di ujungnya diikat kulet leumo yang sudah dikeringkan. Ada juga yang memakai drum minyak besar; tapi suaranya kurang begitu indah. Dengan suara tambo, orang gampong pun bisa memberi tanda yang macam-macam kepada seluruh gampong. Ada bunyi yang berbeda dan orang gampong akan mengerti sebagai pertanda sesuatu. Tambo ureung mate (memberitahukan orang meninggal) berbeda dengan tambo gotong royong. Tambo uroe raya, tambo puasa, tambo sahur, tambo buka, tambo khanduri (blang, gle, laot), dan sebagainya. Ureung gampong tak lagi harus bertanya-tanya saat mendengar tambo tiga kali lambat lalu sembilan kali beruntun, misalnya; karena itu sudah pasti orang yang meninggal.
Begitulah tambo dalam masyarakat Aceh, sehingga kulet leumo yang tak dimakan seperti keureupuek kulet keubeue, itu dianggap tak akan mendatangkan dosa (karena menyia-nyiakan makanan; mubazir) karena kegunaan tambo juga sangat bernilai ibadah. Kepuasaan kegunaan tambo juga akan bisa memaklumi akan ketidakinginan orang Aceh membuat kulet leumo sebagai gulai tumis toco atau dijemur untuk keureupuek.
Ada kegunaan masing-masing; ada pemaknaan masing-masing. Yang jelas, sama-sama bermanfaat. Masalahnya, manfaat itu akan segera hilang ketika ada orang yang menyebutkan lagee leumo kah? (Seperti lembu kamu!) atau, lagee keubeue kah! (seperti kerbau kamu!) asosiasinya tidak sama, dikatakan leumo bisa lebih menyakitkan ketimbang keubeue; walau leumo dan keubeue sama-sama binatang yang bisa dimakan.
Asosiasi juga akan berbeda ketika orang menyebut lagee kameng, uleu, muruwa, asee, bui, bue, rimueng, atau peulandoek. Asosiasi yang akan membuat orang bangga, hanya disebut lagee peulandoek kah! Ya, hanya untuk peulandoek saja, selain itu tidak. Mengatai peulandoek, dipahami sebagai orang yang banyak akal. Sementara yang lain, konon kalau disebut di tempat umum pula, bisa berabe.
Yang mau saya sampaikan, perumpaan itu akan melahirkan asosiasi yang berbeda-beda. Seorang tua yang ngomong seperti itu, berarti kadar kemarahannya terhadap anak sudah luar biasa tak bisa ditahan. Tapi bagaimana pun marahnya, orang tua tetap tak akan mengumpamakan perilaku anaknya dengan perumpamaan binatang-binatang yang haram dimakan.
Ada satu masalah yang akhir-akhir ini yang sangat menggelisahkan, di gampong Abuwa Subi. Binatang-binatang yang halal dimakan sudah raib dimakan ular. Uleue lhan di gampong sudah memakan satu persatu piaraan orang gampong. Kandang ayam selalu bobol, karena jerujinya hanya bambu belah yang dipakai. Kandang kambing tak cukup kecil untuk untuk menutup pintu bagi uleue lhan. Apalagi kandang lembu atau kerbau.
Hampir tiap malam, Abuwa Subi sudah stand by di rumah. “Ngapain saya keluar kalau tiap malam ada saja uleue di gampong yang bisa ditangkap karena melahap binatang orang gampong,” begitu pikirnya. Makanya ia sudah jarang keluar lagi.
Hasil yang didapat pun sudah lumayan. Kalau dulu pergi ke kantong-kantong uleue dan muruwa belum tentu dapat satu permalam. Sekarang malah rutin dapat, paling tidak, satu permalam. Abuwa Subi menikmati itu, maka ia tak pernah memberi resep jitu untuk orang gampong agar bisa menghalau uleue yang turun ke gampong.
Karena banyak hasil yang didapat, gampong pun jadi tambah berbau karena jemuran kulet uleue Abuwa Subi. Ia tak sempat membersihkan sampai daging betul-betul bersih dari kulit seperti yang dibawa pulang dulu. Bau tak sedap itu juga berasal dari tubuh uleue yang dipluek dan dibuang sembarang; umumnya dibuang saja ke sungai sehingga tersangkut di mana-mana.
Orang gampong sebenarnya sangat jengkel. Tapi karena mereka butuh bantuan jasa Abuwa Subi, jadi jengkel itu ditahan-tahan dalam perasaan. Uleue pun semakin berani membunuh mangsa. Biasanya, uleue itu melahap mangsanya dengan menelan bulat-bulat, seperti manoek, itek, kameng, dan sesekali aneuk leumo atau aneuk keubeue. Tak sehelai bulu pun tertinggal. Uleue itu menelan seluruhnya.
Sebenarnya Abuwa Subi bisa saja mengajarkan orang gampong membuat perangkat, biar binatangnya selamat. Tapi tak ia berikan. Jadinya, binatang orang gampong habis. Abuwa Subi teruntungkan dengan uleue yang didapat untuk diambil kulitnya; yang pula melahirkan bau tak sedap dari bangkai tubuhnya itu disembarang tempat.
Akhir-akhir ini, uleue yang turun gampong tak hanya menelan mangsanya. Tapi satu persatu mangsa-mangsa besar juga dililit sampai mati. Tak dimakan. Kerbau dan lembu, satu persatu menjadi bangkai karena dililit uleue. Abuwa Subi dapat untung, karena uleue yang ditangkapnya besar-besar rupanya. Gampong tambah berbau karena kalau sebelumnya hanya bangkai-bangkai uleue yang dipluek oleh Abuwa Subi, sekarang bertambah dengan bangkai keubeue dan leumo yang dililit sampai mati.
Kegelisahan di gampong Abuwa Subi kian menjadi-jadi saat keureupuek kulet keubeue dan tambo kulet leumo sudah langka di peredaran. Saat itu, ureung gampong seperti sudah sepakat untuk menyebutkan Abuwa Subi dengan geram, “lagee uleue!”[]

Penulis, Pegiat Kebudayaan, berdomisili di Banda Aceh


27-3-2006 | 0:0 WIB

http://www.acehkita.net/koran/beritadetail.asp?Id=554&Id2=37&berita=Sagoe


Blog EntrySastrawan Aceh Masuk SekolahMar 8, '07 6:42 AM
for everyone

Sastrawan Aceh Masuk Sekolah
Jum'at, 01 September 2006 | 14:29 WIB

TEMPO Interaktif, Banda Aceh:Lapena (Institute for Culture and Society) Banda Aceh sejak Kamis pekan lalu melaksanakan kegiatan Sastrawan Aceh Masuk Sekolah. Kegiatan ini akan berlangsung sampai 25 November mendatang.

Sasaran kegiatan ini adalah 21 sekolah setingkat sekolah menengah atas/madrasah aliyah di 21 kabupaten/kota seluruh Aceh. "Kegiatan ini melibatkan 29 sastrawan Aceh, yang mencakup novelis, penulis cerpen, penyair, dan penulis esa," kata Sulaiman Tripa, anggota staf Divisi Program Lapena.

Sastrawan yang diikutkan antara lain Ridwan Amran, Helmi Hass, Nab Bahany, Rosni Idham, D. Kemalawati, Doel C.P. Allisah, Udin Pelor, Harun Al Rasyid, Nani Hs., Agam Fawirsa, Mustafa Ismail, Zulfikar Sawang, Saiful Bahri, Ayi Jufridar, Halim Mubary, Azhari, Fozan Santa, Arafat Nur, Deny Pasla, dan M.N. Age.

Kegiatan ini dibiayai Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi Aceh, yang merupakan program penting dalam rangka memperkenalkan sastrawan Aceh secara langsung ke sekolah-sekolah. Sebagian besar yang dikunjungi berada di luar kota. "Kita berusaha tidak berfokus di kota," kata Sulaiman lagi.

Rupanya, menurut Sulaiman, animo siswa di daerah cukup besar terhadap sastra. Ia menyebut salah satu contoh ketika mengunjungi sebuah SMA di Lueng Putu, Kabupaten Pidie. "Kami menghabiskan waktu sampai tiga jam dan siswa sangat aktif bertanya tentang berbagai hal," ujar Sulaiman.

Pola kegiatan yang dilaksanakan sangat sederhana. Lapena mengusulkan kepada sekolah agar acara dilakukan di atas pukul 12.00 dan diutamakan di kelas yang ada pelajaran sastra waktu itu plus siswa lain yang menyukai sastra. "Kenyataannya, beberapa sekolah meminta kami datang lebih awal," katanya.

Lapena, Sulaiman melanjutkan, mengharapkan kegiatan ini bisa melahirkan kecintaan siswa di Aceh terhadap sastra, khususnya untuk membangkitkan minat baca siswa. "Kegiatan ini berusaha sekuat tenaga agar bisa mencapai tujuan itu," ujarnya.

Kegiatan sastrawan masuk sekolah ini dilaksanakan Lapena berdampingan dengan kegiatan penulisan buku Santriwati Salafiah Aceh, yang berlangsung di Dayah MUDI Masjid Raya Samalanga pada Minggu lalu.

Menurut Sulaiman, yang juga menjadi koordinator penulisan buku itu, ada enam santri Aceh yang sudah mulai difasilitasi. "Mereka sudah diberikan workshop menulis dan untuk tiga bulan ke depan mereka akan difasilitasi untuk menyelesaikan sebuah buku bersama yang ditulis enam penulis itu," ujarnya.

MUS

 

http://www.tempointeraktif.com/hg/budaya/2006/09/01/brk,20060901-83100,id.html


Blog EntryMengenang Dua Tahun Tsunami.Mar 8, '07 6:39 AM
for everyone

[KlubSastraBentang] Wawancara dengan Sulaiman Tripa

perca
Sat, 16 Dec 2006 09:11:02 -0800

Wawancara dengan Sulaiman Tripa : Mengenang Dua Tahun Tsunami.


Dua puluh enam Desember dua tahun yang lalu, bencana besar melanda ujung utara 
Pulau Sumatra, khususnya Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam .Dua tahun yang 
lalu, tiba-tiba saja kosa-kata tsunami menjadi akrab sekaligus momok bagi kita. 
Beribu jiwa hilang bersama raga yang tertimbun reruntuhan atau dihanyutkan 
gelombang maha dahsyat. Dalam sekejap, Aceh dan sekitarnya luluh lantak tak 
berdaya, rata dengan tanah. Seluruh negeri turut terluka rasanya. 

Dan kini, setelah dua tahun berlalu, Serambi Mekah itu tengah berbenah, 
menyembuhkan luka dan trauma, menumbuhkan kembali asa yang sempat meredup.

Berikut ini bincang-bincang kami bersama Sulaiman Tripa, penulis novel asal 
Banda Aceh  dalam rangka mengenang kembali tragedi tsunami. Ia kami temui 
seusai acara Lampion Sastra IV di Taman Ismali Marzuki beberapa waktu lalu. 
Acara tersebut mengambil tema "Sastra Bencana". Sulaiman Tripa diundang untuk 
membacakan salah satu cerpennya yang berjudul Gegasi Di Sebalik Bukit.  Novel 
terakhir yang ditulisnya adalah Malam Memeluk Intan (2005).
 
 
Pekan depan tepat dua tahun tragedi tsunami. Bagaimana geliat sastra di NAD 
pasca bencana besar itu? Ada perbedaan signifikan dengan sebelum bencana?

Saya kira luar biasa geliatnya. Sehabis tsunami, puluhan buku sastra terbit 
yang ditulis oleh sastrawan di Aceh. Ini yang sungguh jarang terlihat sebelum 
tsunami. Sebelum tsunami, sastrawan yang meluncurkan satu buku, sudah luar 
biasa. Tapi pascatsunami, sastrawan sudah meluncurkan puluhan buku, dan itu 
dilakukan tak hanya di Aceh. Itu dilakukan di Padang, Jakarta, Jogjakarta, 
Bandung. Ini perkembangan luar biasa menurut saya.

Buku jadi salah satu alat ukur, salah satu. Kemudian ada yang lain, beberapa 
sastrawan Aceh kerap terlihat karya mereka di berbagai media besar. Setelah 
tsunami juga, beberapa sastrawan Aceh terlihat begitu fenomenal. Ini saya kira 
beberapa hal yang menampakkan geliat itu semakin besar, artinya, banyak 
sastrawan yang sebelumnya seperti tidak ada momentum, sehingga karya mereka tak 
dikenal, padahal mereka tak kalah dalam bersaing dalam hal kualitas. Namun 
demikian, kondisi ini diakui belum dominan.

Menurut Anda bagaimana mestinya sastra/seni mengambil peran/memosisikan diri 
dalam setiap peristiwa, termasuk bencana?

Saya cenderung melihat 'wilayah kerja', wilayah peran. Maksudnya, apa yang bisa 
dilakukan oleh seniman, ya harus dilakukan. Begitu juga dengan elemen 
masyarakat yang lain. Jadi, alat ukur di sini, ya peran-peran berkesenian. Ini 
sudah dilakukan di Aceh di awal-awal tsunami oleh teman-teman yang juga 
mengalami korban anggota keluarganya dan harta-benda, tapi masih berkesenian 
untuk memberikan (minimal) semangat. Saya kira, tapi saya tak tahu persis, 
bahwa hal ini juga dilakukan oleh teman-teman di Yogyakarta. 

Ini bagian dari posisi itu. Bahwa seniman merespons bencana dengan karya yang 
bersedih, itu satu persoalan, tapi saya kira dengan kesedihan itu harus bisa 
membangkitkan semangat. Ini juga harus diperhatikan. Maksudnya, kita bersedih 
ya, tapi apakah tidak bisa dengan karya yang 'sedih' tapi meneguhkan semangat 
melanjutkan hidup. Di manapun terjadinya bencana, hal ini menurut saya, harus 
diperhatikan.

Bagaimana sikap pemerintah daerah yang sekarang terhadap perkembangan dunia 
seni dan sastra di NAD dibandingkan dahulu sebelum reformasi?

Saya harus bilang bahwa tidak begitu menggembirakan. Tapi dalam beberapa hal 
sudah menampakkan kemajuan, ihwal misalnya ada seniman yang memperoleh 
penghargaan. Tapi secara umum, masih sangat terbatas. 

Saya adalah salah seorang yang mengukur komitmen pemerintah itu tidak hanya 
dengan dana. Dana salah satu kebutuhan, bukan satu-satunya. Tapi bagaimana 
tentang perlindungan terhadap karya seniman, saya kira ini masih bisa 
dipertanyakan --walau dalam konteks Aceh, memang ada hal yang juga harus 
dilihat, yakni pelaksanaan syariat Islam yang juga dikritisi secara 
terus-menerus agar tercapai sasaran yang diinginkan.

Hal-hal seperti ini, termasuk bagaimana pemerintah memberikan semangat agar 
seniman tetap berkarya menjadi penting. Jangan sampai ekspresi seni dalam 
acara-acara penting justru ditempatkan di waktu habis acara, sama kayak orang 
mau makan. Jadi ke depan, porsi kesenian saya kira jangan sampai lagi seperti 
itu. Karena saya yakin, nilai-nilai yang terkandung dalam sebuah seni 
terkandung muatan untuk kelembutan peradaban.

Apa dampak terbesar bagi masyarakat Aceh dengan banyaknya pihak (pemerintah 
maupun non pemerintah) yang masuk dalam rangka memulihkan Aceh kembali?

Yang dimaksudkan mungkin dampak negatif ya! Saya kira ada. Yang sangat kurang 
diberdayakan dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi adalah keikutsertaan 
masyarakat korban di dalamnya. Yang saya lihat sekarang adalah, masyarakat 
korban tergantung. Masyarakat seperti tidak bisa berbuat apa-apa. Padahal 
dengan kondisi seperti sekarang, masyarakat korban juga masih banyak masalah, 
belum semua kebutuhan mereka terpenuhi. Tapi yang jelas, menurut saya ini 
dampak negatif. Belum lagi misalnya, pascatsunami sudah lahir satu golongan 
baru yang 'mewah' sebagai pekerja berbagai program. Ketika golongan ini 
--tepatnya sebagian pekerja di Aceh yang bermewah-mewah, akan menimbulkan kesan 
yang kurang baik bagi Aceh. Bagi masyarakat sendiri, saya yakin mereka tahu 
tentang apa yang terlihat. Saya kira ini tak bisa disembunyikan. Mereka yang 
menjadi korban, tahu banyak pekerja di Aceh yang memiliki pendapatan besar, 
tapi masalah mereka belum terselesaikan secara tuntas. Ini akan bermasalah di 
kemudian hari.

Satu hal lagi yang cenderung banyak orang melihat secara sederhana adalah 
bagaimana setelah proses ini selesai. Katakanlah 2009. Tahun 2007 saja, banyak 
program yang sudah selesai, ini akan berdampak kurang baik. Banyak orang yang 
akan kehilangan pekerjaan. Di samping itu, orang-orang yang sudah terbiasa 
dengan pendapatan tinggi, lalu menyesuaikan pengeluaran dengan pendapatan, 
lantas ketika semua berhenti, menurut saya ini akan menjadi masalah besar.

Apa akan ada acara khusus memperingati dua tahun tsunami, khususnya yang 
diselenggarakan oleh para sastrawan dan seniman Aceh?

Belum tahu. Tapi kami di Lapena, merencanakan ada satu kegiatan yang bisa 
mengingatkan semua pihak melalui karya sastra untuk selalu melakukan evaluasi 
dan introspeksi. Mungkin namanya "Dua Tahun Tsunami dan Sastra di Aceh".

Kami sedang berusaha mengajak kerjasama dengan kampus. Ini agar berbagai 
konsep, gagasan, dari sastra, juga bermuatan akademis. Kami merasa itu sangat 
penting, agar orang juga berfikir bahwa sastra juga berpengaruh dalam 
pembangunan sebuah peradaban.

Nah, dua tahun ini, kami sebenarnya ingin menghadirkan lagi momentum, untuk 
melihat apa-apa yang perlu dievaluasi, dan mengingatkan melalui sastra, bahwa 
masyarakat korban yan merupakan orang yang menjadi 'sebab' hingga semua bantuan 
hadir ke Aceh.

Apa rencana dan target di tahun mendatang sehubungan dengan karier menulis 
Anda? 

Saya sangat kepingin menyelesaikan sebuah novel serius. Saat ini belum, saya 
masih terus menulis, walau tak terfokus. Moto saya kan "Menulislah biar 
orang-orang membacanya". Maka saya tak pernah memilah saya harus menulis sastra 
atau nonsastra. Tapi yang jelas, harus bermanfaat bagi umat manusia. Makanya 
jangan heran, banyak juga tulisan saya yang di luar sastra, walau bahasanya 
mungkin sedikit sastra.

Saat ini saya sudah mulai mengajar di Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala. 
Saya juga berusaha menjadikan bahasa sastra sebagai penunjang, karena memang 
sangat membantu yang saya rasakan. Banyak masalah, ketika dirasionalisasikan, 
ternyata sangat enak menggunakan bahasa sastra. Saya sudah merasakan manfaatnya 
itu. Dan, saya kira, ini juga akan sangat membantu dalam bidang-bidang yang 
lain.

Yang jelas, saya tak ingin berhenti menulis. Dengan menulis, juga akan 
mengurangi pergulatan masalah dalam diri saya sendiri. Akhirnya, menulis 
merupakan salah satu pintu untuk menyelesaikan konflik dalam diri. Menulis, 
juga sebuah manajemen pengelolaan emosi pada akhirnya.
 
Endah Sulwesi
wawancara ini dimuat di tabloid PARLE edisi 66, 17 Desember 2006.
 
http://www.mail-archive.com/klub-sastra@yahoogroups.com/msg02318.html

Blog EntryMengenang Dua Tahun Tsunami.Mar 8, '07 6:38 AM
for everyone

[KlubSastraBentang] Wawancara dengan Sulaiman Tripa

perca
Sat, 16 Dec 2006 09:11:02 -0800

Wawancara dengan Sulaiman Tripa : Mengenang Dua Tahun Tsunami.


Dua puluh enam Desember dua tahun yang lalu, bencana besar melanda ujung utara 
Pulau Sumatra, khususnya Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam .Dua tahun yang 
lalu, tiba-tiba saja kosa-kata tsunami menjadi akrab sekaligus momok bagi kita. 
Beribu jiwa hilang bersama raga yang tertimbun reruntuhan atau dihanyutkan 
gelombang maha dahsyat. Dalam sekejap, Aceh dan sekitarnya luluh lantak tak 
berdaya, rata dengan tanah. Seluruh negeri turut terluka rasanya. 

Dan kini, setelah dua tahun berlalu, Serambi Mekah itu tengah berbenah, 
menyembuhkan luka dan trauma, menumbuhkan kembali asa yang sempat meredup.

Berikut ini bincang-bincang kami bersama Sulaiman Tripa, penulis novel asal 
Banda Aceh  dalam rangka mengenang kembali tragedi tsunami. Ia kami temui 
seusai acara Lampion Sastra IV di Taman Ismali Marzuki beberapa waktu lalu. 
Acara tersebut mengambil tema "Sastra Bencana". Sulaiman Tripa diundang untuk 
membacakan salah satu cerpennya yang berjudul Gegasi Di Sebalik Bukit.  Novel 
terakhir yang ditulisnya adalah Malam Memeluk Intan (2005).
 
 
Pekan depan tepat dua tahun tragedi tsunami. Bagaimana geliat sastra di NAD 
pasca bencana besar itu? Ada perbedaan signifikan dengan sebelum bencana?

Saya kira luar biasa geliatnya. Sehabis tsunami, puluhan buku sastra terbit 
yang ditulis oleh sastrawan di Aceh. Ini yang sungguh jarang terlihat sebelum 
tsunami. Sebelum tsunami, sastrawan yang meluncurkan satu buku, sudah luar 
biasa. Tapi pascatsunami, sastrawan sudah meluncurkan puluhan buku, dan itu 
dilakukan tak hanya di Aceh. Itu dilakukan di Padang, Jakarta, Jogjakarta, 
Bandung. Ini perkembangan luar biasa menurut saya.

Buku jadi salah satu alat ukur, salah satu. Kemudian ada yang lain, beberapa 
sastrawan Aceh kerap terlihat karya mereka di berbagai media besar. Setelah 
tsunami juga, beberapa sastrawan Aceh terlihat begitu fenomenal. Ini saya kira 
beberapa hal yang menampakkan geliat itu semakin besar, artinya, banyak 
sastrawan yang sebelumnya seperti tidak ada momentum, sehingga karya mereka tak 
dikenal, padahal mereka tak kalah dalam bersaing dalam hal kualitas. Namun 
demikian, kondisi ini diakui belum dominan.

Menurut Anda bagaimana mestinya sastra/seni mengambil peran/memosisikan diri 
dalam setiap peristiwa, termasuk bencana?

Saya cenderung melihat 'wilayah kerja', wilayah peran. Maksudnya, apa yang bisa 
dilakukan oleh seniman, ya harus dilakukan. Begitu juga dengan elemen 
masyarakat yang lain. Jadi, alat ukur di sini, ya peran-peran berkesenian. Ini 
sudah dilakukan di Aceh di awal-awal tsunami oleh teman-teman yang juga 
mengalami korban anggota keluarganya dan harta-benda, tapi masih berkesenian 
untuk memberikan (minimal) semangat. Saya kira, tapi saya tak tahu persis, 
bahwa hal ini juga dilakukan oleh teman-teman di Yogyakarta. 

Ini bagian dari posisi itu. Bahwa seniman merespons bencana dengan karya yang 
bersedih, itu satu persoalan, tapi saya kira dengan kesedihan itu harus bisa 
membangkitkan semangat. Ini juga harus diperhatikan. Maksudnya, kita bersedih 
ya, tapi apakah tidak bisa dengan karya yang 'sedih' tapi meneguhkan semangat 
melanjutkan hidup. Di manapun terjadinya bencana, hal ini menurut saya, harus 
diperhatikan.

Bagaimana sikap pemerintah daerah yang sekarang terhadap perkembangan dunia 
seni dan sastra di NAD dibandingkan dahulu sebelum reformasi?

Saya harus bilang bahwa tidak begitu menggembirakan. Tapi dalam beberapa hal 
sudah menampakkan kemajuan, ihwal misalnya ada seniman yang memperoleh 
penghargaan. Tapi secara umum, masih sangat terbatas. 

Saya adalah salah seorang yang mengukur komitmen pemerintah itu tidak hanya 
dengan dana. Dana salah satu kebutuhan, bukan satu-satunya. Tapi bagaimana 
tentang perlindungan terhadap karya seniman, saya kira ini masih bisa 
dipertanyakan --walau dalam konteks Aceh, memang ada hal yang juga harus 
dilihat, yakni pelaksanaan syariat Islam yang juga dikritisi secara 
terus-menerus agar tercapai sasaran yang diinginkan.

Hal-hal seperti ini, termasuk bagaimana pemerintah memberikan semangat agar 
seniman tetap berkarya menjadi penting. Jangan sampai ekspresi seni dalam 
acara-acara penting justru ditempatkan di waktu habis acara, sama kayak orang 
mau makan. Jadi ke depan, porsi kesenian saya kira jangan sampai lagi seperti 
itu. Karena saya yakin, nilai-nilai yang terkandung dalam sebuah seni 
terkandung muatan untuk kelembutan peradaban.

Apa dampak terbesar bagi masyarakat Aceh dengan banyaknya pihak (pemerintah 
maupun non pemerintah) yang masuk dalam rangka memulihkan Aceh kembali?

Yang dimaksudkan mungkin dampak negatif ya! Saya kira ada. Yang sangat kurang 
diberdayakan dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi adalah keikutsertaan 
masyarakat korban di dalamnya. Yang saya lihat sekarang adalah, masyarakat 
korban tergantung. Masyarakat seperti tidak bisa berbuat apa-apa. Padahal 
dengan kondisi seperti sekarang, masyarakat korban juga masih banyak masalah, 
belum semua kebutuhan mereka terpenuhi. Tapi yang jelas, menurut saya ini 
dampak negatif. Belum lagi misalnya, pascatsunami sudah lahir satu golongan 
baru yang 'mewah' sebagai pekerja berbagai program. Ketika golongan ini 
--tepatnya sebagian pekerja di Aceh yang bermewah-mewah, akan menimbulkan kesan 
yang kurang baik bagi Aceh. Bagi masyarakat sendiri, saya yakin mereka tahu 
tentang apa yang terlihat. Saya kira ini tak bisa disembunyikan. Mereka yang 
menjadi korban, tahu banyak pekerja di Aceh yang memiliki pendapatan besar, 
tapi masalah mereka belum terselesaikan secara tuntas. Ini akan bermasalah di 
kemudian hari.

Satu hal lagi yang cenderung banyak orang melihat secara sederhana adalah 
bagaimana setelah proses ini selesai. Katakanlah 2009. Tahun 2007 saja, banyak 
program yang sudah selesai, ini akan berdampak kurang baik. Banyak orang yang 
akan kehilangan pekerjaan. Di samping itu, orang-orang yang sudah terbiasa 
dengan pendapatan tinggi, lalu menyesuaikan pengeluaran dengan pendapatan, 
lantas ketika semua berhenti, menurut saya ini akan menjadi masalah besar.

Apa akan ada acara khusus memperingati dua tahun tsunami, khususnya yang 
diselenggarakan oleh para sastrawan dan seniman Aceh?

Belum tahu. Tapi kami di Lapena, merencanakan ada satu kegiatan yang bisa 
mengingatkan semua pihak melalui karya sastra untuk selalu melakukan evaluasi 
dan introspeksi. Mungkin namanya "Dua Tahun Tsunami dan Sastra di Aceh".

Kami sedang berusaha mengajak kerjasama dengan kampus. Ini agar berbagai 
konsep, gagasan, dari sastra, juga bermuatan akademis. Kami merasa itu sangat 
penting, agar orang juga berfikir bahwa sastra juga berpengaruh dalam 
pembangunan sebuah peradaban.

Nah, dua tahun ini, kami sebenarnya ingin menghadirkan lagi momentum, untuk 
melihat apa-apa yang perlu dievaluasi, dan mengingatkan melalui sastra, bahwa 
masyarakat korban yan merupakan orang yang menjadi 'sebab' hingga semua bantuan 
hadir ke Aceh.

Apa rencana dan target di tahun mendatang sehubungan dengan karier menulis 
Anda? 

Saya sangat kepingin menyelesaikan sebuah novel serius. Saat ini belum, saya 
masih terus menulis, walau tak terfokus. Moto saya kan "Menulislah biar 
orang-orang membacanya". Maka saya tak pernah memilah saya harus menulis sastra 
atau nonsastra. Tapi yang jelas, harus bermanfaat bagi umat manusia. Makanya 
jangan heran, banyak juga tulisan saya yang di luar sastra, walau bahasanya 
mungkin sedikit sastra.

Saat ini saya sudah mulai mengajar di Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala. 
Saya juga berusaha menjadikan bahasa sastra sebagai penunjang, karena memang 
sangat membantu yang saya rasakan. Banyak masalah, ketika dirasionalisasikan, 
ternyata sangat enak menggunakan bahasa sastra. Saya sudah merasakan manfaatnya 
itu. Dan, saya kira, ini juga akan sangat membantu dalam bidang-bidang yang 
lain.

Yang jelas, saya tak ingin berhenti menulis. Dengan menulis, juga akan 
mengurangi pergulatan masalah dalam diri saya sendiri. Akhirnya, menulis 
merupakan salah satu pintu untuk menyelesaikan konflik dalam diri. Menulis, 
juga sebuah manajemen pengelolaan emosi pada akhirnya.
 
Endah Sulwesi
wawancara ini dimuat di tabloid PARLE edisi 66, 17 Desember 2006.
 
http://www.mail-archive.com/klub-sastra@yahoogroups.com/msg02318.html

Blog EntrySajak-sajak Sulaiman Tripa Mar 8, '07 6:34 AM
for everyone
Minggu, 25 Februari 2007

Sajak-sajak Sulaiman Tripa



BUNGAKU TELAH PERGI (1)

pagi itu, kau dibawa
kepadaku, tak kau tinggalkan apa-apa
kupu-kupu terbang tak juga datang
rombonganmu, tergesa pulang

untukku, kau sisakan banyak kepedihan
bersama air mata dengan wajah yang buram
senyum terakhirmu tak membawa pesan

mungkinkah kau lupa
kalau aku butuh setangkai kembang
ternyata awan datang bersama malam
mungkin sanggup kakimu melawan ajakan

kau berlalu
bersama angin yang terkelupas

panteraja, 1 januari 2005

BUNGAKU TELAH PERGI (2)

bungaku telah pergi
lewat pintu jagad yang retak
antara tiang langit yang tak lagi biru
dalam bau-bau yang bersuara

tawon-tawon sudah kehilangan madu
kumbang-kumbang tak lagi singgah untuk mengganggu
semut-semut kehabisan rumah untuk menunggu
burung-burung hanya bernyanyi pilu

tapi di antara itu
ada yang datang, lalu mencari tulang
memakan ranting bergantang-gantang
menginjak rumput dengan bergoyang

ada yang tak turut pergi
bersama bunga

jakarta, 10 januari 2005

INGIN MELIHATNYA

ada yang bergulung itu kembali datang
di angkasa kampung yang buram

siapakah yang menunggu
dan memetik bunga yang tak sedang mekar?

aku hanya ingin melihatnya
hanya melihatnya!

banda aceh, 2006

SURAT UNTUK MALAM

ini adalah sepi yang selalu datang
mengejar waktu yang berulang-ulang

ingin kuhapus keringat malam
yang meleleh di alur kulit yang tua
tapi engkau menghindar

tapi ada keceriaan
yang tak selamanya hadir
dan kita merasakan nikmat di dalamnya

banda aceh, 9 mei 2006

Sulaiman Tripa, lahir di Panteraja, 2 April 1976. Pegiat seni-budaya ini aktif menulis di beberapa majalah, jurnal, surat kabar, web site. Buku-bukunya yang telah terbit, antara lain, Kekerasan Itu Tak Damai Sekalipun Hanya Sekali (AYDI, 2001), Mencari Bumi yang Tak Gelisah (AYDI, 2002), Lolos dari Maut Tsunami (Radio 68H, 2005), Malam Memeluk Intan (novel, LPPH, FLP, 2005), Menunggu Pagi Datang (cerpen, Lapena, 2005). Bersama D Kemalawati, ia mengeditori antolgi puisi Ziarah Ombak (Lapena, 2005).

http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=283979&kat_id=364


Blog EntryKebangkitan Sastra Aceh Pasca-Tsunami Mar 8, '07 6:31 AM
for everyone
Minggu, 11 Februari 2007

Kebangkitan Sastra Aceh Pasca-Tsunami



Kehidupan sastra di Aceh menggeliat bangkit pasca-tsunami. Berbagai acara sastra digelar dan buku-buku karya sastra berterbitan pasca-bencana besar itu. Buku terbaru, kumpulan cerpen Pada Tikungan Berikutnya karya Muswarman Abdullah, akan diluncurkan Selasa 13 Februari 2007, di kantor Lapena, Banda Aceh.

Buku itu hanya salah satu dari empat buku sastra yang telah diterbitkan Lapena pasca-tsunami, seperti Ziarah Ombak (antologi puisi tsunami) yang dieditori Sulaiman Tripa dan D Kemalawati, Surat dari Negeri tak Bertuan (kumpulan puisi karya D Kemalawati), Menunggu Pagi Tiba (kumpulan cerpen karya Sulaiman Tripa), dan Nyanyian Manusia (kumpulan puisi karya Harun Al Rasyid).

Selain dari Lapena, sejumlah buku karya sastra juga telah terbit pasca-tsunami, misalnya Bayang Bulan di Pucuk Mangrove (antologi cerpen, Dewan Kesenian Banda Aceh) yang dieditori Mustafa Ismail, Lagu Kelu (kumpulan puisi tsunami, Aliansi Sastrawan Aceh) yang dieditori Doel CP Allisah, Manusia Kodok (kumpulan cerpen, Komunitas Tikar Pandan) yang dieditori Azhari, dan novel Hikayat Sang Gila (Prima Rodeta) karya Saiful Bachri.

Saat ini juga masih ada dua buk