PEMBACAAN SEKILAS ANTOLOGI NYANYIAN MANUSIA
KARYA MOHD. HARUN AL- RASYID
TEGANGAN DIRI DAN NILAI SEJAGAT
Oleh Wildan Abdullah
Prolog
Tak banyak hal dapat saya ungkapkan saat ini. Di sela- sela kesibukan sebagai pelajar di Negeri seberang, saya disuguhi tugas oleh Lapena untuk membaca puisi- puisi Mohd. Harun al- Rasyid (selanjutnya Harun).
Ada 82 judul puisi dalam antologi ini, yang dapat dipilah atas tiga periode persepuluh tahunan seperti terlihat dalam Tabel berikut.
|
Periode |
Tahun |
Jumlah Puisi |
|
80- an (41 Puisi) |
1987
1988
1989 |
2
23
16 |
|
90- an (Puisi) |
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1998
1999 |
9
4
2
1
1
2
2
2
4 |
|
2000- an (14 Puisi) |
2001
2004
2005 |
7
2
5 |
|
Total |
|
82 |
Berdasarkan data dokumentasi yang saya miliki, keseluruhan puisi tersebut pernah terbit dengan judul Lagu Pilu Orang Kuyu setahun lalu, selebihnya, beberapa puisi dalam antologi ini juga pernah dimuat dalam antologi bersama, seperti dalam antologi Seulawah. (Kupanggil Namamu, Muhammad” dan “Laporan Kegalauan”), dalam antologi Putroe Phang (Nyanyian Orang Utan”, Tanaah dan Air sedang berduka”. “ Kita Asyik Bicarakan Perdamaian”, dan “Anak- anak yang Mulutnya Terkatup Bermohon kepada Ayaah dan Ibunya”), dalam antologi Keranda- keranda (Nyanyian dari Kerajaan Semut”, Lagu Pilu Orang Kuyu”, dan “Anak- anak yang Mulutnya Terkatup Bermohon kepada Ayah dan Ibunya”), dalam antologi Ziarah Ombak (“Kenangan dalam keikhlasan” dan “Aku Bertanya pada-Mu”).
Gengre dominant : Puisi Lirik
Sebagian besar puisi Harun adalah puisi lirik. Hal ini ditandai oleh kehadiran pesona pertama aku atau kami atau lainnya, yang dalam tradisi bersastra sering disebut dengan “si aku lirik”. Harun belum terbiasa dengan gengre puisi naratif, atau dialogis. Ada memang beberapa yang mengarah pada naratif, tapi tetap dalam kerangka lirik. Sebagai catatan kecil, Harun bisa berhasil dengan gengre naratif, simak saja puisi “Balada Anak Kecil” atau puisi “Kisah Pemburu Dosa”.
Puisi lirik sering diasumsikan sebagai refleksi diri penyair. Ini keliru. Sumber inspirasi boleh jadi diri, tetapi manakala karya itu dihidang kepada pembaca, pengalaman diri tadi boleh berpindah menjadi milik pembaca. Nilai universal mesti berlaku pada setiap karya sastra.
Tetapi, dalam kumpulan ini tetap dapat disimak sejumlah puisi yang benar- benar mempribadi penyairnya. Diantaranya adalah dua puisi yang digubah pada 1998 dan khusus dipersembahkan kepada dua adik kandungnya, yaitu puisi “Sajak Kehidupan II” dan “Sajak Kehidupan IV. Dalam puisi pertama, yang ditujukan kepada Amri al- Rasyid Harun antara lain berujar, //Kepada siapapun diceritakan /kita tetap anak petani/...../kenanglah/syair kecil diantara merdu suling/doakan jagung cepat bersutera/ dan kita berlari sambil bercanda//. Rupanya semacam kenangan masa kecil manakala Harun masih di Laweung atau entah dimana. Ini yang disebut semacam kerinduan arkepal. Dalam puisi kedua, yang ditujukan kepada Ridwan al- Rasyid, Harun masih juga menyanyikan lagu desa, lagu anak petani…./….dimulut samudera/melarutkan diri jadi garam/ yang disari petani renta//. Pengalaman personal dalam kedua puisi ini agak sedikit hambar sehingga memungkinkan menjadi milik kita.
Nada yang senada dijumpai dalam puisi “Lagu Cinta dari Tanah Gayo” (1991), yang dipersembahkan “Kepada nour zainura’. Puisi ini berisi rasa cinta Harun kepada Nora :
Di teduh Laaut Tawar
Kulayari cinta padamu
Lihatlah depik menari
Menembang syair masa depan
………………….
Begitu dalam cinta Harun. Ia melambangkan Nora sebagai bunga pujaan : mawarku, mawar dari pesisir/dikau pun dapat tumbuh disini. Harun bercita- cita agar bersedia hidup dimana saja bersama Nora, termasuk didataran tinggi tanah Gayo. Imajinya mengembang dan berujar lagi,
Simak lagi depik bersyair
Dan benih cinta pun akan subur
Dalam sejuta rindu
……………………
Ada puisi yang ditulis 16 hari sebelum tsunami : Nostalgia di Ruang Sempit”. Puisi ini khusus ditulis “bagi Nora, inong dan agam”. Dua yang akhir adalah buah cinta Harun bersama Nora, yaitu Inong Nabila Harza dan Agam Muyassar Harza. Keduanya turut pergi bersama ibunya pada pagi tsunami itu. Mereka kini sedang menanti kepulangan ayahnya di pintu surga. Harun pun memfirasati hal itu dalam bahasa falsafah cintanya.
Semakin mendalam saja harum itu
Mengelopak dalam lingkar kelopaknya
Mengembang dalm gerimis kasih
Itulah buah dari ke-harum-an mawar dari pesisir tadi, yang dapat tumbuh dan berkembang dimana- mana, termasuk di kawasan perumahan Cot Paya. Dalam keniscayaannya sebagai manusia, Harun menyatakan sikap :
Aku ingin mengintai dan bersandar
Pada harum itu
Yang semakiin harum
Dalam kuntum
Sebagaimana puisi lirik pada umumnya, puisi personal Harun ini tidak luput dari pengutamaan perasaan dan permainan rima. Berbagai imaji visual, dengaran, atau kinektik beradu dalam satu suasana syahdu, dan membawa angan pembaca kepada pengenalan diri Harun yang sebenarnya.
Semakin mendalam saja kenang
Pada gelombang sayan
Yang kian menarikan irama buih
Memutih
Aku ingin larut dalam gelombang itu
Membenamkan harum
Mendendangkan kasih
Atas kepergian keluarganya, Harun tidak berhenti sampai disitu. Selama 42 hari (Pidie, 31 Januari- Jakarta, 13 Maret 2005) Harun merangkai kata menjadi “Kenangan dalam Keikhlasan”, puisi yang digubah khusus bagi anak perempuannya, Inong Nabila Harza, sangat personal, memang sehingga tersusun untai :
Tiga tahun lalu
Ayah tinggalkan engkau, sayang
Dalam kabut bandara Sulatan Iskandar Muda
…………………………
Ya, tiga tahun sebelum 2005 Harun pergi meninggalkan keluarga karena…./Ayah pergi merenangi samudera Ilmu/ …….di Universitas Negeri Malang. Tentu saja Inong Nabila harus…..tinggal dalam ketulusan hati sang ibu. Harun bicara lagi secara ekplisit :
Tiga tahun lalu
Ayah tinggalkan engkau menjelang ulang tahun ketiga
Kasihku bertaburan antara Banda Aceh- Malang.
Tapi. Apa hendak dikata jika
Sekarang Ayah tinggal sendiri
Menghitung senyummu yang selalu mengembang
Menghitung hobimu untuk berenang
Mengenang bibirmu mengeja firman Tuhan
Sungguh sangat biografis puisi ini. Betapa puisi ini sulit untuk lekang dari diri penyairnya dan sukar menjadi milik semua. Ada asumsi dalam dunia sastra bahwa semakin universal karya itu maka semakin mungkin bernilai “tambah” karena mampu melampaui jarak masa dan jarak territorial. Namun, kemampuan memberi apresiasilah yang lebih menentukan kadar mutu setiap karya yang ada. Yang amat mendidik adalah gaya Harun menutup puisi ini :
Andai engkau masih menikmat udara bumi
Segera kembali
Karena senyummu abadi di hati
Namun, jika engkau telah pergi berkelana di taman Tuhan
Ayah ucapkan selamat jalan ananda tersayang
Jangan lagi berpaling ke belakang
Karena Ayah telah ikhlaskan
Dalam kondisi kehilangan istri dan dua anaknya, Harun mampu berucap seperti itu, seketika pula saya teringat dengan tulisan berikut ini :
“Dan diantara kenikmatan terbesar adalah kegembiraan, ketentraman, dan ketenangan hati. Sebab, dalam kegembiraan hati itu terdapat keteguhan pikir, produktivitas yang bagus, dan keriangan jiwa…..Adapun modal utama untuk meraih kebahagiaan adalah kekuatan atau kemampuan diri untuk menanggung beban kehidupan, tidak mudah goyah oleh goncangan- goncangan, tidak gentar oleh peristiwa- peristiwa,….
Gambaran kenikmatan hidup seperti tersebut diatas sepenuhnya dapat ditelusuri dalam kehidupan pribadi sang penyair Mohd. Harun al-Rasyid. Karya puisi yang terhimpun di dalam Nyanyian Manusia pun sebagian besar bekehendak mengajarkan manusia meneladani hidup yang demikian. Hidup yang nikmat, yaitu hidup yang gembira, hidup yang tentram, dan hidup yang berketenangan hati.
Fenomena keseharian yang menunjukkan adanya hubungan antara makhluk dan hubungan dengan-Nya dalam kehidupan, dijalin secara estetis oleh Harun dalam sebagian besar puisinya. Sebagai contoh ditunjukkan puisi “Nyanyian Manusia”, yang diawali dengan bait yang bernuansa hubungan vertikal.
Oh yang Maha agung
Ajari aku menghitung bintang
Dan seluruh rahasianya
Turunkan dia dalam sajadah
Biar sujudku bertambah- tambah
Tetapi, tiba- tiba masuk citra kemanusiaan (hubungna horizontal)
Tiupkan aku ruh kesadaran
Agar setiap deru nafas piatu
Menyetakkan dinding cintaku
Begitulah cara Harun mendakwah kita. Puisinya personal. Ia masih ada. Ia hidup. Dan baginya, “HIDUP adalah ….teka-teki”, yang jawabnya antara lain ada dalam puisi.
Disamping suka memotret diri, Harun juga gemar merekam perihal ranah negeri Aceh ini, yang juga masih merupakan bagian dari diri. Harun lahir di Laweung. Asli Pidie. Aceh sejati. Hal ini tampak dalam jiwa puisi- puisinya yang membumi. Bagi Harun, di tahun- tahun berlalu, Aceh Negeri yang diujung pulau, tanah yang dirajam cintanya. Di sanalah
Ribuan gallon darah membeku
Di sungai- sungai kemunafikan
Di ladang- ladang keangkamurkaan
Di jalan- jalan penuh perjanjian hawa nafsu
Di rumah- rumah damai tanpa moral
Di nurani kemanusiaan yang gamang.
(“Nyanyian Anak Pengungsi”)
Bukanlah hal yang naïf jika ia mengeluh, ibu. Lihat itu mata bulan/terluka/bumi penuh air mata. Kenapa ? Karena ……senjata- senjata gatal mulutnya/menyalak dimana- mana/menggigit angin/…sisa- sisa sepi/….(“Nyanyian Anak Bumi).
Didalam puisi “Nyanyian dari Kerajaan Semut” tidak ditemukan sepatah katapun yang menjadi identitas Aceh. Tetapi, manakala bait berikut dibaca, tidaklah keliru jika imaji kita memastikan keterkaitan suasananya dengan Nanggroe kita.
Bila kami tersesat tanpa visa
Ke negeri saudara- saudara
Karena asyik berlayar dalam impian surgawi
Atau menuruti angin kemenangan
Jangan lempari kami ke laut
Karena di laut kami tak bisa bersarang
Jangan lempari kami ke api
Karena api berpangkal kematian
Berikan saja kami sebatang pohon kehidupan
Harapan tersembunyi semestinya kita tangkap secara jernih. Karena Harun sendiri masih melanjutkan, //O,, kami yang hidup di sarang- sarang/kehidupan sah milik kami/ dibawah langit kemerdekaan/ di rentang zaman silih berganti/…
Dalam puisi “Banda Aceh” (1889) Harun menguntai kegelisahan jiwanya dalam nada prihatin seperti berikut :
Banda Aceh kotaku, kota cinta
Kota bunga pernah tersingkir
Kala kelelawar enggan mengawini putik durian
Dan kenanga ditebang gorilla
Hingga gadis- gadis kehilangan harum rambutnya.
Seperti Harun hendak merangkum banyak hal dalam puisi ini. Ia turut mencatat air Krueng Aceh yang mengalir merah, senyum Baiturrahman, kherkhof mengalir merah, senyum Baiturrahman, Kherkhof yang menyimpan kerangka (Belanda), gunongan tempat para bangsawan, cakrodonya dan Pinto khop-nya, Kuta Darudunia, serta Krueng Daroy. Di sini juga ia menyebut sejumlah tokoh seperti Sultan Iskandar Muda yang menatap heran pada gajah putih, Putri Sendi yang kembali ke Pidie membelah Seulawah dalam senyum sesalnya. Semuanya tampak gelisah dan memprihatinkan. Dan Harum dengan pintar melanjutkan,
Banda Aceh kotaku, kota Syuhada
Luka- luka memanggilku, juga kekasihmu
Jika ada wangi darah
Jangan risau pada sejarah
Masih dalam tahun 1989 itu juga, Harun menulis dengan sinis keadaan kawasan yang kerap dilaluinya, Lamnyong.
Ahai Lamnyong kekasihku
Bersabarlah bila engkau sedang dibedaki
……………..
Lamnyong gadisku
Kutemukan engkau dalam banyak catatan lelaki.
Kini orang- orang seberang laut telah kuundang
Membangun kolam renang dan taman untukmu
………………
Lihatlah kapal- kapal berlabuh diteluk
Sekali lagi, lupakan harga tanah kita
………......
(“Melintas Lamnyong”)
Demikianlah cara Harun bicara tentang dirinya, juga tentang Negerinya, yang selalu berada dalam tegangan antara realita dan pembayangan. Satu hal yang pasti, ia telah bicara. Menulis untuk kita. Untuk semua.
Epilog
Antologi ini tidak memberikan gaya atau model kehidupan yang menyeluruh bagi kita. Tetapi, melalui Nyanyian Manusia ini, Harun al-Rasyid akan penglihatan hati, pendengaran hati, perabaan hati, dan perasa hati kita, serta pencecapan hati semua, tentang beragam corak perilaku anak manusia.
Lebih dari itu semua, di dunia kampus, setelah A. Hasjmy baru kini lahir yang agak mapan : sastrawan puisi kita, Mohd Harum al- Rasyid. Sebelumnya pernah ada yang coba- coba, seumpama Ibrahim Hasan, Nurdin Abdurrahman (alm), Nur Gani Asyik (alm), T.A Sakti, atau A. Rahman Kaoy. Kita, akademikus, harus bangga pada mereka. Sastrawan yang berkarya atas dasar naluri dan nurani. Ya, naluri mereka tajam, dan nurani mereka beriman. Sedikit sekali yang bisa. Di sini, di Kopelma ini, banyak professor atau doctor, tapi sedikit sekali karya tulis, dan sangat langka akan karya sastra. Lebih sedikit lagi yang mau membacanya. Saya tutup catatan ini dengan ajakan “ mari gauli karya Bangsa sendiri !.