RANJANG
Cerpen Sulaiman Tripa
(Cerpen ini sudah termuat dalam Antologi Cerpen "Bayang Bulan di Pucuk Manggrove" yang diterbitkan DKB, Desember 2006)
SUBUH itu, ia kembali membuka gorden depan. Seperti biasa ia lakukan. Begitu bangun pagi dan sembahyang subuh, kemudian langsung membuka penutup jendela kaca dengan tabing berwarna hijau daun. Setelah itu, ia akan menurunkan isterinya ke ranjang tua yang terletak di ruang tamu. Masih sempat pula ia menyapu ruangan yang selalu saja berdebu.
Debu akan terasa di kaki. Setelah tsunami, jalan-jalan di kota belum juga di aspal kembali. Setiap hari debu jalan beterbangan seperti sagup. Orang-orang yang memiliki anaknya akan meminta disiramkan dengan air got yang tak lagi bening.
Tapi orang tua itu tak lagi memiliki anak yang berdiam bersamanya. Kelima anak laki-lakinya sudah pergi. Kedua anak perempuannya juga sudah dibawa suami. Mereka masing-masing telah membangun keluarga dan sebagian hidup di kota yang berbeda.
Satu anaknya di kota juga tak sering mengunjungi rumah ini. Ia sudah memiliki rumah sendiri. Tidak jauh. Tapi jarang berkunjung ke sana. Orang tuanya sudah dibiarkan hidup berdua dalam rumah yang tak lagi mewah.
Rumah itu dibangun pada tahun 1978. Saat itu, masih sebagai rumah mewah di kampung ini. Maklum, ia punya jabatan di pemerintahan. Seperti banyak pejabat di kota ini, ia juga membangun sebuah rumah mewahnya yang kini sudah sangat rapat.
Ada lima kamar tidur, dua ruang makan dan dapur, dua kamar mandi, dan satu kamar pembantu. Sumur terletak di ruang yang terpisah, kini juga sudah dibalut sebagai ruang. Dan ada ruang tamu berukuran 4 x 6 meter. Hanya satu kamar yang terisi akhir-akhir ini. Yang lain kosong.
Kerjanya makin bertambah karena rumah di kanan dan kiri sudah dibangun tinggi-tinggi hingga air mereka merembes ke halaman rumahnya. Apalagi saat musim hujan tiba, air itu tak lagi mengalir karena got sama sekali tak berfungsi pascatsunami.
DALAM minggu ini, aku sudah sering pulang ke sana. Rumah kontrakan di lorong buntu sudah sering kutinggalkan kosong karena tiba-tiba ada hinggapan yang membuat aku seperti harus pulang ke sana.
Aku sering berdebat, denganku sendiri: untuk apa aku pulang ke sana?
Tapi aku harus sering berdiam dan mengalah. Pada diri. Karena orang tua itu, harus kutemani. Makanya pulang dari taman, aku langsung ke sini. Pagi hari baru aku membuka rumahku.
Mereka sangat bahagia kutemani. Tapi mereka tak pernah memintanya. Sama sekali tak pernah. Mereka hanya sering mengeluh begitu aku sampai di rumah. Seperti anak-anak. Mereka selalu memburaikan isi harinya kepadaku.
Setiap malam, aku selalu menerima aduan-aduan. Begitu aku sampai di rumah, sebelum motorku mati, selalu aku ditanyakan: apa kepalamu tidak basah?
Tapi bagaimana tega aku menjawabnya, sedangkan ia akan menghangatkannya setiap malam bila kubutuhkan. Makanya aku selalu diam. Selalu diam dan baru pulang ketika aku berharap mereka sudah kembali ke peraduan.
Aku keluar juga sangat cepat. Tak pernah lewat dari pukul 06.30 pagi. Hari masih gelap pada jam segitu. Tapi aku harus melakukannya, apalagi aku juga akan membuka rumahku.
Makanya aku tak sempat membantu mereka untuk melakukan banyak pekerjaannya. Aku hanya bisa menemaninya saja. Tak lebih. Begitu senja sudah tiba, aku akan mengambil satu kamar yang terpisah.
Sebelum tidur itulah, saat tebakanku salah dan mereka belum keperaduan, aku sempat bertatap muka dengan mereka. Mereka selalu berkeluh kesah. Mereka menjadi orang yang selalu gelisah.
Semenjak dua-duanya sudah kena stroke, hampir tak ada waktu untuk bersantai-santai.
“Aku tak sempat lagi pergi ke masjid,” katanya.
“Tapi mau bagaimana lagi. Tak mungkin kan menggugat itu bila memang hanya berdua?” jawabku.
Isterinya selalu memandangku bila seperti itu dan aku tak mau ia melakukannya selalu. Tak berkata apa-apa. Matanya sayu. Sekali-kali melihat dinding yang sudah usang yang di sana bergantung jam dinding.
“Sudahlah,” kataku selalu, “memang harus dijalani seperti ini!”
Agu segera masuk ke kamar dan berganti pakaian. Tapi sesampai di kamar, aku pasti akan lama. Hatiku memang iba. Sebenarnya aku hanya ingin lihat orang setua itu hanya beristirahat saja dan ada di kanan-kiri yang melayani. Tapi ini tidak, mereka terlihat cukup mandiri.
Ia akan memanggilku kalau terlalu lama di dalam kamar.
SETIAP sembahyang lima waktu, biasanya ia melaksanakannya di masjid dengan berjamaah yang letaknya tak jauh dari pagar rumah. Sekarang hampir tak pernah lagi.
Isterinya tak mau ditinggal lama-lama. Ia mulai takut seorang diri. Di dalam kamar sekalipun. Ia akan selalu memanggil-manggil.
Tapi ia tak pernah mengeluh dengan keadaan isterinya yang seperti itu.
Mereka melewati rutinitas yang baku. Begitu turun dari kamar tidur, sudah disiapkan tongkat empat kaki untuk isterinya. Lalu ia akan belajar jalan mengelilingi ruangan 4 x 6 meter itu. Selalu seperti itu.
Suaminya langsung ke dapur menyiapkan masakan pagi dan menghidangkannya di atas ranjang tua. Di sana mereka akan akan makan bersama-sama. Setelah makan, suaminya akan mencuci piring dan pakaian. Lalu menyempatkan diri duduk di depan rumah menunggu penjual ikan dan sayur akan tiba.
“Kita tak perlu banyak mengeluh lagi,” katanya pada isteri.
Saat itu, kebetulan aku belum berangkat karena ia memintaku menunggu beberapa saat saja.
“Gelisah akan menjadikan penyakit kita tambah parah.”
“Tapi aku sama sekali tak gelisah,” jawabnya.
“Tapi mengapa engkau selalu takut?”
“Takut kan tak berarti gelisah?”
“Tapi tak perlu takut juga!”
Matanya memandang bajuku yang sedang kurapikan. Tak berkata apa-apa. Ia menyembunyikan wajahnya saat kupandangi. Ini sering dilakukan. Aku tak tahu apa yang sedang ia pikirkan bila sedang memandangku.
TIBA-tiba saja ia terjatuh. Tersungkur ke lantai. Orang-orang membawanya ke rumah sakit. Tubuh itu sudah tak bergerak
“Apa yang engkau pikirkan?”
Tak ada jawaban saat itu. Suaminya juga baru keluar dari rumah sakit. Aku beku. Aku terpatung sampai tubuh yang tersungkur itu dibawa kembali pulang ke rumah.
Jakarta - Bogor, Agustus 2006.