sulaiman's Site, Jak Piyoh

sulaiman's posts with tag: guru

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag guru
Blog EntryAgama Itu Budi PekertiMar 15, '07 6:11 AM
for everyone

http://republika.co.id/koran_detail.asp?id=283156&kat_id=19&kat_id1=&kat_id2=

Republika, Senin, 19 Februari 2007

Agama Itu Budi Pekerti?



Masjid kami adalah masjid RT, didirikan oleh warga yang hampir semuanya petani. Serambinya kecil dan kalau dipakai untuk shalat Jumat hanya menampung dua baris. Tetapi serambi masjid yang sempit itu sering menjadi tempat diskusi yang menarik. Kemarin saya dihentikan oleh U-un setelah selesai shalat Jumat.

''Saya baca di koran, sampeyan habis menjadi pembicara di seminar tentang budi pekerti di kota kabupaten,'' kata U-un sambil memegangi lengan baju koko saya. ''Nah, jangan pulang dulu, saya punya banyak pertanyaan yang harus dijawab.''

Dalam keadaan seperti itu saya tidak bisa menghindar. Apalagi Fadli dan Kang Dalil seakan ikut menyandera saya. Jadilah, saya duduk di lantai serambi. U-un, Fadli, dan Kang Dalil berbuat yang sama. ''Ya, berita itu benar,'' kata saya. ''Dinas Pendidikan kabupaten bermaksud memnyiapkan kurikulum tentang pendidikan budi pekerti. Saya dan beberpa orang yang bertitel doktor mereka jadikan narasumber. Kamu punya pertanyaan apa, Un.''

U-un kelihatan agak gelisah sebelum membuka suara. ''Begini, banyak guru, terutama guru agama Islam, tidak setuju dengan diselenggarakannya pendidikan budi pekerti kepada para murid. Kata mereka, pendidikan budi pekerti sudah tercakup dalam pendidikan dan pembelajaran agama Islam. Apa nanti tidak tumpang tindih? Lagi pula, jumlah mata pelajaran yang diterima para murid sudah terlalu banyak. Apa anak didik nanti tidak keberatan muatan?''

Pertanyaan U-un sederhana, dan bukan hal yang baru pula. Pertanyaan itu juga berangkat dari nalar yang logis. Pelajaran agama sejatinya mencakup di dalamnya pelajaran budi pekerti. Kanjeng Nabi sendiri diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia melalui pengamalan dan penghayatan rukun Islam dan rukun iman.

''Eh, ditanya kok diam? Kami menunggu jawaban sampeyan,'' desak U-un.
''Un, pertanyaan itu juga ada di benak saya. Terutama setelah saya tahu definisi tetang budi pekerti.''
Kemudian saya uraikan, kata budi pekerti berasal dari Bahasa Jawa. Gabungan antara budi dan pekerti, termasuk dalam kategori gabungan kata saroja. Artinya, kata budi dan pekerti sesungguhnya mempunyai arti yang sangat berdekatan sehingga antara keduanya berfungsi saling menegaskan. Contohnya dalam Bahasa Indonesia adalah luluh-lantak. Dengan demikian bisa dikatakan budi pekerti sama dengan budi.
''Kalau begitu, apa yang dimaksud dengan budi?'' Fadli menyela bertanya. Untuk menjawab ini, saya harus bekerja keras untuk mengingat sesuatu yang sudah terekan di kepala saya.

Dari Ensiklopedia Nasional Indonesia bisa diperoleh pengertian bahwa budi adalah kesadaran tertinggi manusia. Budi mendekatkan manusia kepada nilai-nilai kesucian, kebenaran, dan keluhuran yang bersumber pada tuntunan Tuhan. Dengan budi, manusia dapat mewaspadai pengaruh buruk yang menyelinap ke dalam hati. Maka budi menjadi daya terang ketika kekuatan gelap masuk. Dan budi selalu berada dalam kesiagaan untuk menangkap isyarat tuntunan yang datang dari Tuhan. Namun budi baru punya makna yang sesungguhnya ketika dia sudah menjadi kemudi atau pengarah amal manusia: menjadi budi-pekerti.

U-un dan Fadli mengerutkan kening setelah mendengar ceramah yang saya kutip dari ensiklopedia itu. Tetapi U-un tiba-tiba mengangkat kepala dan bilang, ''Sampeyan belum menjawab inti pertanyaan saya; mengapa anak-anak kita dianggap perlu mendapat pelajaran tambahan budi pekerti padahal mereka sudah diberi pelajaran agama Islam?''

''Ya!'' Fadli mendukung U-un. ''Kita tahu tujuan beragama kita di dunia adalah mencapai akhlak karimah. Ketika saya mendengar omongan sampeyan tadi saya menarik kesimpulan bahwa budi pekerti nyaris sama pengertiannya dengan budi luhur, akhlak mulia, atau akhlaqul karimah, dan semacam itulah. Maka pertanyaan saya adalah, apakah pelajaran agama di sekolah dan di masyarakat belum mencapai tujuan itu? Jelasnya, apakah keberagamaan kita secara umum belum menghasilkan masyarakat yang akhlaknya mulia? Kalau ya, mengapa? Dan itukah sebabnya diperlukan pelajaran tambahan budi pekerti untuk anak-anak kita?''

Saya gagap mendengar pertanyaan yang membanjir seperti bah yang menenggelamkan Jakarta baru-baru ini. Namun, sebelum saya bisa berkata apapun, U-un malah menambah lagi pertanyaannya. ''Bagaimana bila sampai muncul kesan umum bahwa keberagamaan kita tidak membuat kita berbudi pekerti? Bukankah kita tanpa sadar telah merugikan agama kita sendiri?''

Wah, pertanyaan-pertanyaan itu membuat kepala saya jadi benar-benar pusing. ''Saya tidak akan menjawab pertanyaan kalian,'' kata saya. ''Saya hanya mau bilang, keberagamaan kita menuntut bukti nyata berupa akhlak karimah atau budi pekerti. Tanpa bukti budi pekerti, kita akan gagal merefleksikan Islam sebagai penyelamat dan rahmat bagi kehidupan. Ini merupakan kesalahan sangat besar. Sebaliknya bila kita bisa membuktikan keberagamaan dengan hati, pikiran, dan perilaku yang baik, maka tercapai sudah tujuan kita beragama. Dan tak perlu lagi ada pelajaran budi pekerti. Bagaimana menurut kalian?'' Saya balik bertanya.

Tiga orang di depan saya semuanya kelihatan berpikir, lalu tersenyum tawar. ''Saya kira sampeyan benar, tapi kapan dan bagaimana memulainya? Dari diri sendiri?'' tanya U-un. Lalu semua diam.

(Ahmad Tohari )

Blog EntryLelucon Politik (Budi Darma, Sastrawan) Mar 14, '07 8:17 AM
for everyone

Harian Kompas,  Rabu, 14 Maret 2007

Lelucon Politik

Budi Darma

Dalam The Act of Creation, Arthur Koestler menyatakan, lelucon adalah salah satu kebutuhan manusia.

Dan karena manusia sanggup menciptakan lelucon, maka manusia adalah makhluk kreatif. Karena dalam banyak hal kebutuhan manusia bersifat universal, maka lelucon pun sering memuat masalah universal, termasuk lelucon politik, dengan obyek perilaku politikus. Sikap sinis terhadap politikus melahirkan istilah zoon politicon, yaitu politikus bukan makhluk biasa seperti manusia umumnya, tetapi binatang yang berpolitik.

Karena sikap sinis terhadap politikus adalah universal, maka lelucon politik di Perancis bisa berlaku di negara-negara lain, termasuk Indonesia. Dalam lelucon politik Perancis sebagaimana yang dikutip Ida Sundari Husen dari UI dikisahkan, pada suatu hari sebuah koran menurunkan tulisan Lima Puluh Persen Politikus adalah Bajingan. Setelah mendapat protes keras dari politikus yang merasa terpukul, dengan gaya serampangan redaksi koran itu menurunkan tulisan lain, Lima Puluh Persen Politikus Bukan Bajingan.

Lelucon ibarat asap, dan realita ibarat api. Jika kita berhadapan dengan asap dan api, pasti ada yang tidak beres. Ketidakberesan yang berlarut-larut akan menimbulkan kritik. Manakala kritik tidak mempan, muncul kritik berupa lelucon. Masyarakat putus asa menyaksikan ketidakberesan, dan karena tidak mampu merombak keadaan, kemudian muncul kebencian.

Mencari kekuasaan

Dalam konteks Indonesia, sumber keputusasaan dan kebencian adalah perilaku para politikus sendiri. Karena politik tidak bisa lepas dari kekuasaan, dan barometer utama kekuasaan adalah ibu kota, maka peran perilaku politikus di Ibu Kota dapat dianggap sebuah miniatur perilaku politikus umumnya.

Pernah, misalnya, rakyat Jakarta bersedih karena banjir merusak kehidupan mereka, ternyata ratusan politikus datang ke Jakarta untuk kepentingan sendiri dengan dalih agar hubungan mereka dengan rakyat lebih terjamin. Agar perjuangannya berhasil, mereka menginap dan mengadakan pertemuan di hotel-hotel mewah.

Barang siapa mengikuti pola pikir para politikus akan tahu, orientasi mereka adalah kekuasaan. Karena itu jangan heran, manakala pada masa Pemilu 2003, sejumlah elite politik dengan penuh keyakinan mengatakan, negara tidak akan jalan tanpa partai politik. Dengan demikian, untuk mencapai kekuasaan, siapa pun orangnya harus menjunjung tinggi partai politik sebagai sesembahannya.

Dengan dalih untuk kepentingan rakyat, bisa diramalkan, makin mendekati pemilu jumlah partai akan bertambah drastis. Harian Kompas (2/3/2007) memberitakan, dalam menghadapi Pemilu 2009, sekarang telah berdiri 45 partai politik baru.

Pernyataan Akbar Tandjung sebagai politikus berpengalaman pasti benar, "partai politik hanya untuk mencari kekuasaan" (Kompas, 7/3/2007). Jalan untuk menuju kekuasaan diatur kingmakers, yaitu orang-orang yang atas nama rakyat mengatur posisi para pejabat dari pusat sampai daerah demi kepentingan partai masing-masing. Melalui kingmakers, kekuasaan yang katanya untuk kepentingan rakyat dibagikan kepada para pion, yaitu pejabat dari pusat sampai daerah.

Di balik kingmakers ada kekuasaan, dan di balik kekuasaan pasti ada uang. Kekuasaan dan uang telah menjadi saudara kembar siam, tentu saja, katanya, untuk kepentingan rakyat.

Karena semua katanya bersumber dari kepentingan rakyat, maka secara tidak langsung rakyat harus menghidupi partai politik dan pionnya. Demi kepentingan rakyat, begitu para pion mencapai ambisi yang berarti mencapai jumlah uang yang diinginkan, para pion harus mempersembahkan sebagian uangnya kepada partai, tentu saja yang juga diambil dari rakyat.

Politikus dan selebriti

Batas antara selebriti dan politikus menjadi tipis. Masyarakat akan bangga manakala melihat selebriti hidup bermewah-mewah dan kecewa jika menyaksikan selebriti hidup sederhana, apalagi terlunta-lunta, kecuali jika selebriti itu sudah tidak laku. Makin banyak selebriti muncul, makin bangga pula masyarakat. Bagai selebriti, politikus harus hidup mewah, entah dari mana sumber kemewahannya. Politikus, juga bagai selebriti, harus pandai berlagak, bersandiwara, dan menguasai bahasa tubuh dengan baik, terutama jika disorot kamera televisi.

Namun, selebriti dan politikus mau tidak mau pasti berbeda. Kemewahan selebriti dinikmati masyarakat karena dengan menyaksikan kemewahannya, masyarakat mencapai katarsis wishful thinking-nya. Masyarakat ingin gagah, cantik, hidup mewah, dan lain-lain yang hanya ada dalam impian, dan dengan menyaksikan gaya hidup selebriti, dalam benaknya masyarakat mengindentifikasi diri sebagai selebriti.

Jika selebriti sebagai aktualisasi wishful thinking, bagi rakyat politikus adalah gantungan harapan kehidupan nyata. Rakyat tahu, mereka diperalat politikus, tetapi tidak berdaya. Ketidakberdayaan bisa menimbulkan sikap apatis, yang akhirnya memperbesar jumlah golput.

Kecuali makin mendekati pemilu rakyat tahu jumlah partai bertambah drastis, rakyat juga tahu, jumlah bajing loncat makin banyak. Alasan seseorang menjadi bajing loncat, dengan enaknya pindah dari satu ke partai lain, jika perlu dengan mengkhianati partai yang telah dijadikan sandaran hidup mewahnya, pasti akan bermuara pada kepentingan rakyat. Karena melalui partai lama mereka tidak mendapat kedudukan, maka guna menyalurkan aspirasinya untuk kepentingan rakyat mereka meloncat ke partai lain untuk kepentingan sendiri yang lebih menguntungkan. Rakyat dijadikan alasan. Konotasi bajing loncat sebetulnya negatif, yaitu bajingan yang suka meloncat dari satu truk pengangkut barang ke truk pengangkut barang lain.

Rakyat tahu, makin mendekati pemilu dan pilkada pasti jumlah pion yang merasa diperlukan rakyat makin banyak. "Sebetulnya saya tidak ingin jabatan itu, tetapi karena rakyat mendesak untuk menjalankan amanah rakyat, saya terpaksa ikut bertanding" adalah klise yang selalu terdengar. Maka, jangan heran jika dalam lelucon politik Perancis, judul Lima Puluh Persen Politikus adalah Bajingan dengan mudah diralat menjadi Lima Puluh Persen Politikus Bukan Bajingan.

Budi Darma Sastrawan


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design - Copyright © 2005 sonnenvogel.com All rights reserved.