sulaiman's Site, Jak Piyoh

sulaiman's posts with tag: edisi mei

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag edisi mei
Blog Entryhanya beberapa!May 22, '06 12:15 PM
for everyone

CATOK GAMPONG DI PANDE BEUSOE

Oleh: Sulaiman Tripa (Penulis)

 

KALAU mau tahu tentang merek catok, maka sesungguhnya, janganlah menanyakan hal itu kepada nelayan, atau para haria. Hal yang sama, jangan pernah menanyakan harga jaring sama petani atau haria. Persoalan jual-menjual hewan dan uroe pekan, maka haria tempat menanyakan segala hal.

Tentu, masalah tersebut tidak dapat di bolak-balik. Misalnya, harga jaring menanyakan kepada petani, harga catok menanyakan sama haria, atau harga hewan potong menanyakannya sama nelayan. Saya kira tidak bisa seperti itu. Kalau itu yang terjadi, maka urusannya bisa berabe.

Ingatlah, menanyakan sesuatu tidak pada tempatnya, maka tunggulah kehancuran. Demikian juga menyerahkan sesuatu yang bukan pada orangnya, juga tunggulah kehancuran. Maka jangan memberikan jaring kepada petani, memberikan catok kepada haria, atau urusan potong-memotong sama petani.

Tapi lihatlah sekeliling kita, orang-orang kerap menanyakan sesuatu tidak pada tempatnya. Dalam kenyataan, sangat sering kita temui tentang banyak orang yang menyerahkan urusan kepada orang-orang yang tidak mengerti. Akhirnya, lagee tajok bungoeng bak jaroe bue.

Pascatsunami, terutama ketika nilai-nilai uang berawang-awang di atas kepala kita, maka fenomena ini menjadi sangat kentara. Ketika lembaga swadaya masyarakat (LSM) mendapat tempat yang bagus dalam urusan pembangunan kembali, maka banyak orang yang akan mendirikan LSM. Demikian juga ketika banyak pekerjaan yang menggiurkan dalam hal membuat rumah, maka di nanggroe kita, lalu hadir banyak perusahaan dengan berbagai merek.

Mau tidak mau, kita seperti terpaksa untuk menyebut laksana tumbuh jamur di musim hujan. Tentu dengan berbagai kepentingan. Yang jelas, persoalan uang kemudian menjadi salah satu hal yang dapat dideteksi dengan jelas, dengan hadirnya banyak institusi yang disebut di atas.

Kini kita sebagai masyarakat kerap mendengarkan demi kesejahteraan rakyat. Segala hal yang dilakukan sangat sering disebutkan demi kesejahteraan rakyat, yang mungkin, banyak orang yang tidak tahu dengan apa yang disebutnya itu.

Kesejahteraan rakyat lalu menjadi slogan baru yang sangat indah terdengar di telinga. Tapi terlalu menyakitkan begitu turun ke hati. Betapa banyak persoalan yang demi kesejahteraan rakyat, pada kenyataannya tidak terselesaikan sebagaimana yang diharapkan.

Lalu ini semacam reportoar yang kayaknya, hampir semua orang memerlukannya. Orang yang pentas membutuhkan penonton. Penonton juga ikut menonton, walau saat menonton, merasakan rasa yang memuakkan.

Muaranya jelas, orang-orang yang melaksanakan sesuatu sering bukan pada tempatnya. Banyak orang masuk menjadi pegawai negeri atau pegawai swasta, akhirnya yang dominan adalah persoalan pendapatan, dan itu sama sekali bukan pada persoalan pendapat.

Saya kira hal ini tidak harus semua pembaca menyetujuinya. Namun yang jelas, ini menjadi fenomena keseharian yang kita sendiri sudah seperti imun untuk mengatakan tidak kepada orang yang tidak menguasai segala sesuatu yang mau dikerjakan.

Saya ingat kepada catok, ya seperti yang yang awali di muka, di mana alat itu sama sekali tidak bisa diberikan untuk nelayan –karena pasti akan meukeuratan karena tidak tahu memakai untuk apa. Hal yang sama juga ketika menyerahkan jaring kepada petani, maka tidak usah menggugat apalagi sampai marah akhirnya mereka menaruh jaring itu sebagai pembatas kandang ayam.

Nah, mengapa saya ingat catok?

Dalam hal mengingat merek, pemegang (petani) catok pasti tahu yang terbaik. Sekarang, catok cap buya masih dianggap sebagai yang terunggul. Catok cap buya masih sangat bagus bila dibandingkan dengan catok cap meuruwa atau catok cap manok.

Konsekuensi ketiga catok akan berbeda. Badan kerempeng seperti Polem Sabalah di Gampong Baroh, sama sekali tak mungkin bila memakai catok cap buya, karena itu hanya sesuai dengan keadaan tubuh kekar Apa Rufin. Sabalah hanya cocok dengan catok cap meureuwa atau cap manok.

Tapi memang di gampong, ketiga merek catok itu saja yang dipakai.

Saya sedikit heran, mengapa orang tua kita di pande, mesti memakai ketiga merek untuk bentuk catok itu. Padahal selain buya, meuruwa dan manok, tentu masih banyak makhluk lain yang bisa dijadikan gambar merek atau cap.

Kenapa mesti nektu kita menggunakan buya yang nyatanya sangat gemar masuk gampong dan memangsa apa saja. Kenapa endatu kita mesti memasang meuruwa yang sangat gemar berguling-guling dengan bau, sehingga gampong ikut berbau. Saya benar-benar tidak mengerti kenapa orang tua kita mesti menggunakan ayam yang gemar kireueh-meukireueh sebagai gambar merek.

Saya tidak tahu apakah semua orang juga memikirkan seperti apa yang terpikirkan. Barangkali bisa jadi. Namun ini tentu susah dicari jawabannya. Karena masalah ini tidak ada dalam berbagai kitab kuneng di dayah rangkang. Semua sejarah ini juga tidak tercatat dalam buku sejarah di sekolah-sekolah yang dicetak berjilid-jilid. Tidak mungkin juga bila kita mencarinya di perpustakaan mana pun.

Makanya, berlakulah pendapat sebagai kemungkinan-kemungkinan, yang orang lain bisa juga sudah pernah memikirkannya. Kemungkinan ini lahir ketika saya pulang ke Gampong Baroh dan menyaksikan penggunaan catok oleh Polem Sabalah dan Apa Rufin. Saya memperhatikan dalam-dalam, ternyata berbeda.

Pertama, tanah yang di catok Apa Rufin jauh lebih besar ketimbang yang dilakukan Polem Sabalah. Bahkan sekali catok Apa Rufin hampir sama dengan dua kali catok Polem Sabalah. Tanoh Apa Rufin nampak meucak-cak. Sedangkan punya Polem Sabalah, sudah hampir brue.

Kedua, kecepatan kerja jauh lebih efektif seperti yang dilakukan Apa Rufin ketimbang Polem Sabalah. Untuk sinaleh tanoh, Apa Rufin hanya membutuhkan waktu delapan jam, sementara Polem Sabalah butuh 36 jam. Empat kali lipat lebih.

Nah, fenomena Apa Rufin dan Polem Sabalah inilah yang membuat saya bisa berfikir tentang kemungkinan “menyangkut gambar merek tadi”.

Saya kira semua harus lihat, agar kemungkinan ini tidak terbantah, bahwa buya jauh lebih besar mulutnya ketimbang meuruwa. Walau seperti yang kita lihat, gambar kedua binatang itu hampir mirip. Nah, mulut besar itu jadi sama sekali tidak mungkin dengan daya kireuh-meukireh yang dilakukan manok di gampong. Saya kira persoalan terakhir tidak terbantahkan.

Yang menjadi persoalan, kemungkinan ini masih saja dipandang sebagai sesuatu yang tidak rasional. Itu terjadi karena bila menyerahkan urusan penilaian ini bukan melalui pawang buya, pawang meuruwa, atau ureung peu manok. Tapi percayalah, catok yang proses pembuatannya di pande ujung gampong, saya kira tidak mungkin lepas dari kemungkinan yang saya katakan. Walau ini juga bukan jaminan bahwa Anda akan menerima seperti yang saya pikirkan.

Begitu ‘kan?[]

 

 

 

 

AGAR PEKERJA SOSIAL TAK BERWATAK TOKE

> > > Sulaiman Tripa (Penulis)

 

ACEH ini adalah daerah bencana. Siapa saja bisa melihatnya dengan jelas. Bahkan kawasan ini sudah menjadi seperti sepotong roti dalam botol kaca yang bening, di mana siapa saja dengan mudah memandang dari berbagai sudut dengan tidak harus lagi secara mengintip.

Pascabencana, kesibukan di semua sektor bertambah 360 derajat. Orang yang berada di luar daerah bencana, melihatnya dengan wajah yang berbeda seperti para orang-orang yang hidup di sana. Kalau wajah orang yang kena bencana merasa kehilangan, tapi wajah orang-orang yang melihat, mungkin lebih merasa harus memberikan.

Fenomena ini sangat manusiawi. Walau atas fenomena itu tak selalu dapat dikata sebagai proses kasihan-mengasihani. Ini menjadi proses ibadah, bisa juga dikatakan sebagai kesalehan sosial dari manusia yang satu atas manusia lain dan sering itu bukan sebagai kasihan. Mungkin ini harus dilihat sebagai kewajiban.

Analogi seorang masyarakat miskin yang peminta-minta dapat menjadi contoh permbanding. Orang-orang yang diminta sedikit rezeki, tidak harus memberinya karena kasihan. Tapi harus dilihat sebagai kewajiban, bahwa dalam rezeki kita ada sedikit hak untuk mereka.

Masyarakat yang menjadi korban di kawasan bencana, sama sekali tidak boleh dilihat seperti itu. Melihat orang-orang yang terkena bencana dan merasa harus membantu membangun kembali kehidupan mereka, janganlah dilihat dengan rasa kasihan. Tapi harus melihat dengan kewajiban.

Inilah yang menghadirkan kenyataan global di mana suatu bangsa membantu bangsa lainnya. Dalam konteks bencana di Aceh, ada berbagai komitmen yang hadir. Semua bangsa merasa harus membantu dan mungkin itu bukan sebagai sebuah kasihan.

Ini disadari berbagai bangsa karena bencana tidak selalu terjadi pada bangsa lain, tapi juga pada bangsa sendiri. Merasa kewajiban membantu yang memungkinkan proses kemanusiaan ini berlangsung secara rasional.

Akhirnya, komitmen itu muncul sebagai sebuah tekad, bahwa segala yang hancur karena bencana harus dibangun kembali. Beberapa komponen bahkan saling berdebat dengan harapan akhir, bahwa hasilnya harus lebih bagus dari keadaan semula.

Sebuah bencana yang sudah terjadi, selalu menghadirkan tiga langkah. Pertama, memikirkan bagaimana melaksanakan pendataan terhadap apa-apa yang sudah hancur dan harus dibangun kembali, apa-apa yang perlu diperbaiki, dan apa-apa yang harus diberdayakan.

Kedua, memikirkan bagaimana cara melaksanakan semua hasil pendataan itu. Sebuah rumah tidak mungkin dilaksanakan oleh para pendata jumlah rumah, karena menyangkut rumah tentu ada orang yang ahli tentang itu.

Ketiga, melaksanakan semua cara yang sudah dipikirkan. Bagi yang melaksanakan pembangunan pasar, mereka tidak berfikir lagi di mana tempatnya, siapa yang akan menggunakannya, serta bagaimana transaksi yang akan berlangsung. Karena semua itu sudah dipikirkan, juga oleh orang yang merupakan ahlinya.

Ketiga langkah tersebut, membutuhkan berbagai potensi. Pendataan harus melibatkan orang-orang yang hidup di kawasan, sehingga menjadi jelas apa yang menjadi kebutuhan. Apa yang dikatakan orang-orang yang menjadi korban, selalu harus dianalisis oleh orang-orang yang memiliki keahlian. Apa yang menjadi hasil analisis, kemudian akan dilaksanakan oleh pelaksana.

Hal ini sama sekali tidak dapat diutak-atik. Misalnya kebutuhan menanyakan kepada yang memberi analisis, atau sebaliknya. Kemudian menanyakan analisis terhadap para pelaksana. Ini sama sekali tidak masuk akal. Proses ini berlangsung lewat peran masing-masing.

Pada akhirnya, kalkulasi keuangan juga penting sehingga memungkinkan semua itu terlaksana. Penghitung uang juga ada yang ahli. Merekalah yang akan mengukur jumlah yang akan dibutuhkan. Itu masih menjadi standar sebuah proses yang normal.

Proses bisa saja menjadi tidak normal ketika langkah-langkah itu tidak berjalan secara rasional. Biasanya, hal itu sering berlangsung pada tataran aplikasi lapangan. Logikanya, kalkulasi kebutuhan pembangunan jauh lebih kecil dari pemetaan dan analisis.

Inilah yang terlihat di sekitar kita. Kebutuhan rumah seperti menjadi lebih kecil mendapat perhatian ketimbang orang-orang yang berbicara tentang pemetaan pembangunan rumah.

Adalah tidak rasional, evaluasi untuk pembangunan rumah saja dibuat di hotel-hotel mewah. Padahal sekali pelaksanaan evaluasi di tempat mewah, seyogianya akan menyelesaikan jumlah rumah yang belum selesai.

Demikian juga untuk menanam sepohon bakau harus mengeluarkan biaya yang bisa dibeli 100 pohon bakau lainnya. Hal-hal seperti ini tentu harus dilihat secara lebih manusiawi.

Belum lagi kebutuhan para pemikir dan pelaksana, mulai dari rumah, kendaraan, sampai rekreasi. Kebutuhan yang secara kasat mata terlihat menggelembung melebihi dari kebutuhan orang yang sesungguhnya mau dibantu. Bukankah ini sangat aneh.

Hanya dengan menghindari fenomena itu yang memungkinkan para pekerja sosial dan kemanusiaan, agar tidak berwatak seperti para toke. Seorang toke hanya memperhitungkan laba-rugi, karena mereka memang berdagang. Kalau tidak siap menjadi toke, maka jangan memilih profesi dengan berdagang.

Profesi toke adalah profesi yang berpikir bagaimana perhitungan laba-rugi dapat berjalan. Walau konsep yang tersedia juga beraneka ragam. Ada toke yang baik, ada toke yang tidak baik. Ada toke yang mengadopsi konsep berdagang Rasulullah, namun ada juga toke yang tidak mengadopsi konsep Rasulullah.

Profesi toke adalah baik. Siapa bilang berdagang itu tidak baik? Tapi yang tidak baik adalah bila profesi ini dilakukan oleh orang-orang yang sebenarnya bukan toke. Karena pada dasarnya, profesi toke juga membutuhkan keahlian.

Sungguh kacau bila para pekerja sosial berwatak seperti ini. Maka seharusnya ada pilihan. Bila tidak siap menjadi pekerja sosial, maka tinggalkan dan pilihlah profesi sebagai toke. Tidak perlu membolak-balikkan kenyataan.

Akan hadir berbagai kenyataan pahit bila ini dipaksakan. Para pekerja sosial yang menjalankan konsep toke akan banyak dijumpai. Sehingga di beberapa daerah bencana timbul berbagai masalah, karena unsur laba-rugi telah diambil sebagai jalan keluar. Bukankah aneh, bila ada pekerja sosial yang harus mengambil rumusan laba-rugi itu.

Tapi namanya saja kenyataan hidup. Di antara para pekerja sosial dan kemanusiaan, tentu banyak yang bermental baik. Ini sama sekali bukan generalisasi. Tapi membicarakan tentang ada orang yang berwatak seperti itu di dalamnya![]

 

 

 

PEULITEK MEUBISAN

> > > Sulaiman Tripa (Penulis)

 

POLEM Suman telah menjadi tokoh orang kaya di gampong. Tentu, bersama beberapa orang yang memiliki usaha yang berlainan. Polem Suman termasuk seorang toke coklat yang sukses.

Selain Polem Suman, masih ada Apa Bansu yang mengelola empat buah meusen ceumeulho di gampong. Sedangkan Pawang Raman punya tiga boat thep-thep di kuala. Sementara, satu orang lagi, Teungku Sufi memiliki tanah yang bergunca.

Yang jelas, orang kaya gampong tidak lebih dari lima orang itu. Tapi di antara semua orang kaya gampong, hanya Polem Suman yang paling dianggap paling kaya. Itu karena usaha Polem sangat bersentuhan langsung di setiap zaman.

Semua orang gampong rata-rata memiliki pohon coklat. Walau hanya lima-enam batang. Setiap hari ada saja orang yang menjual coklat yang telah kering. Kalaupun ada orang-orang yang memerlukan uang dalam sekejap, mereka selalu datang ke Polem Suman, ketimbang Apa Bansu, Pawang Raman, atau Teungku Sufi.

Orang gampong merasa dekat dengan Polem Suman. Polem selalu memberikan uang sebagai utang bila ada orang gampong yang benar-benar membutuhkan. Syaratnya, orang tersebut sudah terakui kredibilitasnya. Bila berjanji akan membayar hari pulan, ia akan menunaikannya.

Tapi, sebagian orang gampong memang tidak menepati. Banyak orang gampong tidak memiliki uang. Tapi yang sangat penting sebenarnya bukan pada uangnya. Banyak orang yang tidak memiliki uang, nyatanya juga mendapatkan kepercayaan dari pengutang.

Seorang gampong akan mendapatkan kepercayaan, bila sudah waktunya untuk membayar utang, ada atau tidak memiliki uang, yang bersangkutan akan datang menghadap Polem Suman. Orang-orang seperti itu akan mendapat kepercayaan dari Polem Suman.

Tipe orang tersebut dengan mudah mendapatkan kepercayaan Polem. Tak perlu ada agunan, atau segala macamnya itu.

Polem Suman sama sekali tak mengambil bunga uang atas meminjamkan uangnya kepada orang-orang gampong. Polem tahu, itu haram hukumnya, dan tak berkah kalau hasil itu dimakan.

Bunga uang itu, akan tetap haram hukumnya walau namanya dibolak-balik semisal keuntungan, atau pembagian jasa, atau sebagai jasa pemimjaman. Kalau bank-bank sudah memakai nama jasa bank, tidak lagi disebut bunga.

Jadi jumlah yang dibayar kepada Polem Suman sama dengan jumlah saat orang tersebut meminjam dari Polem. Tidak lebih.

Polem hanya mengharapkan seseorang yang pernah berutang padanya, selalu menjual coklat kepada Polem dengan harga yang sama dengan dibeli orang lain.

Makanya Polem Suman sebagai tipe orang kaya yang bukan bernafsu tengkulak. Di gampong memang sangat jarang adanya tengkulak. Tidak seperti di kuta-kuta, tengkulak malah menjadi fenomena keseharian dalam masyarakatnya dengan berbagai bentuk.

Hingga akhir-akhir ini, Polem Suman masih dianggap sebagai orang kaya yang ideal di gampong. Malah sangat ideal. Banyak orang yang merasa cemburu dengan kebaikan Polem yang bagai tak putus-putusnya.

Kenyataan Polem Suman telah menarik simpati Teungku Sufi untuk membina hubungan keluarga lebih dalam. Polem memiliki seorang anak laki-laki yang tampan. Teungku Sufi juga memiliki anak perempuan yang cantik.

Apa salahnya kemudian dirangkai menjadi sebuah keluarga yang baru?

Di dalam keluarga, Polem Suman termasuk seorang yang demokratis. Polem tak pernah memveto anaknya dalam hal membentuk keluarganya yang baru. Terserah anaknya.

Hal demikian yang juga dilakukan ketika Teungku Sufi menyampaikan maksudnya kepada Polem. Teungku Sufi ingin meubisan dengan Polem Suman.

Meubisan ini telah dianggap sebagai jalan paling strategis untuk ditempuh. Bayangkan bila tuan tanah bergabung dengan toke coklat. Wah, luar biasa pengaruhnya bagi masyarakat di gampong.

Terlepas dari keinginan membentuk keluarga baru, jalan ini telah menjadi jalan peulitek bagi mereka.

Meubisan, ternyata sangat efektif untuk menjalankan maksud peulitek tersebut. Namanya bisa peulitek dengan meubisan, atau meubisan untuk peulitek. Itu pernah dilakukan dalam sejarah. Tak hanya di Aceh. Beberapa negara menjadikan ini sebagai salah satu konsep yang sangat masuk akal.

Dalam sejarah perjalanan Aceh, mungkin dapat kita lihat bagaimana Sultan Iskandar Muda mengawinkan adiknya dengan Sultan Abdullah Ma’ayat shah. Perkawinan itu, dinamakan meubisan. Tapi ada harapan politik yang akhirnya juga tercapai: Perak dan Pahang dapat ditundukkan oleh Kerajaan Aceh, tanpa harus dengan darah bersimbah.

Raja masa lalu melakukan negosiasi untuk memperkuat diri dan kelompoknya dengan melakukan perkawinan antarkerajaan. Namun sekarang ini, memperbesar pengaruh juga dilakukan dengan politik meubisan, namun sedikit berbeda. Beberapa orang tua memandang anaknya sebagai media peulitek dalam menyambung masa depan profesinya.

Itulah yang sedang dilakukan Teungku Sufi dan Polem Suman. Mereka berdua akhirnya bersepakat untuk menikahkan anaknya, dengan maksud agar kapling usahanya makin kokoh di gampong.

Peulitek meubisan tersebut, sedikit berpengaruh terhadap usaha Polem Suman dalam membantu orang-orang gampong. Apalagi setelah kendali usaha tak lagi dikendalikan Polem, tapi sedikit demi sedikit diserahkan kepada anaknya.

Anak mereka, tentu harus menyesuaikan diri. Dan itu membutuhkan waktu yang lama. Apalagi kedua anak itu yang membentuk keluarga, berasal dari karakter yang berbeda. Seandainya keduanya tipe seperti yang dimiliki Polem Suman, maka mungkin akan lain ceritanya.

Ini kemudian menjadi persoalan di gampong. Tak semua orang yang melarat di gampong berani meminjam uang lagi sama anak Polem Suman. Komunikasi tidak bisa dihidupkan. Orang gampong jadi gagap ketika menyampaikan maksudnya.

Ini terjadi ketika peulitek meubisan itu sudah dijalankan Polem Suman dan Teungku Sufi. Peulitek, yang caranya sangat berbeda dengan usaha meupeulitek pada umumnya.[]

 

 

 

TOKE PUN MASUK SEKOLAH

> > > Sulaiman Tripa (Penulis)

 

DI Kuta, sekolah bukan lagi tempat belajar semata. Sekolah menjadi lokasi yang potensial sebagai tempat berjual-beli. Bahkan mungkin segala sesuatu sudah bisa diperjualbelikan di sana. Itu karena pengambil kebijakan memberi izin kepada para toke untuk masuk sekolah.

Syahdan, ketika saya masih kecil, yang masuk ke sekolah itu bukan para toke besar. Yang boleh masuk sekolah hanya para toke kecil yang mencari sesuap nasi, semisal memperjualbelikan satu-dua es lilin.

Ada juga toke yang menjual makanan semisal mie caluek. Di sudut bangunan sekolah, toke membangun sedikit tempat berteduh. Para siswa akan menghabiskan waktu istirahatnya di sana dengan makan mie caluek dan sebatang es lilin.

Kini, mie caluek sudah sedikit yang menjadi pilihan. Es lilin sudah jarang dibeli. Pasalnya, mie caluek sudah berganti dengan mie goreng. Bahkan jenis spagetti pun sudah masuk sekolah.

Orang-orang seperti Mawa Midah yang menjual es lilin dan dengan itu akan mendapatkan untung sebesar uang untuk membeli setumpuk ikan di pasar, harus bersaing ketat dengan para penjual ice cream yang datang dari berbagai penjuru.

Tak ada ilmu Mawa Midah tentang manajemen pasar. Ia bahkan gagap dalam membuat produk yang dijualnya hingga menarik. Sebatang es lilin hanya dikasih sedikit gula dengan pewarna seadanya.

Sedangkan ice cream, sangat berwarna-warni. Terobosan baru selalu hadir. Ada iklan di televisi juga –sesuatu yang sepertinya mustahil dilakukan Mawa Midah.

Ada dua kondisi yang terlihat. Pertama, kondisi ekonomi dan kesejahteraan masyarakat turut menentukan sebuah produk laku-tidaknya. Namun ada catatan lain di sekitar kita. Masyarakat sudah terlanjur terhipnotis dengan tipu-daya kehidupan, dan sering lupa pada kenyataan hidup.

Hal ini ditemui dalam masyarakat kita. Tingkat kemiskinan yang tinggi, kesejahteraan dan ekonomi yang terganggu, tapi tetap memburu segala kebutuhan secara konsumtif. Ini terjadi di mana-mana. Gejala awal yang hanya berlangsung di kota, ternyata kini sudah merambah ke gampong-gampong miskin sekalipun.

Kedua, betapa hegemoni pasar terjadi juga terjadi seiring dengan perkembangan dunia yang katanya sudah maju. Apa yang kita pikirkan ketika kebutuhan sekolah jauh tidak penting dibandingkan dengan kebutuhan rak televisi, walau ironisnya ternyata televisi sama sekali belum dimiliki.

Ada sesuatu yang kita paksa membeli dengan segala daya upaya, padahal yang kita beli itu belum merupakan kebutuhan. Ibarat kata orang tua, hidup itu sudah meuhai taloe ngoen keubeu.

Gejala inilah yang akhirnya mengancam penjual es lilin semisal Mawa Midah di suatu sekolah. Mawa Midah akhirnya harus minggir dari lingkungan itu karena prasyarat bertransaksi makin hari kian ketat dan berat. Padahal golongan orang seperti Mawa Midah melakukan aktivitas itu hanya untuk beberapa kali makan. Sama sekali bukan demi kekayaan atau untuk memperbesar modal.

Ada suatu pertanyaan, kehidupan Mawa Midah akan memberi keuntungan kepada siapa? Ini menjadi masalah dalam konteks pasar. Karena tidak banyak yang bisa diubah hidup dengan pola hidup seperti itu.

Kehidupan duniawi sudah berjalan pragmatis. Rumus matematika berjalan dalam berbagai lingkup. Satu tambah satu harus menjadi dua, lalu dibagi ke sana sekian ke sini sekian. Tak lagi ada kemungkinan, satu tambah satu menjadi satu atau tujuh, atau bahkan sepuluh.

Makanya toke besar pun masuk sekolah. Alasannya berbagai macam. Pengenalan barang baru. Pembelajaran teknologi. Atau bisa apa saja. Yang jelas, kaitkan sedikit dengan kata-kata pendidikan, untuk mempermudah mendapat izin dari para pengambil kebijakan.

Sudah sering ke sekolah datang berbagai artis. Para toke mau menjual produk, mengikutsertakan public figure, komentar kanan-kiri, sentuh sedikit dengan berbasa-basi, maka segala produk menjadi mudah dijual.

Suatu waktu, sekolah-sekolah sedang membatasi penggunaan alat komunikasi di waktu belajar. Tapi di lain waktu, ada konser, katanya untuk memasyarakatkan alat telekomunikasi. Tak masalah, karena banyak toke yang akan mengambil untung. Ingatlah rumus matematika!

Tempat berteduh sama sekali bukan seperti Mawa Midah yang harus membuatnya di pinggir sekolah agar proses pembelajaran tak terganggu. Arena jual-beli oleh para toke besar bisa dirikan di tengah halaman sekolah. Sehingga siapa saja bisa melihatnya dengan jelas.

Manajemen jual-beli, akan ketinggalan zaman bila mengikuti pola Mawa Midah. Tak ada kaitan dengan kebutuhan primer atau sekunder. Seseorang sedang berusaha digiring untuk menjadi manusia konsumtif. Itulah pasar. Iklan juga sangat berperan memuluskan jalan prosesi itu.

Sehingga jangan merasa heran, bila kebutuhan untuk menyediakan ruang memperjualbelikan sebuah kartu prabayar akan jauh lebih penting ketimbang mencari terobosan bagaimana mendapatkan cukup buku bacaan di perpustakaan bagi para siswa. Kita sering mendengar buku-buku sangat kurang.

Ini seperti bukan pikiran semua orang. Fenomena ini sudah tak membuat lagi orang-orang yang berwenang untuk merasa gelisah, seperti gelisahnya beberapa orang tua yang sesekali mempertanyakan apa urgensinya anak-anak mereka harus lebih memerlukan melihat pasar para toke ketimbang masuk ke perpustakaan.

Di beberapa sekolah, pengutipan sana-sini masih berlangsung. Padahal segala kebutuhan sudah disediakan lewat anggaran pembangunan setiap tahun. Ini sebagai salah satu fenomena yang juga harus dilihat dan diselesaikan.

Sudah seharusnya kegundahan ini menjadi milik semuanya. Jangan biarkan pasar masuk sekolah dengan alasan apapun. Sebuah pengabdian bisa dilaksanakan tanpa perlu perhitungan berapa keuntungan yang akan didapat.

Tapi di mana kita mencari mentalitas seperti itu?

Mentalitas kita sudah menjadi mentalitas pasar. Mentalitas yang selalu memikirkan bagaimana keuntungan itu bisa diukur dengan material. Seperti bukan keuntungan bila yang didapat di luar dari persoalan materi.

Sangat ironis, karena itu sudah berlangsung di tempat yang bukan semestinya. Kita seperti sudah lupa pada sejarah. Kita seperti lupa pada apa yang telah kita janjikan sendiri. Kita seperti sudah lupa pada apa yang sudah menjadi tekad.

Jangan-jangan, kita juga sedang berbasa-basi seperti para toke, yang mengabdi sedikit untuk mendapatkan keuntungan yang banyak. Dan itu, harus selalu dengan rumus matematika.[]

 

 

 

KEURIJA UDEP LAM KEURIJA MATE

> > > Sulaiman Tripa (Penulis)

 

MASALAH keurija udep dan keurija mate, adalah dua hal yang berbeda. Walau sama-sama dalam konteks keurija. Perlakuan terhadap keduanya sangat berbeda. Termasuk dalam hal penyambutan tamu.

Dalam keurija mate, tidak ada unsur kemeriahan, seperti sebuah keharusan dalam keurija udep. Keurija mate lebih sering mendekatkan kita kepada akhirat ketimbang dunia.

Ada berita tentang kematian yang tak putus-putus di sekitar kita. Kematian baik dalam konteks tersurat maupun tersirat. Orang-orang berkumpul ke rumah duka di gampong bila ada seorang warganya yang meninggal dunia.

Meramaikan rumah duka, merupakan upaya masyarakat gampong untuk memberi semangat kepada orang-orang yang ditinggalkan. Fenomena ini juga sekaligus sebagai bentuk memberi peringatan kepada diri sendiri, bahwa semuanya memang akan mati.

Persoalan mempercayai mati adalah persoalan iman. Seseorang yang beriman percaya bahwa semua makhluk akan mati. Lat batat kayee batee. Menyangkut dengan waktu kematian yang tidak diketahui oleh manusia, juga merupakan iman yang wajib ada dalam setiap manusia.

Banyak hal yang untung karena itu, terutama orang-orang tidak akan menyia-nyiakan hidupnya. Padahal dalam agama ada anjuran untuk memaknai dua wajah kehidupan sekaligus: duniawi dan ukhrawi. Suatu saat, ketika kita sedang mencari rezeki, kita seolah-olah akan hidup seribu tahun. Tapi pada saat yang lain, ketika berhadapan dengan Allah SWT, kita harus beribadah dengan khusyu’ seolah-olah kita akan mati besok pagi.

Logikanya, bila kematian seseorang akan jelas, maka orang itu tidak perlu sibuk lagi. Hanya tinggal mempersiapkan kapan yang perlu. Tapi persoalan hidup-mati persis laksana buah kelapa, yang jatuh ke bawah tak mesti yang sudah riek, karena yang putik pun bisa saja jatuh.

Itu sebagian perbedaan. Dan itu sebenarnya sangat penting. Mengingatkan orang-orang yang hidup karena ada orang lain yang sudah meninggal adalah hal yang sangat penting. Sering seseorang lupa diri, makanya harus diingatkan. Walau tak berarti, seseorang yang baru pulang dari rumah orang meninggal, akan terus mengingat kematian. Banyak orang yang sehabis pulang berkunjung dari rumah orang meninggal, malah lebih gila-gilaan.

Hal ini terjadi, salah satunya, karena proses kunjung-mengunjung itu tidak lagi dari niat yang suci. Orang akan berkunjung ramai-ramai saat ada seorang berada meninggal dunia, baik secara materi maupun secara sosial. Tapi giliran orang yang meninggal itu orang yang meutengpaneng, biasanya sangat sedikit orang yang datang.

Orang yang berada, akan ada keurija mate yang semarak. Banyak makanan. Banyak orang hebat. Tetapi orang bawah, untuk menyediakan secangkir teh saja mungkin sedikit susah.

Dalam beberapa aliran pemikiran keagamaan, ini menimbulkan perdebatan di Aceh. Ada pihak yang mengklaim seseorang tak boleh melaksanakan keurija mate. Orang-orang yang datang ke rumah duka, tidak boleh meneguk minum walau seteguk, karena itu merupakan harta anak yatim.

Sebaliknya, orang-orang yang berpikir melaksanakan keurija mate, memberikan minum walau seteguk kepada tamu yang datang, dimaksudkan sebagai usaha menghargai tamu. Tamu-tamu yang datang selalu menyumbang doa, takziah, tahlilan, tahmid, dan sebagainya.

Orang-orang yang berpikir seperti ini, selalu berpendapat bahwa menghargai tamu adalah juga keharusan bagi tuan rumah. Tulisan ini memang bukan mau berdebat soal ini. namun, ini menjadi sebuah sisi lain ketika seseorang memandang persoalan keurija mate.

Di gampong kita, akhir-akhir juga melaksanakan keurija mate. Di mana-mana, orang-orang datang dengan berbagai rupa. Mereka ingin berkunjung ke rumah duka. Ingin memberikan semangat kepada seluruh keluarga yang ditinggalkan.

Awalnya, kunjungan itu sangat membantu. Tapi akhir-akhir ini, sebagian tamu tidak lagi datang untuk memberi semangat. Tapi untuk mengambil semangat. Hanya sedikit tamu yang tinggal yang benar-benar memberi semangat kepada seluruh keluarga korban yang ditinggalkan.

Hakikat keurija mate sudah tidak ada lagi. Orang-orang yang datang ke keurija mate, seperti sudah menganggap bahwa itu bukan lagi sebagai keurija mate, tapi sudah merupakan keurija udep.

Keurija udep, tentu sangat didominasi oleh hiburan-hiburan yang tidak sakral. Walau itu tidak berarti selalu duniawi saja. Orang-orang yang sedang mengunjungi keurija udep, mungkin sangat jarang akan mengingat kematian yang datang kapan saja tak tentu waktu.

Orang-orang yang melaksanakan keurija udep di kuta, sudah menghadirkan berbagai hiburan lain yang menggelisahkan. Menghadirkan artis-artis mahal. Belum lagi, ada orang-orang yang melaksanakan keurija udep dalam memfasilitasi keyboard semalam-suntuk.

Sebagian komunitas yang sudah maju, malam sudah menyiapkan semalam-suntuk sebagai ajang bertemu muka remaja berpasang-pasang. Akhir-akhir ini, keharusan itu sudah hampir dianggap sebagai budaya bagi sebagian komunitas.

Inilah yang sedang terbangun di gampong kita. Kita menyaksikan dengan mata kepala, ada orang-orang yang sangat senang bersenang-senang dalam keurija mate. Pelaksanaan keurija mate, hampir tidak ada beda dengan keurija udep. Tamu-tamu yang datang dengan berbagai rupa hanya ingin menikmati sebagian hiburan yang ada di gampong ini.

Sebagian remaja gampong kita sudah terjebak dalam hedonisme kehidupan itu. Sehingga sebagian orang gampong, juga menjadi pemberi kesenangan kepada para tamu yang melayat. Seolah kita tidak sedang melaksanakan keurija mate.

Fenomena itu lalu menjadi sebagian keseharian. Dan itu, sebenarnya sangat menggelisahkan. Tapi itu ditemui di banyak tempat. Mengingat itu, kita sama sekali tak akan terbanyang bahwa kita memang sedang melaksanakan keurija mate.

Suatu waktu, orang yang melayat dengan orang yang dilayat, ternyata sedang bersenang-senang di atas bulan. Gampong kita, entah masihkah sebagai gampong yang beragama? Karena di dalam gampong kita memang menyaksikan hal-hal yang tidak kita perkirakan sudah berlangsung, dan bagi sebagian orang sudah merupakan keseharian.

Salah satu yang tidak kita perkirakan itu, menurut saya, adalah yang kita bicarakan ini: Kita hampir tidak bisa lagi membedakan mana yang keurija mate dan mana yang keurija udep.

Karena kedua keurija itu, terlihat orang-orang ingin memperoleh sesuatu![]

 


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design - Copyright © 2005 sonnenvogel.com All rights reserved.