sulaiman's Site, Jak Piyoh

sulaiman's posts with tag: diskusi

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag diskusi
Blog EntryBedah Karya di FLPMay 31, '07 2:45 AM
for everyone
Menulis harus jelas siapa  kepada siapa tulisan tersebut ditujukan, begitu yang selalu saya dengar ketika sudah menyelesaikan sebuah tulisan, dalam bentuk apapun. Ketika sudah tepat sasaran maka mungkin pesan-pesan yang diusung seorang penulis dalam tulisannya akan tersampaikan kepada siapa yang penulis ingin sampaikan. Hal itu juga yang sangat kita tekankan bersama saat diadakan diskusi bedah karya bulanan Forum Lingkar Pena, Minggu, 27 Mei 2007.
Kali ini karya yang dibedah adalah cerpen Arniati yang berjudul Baba.  Sebuah judul yang diangkat dari nama dari sang tokoh utama. Cerpen yag berkisah tentang seorag anak yang bernama Baba yang berasal dari keluarga yang kurang mampu. tema yang diangkat adalah tema yang sudah sangat sering kita dengar yaitu tentang sunatan masal. Cerita yang ditekankan oleh penulisnya dalam cerpen ini adalah tentang "keresahan" seorang Baba yang belum melunasi pembayaran uang untuk sunatan masal di sekolahnya yang diperuntukkan khusus untuk anak-anak kelas enam yang belum disunat termasuk Baba. Ketika akhirnya sang Ibu tak juga menunjukkan tanda-tanda akan memberi uang sisa pembayaran, Baba pun berniat untuk mengambil uang dalam tabungannya.
Sementara tema yang diangkat, sunat masal, tentu sudah cukup sering mendengarnya. Seperti yang saya tulis di atas, inti penekanan pada cerita ini adalah tentang biaya sunat masal yang harus ditanggung keluarga. Meski jumlahnya hanya separoh, saya menangkap kesan bahwa jumlah yang separoh itu tetaplah jumlah yang teramat besar bagi keluarga Baba. Yang menjadi pertanyaan kemudian: apakah sunat massal membutuhkan biaya sedemikian besarnya sehingga seorang Baba kemudian menjadi anak yang tidak percaya diri di sekolahnya. Setahu saya, yang namanya sunat masal, nikah masal, atau apapun yang massal-massal, tidak pernah dipungut biaya apapun. Ini menyangkut soal logika cerita. Ketika berbicara dari "ranah" yang satu ini, penulis harusnya lebih banyak melakukan "riset" tentang hal apa saja yang ingin ditulisnya sehingga persoalan yang diangkat penulis tidak terkesan hanya tempelan saja  atau "pengada-adaan" dari penulis. Harusnya penulis lebih berhati-hati terhadap hal ini.
Konfliknya juga terasa masih kurang "menggigit". Cerita terasa sangat datar bahkan cenderung membosankan. Cerita berakhir bahagia dengan kejutan dari sang Ibu. Pihak sekolah tiba-tiba saja membebaskan kewajiban pembayaran uang sunat massal yang separuhnya lagi. Sebuah ending yang terasa sangat mudah sekali atau "mungkin" dimudah-mudahkan. Kenapa tiba-tiba saja ada pembebasan pembayaran uang sunat masal? Harusnya penulis jangan mudah terjebak untuk segera menyelesaikan ending yang seperti ini. Barangkali inilah "penyakit" penulis pemula: ingin menyelesaikan cerita setuntas-tuntasnya dan sebahagia-bahagianya. Padahal sudah cukup sering kita dengar: ending bukanlah  penyelesaian sebuah cerita.
Kembali lagi ke persoalan siapa sebenarnya pembaca kita? Atau kepada siapa tulisan itu kita tujukan? Apakah cerpen yang berjudul Baba ini termasuk cerita anak atau bukan, sepertinya penulis masih kabur dalam menentukan siapa pembacanya. Dari segi bahasa, tentu tak cocok disebut cerita anak karena penggunaan bahasa yang  terlalu "berat" untuk dicerna oleh pembaca anak-anak. Lalu ada beberapa kalimat yang terasa sangat panjang dan melelahkan untuk dibaca bahkan oleh pembaca dewasa sekalipun.
Saya yakin, dengan kegigihan seorang Arniati yang saya tahu tak pernah lelah untuk terus belajar, cerpen ini akan menjadi lebih baik ke depan. Mudah-mudahan tulisan singkat ini bisa menjadi pembelajaran untuk kita semua. Wallahu 'alam.

Blog EntryTegangan Diri dan Nilai SejagadApr 21, '07 5:06 AM
for everyone

PEMBACAAN SEKILAS  ANTOLOGI NYANYIAN MANUSIA

KARYA MOHD. HARUN AL- RASYID

 

 


TEGANGAN DIRI DAN NILAI SEJAGAT

Oleh Wildan Abdullah

 

Prolog

 

            Tak banyak hal dapat saya ungkapkan saat ini. Di sela- sela kesibukan sebagai pelajar di Negeri seberang, saya disuguhi tugas oleh Lapena untuk membaca puisi- puisi Mohd. Harun al- Rasyid (selanjutnya Harun).

            Ada 82 judul puisi dalam antologi ini, yang dapat dipilah atas tiga periode persepuluh tahunan seperti terlihat dalam Tabel berikut.[1]

 

 

Periode

Tahun

Jumlah Puisi

80- an (41 Puisi)

1987

1988

1989

2

23

16

90- an (Puisi)

1990

1991

1992

1993

1994

1995

1996

1998

1999

9

4

2

1

1

2

2

2

4

2000- an (14 Puisi)

2001

2004

2005

7

2

5

Total

 

82

 

            Berdasarkan data dokumentasi yang saya miliki, keseluruhan puisi tersebut pernah terbit dengan judul Lagu Pilu Orang Kuyu­­[2] setahun lalu, selebihnya, beberapa puisi dalam antologi ini juga pernah dimuat dalam antologi bersama, seperti dalam antologi Seulawah[3]. (Kupanggil Namamu, Muhammad” dan “Laporan Kegalauan”), dalam antologi Putroe Phang[4] (Nyanyian Orang Utan”, Tanaah dan Air sedang berduka”. “ Kita Asyik Bicarakan Perdamaian”, dan “Anak- anak yang Mulutnya Terkatup Bermohon kepada Ayaah dan Ibunya”), dalam antologi Keranda- keranda[5] (Nyanyian dari Kerajaan Semut”, Lagu Pilu Orang Kuyu”, dan “Anak- anak yang Mulutnya Terkatup Bermohon kepada Ayah dan Ibunya”), dalam antologi Ziarah Ombak[6] (“Kenangan dalam keikhlasan” dan “Aku Bertanya                 pada-Mu”).

 

 

Gengre dominant : Puisi Lirik

            Sebagian besar puisi Harun adalah puisi lirik. Hal ini ditandai oleh kehadiran pesona pertama aku atau kami atau lainnya, yang dalam tradisi bersastra sering disebut dengan “si aku lirik”. Harun belum terbiasa dengan gengre puisi naratif, atau dialogis. Ada memang beberapa yang mengarah pada naratif[7], tapi tetap dalam kerangka lirik. Sebagai catatan kecil, Harun bisa berhasil dengan gengre naratif, simak saja puisi “Balada Anak Kecil” atau puisi “Kisah Pemburu Dosa”.

            Puisi lirik sering diasumsikan sebagai refleksi diri penyair. Ini keliru. Sumber inspirasi boleh jadi diri, tetapi manakala karya itu dihidang kepada pembaca, pengalaman diri tadi boleh berpindah menjadi milik pembaca. Nilai universal mesti berlaku pada setiap karya sastra.

            Tetapi, dalam kumpulan ini tetap dapat disimak sejumlah puisi yang benar- benar mempribadi penyairnya. Diantaranya adalah dua puisi yang digubah pada 1998 dan khusus dipersembahkan kepada dua adik kandungnya, yaitu puisi “Sajak Kehidupan II” dan “Sajak Kehidupan IV. Dalam puisi pertama, yang ditujukan kepada Amri al- Rasyid Harun antara lain berujar, //Kepada siapapun diceritakan /kita tetap anak petani/...../kenanglah/syair kecil diantara merdu suling/doakan jagung cepat bersutera/ dan kita berlari sambil bercanda//. Rupanya semacam kenangan masa kecil manakala Harun masih di Laweung atau entah dimana. Ini yang disebut semacam kerinduan arkepal. Dalam puisi kedua, yang ditujukan kepada Ridwan al- Rasyid, Harun masih juga menyanyikan lagu desa, lagu anak petani…./….dimulut samudera/melarutkan diri jadi garam/ yang disari petani renta//. Pengalaman personal dalam kedua puisi ini agak sedikit hambar sehingga memungkinkan menjadi milik kita.

            Nada yang senada dijumpai dalam puisi “Lagu Cinta dari Tanah Gayo” (1991), yang dipersembahkan “Kepada nour zainura’[8]. Puisi ini berisi rasa cinta Harun kepada Nora :

            Di teduh Laaut Tawar

            Kulayari cinta padamu

            Lihatlah depik menari

            Menembang syair masa depan     

            ………………….

Begitu dalam cinta Harun. Ia melambangkan Nora sebagai bunga pujaan : mawarku, mawar dari pesisir/dikau pun dapat tumbuh disini. Harun bercita- cita agar bersedia hidup dimana saja bersama Nora, termasuk didataran tinggi tanah Gayo. Imajinya mengembang dan berujar lagi,

Simak lagi depik bersyair

Dan benih cinta pun akan subur

Dalam sejuta rindu[9]

……………………

 

            Ada puisi yang ditulis 16 hari sebelum tsunami : Nostalgia di Ruang Sempit”. Puisi ini khusus ditulis “bagi Nora, inong dan agam”. Dua yang akhir adalah buah cinta Harun bersama Nora, yaitu Inong Nabila Harza dan Agam Muyassar Harza. Keduanya turut pergi bersama ibunya pada pagi tsunami itu. Mereka kini sedang menanti kepulangan ayahnya di pintu surga. Harun pun memfirasati hal itu dalam bahasa falsafah cintanya.

Semakin mendalam saja harum itu

Mengelopak dalam lingkar kelopaknya

Mengembang dalm gerimis kasih

 

            Itulah buah dari ke-harum-an mawar dari pesisir tadi, yang dapat tumbuh dan berkembang dimana- mana, termasuk di kawasan perumahan Cot Paya. Dalam keniscayaannya sebagai manusia, Harun menyatakan sikap :

Aku ingin mengintai dan bersandar

Pada harum itu

Yang semakiin harum

Dalam kuntum

           

Sebagaimana puisi lirik pada umumnya, puisi personal Harun ini tidak luput dari pengutamaan perasaan dan permainan rima. Berbagai imaji visual, dengaran, atau kinektik beradu dalam satu suasana syahdu, dan membawa angan pembaca kepada pengenalan diri Harun yang sebenarnya.

Semakin mendalam saja kenang

Pada gelombang sayan

Yang kian menarikan irama buih

Memutih

Aku ingin larut dalam gelombang itu

Membenamkan harum

Mendendangkan kasih

 

            Atas kepergian keluarganya, Harun tidak berhenti sampai disitu. Selama 42 hari (Pidie, 31 Januari- Jakarta, 13 Maret 2005) Harun merangkai kata menjadi “Kenangan dalam Keikhlasan”, puisi yang digubah khusus bagi anak perempuannya, Inong Nabila Harza, sangat personal, memang sehingga tersusun untai :

                       

Tiga tahun lalu

                        Ayah tinggalkan engkau, sayang

                        Dalam kabut bandara Sulatan Iskandar Muda

                        …………………………

 

Ya, tiga tahun sebelum 2005 Harun pergi meninggalkan keluarga karena…./Ayah pergi merenangi samudera Ilmu/ …….di Universitas Negeri Malang. Tentu saja Inong Nabila harus…..tinggal dalam ketulusan hati sang ibu. Harun bicara lagi secara ekplisit :

 

Tiga tahun lalu

Ayah tinggalkan engkau menjelang ulang tahun ketiga

Kasihku bertaburan antara Banda Aceh- Malang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tapi. Apa hendak dikata jika

             

                        Sekarang Ayah tinggal sendiri[10]

                        Menghitung senyummu yang selalu mengembang

                        Menghitung hobimu untuk berenang

                        Mengenang bibirmu mengeja firman Tuhan

 

Sungguh sangat biografis puisi ini. Betapa puisi ini sulit untuk lekang dari diri penyairnya dan sukar menjadi milik semua. Ada asumsi dalam dunia sastra bahwa semakin universal karya itu maka semakin mungkin bernilai “tambah” karena mampu melampaui jarak masa dan jarak territorial. Namun, kemampuan memberi apresiasilah yang lebih menentukan kadar mutu setiap karya yang ada. Yang amat mendidik adalah gaya Harun menutup puisi ini :

 

                        Andai engkau masih menikmat udara bumi

                        Segera kembali

                        Karena senyummu abadi di hati

                        Namun, jika engkau telah pergi berkelana di taman Tuhan

                        Ayah ucapkan selamat jalan ananda tersayang

                        Jangan lagi berpaling ke belakang

                        Karena Ayah telah ikhlaskan

 

Dalam kondisi kehilangan istri dan dua anaknya, Harun mampu berucap seperti itu, seketika pula saya teringat dengan tulisan berikut ini :

            “Dan diantara kenikmatan terbesar adalah kegembiraan, ketentraman, dan ketenangan hati. Sebab, dalam kegembiraan hati itu terdapat keteguhan pikir, produktivitas yang bagus, dan keriangan jiwa…..Adapun modal utama untuk meraih kebahagiaan adalah kekuatan atau kemampuan diri untuk menanggung beban kehidupan, tidak mudah goyah oleh goncangan- goncangan, tidak gentar oleh peristiwa- peristiwa,….[11]

            Gambaran kenikmatan hidup seperti tersebut diatas sepenuhnya dapat ditelusuri dalam kehidupan pribadi sang penyair Mohd. Harun al-Rasyid. Karya puisi yang terhimpun di dalam Nyanyian Manusia pun sebagian besar bekehendak mengajarkan manusia meneladani hidup yang demikian. Hidup yang nikmat, yaitu hidup yang gembira, hidup yang tentram, dan hidup yang berketenangan hati.

            Fenomena keseharian yang menunjukkan adanya hubungan antara makhluk dan hubungan dengan-Nya dalam kehidupan, dijalin secara estetis oleh Harun dalam sebagian besar puisinya. Sebagai contoh ditunjukkan puisi “Nyanyian Manusia”, yang diawali dengan bait yang bernuansa hubungan vertikal.

 

                        Oh yang Maha agung

                        Ajari aku menghitung bintang

                        Dan seluruh rahasianya

                        Turunkan dia dalam sajadah

                        Biar sujudku bertambah- tambah

 

Tetapi, tiba- tiba masuk citra kemanusiaan (hubungna horizontal)

 

                        Tiupkan aku ruh kesadaran

                        Agar setiap deru nafas piatu

                        Menyetakkan dinding cintaku

 

Begitulah cara Harun mendakwah kita. Puisinya personal. Ia masih ada. Ia hidup. Dan baginya, “HIDUP adalah ….teka-teki”,[12] yang jawabnya antara lain ada dalam puisi.

            Disamping suka memotret diri, Harun juga gemar merekam perihal ranah negeri Aceh ini, yang juga masih merupakan bagian dari diri. Harun lahir di Laweung. Asli Pidie. Aceh sejati. Hal ini tampak dalam jiwa puisi- puisinya yang membumi. Bagi Harun, di tahun- tahun berlalu, Aceh Negeri yang diujung pulau, tanah yang dirajam cintanya. Di sanalah

 

                        Ribuan gallon darah membeku

                        Di sungai- sungai kemunafikan

                        Di ladang- ladang keangkamurkaan

                        Di jalan- jalan penuh perjanjian hawa nafsu

                        Di rumah- rumah damai tanpa moral

                        Di nurani kemanusiaan yang gamang.

                        (“Nyanyian Anak Pengungsi”)

 

Bukanlah hal yang naïf jika ia mengeluh, ibu. Lihat itu mata bulan/terluka/bumi penuh air mata. Kenapa ? Karena ……senjata- senjata gatal mulutnya/menyalak dimana- mana/menggigit angin/…sisa- sisa sepi/….(“Nyanyian Anak Bumi).

            Didalam puisi “Nyanyian dari Kerajaan Semut” tidak ditemukan sepatah katapun yang menjadi identitas Aceh. Tetapi, manakala bait berikut dibaca, tidaklah keliru jika imaji kita memastikan keterkaitan suasananya dengan Nanggroe kita.

           

                        Bila kami tersesat tanpa visa

                        Ke negeri saudara- saudara

                        Karena asyik berlayar dalam impian surgawi

                        Atau menuruti angin kemenangan

                        Jangan lempari kami ke laut

                        Karena di laut kami tak bisa bersarang

                        Jangan lempari kami ke api

                        Karena api berpangkal kematian

                        Berikan saja kami sebatang pohon kehidupan

 

Harapan tersembunyi semestinya kita tangkap secara jernih. Karena Harun sendiri masih melanjutkan, //O,, kami yang hidup di sarang- sarang/kehidupan sah milik kami/ dibawah langit kemerdekaan/ di rentang zaman silih berganti/…

            Dalam puisi “Banda Aceh” (1889) Harun menguntai kegelisahan jiwanya dalam nada prihatin seperti berikut :

 

                        Banda Aceh kotaku, kota cinta

                        Kota bunga pernah tersingkir

                        Kala kelelawar enggan mengawini putik durian

                        Dan kenanga ditebang gorilla

                        Hingga gadis- gadis kehilangan harum rambutnya.

 

            Seperti Harun hendak merangkum banyak hal dalam puisi ini. Ia turut mencatat air Krueng Aceh yang mengalir merah, senyum Baiturrahman, kherkhof mengalir merah, senyum Baiturrahman, Kherkhof  yang menyimpan kerangka (Belanda), gunongan tempat para bangsawan, cakrodonya dan Pinto khop-nya, Kuta Darudunia, serta Krueng Daroy. Di sini juga ia menyebut sejumlah tokoh seperti Sultan Iskandar Muda yang menatap heran pada gajah putih, Putri Sendi yang kembali ke Pidie membelah Seulawah dalam senyum sesalnya. Semuanya tampak gelisah dan memprihatinkan. Dan Harum dengan pintar melanjutkan,

 

                        Banda Aceh kotaku, kota Syuhada

                        Luka- luka memanggilku, juga kekasihmu

                        Jika ada wangi darah

                        Jangan risau pada sejarah

 

            Masih dalam tahun 1989 itu juga, Harun menulis dengan sinis keadaan kawasan yang kerap dilaluinya, Lamnyong.

 

                        Ahai Lamnyong kekasihku

                        Bersabarlah bila engkau sedang dibedaki

                        ……………..

                        Lamnyong gadisku

                        Kutemukan engkau dalam banyak catatan lelaki.    

                        Kini orang- orang seberang laut telah kuundang

                        Membangun kolam renang dan taman untukmu

                        ………………

                        Lihatlah kapal- kapal berlabuh diteluk

                        Sekali lagi, lupakan harga tanah kita

                        ………......

                                    (“Melintas Lamnyong”)

 

            Demikianlah cara Harun bicara tentang dirinya, juga tentang Negerinya, yang selalu berada dalam tegangan antara realita dan pembayangan. Satu hal yang pasti, ia telah bicara. Menulis untuk kita. Untuk semua.

 

Epilog

            Antologi  ini tidak memberikan gaya atau model kehidupan yang menyeluruh bagi kita. Tetapi, melalui Nyanyian Manusia ini, Harun al-Rasyid akan penglihatan hati, pendengaran hati, perabaan hati, dan perasa hati kita, serta pencecapan hati semua, tentang beragam corak perilaku anak manusia.

            Lebih dari itu semua, di dunia kampus, setelah A. Hasjmy baru kini lahir yang agak mapan : sastrawan puisi kita, Mohd Harum al- Rasyid. Sebelumnya pernah ada yang coba- coba, seumpama Ibrahim Hasan, Nurdin Abdurrahman (alm), Nur Gani Asyik (alm), T.A Sakti, atau A. Rahman Kaoy. Kita, akademikus, harus bangga pada mereka. Sastrawan yang berkarya atas dasar naluri dan nurani. Ya, naluri mereka tajam, dan nurani mereka beriman. Sedikit sekali yang bisa. Di sini, di Kopelma ini, banyak professor atau doctor, tapi sedikit sekali karya tulis, dan sangat langka akan karya sastra. Lebih sedikit lagi yang mau membacanya. Saya tutup catatan ini dengan ajakan “ mari gauli karya Bangsa sendiri !.

 



[1] Ada keinginan mengkaji kecenderungan tema per periode dimaksud. Mungkin ada pertemuan lanjutan untuk membahasnya.

 

[2]  Diterbitkan oleh Lapena pada Juli 2005. tidak ditemukan keterangan apapun perihal pernah terbit dengan judul berbeda, urutan yang serupa, oleh penerbit yang sama. Sebuah kekeliruan dari segi etika penerbitan dan tuntutan akademiknya. Tiga judul terakhir dari Lagu Pilu Orang Kuyu tidak disertakan dalam kumpulan Nyanyian Manusia. Untuk mengukuhkan daya kreativitas yang mapan, semestinya dalam penerbitan ulang ini disertakaan puisi- pusi tahun 2006.

 

[3] Judul Lengkapnya adalah Seulawah :antologi Sastra Aceh Sekilas pintas, editor L.K. Ara, Taufik Ismail dan Hasyim K.S. diterbitkan pada 1995 (?).

 

[4] Diterbitkan pada 2002 oleh Dewan Kesenian Aceh (Editor Ridwan Amran dkk)

[5] Diterbitkan oleh Dewan Kesenian Aceh bekerjasama dengan Elsaam dan Koalisi NGO HAM pada tahun 2000 (Editor C. Harun al- Rasyid dkk ; nama lain Mohd. Harun al- Rasyid)

[6] Diterbitkaan oleh Lapena pada tahun 2005 (Editor D. Kemalawati dan Sulaiman Tripa)

[7] Lihat misalnya puisi “Kisaah Pemburu Dosa”, “Dara Dusun di Dermaga ketika Senja Turun”, Pensiunan Yang Jadi Petani Rentaa kepada Anaknya”, atau “Catatan Buruan Seorang Penyair”.

[8] Nour Zainura alias Nora adalah isteri pertama Harun, yang turut meninggal manakala terjadi petaka tsunami 26 Desember 2004. mari panjatkan doa kepadanya : alfatihah !

[9] Saya tidak tahun apakah dalam dua atau tiga malam berlalu sudah maujud syair- syair cinta manusia setengah baya darinya. Semoga!

[10] Semestinya mereka tahun bahwa Ayah tidak sendiri lagi. Kini

[11] Dipetik dari La Tahzanjangan Bersedih” Karya Dr. ‘Aidh al-Qarni (2005 : 68)

[12] Baca kalimat pertama ucapan pengantar antologi Nyanyian Manusia.


Blog EntrySastra dan Identitas AcehApr 21, '07 5:01 AM
for everyone

BISAKAH SASTRA MENJADI PENUNJUK IDENTITAS ACEH?

> > > Sulaiman Tripa (Penulis)

[Makalah ini, sebagai pemantik diskusi dwimingguan Forum Lingkar Pena (FLP) Aceh, Beurabong, 22 April 2007).

 

TERUTAMA, saya harus menjelaskan bahwa bahasan ini terjadi hanya proses “pembacaan”, bukan hadir dari proses “ajaran”. Hal ini penting diingatkan, agar kita tidak hanya terpaku dengan apa yang saya sampaikan, tapi senantiasa berusaha mendapatkan berbagai bahasan lain yang membahas masalah ini.

Sebagai sesuatu yang lahir dari proses “pembacaan”, tentu saja bahasan ini menjadi penting untuk dikritisi, karena ia berpotensi tidak tepat. Sebuah catatan, sesederhana apapun membutuhkan pendalaman dan kritik. Inilah kunci dari sebuah penuntasan sebuah masalah yang dibahas.

DALAM bahasan ini, ada dua hal menarik yang penting didiskusikan, yakni: Pertama, adakah sastra lokal di Aceh? Kedua, sastra, khususnya yang ada di Aceh, bisakah menunjuk kepada identitas Aceh?

Pertanyaan pertama, merupakan pertanyaan spesifik tentang Aceh, yang bisa ditanyakan oleh siapa saja dan dimana saja. Pertanyaan ini, mengarah tidak hanya pada penulisnya, tapi juga isinya. Apakah sastra lokal hanya ditulis oleh orang lokal (dalam arti hidup dalam kawasan tertentu) saja, atau bisa ditulis oleh siapa saja? Kemudian, yang dikatakan lokal, apakah bercerita seputar lokal (kawasan tertentu) saja?

Ini menarik. Dimulai, tentu saja, dengan: yang mana lokal? Baru kemudian bisa dijawab adakah sastra lokal di Aceh. Pertanyaan semacam ini bisa terus dipertanyakan pada daerah lain, misalnya adakah sastra lokal di Jakarta, di Bandung, di Bali, di Lampung, atau di mana saja?

Menurut saya, yang dikategorikan sebagai lokal, salah satunya ditandai dengan adanya unsur lokal di dalamnya. Unsur lokal, dapat digambarkan dengan kenyataan nilai-nilai, norma-norma, aturan-aturan yang hanya ada di kawasan itu. Itulah tanda pertama dari lokal.

Nah, dari unsur pertama ini, dapat dilihat yang mana karya-karya di Aceh yang bisa dikatakan mengandung lokal. Warna lokal, tentu yang orang lain tidak punya. Penyebutan Mak atau Nyak, dalam karya, belum tentu dapat ditandai sebagai lokal, karena beberapa daerah juga memakai Mak atau Nyak. Bisa dengan menyebut Teungku atau Teuku, itu sudah bisa menjadi penunjuk bahwa ada warna lokal –dari segi namanya. Tapi jangan lupa, warna lokal itu tak hanya menyangkut nama orang semata. Ini penting diingatkan agar kita tidak terjebak, bahwa seolah-olah yang dikatakan sastra lokal, ketika dalam karya berjejer nama-nama keacehan.

Cerpen-cerpen Alimuddin, sudah menggarap hal ini, tapi tidak tuntas. Alimuddin terjebak kepada pemuatan nama-nama semata, dengan mengabaikan banyak unsur lain dalam kawasan Aceh. Hal yang sama dilakukan Herman RN, salah satunya dalam buku anak “Indahnya Nikmat Tuhan”. Mereka sangat berlebihan dalam melakukan eksplorasi nama keacehan, tapi seperti mengabaikan unsur lainnya.

Lalu bagaimana mengukurnya? Novel D Kemalawati, “Seulusoh” tidak sepenuhnya bisa dikategorikan kepada lokal (namun ada unsur lokal di dalamnya). Alasannya, menurut saya, karena ternyata kenyataan adanya mantra, ternyata dimiliki juga oleh berbagai daerah lain di Indonesia. Namun ada kelebihan novel ini, ketika D Kemalawati menemukan beberapa hal penting semisal syair yang sangat berwarna Aceh.

Eksistensi syair, berbeda dengan penggunaan bahasa Aceh. Penggunaan syair, menurut saya jauh lebih mengena ketimbang hanya menggunakan bahasa Aceh.

Banyak unsur lokal tidak digarap dalam beberapa buku sastra, seperti “Nyala Panyot tak Terpadamkan” dan “Doa untuk dari Sebuah Negeri”. Novel Arafat Nur “Pecikan Darah di Bunga” juga demikian. (Namun saya belum membaca Novel Ayi Jufridar “Aloen Buluek” yang baru-baru ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda).

Warna-warna lokal, menarik untuk dibaca beberapa Cerpen Hasyim KS, Ridwan Amran, Musmarwan Abdullah, dan Mustafa Ismail. Warna tokoh yang hadir dengan warna daerah dan masyarakat Aceh, juga sudah mulai dieksplorasi oleh Azhari dalam “Yang Dibalut Lumut”.

Di Indonesia, para kritikus seperti sepakat melihat novel Ahmad Tohari “Ronggeng Dukuh Paruk” sebagai kental lokalnya. Generasi baru semisal Dianing WY dengan Novel “Sintren”, juga sudah melakukan pewarnaan lokal. Yang sangat tuntas, menurut saya adalah novel tetralogi Pramoedia Ananta Toer.

Di level puisi, saya menarik dengan “Rencong” Fikar W Eda. Beberapa puisi pendek Fauzan Santa seperti yang termuat dalam “Ziarah Ombak”, juga cukup menarik. Ada nama seperti Reza Indria, menurut saya juga masih belum maksimal melakukan eksplorasi lokal.

Warna kehidupan yang khas dalam konteks ini, memang tak lepas dari pengarangnya. Puisi-puisi Wiratmadinata, Mohd Harun Al Rasyid dan D Kemalawati di Aceh, dapat dipastikan tak lepas dari kebudayaan mereka. Unsur-unsur yang terkandung dalam karya, tergantung sejauhmana pekarya menggunakan unsur lokal sehingga sebuah karya bisa dikatakan mengandung lokal (dapat mewakili lokal). Sebuah lokal dengan artistik dengan standar sastra pada umumnya.

Unsur lain sebagai lokal, adalah kenyataan lokal yang terbentuk dari kenyataan daerah atau latar tempat. Dalam hal ini, melalui sebuah karya akan tercermin kenyataan geografis, etnografis, sosiologis, bahkan antropologis.

Dalam pembicaraan ini, sebuah karya sudah digarap dengan sangat serius. Tak jarang, untuk menuliskan sebuah karya seperti ini, terlebih dahulu dilaksanakan riset secara mendalam. Bila ditimbang-timbang, riset tersebut sama seperti kepentingan menulis sebuah karya ilmiah.

Cara yang paling mudah menemukan berbagai data untuk menulis karya seperti ini adalah dengan hidup dan berkehidupan dalam sebuah masyarakat untuk jangka waktu tertentu.

Untuk melihat muatan yang disebutkan terakhir ini, dapat dipastikan, belum ada karya yang lahir tentang lokal Aceh. Belum ada (Saya dengar Azhari sedang menggarapnya sejak tiga tahun lalu). Selama ini, jarang ada penulis yang melewati proses pendalaman ini secara serius.

Yang menarik adalah novel tetralogi Pramoedia, ditulis sewaktu ia dipenjara dan ia bisa menemukan berbagai kenyataan geografis, etnografis, sosiologis dan antroplogis. Ketika suatu waktu berbincang dengan Ahmad Tohari, menurutnya, proses penulisan “Ronggeng Dukuh Paruk” juga tidak berlangsung dengan pengamatan ketat.

Dua contoh ini, setidaknya memberi gambaran bahwa betapa eksplorasi lokal itu, dengan proses sederhana, ternyata sangat mudah ditemukan oleh orang-orang yang berdiam atau pernah berdiam di suatu tempat. Karya Aceh yang berwarna lokal, sepertinya lebih berpotensi ditulis oleh orang-orang Aceh sendiri.

Namun tak tertutup kemungkinan, bahwa orang luar, bukan berarti tidak bisa menemukan berbagai kenyataan di Aceh, baik dengan datang ke Aceh atau melalui kajian berbagai literatur. Naskah drama Asmanadia “Preh” dan Helvy Tiana Rosa “Tanah Perempuan” menjadi contoh dari masalah ini.

Usai tsunami, banyak karya sastra yang bercerita tentang Aceh. Kita tahu bahwa banyak penulis belum ke Aceh, tapi bisa menemukan Aceh lewat berbagai literatur. Yang penting diingat, orang yang belum pernah ke suatu daerah sekalipun, belum tentu tidak bisa menemukan secara utuh tentang wilayah itu, bila dilakukan penelitian dengan serius.

 

Menunjuk Identitas!

MASALAH kedua, adalah identitas. Apakah dari sebuah karya bisa menunjuk identitas suatu daerah? Tentu, untuk menjawab ini, menjadi penting untuk menemukan jawaban tentang apa itu identitas.

Identitas adalah kenyataan yang khas dari suatu wilayah, yang bisa dilihat bukan oleh diri, tapi oleh orang lain yang berada di luar diri kita.

Identitas Aceh, menurut saya, bukanlah sesuatu yang khas yang disebutkan oleh orang Aceh. Sebuah identitas Aceh, adalah sesuatu yang khas yang ditemukan dan disebutkan oleh orang-orang di luar Aceh.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan Forum Diskusi Terfokus (FDT) Kebudayaan The Aceh Institute (2006), pernah mendapat gambaran susahnya menentukan identitas sebagai yang menggambarkan Aceh. Beberapa identitas, sebut saja semisal Serambi Mekah, Rencong, beberapa tari, beberapa adat, yang itu (sekali lagi) dikategorikan oleh orang luar Aceh, bukan oleh orang Aceh.

Untuk mengukur kenyataan identitas, secara sederhana dapat dicontohkan pada pemanggilan nama seseorang. Mungkinkah orang yang tidak mengetahui nama kita, lalu bisa mengetahui identitas kita? Tentu saja tidak.

Nah, sebenarnya sulit untuk menemukan jawaban apakah dalam sebuah karya yang mengandung warna lokal dengan sendirinya akan terkandung identitasnya. Saya rasa belum tentu. Cerpen “Yang Dibalut Lumut” Azhari sekalipun yang kenyataannya mengandung warna lokal, tapi tidak bisa menjadi penunjuk identitas. Saya ingatkan kembali, bahwa penyebutan nama, daerah, dan sebagainya, belum tentu bisa langsung menjadi penunjuk identitas.

Kesimpulan saya, lewat karya bisa ditemukan penunjuk identitas. Namun dalam karya-karya yang dipandang banyak orang sebagai mengandung warna lokal, nyatanya belum bisa menjadi penunjuk identitas.

Di luar Aceh, tentu ada karya yang bisa menjadi penunjuk. Pramoedia dengan “Bumi Manusia” bisa menjadi penunjuk identitas dalam masyarakat yang ditulisnya. Demikian juga dengan “Ronggeng Dukuh Paruk” Ahmad Tohari, juga bisa menjadi penunjuk.

Banyak karya yang belum saya baca tuntas. Ini tentu menyulitkan saya untuk menemukan berbagai karya yang bisa menunjuk identitas tersebut.

Di Aceh sendiri, kesulitan untuk menemukan berbagai kandungan dalam karya, lebih disebabkan karena peredaran karya yang terbatas. Belum lagi misalnya, seperti yang pernah saya ditulis di website www.acehinstitute.org, bahwa di Aceh dengan perkembangan sastra yang kadangkala pesat, tapi tidak diimbangi dengan adanya para kritikus.

Hal ini juga akan mematikan catatan-catatan yang terkandung dalam sebuah karya itu sendiri. Artinya, sebuah karya tanpa kritik, pada akhirnya hanya menjadi bahan bacaan semata, tanpa berpengaruh kepada peradaban manusia.[]

 

 

 


Blog EntryHAK CIPTA DILINDUNGI KETIKA SUDAH DIEKSPRESIKAN Mar 13, '07 9:44 PM
for everyone

HAK CIPTA DILINDUNGI KETIKA SUDAH DIEKSPRESIKAN

 

LAPENA (Institute for Culture and Society) Banda Aceh, pada Selasa (13/3) sore, melaksanakan diskusi rutin di sekretariat Lapena, Lamnyong, Banda Aceh. Diskusi tersebut, seperti diantarkan Pengelola Kajian Rutin, Sulaiman Tripa, dimaksudkan untuk menjawab persoalan-persoalan tentang hak cipta dalam berkesenian di Aceh.

Dalam diskusi yang dihadiri oleh akademisi, seniman, penulis, pemain teater tersebut, terungkap berbagai hal yang harus diperhatikan oleh seniman di masa mendatang. “Masalah ini, terlihat seperti sederhana, namun berimplikasi jauh dalam berkesenian di mana saja,” ungkap Sulaiman Tripa, dalam pengantar diskusi.

Dijelaskan Sulaiman Tripa, beberapa masalah yang muncul dan akhirnya timbul gugatan dari beberapa komponen masyarakat, misalnya saat tari Aceh yang diklaim digunakan oleh iklan produk obat tertentu. Selain itu, masalah yang melibatkan seorang artis di Jakarta dan melibatkan koreographer dari Aceh sendiri, yang juga diklaim sebagai bentuk melecehkan tari Aceh. “Dalam seminggu ini, Lapena juga kebanjiran masuk SMS dan email, dari beberapa teman di luar negeri. Mereka juga kerap melihat tari-tari Aceh yang dipentaskan di sana diklaim oleh mereka jauh dari bentuk tari yang sebenarnya,” kata Sulaiman, yang mereka lihat umumnya Tari Saman.

Lebih lanjut dikatakan, Tari Saman yang dikatakan oleh mereka, sudah diekspresikan dengan susunan, pakaian, dan bentuk yang mengacaukan Tari Saman. “Ini perlu didiskusikan agar tidak ada yang merasa didhalimi di kemudian hari,” katanya.

Pengajar Hak Cipta di Fakultas Hukum Unsyiah, Cut Era Fitriani SH, M.Kn, yang diundang sebagai pemateri, mengatakan selama ini, berbagai tarian tradisional Aceh sudah banyak dimainkan di berbagai daerah, bahkan sampai keluar negeri. “Ini di satu sisi menjadi perkembangan yang menarik. Namun di sisi lain, terutama bila tari tradisional itu dibuat dalam bentuk yang berbeda dengan aslinya, biasanya akan timbul gugatan,” kata alumni Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini.

Gugatan tersebut, menurutnya, akan hadir dari masyarakat yang merasa bahwa tarian tersebut milik mereka. Misalnya Tarian Seudati atau Saman yang sering diapresiasikan oleh masyarakat baik di Aceh maupun di luar Aceh, biasanya akan timbul gugatan bila tarian tersebut dilakukan dengan mengubah wujud aslinya. “Di sini juga masih menyisakan masalah, terutama kalau ada pertanyaan bagaimana sebenarnya format Tari Seudati atau Saman itu. Apakah seniman bisa menjelaskan hal ini,” jelas Cut Era dengan nada bertanya.

Masalah-masalah seperti ini sangat penting untuk didiskusikan oleh seniman, dengan melibatkan berbagai stakeholders. Tapi selama ini sepertinya belum ada format baku. Kalau hanya menanda lewat gerak-gerak tertentu, apa tidak mungkin bila ternyata masyarakat lain di dunia ini juga memilikinya.

Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah menjadi penting untuk dijawab. Menurut Cut Era, masalah-masalah seperti ini sudah diatur dalam Undang-Undang Hak Cipta Nomor 19 Tahun 2002. “Aturan ini sebenarnya masih ada kekurangan, karena sampai hari ini Peraturan Pemerintah sebagai aturan pelaksana UU itu belum ada,” ujar Cut Era, yang menjelaskan juga bahwa yang diatur dalam UU itu, antara lain apa itu hak cipta, masalah pencipta, perlindungan terhadap karya, dan batas waktunya.

Lebih lanjut, UU itu juga mengatur tentang keberadaan sebuah seni tradisional, misalnya akan dipunyai oleh siapa. “Secara umum mengatur masalah itu. Tapi bidangnya terbatas pada tiga lingkup, ilmu pengetahuan, seni dan sastra. Cuma itu yang diatur dengan hak cipta. Sementara di luar itu, semisal produk-produk teknologi, itu menjadi urusan paten,” ujarnya.

Alumni FH Unsyiah itu mengatakan, sebuah hak cipta tetap dilindungi oleh UU. Namun itu sudah ada bentuknya, bisa dilihat, diraba dan dirasa. “Membuat sebuah buku, bila masih sebagai ide, tidak bisa dilindungi. Sebuah ciptaan dilindungi oleh UU, ketika ide sudah diekspresikan. Ide itu sudah nyata. Semua ciptaan itu sudah terlindungi dengan sendirinya, tanpa harus melakukan perbuatan hukum tertentu seperti pendaftaran seperti Paten,” katanya.

Namun menurut Cut Era, pendaftaran penting dilakukan walau bukan sebagai kewajiban, karena terhadap karya, bila nanti ada orang lain yang mengklaim sebagai karyanya, maka hak yang dilindungi itu bisa menjadi masalah dan akan timbul sengketa.

Bentuk-bentuk karya yang dilindungi, seperti penceramah yang punya hak atas karyanya. Demikian juga dengan perancang atau arsitek, yang memiki hak adalah penciptanya, bukan pekerjanya. Suatu karya yang berhubungan dengan dinas atau kantor, maka hal itu ada di pimpinannya. Begitu