sulaiman's Site, Jak Piyoh

sulaiman's posts with tag: cerpen

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag cerpen
Blog EntryHIKAYAT KURA-KURA BERJANGGUT (Cerpen Azhari)Mar 17, '07 12:30 AM
for everyone
HIKAYAT KURA-KURA BERJANGGUT
AZHARI
Hikayat Zulfikar
Dahulu kala, ketika waktu masih ditentukan oleh beberapa orang, kapal masih bergantung pada kecerlangan bintang-bintang juga nujuman, dan para perompak merupakan musuh utama Sultan, hiduplah seorang Tukang Cerita yang mengandalkan bual dan kebohongan. Pada musim di mana angin gila dan angin ekor duyung menguasai lautan ramailah bandar di belakang rumah oleh awak dan anak kapal yang menunggu amuk lautan reda.
Saat gempita itulah si Tukang Cerita turun dari gunung. Sehabis Ashar dia selalu datang ke bandar itu, karena dia bergantung hidup pada kemurahan hati para pelaut yang tidak mengindahkan waktu magrib, karena terbius oleh cerita-cerita si Tukang Cerita. 
Pelaut-pelaut itu memberikannya kain Koromandel, keramik Campa, permadani Persia, batik Jawa, kemenyan Barus, candu Magrib, dan kisah-kisah pelayaran. Segala pemberian itu, oleh Tukang Cerita, dijual kembali setelah bandar tak lagi ramai. Sementara kisah-kisah pelayaran adalah bahan-bahan cerita baru baginya, yang dikocok dengan begitu lihainya, sehingga nyaris tidak kelihatan rupa aslinya. Dalam melumatkan cerita, mulutnya itu sempurna tiada terkira, melebihi batu giling yang paling tajam sekalipun. Pelaut-pelaut malang itu tak pernah sadar bahwa cerita yang disampaikan Tukang Cerita itu ialah kisah yang pernah mereka ceritakan.
Maka, setiap dia menyelesaikan satu cerita, yang terkesan dipanjang-panjangkan, dengan sikap seolah-olah ingin mengetahui kesan pendengar setianya atas cerita yang baru saja dia selesaikan, dia lantas bertanya pada dua-tiga orang pelaut,?Bagaimana ceritaku barusan? Kalian percaya? Pengalaman apa yang kaudapat dalam pelayaran kali ini Ranir? Wahai, Pasha ceritakan padaku tentang gadis-gadis negeri Atas Angin? Atau siapa di antara kalian yang pernah dihadang oleh perompak Kleng? Memang perompak Kleng terkenal kebuasaan dan kekejamannya, tapi satu hal mereka selalu dikalahkan oleh perompak Lamuri. Baiklah, akan kuceritakan tentang perompak Lamuri pada kali yang lain. Tak ada gunanya menceritakan tentang mereka sekarang, itu sama saja dengan berdoa agar mereka datang. Dan itu tak hanya menyusahkan kalian tapi juga merusuhkan pikiran Sultan Kita Yang Mulia. Sekarang hayo ceritakan dulu padaku pengalaman kalian.?     
Maka berceritalah para pelaut itu, sementara Tukang Cerita mendengar dengan seksama sambil menggangguk-anggukan kepalanya. Saat satu per satu para pelaut itu selesai menceritakan ceritanya, Tukang Cerita bertepuk tangan. Tepuk tangan itu tentu saja bukan untuk menghormati kepiawaian bercerita para pelaut itu, melainkan pada saat yang bersamaan dia sudah menemukan bahan cerita baru untuk beberapa hari kemudian, bahkan kalau beruntung untuk musim angin gila dan angin ekor duyung mendatang. Dengan demikian Tukang Cerita tak akan pernah kehabisan bahan ceritanya. 
Mulut Tukang Cerita sama tajamnya dengan Zulfikar, pedang kesayangan Sultan. Dan dia binasa di ujung Zulfikar. Konon kabarnya, dia binasa karena Kura-kura Berjanggut.
Ceritanya tentang Kura-kura Berjanggut telah membuat Sultan begitu terhina. Mungkin maksud si Tukang Cerita mulia, dia ingin menghibur para anak kapal yang singgah dari pelbagai penjuru lautan yang telah menunggu lama di bandar oleh suatu huru-hara di lautan. Tapi mungkin saja Sultan menangkap maksud lain dari cerita si Tukang Cerita.
Hari-hari menjelang putusnya leher si Tukang Cerita oleh Zulfikar,  kapal-kapal yang merapat di Bandar Lamuri tak terbilang jumlahnya, bandar penuh, kapal-kapal berderet hampir menyentuh tepi cakrawala! Kapal-kapal itu singgah di Bandar Lamuri  bukan disebabkan oleh musim angin gila atau angin ekor duyung. Laut tenang. Langit bercahaya. Tak ada waktu yang lebih bagus untuk berlayar selain pada musim ini. Tapi ini musim perompak Lamuri datang mengganas. Sudah bertahun-tahun tak terdengar kabar berita tentang perompak Lamuri. Tak ada yang bisa menerka kapan muncul dan hilangnya rompak Lamuri. Tak juga ahli nujum kepercayaan Sultan. Tiba-tiba saja sudah terdengar tentang kapal yang karam di laut lepas. Jika berlalunya musim angin buruk dapat dipastikan oleh tiga kali pukulan genta penjaga menara ?  maka angkat sauhlah kapal-kapal yang ingin melanjutkan pelayaran ?  maka siapa yang bisa memastikan akhir tualang rompak Lamuri? Bahkan, bertambah cemaslah raut wajah para saudagar kapal tatkala melihat kapal-kapal perang Sultan yang memburu perompak pulang dengan layar hangus dan tiang rubuh, padahal kapal-kapal perkasa itu telah dilengkapi dengan meriam dan bubuk mesiu buatan Ottoman.       
Oleh keganasan perompak Lamuri kapal-kapal tak ada pilihan. Bagi kapal yang sedang merapat untuk istirahat di Bandar Lamuri sebelum melanjutkan perlayaran yang lama ke negeri Atas Angin harus menunggu lebih lama sampai armada laut Sultan berhasil membersihkan jalan pelayaran dari keganasan para perompak. Begitu pula dengan kapal-kapal yang sedang berlayar dari Bawah Angin menuju Atas Angin untuk sementara terpaksa membuang jangkar di Bandar Lamuri.
Bandar Lamuri sebenarnya tempat menunggu yang paling pas bagi kapal-kapal itu disebabkan oleh kedudukan Bandar tepat di mulut pintu antara bandar-bandar Atas Angin dengan bandar-bandar Bawah Angin. Namun sejak lima tahun terakhir bandar itu sepi dari kapal-kapal yang singgah, sejak orang kulit putih merebut Bandar Malaka. Begitu Malaka direbut penguasa putih langsung menurunkan ongkos merapat kapal setengah kali lipat dari tarif Bandar Lamuri. Hal ini tak lepas dari peran Si Ujud.
Memang khianat Si Ujud itu! Geram suara Sultan yang melaknat Si Ujud masih terdengar sampai hari ini. Menurut Hikayat Taman-taman Kenikmatan yang dikarang oleh pengarang istana paling cemerlang pada masa itu, Sultan menyesal kenapa sampai tak memancung leher Si Ujud di ujung Zulfikar ?  setelah orang celaka itu menghasut sekelompok orangkaya lingkaran Kleng untuk menggerakkan sebuah pemberontakan ?  namun hanya menghukum buang Si Ujud ke Malaka.
Tentu saja si pengarang istana yang cerdas punya alasan kenapa Sultan sampai tak melakukan tindakan itu. Tersurat di hikayat itu Sultan masih menyimpan sesal yang dalam karena pada tahun yang lewat dia dengan ringan melayangkan Zulfikar ke leher anak kandungnya. Anak kandung yang malang itu dituduh telah membagi kenikmatan dengan seorang selir kesayangan Sultan. Menurut hikayat itu pula, setelah si anak kandung binasa, Sultan berjanji untuk menyimpan Zulfikar dan hanya menggunakan pada saat-saat yang penting. Sultan mungkin beranggapan gerakan Si Ujud tidak begitu menggentingkan kedudukannya sehingga tak perlu menyelesaikan nasib Si Ujud di ujung Zulfikar.
Namun tidak begitu kalau menurut para ahli hikayat, terutama orang kulit putih, yang hidup ratusan tahun kemudian setelah kejadian itu. Menurut penafsir hikayat kulit putih yang tertarik dengan Hikayat Taman-taman Kenikmatan secara tersirat alasan Sultan menyimpan Zulfikar yang terkenal itu adalah disebabkan pada malam hari setelah hari pemancungan itu Sultan beroleh mimpi yang aneh. Dalam mimpi itu Sultan didatangi seorang sahabat Nabi. Dan sahabat itu mengatakan bahwa Zulfikar merupakan pedang kesayangannya, biasa dipakai untuk membela agama anjuran Nabi. Dan pedang itu sendiri merupakan pahala dari Nabi karena dia seorang sahabat yang setia. Dalam mimpi itu Sultan sempat bertanya: wahai saidina bagaimana hingga pedang ini berada di tangan Kadi Malikul Adil dan Kadi menyerahkan padaku? Sang Sahabat hanya menjawab: laut begitu luas, oleh karena itu laut dapat menghanyutkan segala sesuatu kepada siapa saja, kepada orang yang saleh maupun tidak. Sejak mimpi didatangi sahabat nabi itulah Sultan menyimpan pedangnya yang biasa sering ia pakai untuk memancung orang-orang terhukum ? tanpa peduli besar atau kecil kesalahan orang hukuman, terutama apabila orang terhukum itu kerabat dalam istana.  
Di tanah buangan awalnya Si Ujud  menjadi orang biasa. Bahkan penguasa Malaka tidak diperkenankan Sultan melakukan hubungan apapun dengan Si Ujud. Bukan masalah bagi penguasa tanah taklukan Sultan itu, selain Si Ujud buruk pekertinya, penguasa Malaka itu tak ingin punya masalah dengan Sultan yang perkasa, salah sedikit saja bukan tak mustahil Zulfikar kembali menyeberangi lautan ditambah pasukan seribu gajah untuk menghukum kekhilafan penguasa tanah taklukan.
Nasib Si Ujud berubah setelah orang kulit putih merebut Malaka dan menumpas penguasa taklukan Lamuri. Sultan Lamuri tak kuasa menghentikan langkah orang kulit putih di tanah taklukannya, dan hanya mampu menatap saja dari seberang lautan. Sebab di tanahnya sendiri pada saat yang bersamaan meletus beberapa pemberontakan orangkaya Lingkaran Kleng sekutu Si Ujud, yang melarikan diri ke Hutan Halimun. Usai menumpas pemberontakan di tanahnya sendiri orang kulit putih sudah terlalu kuat di Malaka. Beberapa penyerangan kilat yang dilakukan bala tentara laut Sultan dipatahkan oleh orang kulit putih. Maka Sultan berencana menyiapkan rencana perang yang lebih besar dan matang terhadap orang kulit putih di Malaka. Untuk itu kapal-kapal perang yang dilengkapi meriam paling ampuh dan terbaru telah dipesan kepada Kekhalifahan Ottoman. Untuk itu kas kesultanan harus ditambah. Untuk itu ongkos masuk kapal di Bandar Lamuri mesti dinaikan. Sebab ini pula yang membuat kapal-kapal niaga tidak memilih Malaka sebagai tempat singgah saat terjadi huru-hara di lautan yang disebabkan oleh perompak Lamuri. Kabar tentang akan diserangnya orang putih di Malaka tak hanya datang dari Lamuri, seluruh sultan yang menguasai bandar-bandar Bawah Angin juga sedang menyiapkan hal yang serupa. Akan tiba waktunya nanti.  
Si Ujud kemudian diangkat sebagai penasihat orang kulit putih khusus untuk Urusan Lamuri dan Tanah Taklukannya. Karena Si Ujud, menurut orang kulit putih, dia memendam dendam terhadap Sultan.  Bukan kepalang senangnya Si Ujud oleh pahala itu. Maka disampaikanlah oleh Si Ujud beberapa siasat yang dianggap dapat melemahkan Lamuri. Begitu Sultan menaikan ongkos masuk kapal, Si Ujud menyarankan agar penguasa kulit putih di Malaka justru mengumumkan tarif masuk kapal di Malaka setengah dari harga Bandar Lamuri. Hasilnya, akan kelihatan pada musim angin buruk mendatang. Benar kata Si Ujud, hampir setengah dari kapal-kapal yang dulu singgah di Lamuri pindah ke Malaka. Itulah sebab utama sepinya Bandar Lamuri selama lima tahun terakhir.
Itulah sebab utama sampai kenapa Sultan menyesal tak memancung kepala Si Ujud dengan Zulfikar lima tahun silam.
Bandar Lamuri bertambah sepi tatkala orang kulit putih mendirikan sebuah rumah bordir yang besar sekali di Malaka. Muka Berseri nama rumah bordir itu.  Muka Berseri telah menghibur ribuan pelaut setiap musim angin buruk tiba. Rumah bordir yang pengusahaannya langsung di bawah kesyabandaran didirikan juga atas saran Si Ujud. Berkata Si Ujud, ?Betapa aku sering mendengar sepinya hati para pelaut setiap kapal mereka singgah di Lamuri. Di Lamuri tak ada rumah bordir, tak diijinkan Sultan yang alim, padahal sudah kubilang berkali-kali para pelaut itu tak semuanya seagama dengan kita. Aku belum selesai bicara kulihat Sultan yang lalim itu sudah memegang Zulfikar-nya. Siapa tak gentar melihat Zulfikar. Selama ini hati pelaut yang sepi hanya dihibur oleh bual dan cerita bohong Tukang Cerita sialan. Sungguh kasihan nasib pelaut yang singgah di sana.?
Dari mulut para pelaut dalam lima tahun terakhir rumah bordir Muka Berseri sudah menjadi begitu masyur.
Sementara si Tukang Cerita sendiri sejak sepinya Bandar Lamuri sudah jarang turun ke bandar. Dia telah begitu banyak kehilangan pendengar setianya, kawan-kawan yang bisa diajak gembira bersama.   Dia hanya turun gunung apabila mendengar hal-hal yang besar saja terjadi di bandar. Dalam lima tahun terakhir itu misalnya, dia pernah turun gunung, saat mendengar ada puluhan kapal perang yang merapat. Armada dari Turki. Rombongan yang disebut Sultan sebagai Kebaikan Hati Khalifah. Seluruh rakyat menyambut rombongan itu. Termasuk si Tukang Cerita. Dia langsung membentangkan tikar, dia memukul-mukul rapai untuk menarik hati para awak dan anak kapal dari Turki. Dengarlah ceritaku, dengarlah ceritaku, serunya. Namun tak lebih dari sepuluh orang anak kapal yang mendekat ke arahnya. Dan mau mendengar ceritanya, mungkin karena mereka belum tahu kehebatan cerita si Tukang Cerita. Hari itu Tukang Cerita hanya mengisahkan satu kisah saja. Selebihnya dia mengorek-ngorek cerita dari anak kapal apa maksud kedatangan rombongan Kebaikan Hati Khalifah menjumpai Sultan, dan memang itu tujuannya. Gembira juga hatinya tatkala mendengar bahwa sepuluh orang yang mendengar ceritanya itu ingin menyeberang ke Malaka, ikut dalam satu kapal yang ingin mencari hiburan di sana.
?Jika kalian ke rumah Muka Berseri dan kebetulan berjumpa dengan kawan-kawanku --  mereka pasti kenal aku andai kalian katakan baru saja dari Lamuri -- katakan pada mereka persedian anggur dan canduku sudah habis semua, sementara sekarang aku mempunyai banyak cerita, terutama satu cerita yang tak pernah mereka dengarkan: Hikayat Kura-kura Berjanggut.?  
Begitulah, sekali lagi  Tukang Cerita pun turun ke bandar sejak bandar sepi dari kapal yang singgah, begitu mendengar banyaknya kapal yang merapat di bandar akibat mengganasnya rompak Lamuri.
?Apa kabar kawan-kawan semua? Muka Berseri telah memisahkan kita begitu lama,? sapanya dengan hati riang gembira begitu melihat ratusan anak kapal merapat ke dekatnya. 
Semua anak kapal ikut tertawa disapa Tukang Cerita, kawan lama mereka.
?Berceritalah Tukang Cerita. Berceritalah. Kau pasti punya simpanan cerita yang tak terkira. Aku khusus membawakanmu anggur kekekalan yang disimpan di dalam gudang rumah orang Peranggi. Anggur ini tak hanya menghangatkan tubuhmu tapi juga pikiranmu. Kau harus mencobanya,? sambut seorang anak kapal.
?Ya berceritalah Tukang Cerita. Ceritakan tentang rompak Lamuri, kalau kau tahu tentang mereka.? berkata anak kapal yang lain.
?Hoho, jangan salah sangka kawan-kawan semua. Hari ini aku tak akan menceritakan tentang rompak Lamuri, belum saatnya. Dan kuanjurkan janganlah kalian dirisaukan oleh perompak itu. Biarlah para nakhoda dan saudagar, juga laksamana dan Sultan Kita Yang Mulia saja yang memikirkan itu. Mari kita bersenang-senang terlebih dahulu, bukankah sudah lama kita tak berjumpa,? jawab Tukang Cerita.
?Kau benar Tukang Cerita. Berceritalah sesuka hatimu.  Jika saja kemudi kapal berada ditanganku tentu kapal kami akan kuarahkan kemari, tak mampir di Malaka meskipun di sana ada Muka Berseri,? berkata anak kapal yang lain.
Mendengar itu tertawa terbahak-bahaklah Tukang Cerita hingga air matanya berderai dan lengket di bulu mata.
Maka berceritalah Tukang Cerita sore itu tentang segala ihwal. Bercerita sampai matahari terbit lagi keesokan harinya. Bercerita pula beberapa anak kapal tentang bandar-bandar yang mereka singgahi, dan pengalaman cinta mereka di setiap bandar. Melupakan kapan kapal-kapal mereka bisa angkat sauh dari Bandar Lamuri, dan janji Sultan menumpas perompak yang mengganas.
Berhari-hari Tukang Cerita bercerita menghibur para anak kapal yang menunggu Sultan menumpas perompak Lamuri. Sampai Tukang Cerita kehabisan ceritanya, sampai anak-anak kapal sadar bahwa telah begitu lama mereka menunggu di Bandar. Dan kalau kaulihat semakin hari kapal-kapal kian bertambah banyak merapat di bandar, deretannya hampir menyentuh ubun-ubun cakrawala. Tak ada yang berani melanjutkan perlayaran, kapal-kapal masih menunggu datangnya kabar baik dari kesyahbandaran, kalau tak indah maka kapal-kapal akan mengalami nasib seperti sembilan kapal berbendera Sinhala yang tak bisa menunggu lebih lama karena dikejar perayaan hari keagamaan di sana -- kapal-kapal itu membawa bertong-tong dupa untuk kebutuhan perayaan. Dan tong-tong itu kini terapung-apung di antara celah-celah kapal yang menunggu.
Hingga pada suatu hari ketika Tukang Cerita sedang bercerita kepada para anak kapal, sesungguhnya cerita itu adalah cerita lama yang pernah diceritakannya, datanglah beberapa puluh orang mendekat ke kerumunan itu. Melihat yang datang pecahlah kerumunan itu menjadi dua bagian bagai laut yang dibelah Musa, memberikan ruang pada yang datang. Ternyata para nakhoda, saudagar kapal, jurumudi, dan mualim yang telah membelah kerumunan itu. Melihat siapa-siapa yang datang berdirilah Tukang Cerita seketika menghentikan ceritanya. Sungguh besar hati Tukang Cerita, sebab biasanya golongan ini adalah yang paling susah diajak gembira bersama. Para petinggi kapal ini seolah tahu bahwa apa yang diceritakan Tukang Cerita ialah bual dan bohong semata, atau terlalu tinggi selera mereka untuk mendengar kisah-kisah yang dikocok Tukang Cerita hanya sebagai kisah biasa.
?Singkat saja Tukang Cerita, hari ini aku ingin mendengar perkara bajak laut Lamuri. Aku tahu kau tahu segalanya tentang mereka,? berkata seorang nakhoda tua.
?Tun, kau rupanya, nakhoda kapal Ikan Pari. Apakabar perempuan berleher gading dari Magribi?? tanya Tukang Cerita.
Bersemu merah paras nakhoda tua itu disapa Tukang Cerita.
?Katakan sejujurnya apa yang sebenarnya terjadi di laut kita!??
?Dan kau Abdul Kadir, jurumudi ternama kesayangan saudagar Barus, kawan lama sekapal yang bersumpah tak akan menjejak tanah sebelum orang putih meninggalkan Malaka. Apakah aku harus terharu? Kau melanggar sumpah untuk mendengar ceritaku??
Yang paling takjub mendengar percakapan itu ialah para awak kapal yang belia usianya. Baru tahu mereka ternyata Tukang Cerita punya hubungan dengan para petinggi kapal mereka. `
?Tidak. Aku tidak tahu  apa-apa tentang rompak Lamuri. Karena mereka tak ada. Dan bukankah Sultan sudah berjanji untuk menumpas perompak di lautnya secepat laju kapal kalian??
?Kau bohong, kau tahu segalanya, bukankah kau bagian dari perompak itu!? Dan tidakkah kaudengar satu armada belum kembali setelah dua jumat mengejar kapal perompak? ?
Heninglah semua jamaah Tukang Cerita mendengar pernyataan terakhir Abdul Kadir.
?Kau benar belaka Abdul Kadir, kita berdua pernah menjadi bagian dari rompak Lamuri. Semua orang di bandar ini tahu semua tentang hal ini. Tapi itu dulu, berpuluh-puluh tahun silam, mungkin saat itu wahai anak kapal semua kalian belum lagi melihat dunia. Aku nakhoda kapal perompak Lamuri yang paling ditakuti selingkar laut Atas dan Bawah Angin, dan kau Kadir salah seorang jurumudi kapal kita yang paling kukagumi. Ditanganmu kemudi kapal kita secepat Zulfikar memenggal sebuah kepala. Itu dulu, waktu Sultan masih membutuhkan kekuatan kita di lautan. Sampai suatu hari Sultan Kita Yang Mulia mengatakan dia tak membutuhkan kita lagi sebagai sekutu lautnya. Hari itu Zulfikar baru saja tiba di tanah ini. Seorang mufti dari seberang lautan mempersembahkan pedang itu kepadanya. Bukankah kalian mendengar, hari itu kukatakan kepada Sultan jika tiang-tiang kapal kita bisa bicara, tiang-tiang kapal itu akan mengatakan bahwa orang kulit putih dalam perjalanan menyeberang kemari dan kitalah kekuatan pertama yang akan mencegah kedatangan mereka, untung saja aku masih bisa menjaga mulutku untuk tidak mengatakan bahwa perjalanan orang kulit putih tidak bisa dilihat oleh Zulfikar di tangannya itu, dengan begitu aku telah menjaga perasaannya yang mudah tersinggung itu, dan bukankah kalian tahu apa jawaban Sultan saat itu? Pamanku itu hanya memelukku dan mengucapkan: terima kasih kemenakan atas peringatanmu. Kita semua kecewa mendengar ketetapan hatinya, tapi kita menghormati Sultan kita, mematuhi kata-katanya. Maka aku menolak saranmu untuk melakukan pemberontakan wahai Qaran,? kata Tukang Cerita mendekat ke arah seorang abesy, lalu memeluk orang itu, ?Sudah besarkah anak dara Bukharamu? Kuharap kau selalu memenuhi janjimu untuk mengunjunginya setidaknya dua tahun sekali.?
?Ya. Aku dalam perjalanan untuk berjumpa Zulaikha. Tapi kabar tentang perompak itu menghentikan langkahku di bandar ini. Bandar yang sejujurnya tidak ingin kuinjak lagi hanya saja karena kudengar kabar tentang perompakan di laut Lamuri, maka kuarahkan kemudi ke bandar celaka ini, kukira kau kembali dipanggil Sultan.?
?Wahai Qaran dan kawan lama lainnya. Huru-hara di lautan menyebabkan kita berjumpa lagi. Tak pernah terbayang olehku kita bakal berjumpa lagi seperti ini. Sultan punya keputusan kalian juga punya keputusan, begitu pula denganku. Kalian memilih meninggalkan Lamuri untuk selamanya, pergi entah kemana, juga merasa kecewa denganku yang tak mampu membela kepentingan kalian. Sementara aku yang tak ingin kemana-mana, karena cintaku pada tanah ini, memilih berumah di dalam hutan, kutampik rumah pemberian Sultan. Lama di dalam hutan, hilanglah pengetahuanku tentang lautan, sekali-kali aku turun ke bandar dan menjadi Tukang Cerita, bertanya-tanya tentang kabar kalian dari para anak kapal yang mau mendengar ceritaku. Dengan begitu lunaslah sedikit rinduku pada kalian. ?
?Sebelum kalian pergi dari hadapanku. Dan memang itu yang harus kalian lakukan sebab aku tak lebih tahu dari kalian siapa sesungguhnya para perompak Lamuri kini kuharap kalian masih mau mendengarkan ceritaku tentang Kura-kura Berjanggut. Kisah ini dulu sering kuceritakan kepada kalian, di tengah lautan, di atas geladak kapal saat angin mati, saat kita berhari-hari dalam jemu yang panjang menunggu datangnya angin. Seperti kalian ketahui begitu aku selesai menceritakan hikayat Kura-kura Berjanggut, keesokan harinya layar kapal seperti besi berani: menarik angin dari segala penjuru. Di antara kalian masih ada yang percaya, mungkin sampai hari ini, hikayat itu adalah mantra penarik angin. Tapi ini adalah salah satu leluconku dengan mualim angin kita yang cerdas itu. Dia melihat bintang-bintang di langit, dan mengatakan padaku, tujuh hari lagi angin akan berhembus. Maka aku mengumpulkan kalian semua di atas geladak. Dan menceritakan hikayat itu. Betapa gembira hati kalian tatkala aku menceritakan hikayat itu, sebab bakal terbebaskan dari hari-hari menungu angin yang membosankan.  Semoga dengan hikayat ini kapal kalian bisa berlayar keesokan harinya.?
            Dahulu kala, waktu segala binatang dan pepohonan masih bisa bicara, dan bandar ini belumlah bernama, hiduplah seekor raja kura-kura menguasai selingkar lautan ini. Kura-kura itu disegani oleh makhluk sepenjuru lautan karena kecepatan dan keperkasaannya.
                Sampai pada suatu hari di ujung lautan terlihatlah sebuah kapal,  dan diselingkup kapal itu dibungkus oleh kabut hitam. Di atas geladak kapal itu terlihat seekor unta. Hanya seekor unta.
O, keperkasaan dan kuasa membuat raja  kura-kura menjadi kurang waspada. Padahal petuah lama mengatakan apabila kau melihat sebuah kapal dengan unta di atas geladaknya segera usirlah kapal itu. Sebab itu adalah unta yang diusir Nabi Sulaiman, nabi junjungan segala binatang. Dosa apakah yang membuat orang sesabar Sulaiman sampai mengusir unta itu? Di tanah Sulaiman dia telah menyebarkan banyak fitnah dan kebohongan, sering membuat Sulaiman susah tak kepalang. Setelah diusir dari tanah Sulaiman, unta celaka itu menipu pula pelaut keturunan Nabi Nuh. Dicurinya kapal keturunan Nuh. Dengan kapal itu dia berharap bisa mendapatkan doa seribu penguasa dunia, dengan doa dan kapal itulah dia berharap dapat kembali pulang ke tanah Sulaiman. Jika sekarang orang-orang mencari dimana kapal Nuh yang masyur itu pasti tak ditemukan sebab disembunyikan unta buangan. Perompak-perompak di seluruh lautan tak pernah mencari kapal itu, takut dikutuk unta buangan.
Setelah dibuang Sulaiman, dengan kapal itu, dia masih saja menyebar kabar kebohongon ke seluruh penjuru lautan karena dengan cara berbohong itulah dia mendapatkan doa para penguasa dunia, sebab tak ada raja yang sudi berdoa untuk unta usiran Sulaiman. 
Akibat yang ditimbulkan oleh kebohongannya itu sungguh luar biasa, membuat sesiapa yang percaya menjadi gelap takdir hidupnya sepekat kabut yang menudungi kapal sang unta.
Seperti kura-kura yang pernah hidup di bandar ini.  
                Kepada kura-kura unta mengatakan sungguh aneh kura-kura yang dilihatnya ini, sebab di tanah Sulaiman dan di seluruh penjuru lautan yang pernah disinggahinya semua kura-kura ada janggutnya. Awalnya marahlah kura-kura mendengar kabar yang disampaikan unta. Tersinggung perasaannya. Katakan padaku di mana aku bisa membeli janggut wahai unta pembawa berita? Kata kura-kura. Tertawalah unta mendengar pertanyaan kura-kura. Kau tak perlu menghabiskan seluruh kekayaanmu kalau hanya untuk mendapatkan sejumput janggut di dagumu, pesan Sulaiman, berdoalah untuk kesalamatan unta kelana ini. Maka akan tumbuhlah janggut di dagumu itu.
Maka berdoalah kura-kura untuk keselamatan unta usiran. Setelah mendapatkan doa raja kura-kura unta itu pun pergi bersama kapal dan kabut yang memayungi kapal dengan hati seluas samudera.
                Karena doa keselamatan itu pekatlah hidup kura-kura sampai anak cucunya, sampai hari ini. Perhatikan sungguh lambat jalannya kura-kura sekarang. Sampai sekarang kura-kura berjalan lambat karena mencari-cari janggutnya yang jatuh di tanah, kura-kura menyangka Sulaiman melemparkan begitu saja janggutnya di tanah.
Keesokan harinya setelah Tukang Cerita menceritakan hikayat Kura-kura Berjanggut laut masih saja begitu tenang, angin seperti membujuk kapal yang berbaris sampai tepi cakrawala untuk berlayar.
Correze, September  2006  

http://sriti.com/storyview.php?key=1688

Sebab Nek Yam Sudah ke Jakarta 
Post: 
11/16/2005 Disimak: 153 kali
Cerpen: Alimuddin 
Sumber: Republika,  Edisi 10/30/2005 


Sudah dari dulu niat sungguh-sungguh itu terbesit di benak Nek Yam -- ingin sekali mengunjungi Jakarta.
Tak tahu Nek Yam sebabnya apa. Entah jin apa pula yang telah membisikkan hasrat itu. Yang jelas, keinginan itu kian menggebu saja tiap malam dan siang bertukar.
Jakarta menurut bayangan Nek Yam adalah kota yang sangat indah. Seperti yang kerap disaksikannya pada teve si Syam, tetangga dekat rumahnya -- malam hari penuh terang dengan lampu-lampu cantik terpajang di sepanjang jalan. Pun gedung-gedung yang tingginya seratus kali, malah lebih, dari gubuk reotnya.

Berharap sekali Nek Yam dapat merengkuh indah itu. Ingin kakinya terjejak di tanah Jakarta itu, meski cuma sekali selama masa hayatnya.
Sayang tapi, niat itu tak pernah terwujud. Apalagi kini kondisinya sebatang kara setelah ditinggal mati suaminya tujuh tahun lalu. Angan itu laksana pungguk rindukan bulan. Semasa ada suaminya pun, angan itu tak sanggup terjelma, apalagi tanpa lelaki itu kini.
Namun, lintas hidup seorang manusia tak dapat diterka oleh siapa pun. Nek Yam tak pernah menyangka jikalau hasratnya itu bisa terkabul juga akhirnya. Manakala usianya kian uzur pula.

Kala itu, tanah kelahiran Nek Yam, Tanoh Seuramoe Mekkah, ditimpa bencana teramat dahsyat. Banyak orang menyebutnya

'tsunami'.
Tsunami adalah air bah hitam yang berarus kuat dan mempunyai ombak yang sungguh tinggi. Cerita orang yang sempat melihat langsung, tinggi ombak itu nyaris sepadan dengan tiga kali tiang listrik. Mengerikan!
Tsunami itu telah meratakan sejajar tanah seluruh perumahan di tanah Aceh. Gubuk reot Nek Yam, yang berlokasi di Alue Naga, tak luput dari terjangan air bah hitam itu. Nek Yan beruntung meski, saat naas itu datang, kebetulan sosok itu tengah berada di Tanjung Selamat -- salah satu kawasan yang tak terjamah tsunami. Jika tidak, mungkin tubuh Nek Yam termasuk salah satu dari ratusan ribu manusia yang telah dipanggil oleh-Nya dalam tempo sekitar tujuh menit.

Empat hari baru usia bencana itu, manakala Nek Yam menjejakkan sepasang kakinya kembali ke Alue Naga, ingin melihat kondisi gubuk mungilnya. Namun hanya hampa yang terbentang luas di sana. Tanpa satu sisi rumah pun.
Seluruhnya telah dijarah paksa oleh tsunami.
Terpaku Nek Yam menatap pemandangan langka itu. Berdiri di manakah dia, tak tahu Nek Yam, sebab halaman di Alue Naga tak lagi berbatas pagar ataupun lainnya. Pun Nek Yam tak tahu juga di mana bekas rumahnya dulu. Tampak tersatukan semuanya.
Lama keterpakuan itu menaungi tiap inci dari tubuh senja Nek Yam. Pikiran itu terbayang panjang. Melamun, tak sadar hadir sendiri. Desah nafas berat berantrian sesak untuk mengudara.

Baru tersentak Nek Yam tatkala mampir tepukan halus di pundaknya. Menoleh lekas Nek Yam, ternyata seorang gadis muda cantik yang telah menepuk pundaknya barusan.
Terjadi percakapan serius di antara dua wanita yang berbeda generasi itu. Untung Nek Yam mahfum dengan bicara perempuan yang menggunakan bahasa Indonesia itu, meski wanita senja itu tak terlalu fasih bercakap dalam bahasa itu.

Dari pembicaraan itu tahulah Nek Yam, kalau perempuan muda itu bernama Leni Marlina. Non Leni, begitu Nek Yam menyapa gadis itu, atas suruhan gadis itu sendiri. Tahu juga Nek Yam, bila Non Leni itu datang dari Jakarta.
Manakala mendengar Jakarta, angan Nek Yam kembali terbit setelah terselubung banyak hal sebelumnya. Ingin sekali Nek Yam bersimpuh di hadapan gadis yang sepertinya belum menikah itu, memohon agar sosok itu membawanya ke Jakarta saat dia pulang ke sana nanti.
Malu tapi Nek Yam untuk melakukan itu, sebab gadis itu bukanlah apa-apanya. Kenal pun, dalam tempo singkat. Niat itu akhirnya hanya terbiarkan terkubur jauh di dalam relung hati Nek Yam.

Saat perjumpaan untuk kali kedua dengan gadis itu, juga di Alue Naga, nurani Nek Yam masih serupa -- sungguh ingin mengeluarkan unek terpendamnya. Tapi kembali ganjal itu tak sanggup teterbangkan juga.
Hari ke sembilan setelah tsunami, pertemuan itu berulang. Lama keduanya berbicara lebar. Gadis itu bertanya tentang keluarga Nek Yam. Nek Yam agak tersendat menggulir cerita. Dia mengatakan bahwa dirinya sudah lama hidup sebatang kara. Tanpa suami dan juga anak.
Perempuan itu tampak terkejut mendengar penuturan Nek Yam. Juga gadis itu menanyakan, akan kemanakah Nem Yam setelah rumahnya tak lagi ada. "Mungkin saya akan tinggal di pengungsian."

Untuk kedua kalinya, gadis muda itu tampak terkejut mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Nek Yam. Terbisu sesaat. Entah hal apa yang tengah berkecamuk dalam pikiran gadis itu.
"Ibu mau ikut saya ke Jakarta?" tak dinyana rangkai kata itu terlontar dari mulut gadis di depan Nek Yam.
Andaikata masih kuat, maunya Nek Yam berjingkrak-jingkrak saat kupingnya menangkap bunyi barusan.
"Apa, Non?" takutnya Nek Yam salah dengar.
"Apa ibu mau ikut saya ke Jakarta?" tak salah rupanya indera pendengaran Nek Yam.
Tak menunggu ulang untuk ketiga kalinya, sebuah anggukan cepat dan beriring senyum paling bahagia, terpasang di kepala Nek Yam.
Nek Yam diajak ke Jakarta!

Berangkatlah Nek Yam dan gadis muda itu ke Jakarta dengan menggunakan pesawat terbang kelas paling ekslusif. Luar biasa senangnya Nek Yam bisa berada di dalam tranportasi udara itu. Selama di perjalanan, tak henti perempuan senja itu berceloteh kegirangan.
Tiba di Jakarta, girang Nek Yam total sudah -- tak menduga sama sekali bila tanah kota impiannya berada di bawah sepasang telapak kakinya kini. Seperti sedang bermimpi saja rasanya. Teriak kagum keras terdengar dari mulut Nek Yam manakala gadis muda itu menunjuk ke arah bangunan tinggi besar sebagai

rumahnya.
"Rumah Non Leni seperti istana." Seru itu hanya berbalas senyum pelan dari bibir perempuan muda itu.
Selama di Jakarta Nek Yam dibawa jalan-jalan ke mana saja yang Nek Yam mau oleh gadis muda itu. Nek Yam sudah pergi ke Monas, ternyata Monas jauh lebih cantik dari yang ia tengok di teve. Juga Nek Yam sudah pergi ke Bundaran HI, banyak sekali mobil di bundaran itu rupanya. Tak lupa Nek Yam menyempatkan untuk berfoto-foto di tempat-tempat yang telah dikunjunginya itu.

Pun telah dibeli aneka barang oleh gadis itu untuk Nek Yam. Beragam baju dan rok yang bagus-bagus dan tentu saja mahal, telah kuasa dimiliki oleh Nek Yam. Bahkan rok yang sedikit di bawah lutut, sudah pernah dicoba oleh tubuh wanita itu. Dan, Nek Yam merasa bahwa dirinya jauh kelihatan awet muda kala memakai rok itu.

Rasa bahagia tak terhingga merayap di hati renta itu. Waktu tiga bulan telah Nek Yam habiskan di Jakarta. Tak terasa sedikit pun. Roda waktu seolah berputar cepat sekali. Banyak pengalaman baru yang sudah didapatkan Nek Yam selama rentang waktu tersebut berada di kota mimpinya itu. Termaktub salah satunya yang paling berkesan buatnya, tatkala dia mendapat perhatian yang luar biasa dari orang banyak begitu tahu kalau dirinya berasal dari Aceh.

Bukan hal yang jarang ketika Nek Yam bersama Non Leni pergi ke supermarket atau ke tempat lainnya, tubuh Nek Yam segera dipeluk oleh ibu-ibu yang tak dikenalnya sama sekali. Sebab mereka tahu kalau Nek Yam berasal dari Serambi Mekkah.

Puas sudah hati Nek Yam. Jakarta, kota angannya bahkan semenjak dari masa daranya dulu, telah berhasil ditaklukkan dalam tempo sekarang. Dan, Nek Yam merasa, puasnya cukup sudah, tiba masa baginya untuk balik kembali ke kampung halamannya. Sebab dari semula, Nek Yam memang tak pernah berminat untuk menatap di kota itu, hanya sekadar mengunjungi saja. Tak lebih dari itu.

Diantar oleh gadis muda yang membawanya dulu, dengan tetap menumpang pesawat terbang kelas paling ekslusif, Nek Yam bertolak ke tanah kelahirannya.

Sumringah betul nenek tua itu manakala kakinya terjejak kembali di tanah Aceh yang masih amburadul itu. Setelah turun dari pesawat, lekas menumpang kenderaan umum, gadis muda itu mengantar Nek Yam ke camp pengungsian yang berlokasi di Darusallam seperti permintaan Nek Yam sendiri. Katanya, ada kerabatnya di sana.

Sesampai di camp pengungsian Darusallam, Nek Yam yang hari itu memakai baju berlengan pendek warna pink, serta dipadu dengan rok pendek bewarna merah menyala, sontak segera menjadi pusat perhatian banyak orang. Penampilannya memang mencolok sekali di antara mereka.
Bisik-bisik menjalar cepat. Banyak yang kenal dengan Nek Yam nyatanya. Lirih-lirih pelan yang mendengungkan nama Nek Yam kerap terdengar, meski tak terlalu gamblang.
Mata kabur Nek Yam menatap sosok tergopoh-gopoh yang teramat di kenalnya menuju ke arahnya.
"Nek Yam, pajan trok?" wanita paruh baya itu tampak bahagia sekali. Namun saat diperhatikan seksama penampilan sosok di depannya, senyum yang sudah terekah lepas, tiba-tiba raib cepat.

"Keujeut meunoe droe neuh?" desak wanita itu lagi, masih heran. Nek Yam terbisu. Tak sepotong huruf pun keluar dari mulutnya.
"Peue yang terjadi dengon droe neuh?" ulang tanya wanita itu lagi.
Kali ini Nek Yam mengeryitkan kening, simbol bahwa dia tak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh lawan bicaranya. Nek Yam berlagak tak bisa lagi berbahasa Aceh.

"Bajee droe neuh keujeut meunoe?" rasa heran perempuan itu belum terjawab setitik pun. Masih berbalas bisu dari mulut Nek Yam.
"Han jeut lee bahasa Aceh nyeuh?" agak menerka nada itu.
Nek Yam masih tak menjawab juga. Dalam hati saja dia mengangguk dan menjawab lontar tanya si Munah.
Ya, sebab saya sudah ke Jakarta.

Banda Aceh, 21 Juni 2005

1. Tanoh Seuramoe Mekkah: Tanah Serambi Mekkah
2. Keujeut meunoe droe neuh?: mengapa begini anda?
3. Peue yang terjadi dengon droe neuh?: apa yang terjadi dengan anda?
4. Bajee droe neuh keujeut meunoe?: baju anda mengapa begini?
5. Han jeut lee bahasa Aceh nyeuh?: tidak bisa lagi bahasa Aceh ya?


Blog EntryCerpen Muhamad Nasir: Orang-orang Pos 327 Mar 15, '07 6:49 AM
for everyone

http://sriti.com/storyview.php?key=1732

Orang-orang Pos 327 
Post: 
12/19/2005 Disimak: 185 kali
Cerpen: Muhamad Nasir 
Sumber: Republika,  Edisi 12/18/2005 


Begitu cekatan perempuan tua itu memasang bilahan-bilahan bambu untuk memperbaiki kandang. Bilahan-bilahan itu dipaku sedemikian rupa membentuk jalinan yang kuat, sehingga kambing-kambing piaraannya, dia berharap, akan betah tinggal di kandang.

Sambil beristirahat sejenak, ia mengamati cucu perempuan satu-satunya yang sedang memberi minum kambing-kambing itu. Gadis kecil itu menimba air dari sumur, lalu menuangkannya ke kaleng bekas minyak tanah, dan sebentar saja air telah dihabiskan oleh kambing mereka. Musim kemarau membuat hewan-hewan itu gerah oleh matahari yang menyala. Sebentar-sebentar mengembik ke sumur meminta air.

Ketika dirasakan tubuhnya telah kembali fit untuk bekerja, perempuan tua itu kembali mengambil palu, paku, dan bilahan-bilahan bambu untuk dipasangnya. Tepat ketika itu telinganya menangkap derap beberapa pasang langkah mendekat ke arahnya. Tetapi ia tak terlalu peduli. Tangannya masih saja asyik menekuni pekerjaan, sampai kemudian pemilik langkah-langkah itu telah berdiri dekat dan mengamati pekerjaannya.

Seolah ada yang aneh, orang-orang tersebut mengamati perempuan tua itu beberapa lama. Tak ada yang bicara. Tempat itu sepi di ujung kampung di tepi hutan. Hanya ada satu rumah milik perempuan tua itu, dan sebuah rangkang milik peladang di dekat rumpun bambu sebelah timur. Suasana lengang. Tak ada apa-apa yang terdengar, kecuali lengking palu memukul-mukul paku dan kambing yang sesekali mengembik.

Mereka berjumlah lima orang. Masing-masing berseragam tentara, lengkap dengan topi baja dan menyandang senapan. Seorang yang berkulit putih dan tampak lebih tua mengambil rokok dari kantong bajunya lantas menyulutnya dengan zippo loreng pudar. Dia menghirup asapnya beberapa kali lalu menghembuskannya membentuk lingkaran-lingkaran kecil. "Hei, perempuan tua!" sapanya tiba-tiba. Perempuan tua itu melambatkan pekerjaannya. Ia memandang tenang ke arah orang-orang berseragam itu. "Bisakah kau hentikan pekerjaan itu sebentar?"

Tanpa mengangguk atau menjawab 'ya' perempuan tua itu serta-merta menghentikan gerak palunya. Bambu terakhir yang hendak dipakunya dibiarkannya terlepas kembali dan terjatuh ke tanah.
"Mendekatlah kemari!"
Perempuan tua itu berjalan perlahan dengan sedikit membungkuk. Pandangannya menekur tanah, sampai yang terlihat olehnya hanya rumput-rumput yang meranggas kering dan sepatu-sepatu lars milik mereka. Ia melihat sepatu kanan orang yang menyapanya tadi talinya hampir lepas. Ia ingin memberi tahu orang itu, tapi....
"Kau lihat seseorang melewati jalan ini?" tanya orang itu mendahuluinya. "Hana. Saya tak melihat seseorang melewati jalan ini," jawabnya pelan dengan wajah tetap merunduk.
"Kau tadi sedang mengerjakan apa?"
"Memperbaiki kandang kambing."
"Itu semua kambing milikmu?"
"Itu semua kambing milik saya."
"Kau lihat seseorang melewati jalan ini?"
"Saya tak melihat seseorang melewati jalan ini."
Mereka diam sebentar. Dua dari mereka lalu bergerak ke belakang perempuan tua itu. Mereka mengamati sekujur tubuhnya dengan cermat.
"Sekarang berjongkoklah! Dan, buka kain yang meliliti kepalamu!" pinta seseorang yang berada di belakangnya.
Perempuan itu menurut. Ia duduk berjongkok lalu membuka kain kumal penutup kepalanya.
"Jangan merunduk. Ayo angkat wajahmu!" pinta orang yang pertama menyapa. Perempuan tua itu mengangkat pandangannya pelan-pelan dari tanah melewati sepatu yang talinya terlepas. Sekali lagi ia hendak memberi tahu keadaan tali sepatu tersebut, tapi....
"Telah berapa lama kau tinggal di sini?" orang itu bertanya sambil menatap matanya yang mendongak ke atas.
"Saya tinggal di sini telah peut ploh sa tahun." Orang itu berjalan lebih dekat ke arahnya. Kini ia berdiri persis di muka hidung perempuan tua itu sehingga aroma keringat dari celah-celah celananya bisa tercium. Sambil sedikit jongkok ia memandang ke kedalaman mata perempuan tua itu.
"Kau telah tinggal di sini empat puluh satu tahun?" ulang orang itu.
"Ya, saya telah tinggal di sini peut ploh sa tahun."
"Kau lihat seseorang melewati jalan ini?"
"Saya tak melihat seseorang melewati jalan ini."
Orang itu jongkok lebih dalam, hampir sejajar dengan perempuan tua itu.
Lututnya tepat untuk menyangga di atas dagu perempuan tua. Sebentar ia memain-mainkan senapannya, membersihkan ujung larasnya yang tak berdebu, yang hanya berjarak lima centi dari mata perempuan tua itu.
"Kau tahu ini benda apa?"
"Karabin."
"Apa kau bilang? Karabin?"
"Suami saya dulu bilang begitu."
"Suamimu punya benda ini?"
"Dia dulu ikut serdadu di zaman DI/TII."
"Bagus, ini karabin. Apa yang terjadi jika pelatuknya ditekan?"
"Jika pelatuknya ditekan, ujungnya akan meluncurkan peluru."
"Bagus! Kau lihat seseorang melewati jalan ini?"
"Saya tak melihat seseorang melewati jalan ini."
Sekali lagi orang itu menatap mata perempuan tua itu dalam-dalam dan cermat. Kemudian ia melepas dagu perempuan itu dari sanggaan lututnya. Sambil menghela napas ia berdiri. "Kau boleh melanjutkan pekerjaanmu," katanya.
Perempuan tua itu kembali memasang kain kumal meliliti kepalanya. Ia berdiri dan berjalan tenang ke arah kandang. Sesaat kemudian hentakan palu dan jeritan paku kembali mengisi tempat tersebut.
Sementara orang-orang itu masih mengamatinya, sebelum kemudian beralih ke gadis kecil yang sedang mengurus kambing-kambing di dekat sumur. "Hei..., perempuan tua! Gadis itu cucumu?" seru seorang di antara mereka. "Ya, gadis itu cucu saya," sahut si perempuan tua di antara lengking suara palu.
Tiga dari mereka beranjak ke dekat sumur. Berdiri dalam jarak selangkah dari gadis itu, yang sepertinya tidak merasa terganggu oleh kehadiran mereka.
"Gadis kecil yang cantik, kau bisa hentikan pekerjaan itu sebentar?" tegur si kurus yang bermata agak sipit.
Gadis itu berhenti menimba.
"Berdirilah menghadap ke sini!"
Ia memutar badannya menghadap orang itu.
"Apakah perempuan tua itu nenekmu?"
"Benar. Perempuan tua itu masyik saya," jawab si gadis mantap.
"Kau tadi lihat seseorang melewati jalan ini?" lanjut si kurus.
"Saya tadi tidak melihat seseorang melewati jalan ini."
"Kau menimba air untuk kambing-kambing?"
"Saya menimba air untuk kambing-kambing."
"Berapa usiamu?"
"Tujuh tahun."
"Kau bersekolah?"
"Saya bersekolah."
"Kau bisa baca angka-angka ini?" Si kurus mencondongkan badannya untuk memperlihatkan lencana kain di pundak bajunya. Si gadis memperhatikan dengan seksama angka-angka itu.
"Ayo, bacalah!"
"Ti-ga...du-a...tu-juh...," si gadis mengejanya perlahan.
"Kau tadi lihat seseorang melewati jalan ini?"
"Saya tadi tidak melihat seseorang melewati jalan ini."
Si kurus agaknya kehabisan pertanyaan. Ia bergerak menjauhi gadis kecil itu. Si kulit putih, yang tampak lebih tua, menggantikan posisinya. Ia mendekat dan berdiri di samping kiri si gadis.
"Sekarang menghadaplah ke barat," perintahnya, "Duduklah!"
Si gadis membalikkan badannya ke barat dan duduk di tanah setelah sedikit menyingkap roknya yang kusam. Orang itu ikut duduk dengan berjongkok, lantas memeluknya dari samping serta mengusap-usap dahi dan rambut si gadis.
"Kau lihat, apa itu bola yang memancarkan sinarnya dari langit?" tanya orang itu seraya mengarahkan telunjuknya ke matahari. Gadis kecil itu menatapnya silau sehingga matanya berkedip-kedip beberapa kali.
"Itu matahari...," gumamnya kemudian.
"Kubilang itu bulan, kau dengar!"
Gadis itu tak menyahut. Ia tetap saja menatap matahari dengan mata berkedip-kedip silau.
"Kau lihat, apa itu bola yang memancarkan sinarnya dari langit?" ulang orang itu.
Lama gadis itu tak menjawab. Bibirnya bergetar dan matanya terpejam. "Anak manis, kau dengar pertanyaan saya?"
"Itu bulan...," ujar gadis itu setelah membuka matanya dan kembali menatap matahari.
"Sinar bulan itu dingin atau panas?"
"Sinar bulan itu panas," jawab si gadis cepat.
"Bagus! Kau tadi lihat seseorang melewati jalan ini?"
"Saya tadi tidak melihat seseorang melewati jalan ini."
Buat kali terakhir orang itu mengusap-usap kepala si gadis, kemudian ia melepas pelukannya dan berdiri. Mengambil rokok dari kantong bajunya, lalu menyulutnya dengan zippo loreng pudar. Menghirup asapnya beberapa kali dan menghembuskannya kembali membentuk lingkaran-lingkaran kecil. Ia melirik teman-temannya satu per satu, memperhatikan si perempuan tua yang tetap asyik dengan pekerjaannya, dan terakhir menatap si gadis yang masih duduk di tanah. "Sekarang kau boleh bangun untuk melanjutkan pekerjaanmu," ujarnya.
Gadis kecil itu bangkit sambil menyapu-nyapu debu pada belakang roknya dengan telapak tangannya.
Sementara si kulit putih memberi isyarat pada teman-temannya untuk meninggalkan tempat itu. Mereka mengambil jalan ke timur, melewati simpang di tikungan meunasah, lantas lenyap dari pandangan. Beberapa saat selanjutnya di tepi hutan itu yang terdengar hanya lengkingan palu dan gemercik air sumur yang ditimba oleh si gadis.***

Catatan Republika:

Cerpen ini memenangkan juara kedua Sayembara Menulis Cerpen Tingkat Nasional 2005 yang diselenggarakan oleh Creative Writing Institute (CWI) bekerja sama dengan Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda, Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga.


Blog EntrySafrida Askariyah (Cerpen Alimuddin)Mar 15, '07 6:19 AM
for everyone
 http://sriti.com/storyview.php?key=2100
Sumber: Kompas,  Edisi 10/08/2006 

Mereka berteriak girang, sementara Safrida hanya melongok kepala sekilas dari jendela kamar rumoh inong. Di keudee Tengku Banta Manyang ramai sekali yang tengah menonton televisi. Bangku kayu yang berjejer di luar warung sesak dengan orang kampung.

Gaduh. Mulut-mulut beranti-anti berkomentar. Hati Safrida masih perih. Padahal sudah banyak ia membunuh serdadu pemerintahan. Ia dipuji panglima sebagai wanita perkasa. Wanita yang mewarisi semangat baja Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meutia, Laksamana Malahayati—wanita yang tidak mau dijajah.

Dendam itu belum tergerus. Waktu yang bergulir tak kuasa meredam rupanya. Wanita itu sudah mencoba untuk melupa, tapi tidak bisa! Ingatan itu begitu kuat melekat di otaknya.

Bocah kecil ribut di pekarangan rumoh. Buah delima sedang lebat-lebatnya. Bocah bergelantungan demi mencapai buah masak yang ada di ujung.

Kaki Safrida terseret ke rumoh-dapu. Masyiknya entah ke mana sudah perginya. Kanot air di tungku api. Safrida turun ke sumur, lalu mengambil baju kotor punya-nya dan masyik. Dimasukkan ke ember hitam besar dan dipikul di atas kepala. Safrida ke meunasah. Bocah-bocah menyapa riang Safrida yang berpapasan lewat.

"Ka damai geutanyoe, Da," tegur istri Tengku Banta kepada melihatnya lewat. Safrida tersenyum dipaksa sambil mata melihat ke arah televisi. Semua berita televisi berkenaan dengan perjanjian damai yang dilakukan antara pemerintah RI dengan kelompok bersenjata Gerakan Aceh Merdeka di Helsinki.

Hatinya perih. Bagi orang lain berita damai itu menggembirakan, tapi baginya tidak. Damai itu tak berarti apa-apa untuk Safrida.

Dengan langkah lamban Safrida ke meunasah. Lumayan jauh jarak rumohnya dengan meunasah.

Suara ngaji terdengar sayup-sayup dari meunasah. Suara mengaji si Suman merdu sekali. Subuh akan menjelang. Safrida sudah terbangun sedari tadi.

Dan sayangnya, Safrida sama sekali tidak tahu bahwa sebenarnya hari itu adalah hari kelabu untuk dirinya. Kisah pahitnya bermula dari hari itu.

Pukul tujuh pagi. Ayam jantan masih ada yang berkokok satu-satu. Desiran angin menggigil. Langit kurang bersahabat. Safrida sudah siap-siap akan pergi ke sekolah dengan garinya.

"Mau ke mana, Da?" tanya itu berasal dari lelaki yang berseberangan di jalan dengan Safrida.

Safrida seperti kenal betul dengan yang empunya suara itu. Dan tabuh di dadanya tak tinggal diam. Selalu lain bila ia mendengar suara itu. Bahkan semenjak dahulu.

"Mau ke meunasah," Safrida cepat berlalu. Manan masih saja tampan. Masih seperti dulu. Tapi sayang, lelaki itu sudah beristri.

Padahal dulu, Manan pernah minta dirinya kepada Bapak. Dan kata Bapak, tunggu ia tamat SMA dulu. Tapi waktu itu, tak pernah berkunjung.

Safrida sebentar lagi sampai ke meunasah.

Tiba-tiba saja pagi itu kembali bergejolak. Tembakan membabi buta. Safrida yang sudah turun, lekas merunduk di lantai seulasa. Bapak yang baru saja selesai mandi ikut merunduk di sampingnya. Mak dan Masyik entah di sumur, entah pula di rumoh dapu?

Sesekali dikejutkan dengan gelegar suara bom. Dan diikuti rentetan senapan tak berhenti. Memekakkan telinga. Menciutkan nyali. Merasai ajal itu seperti di depan gerbang.

Untungnya tak lama reda. Safrida nekad tetap ingin ke sekolah. Tapi Mak melarang. Takutnya ada sweeping di jalan. Gadis itu berpikir keras. Bapak memutuskan tak jadi masuk ke kantor.

Safrida tiba di meunasah. Rupanya ada Sakdiah di sumur meunasah yang sedang memandikan anaknya. Harus bersusah payah perempuan itu memandikan anaknya itu. Bandel sekali bocah itu.

Begitu melihat Safrida, Sakdiah melempar senyum sekali dan anaknya sudah lepas dari cengkeramnya.

"Sudah cukup mandi jih mak..."

"Bacut lagi, mantong kalang nyoe," tangan Sakdiah menggosok-gosok leher anaknya. Si bocah tertawa-tawa sembari mengatakan ’geli...geli...’

Melihat kejadian itu, ada iri yang menyelusup di benak Safrida. Di kampungnya, semua perempuan sudah menjadi ibu, selain dirinya. Tak satu pun pria yang mau memperistri dirinya. Padahal usianya tak muda lagi. Bagaimana pula ia punya anak? Sebagai perempuan normal, ingin sekali ia bersuami dan punya anak. Baru sekarang Safrida merasakan kesepian. Ia butuh suami dan anak-anak yang lucu.

"Sudah teken damai Da, ya?" Sakdiah akan pulang. Bocah yang digendong mencium muka Maknya. Safrida mengangguk pelan. Wajah itu beringsut lega.

Safrida ke sumur. Tangan itu mulai sibuk menimba air sumur. Pekerjaan itu sungguh muda bagi seorang Safrida yang sering mengangkat senjata berat dahulunya.

Safrida tersentak ketika melihat berdatangan tentara-tentara di pekarangan rumohnya. Bapak, Mak, Masyik cepat turun dari atas rumah. Bapak sudah bercelana, tak berhanduk seperti waktu merunduk tadi.

Suasana mencekam. Mak, Masyik lekas luruh air mata sebab takut sekali. Salah satu tentara yang berperawakan tinggi dan hitam keling meminta KTP Bapak.

"Kau GAM, ya?" bentak tentara itu kasar.

"Bukan Pak, saya ini rakyat biasa," Bapak tampak gentar.

"Pasti kamu sembunyikan GAM di rumah kamu?!" sambung kawannya juga dengan tak kalah kasarnya.

"Periksa rumah ini!"

Dan sekitar sepuluh orang tentara naik ke rumah Aceh tanpa melepas sepatu. Empunya rumah tak berkutik. Pintu rumah disepak-sepak. Ada beberapa yang masuk ke kroong padee. Dan para tentara itu tidak mendapatkan GAM seperti yang mereka tuduhkan. Memang aneh sekali serdadu-serdadu pemerintahan itu, main tuduh saja kerjanya!

Lamban sekali kerja Safrida. Sudah lama di sumur, baru dua potong baju yang siap disikat. Lamunannya entahlah ke mana.

Sebagian tentara pergi ke rumah samping, ke rumah Wa Ali. Suara mereka keras dan kasar sampai kedengaran ke rumoh Safrida.

"Ada GAM di sini...!" Teriakan itu bagai halilintar di telinga Safrida. Dan...

"Dor...Dor..." tubuh Bapak bersimbah darah. Dua pelor menembus kepala lelaki itu. Tanpa bertanya terlebih dahulu.

"Bapak...Bapak..." Mak histeris.

"Dor...Dor...." Mak terkulai tak berdaya. Tembakan di mana-mana. Dua lengan kasar mendekap tubuh Safrida.

"Masyik...Masyik...." Ronta Safrida.

"Beuk kapeulaku cucoe long...." Masyik berusaha menarik tubuh cucunya itu. Tapi tak daya sama sekali perempuan sepuh itu, sekali dihajar dengan badan senapan, langsung terjungkang ke tanah.

"Kamu cantik juga, ya?" tentara itu membabi buta.

"Bek...Bek...." Safrida menghiba-hiba. Meronta sejadi-jadinya. Tubuhnya makin jauh diseret ke semak-semak.

"Barang bagus, ya?"

"Ya nih...Tapi aku duluan ya...Ha...ha..." Setan itu terpingkal-pingkal.

"Ayo sayang..."

"Jangan...." Safrida menjerit panjang. Tak ada penolongnya.

Safrida menimba lagi air di sumur. Air tadi kurang rupanya. Baju kotor baru beberapa pasang yang tersikat. Masih banyak sisanya.

Ingin sekali Safrida mengakhiri hidupnya. Tak sanggup hidup dalam tabur derita. Mak dan Bapak dibunuh di depan mata. Gadisnya direnggut beramai-ramai.

Tapi, suatu hari datang panglima GAM ke kampung. Berapi-api menerangkan jikalau orang kampung tak boleh tinggal diam. Hati Safrida panas bukan main. Dendamnya membara. Ia ingin menuntut balas.

Safrida naik gunung. Bergabung dengan Pasukan Inong Balee. Mendapat latihan militer yang dilatih mualim. Ternyata banyak dara seperti Safrida yang bergabung. Nama pasukan itu diubah. Tak lagi inong balee, tapi Askariyah.

Berbulan-bulan Safrida di gunung. Tiap hari latihan berat. Tangannya kasar bukan main. Mengokang senjata bukan hal baru. Sudah mahir menggunakan senjata.

Safrida terkenal pemberani di pasukan Askariyah. Paling sering terlibat perang langsung dengan serdadu pemerintah. Bahkan tembakannya jitu. Banyak mematikan pasukan musuh. Safrida begitu terbakar semangat bila ingat wajah Mak dan Bapak.

Wanita itu berubah licin dan berbisa. Berbagai cara ditempuh untuk menghabisi nyawa serdadu pemerintahan. Wajahnya yang memikat tak jarang jadi tameng. Digoda dan diajak ke tempat terasing. Lalu diracuni setiba di sana. Bukan sekali-dua kali berhasil menyisipkan bom di pos tanpa dicurigai sedikit pun.

Mendadak nama Safrida menjadi tenar. Ia disejajarkan dengan petinggi-petinggi GAM yang sama beracunnya. Penyisiran dilakukan besar-besaran untuk mencari perempuan bernama Safrida. Di pedalaman hutan bakau Manyak Payed, Safrida dilantik oleh panglima menjadi komandan pasukan Askariyah karena berprestasi tinggi.

Dendam Safrida masih membuncah. Dendam itu bukannya mengendur. Seolah tangannya gatal bila tak menghabisi nyawa serdadu pemerintahan sehari saja. Ia begitu puas ketika melihat tubuh musuh bersimbah darah.

Selesai juga Safrida menyikat semua baju kotor. Pekerjaan selanjutnya membilas baju-baju itu dengan air. Langit kelam pelan-pelan. Mata Safrida menengadah ke langit. Ia waswas bila hujan turun.

Keadaan terdesak. Panglima Sagoe Manyak payed, Galinggeng, menyerahkan diri ke pasukan RI. Safrida tak bisa percaya itu! Padahal Safrida lagi semangat-semangatnya. Kata panglima sagoe, perjuangan GAM sudah melencang dari syariat. Ah, benarkah itu? tanya hati Safrida.

Safrida dan anak buah Askariyahnya dalam posisi terjepit. Tertangkap tinggal menunggu waktu. Bencana. Galinggeng pasti akan memberitahukan tempat persembunyian mereka. Safrida kalut tak terkira. Akhirnya mereka ikut menyerah. Tapi dendam kesumat tak raib. Bagusnya menyerahkan diri, ia dan anak buahnya itu dibebaskan beberapa minggu kemudian. Dikembalikan ke kampung masing-masing dengan penjagaan ketat.

Rosmawati lewat dengan menggamit lengan dua anaknya. Kembali Safrida menyaksikan kejadian itu dengan menelan ludah. Enak sekali bisa menjadi ibu dan punya anak, lirihnya. Nampak Safrida di sumur, Rosmawati berhenti di balik pagar dan menyapa.

"Aceh ka damai Da, seunang that hatee long...."

Rosmawati melempar senyum dan berlalu karena anaknya merengek minta dibelikan kue. Kepala Safrida terangguk paksa, tapi hati dan jiwa menolak keras. Ini tak damai untuk Safrida! Damai ini tak berarti apa-apa.

Damai ini tak bisa membuat gadisnya kembali. Ketakutannya karena diperkosa tak raib. Mak dan Bapak tak juga kembali. Damai ini tak bisa membuatnya bisa peroleh suami dan anak yang diidamkan lama. Enak saja pemerintah mengira, dengan teken janji damai, semua akan kembali laik semula.

Bagaimana harus seorang inong balee mengembalikan suaminya? Sang ibu harus berbuat apa untuk menghidupkan tujuh anaknya yang sudah dibunuh? Bagaimana harus menghilangkan memori ketika melihat tubuh orang yang dicintai ternyata sudah tak berkepala lagi dan didapati melayang-layang di krueng? Dara harus bagaimana untuk membuat perawannya kembali setelah direnggut tragis?

Damai itu hanya di selembar atau beberapa kertas. Sementara perih jiwa di sekujur tubuh. Sembuhkan luka itu? Safrida bisakah berdamai dengan duka di sekujuran tubuh?

Safrida akan menjemur baju di pagar besi meunasah. Terdengar suara-suara tertawa dari keudee Tengku Banta Manyang. Langit kian kelam. Tak lama, butiran menitik satu persatu. Safrida cemas. Bajunya alamat tak kering. ***

Catatan:

- Askariyah : Sebutan pasukan perempuan GAM. Pada awalnya dinamakan Inong Balee, tapi belakangan, karena anggota dari pasukan ini bukan berasal dari inong balee saja (janda), tapi juga banyak gadis-gadis, makanya namanya diganti menjadi askariyah.

- rumoh inong: Rumoh Inong (rumah induk). Letak ruangan ini adalah di antara serambi depan dan serambi belakang. Posisinya lebih tinggi dibanding kedua serambi tersebut. Rumah induk ini terbagi menjadi dua kamar. Keduanya dipisahkan gang atau disebut juga rambat yang menghubungkan serambi depan dan serambi belakang.

- keudee: Kedai.

- beranti-anti: saling rebut-rebutan.

- kanot: panci.

- Ka damai geutanyoe, Da: Sudah damai, kita Da

- Bacut lagi, mantong kalang nyoe: Sedikit lagi, masih banyak dakinya.

- Rumoh dapu: Rumoh-dapu (dapur). biasanya, letak dapur pada rumah tradisional Aceh itu berdekatan atau tersambung dengan serambi belakang. Lantai dapur sedikit lebih rendah dibanding lantai serambi belakang.

- u: ke.

- Aceh ka damai Da, seunang that hatee long: Sudah damai Aceh Da, senang sekali hatiku.

- Seulasa: Teras.

- Krong padee: Lumbung padi—tempat penyimpanan padi dan lazimnya terletak di bagian bawah rumoh Aceh.


Blog EntryLhok Samawi Mar 15, '07 6:05 AM
for everyone
Lhok Samawi 
Cerpen: Abidah El Khalieq 
Sumber: Suara Merdeka,  Edisi 02/11/2007 
Dikutip dari, http://sriti.com/storyview.php?key=2273

TENTANG cinta? Aha! Telah berapa windu aku hidup di alam asing di sebuah negeri tanpa matahari berkota melompong tak ada telinga tak ada mata tak ada hati tempat kita merasa sebagai manusia. Dan kau bilang mau datang ke rumahku? Di mana? Coba katakan! Adakah rumah tanpa alamat nirkampung nirkota?

"Aku mau ke kamu. Di mana saja," kau bilang.

Tapi aku tak di mana-mana. Pemburu sunyi cuma. Aku sedang mendengarnya; alastu birabbik qultu balaa? Sunyi adalah sehamparan bening tempat aku mencari wajahku. Kau tahu aku amnesia. Bertahun sudah aku lupa namaku, bentuk wajahku, koleksi baju dan kaset langka yang dulu bikin cemburu. Juga film-filmku. Pun puisi-puisiku. Siapa mereka? Aku pikuni semua-mua tak ada sisa.

"Masih ada kamu. Kuingin itu," katamu.

Aku? Akukah itu yang berambut gondrong dan lupa nyisir selalu. Berjalan tanpa halte. Berlayar tanpa dermaga. Aku melayang di luar atmosfer bumi, Sayang! Jangan cari aku.

"Kau melihat tanpa mata. Mendengar tanpa telinga. Kau berjalan tanpa kaki. Aku ingin ketemu kamu."

Ah! Lupakan aku. Lebih cepat lebih bagus. Aku tak seperti yang kauduga. Cuma rerubuhan berlumpur jelaga. Ini tubuh hanyalah dokumen mimpi buruk berpuluh tahun dikibul pesulap kondang. Tak ada madu. Tak ada legen. Tinggal ampas dan sepah yang dibuang, Sayang! Pandang aku dari jalan ini. Dan kau akan lari. Melambaikan tangan dan goodbye.

"Aku akan berlari mengejarmu!"

Percuma! Aku tak ke mana-mana. Ini zaman boleh ngebut namun dingin aspal tetaplah tampangku. Karena buta. Aku tak mampu melihat apa pun. Juga kecantikanmu yang sohor itu. Mereka bilang matamu seperti bintang kejora. Pengarung laut merinduimu untuk hitungan peruntungan yang besar. Para pujangga melafalmu dengan bibir gemetar. Teman-temanmu, sahabat dan pengagummu menderap pepujian akbar. Namun aku hanyalah sesosok terkapar! Yang sial dan nanar!

Aku berjalan tertatih bak siput sakaratul maut. Lalu kancil-kancil menertawaiku. Berpuluh kali mereka mendahuluiku. Beratus kali meninggalkanku tergenang dalam masa lalu. Mungkin telah ribuan kali menertawakan jogging-ku yang tak usai-usai. Tak ada jalan lari, Sayang! Mereka mengepungku. Kancil-kancil berubah menjadi kampret yang mengerat inci per inci hutanku. Dicucup pula laut dan tambang minyakku. Juga perawan-perawanku. Aku sekarat persis di seberang lumbung bumiku yang kemilau. Inilah kisah Teluk Samawi. Jantung negeri petrogas yang kolaps diisap para zombie. Compang-camping segitu menekan. Bahkan tak ada di dunia, pengemis berjajar di bandara. Hanyalah di sini, Sayang! Di negeri penghasil minyak bumi dari lima terbesar di dunia.

"Beri aku kesempatan menatapmu."

Kau tak akan kuat. Aku tak ingin mengucur-deraikan air matamu. Cukuplah di sini berhujan tangis. Kota yang disesak kebodohan. Bikin tugu dan Freeport sepenuh kota lalu kunci dengan bedil. Maka, mati itu lebih nyaman. Hidup yang tercerabut dari akar. Anak-anak bermain dedaun gugur. Kerontang. Gunung-gunung menangis. Ladang kami sesenggukan. Burung-burung tak punya jalan pulang. Dan peta yang digulung ombak hitam.

"Biarkan aku menjamahmu."

Barangkali tidak sekarang. Barangkali ada bandul jam yang mengabarkan persuaan. Barangkali dari masa silam atau kurun mendatang, entah di mana kita bakal berjumpa. Barangkali di negeri atas angin tak berbatas awan. Barangkali saja.

"Baiklah! Aku berangkat menujumu!"

Jangan sia-siakan usia oleh mimpi keras kepala, Kekasih! Aku tak ada. Bagaimanakah cara menjumpai -yang tak ada? Sudah lama aku hilang. Klandestine. Bersama hilang para gigiku, hilang pula wajahku dari halaman buku. Tak ada sesiapa di sini. Kosong. Ini kota mati. Hanyalah tubuh-tubuh yang bergerak ke sana kemari, tanpa kepala. Beratus purnama kami raib. Dihalau taring-taring dicakar para anjing. Anjing-anjing yang mengaing.

Pesakitan yang abadi puasa ini, tak kuat muncul dan melawan. Tak mampu aku berteriak. Karena pita suara sudah dipotong oleh mereka empunya anjing loreng. Jika sesekali kami mendesah, desahan itu bakal teredam gelegar meriam. Kalah oleh amunisi yang mendesis bagai ular kobra. Bak dalam kardus pengap, kotak pandora, napas kami megap-megap oleh lubang kecil yang juga penuh mata raksasa. Lidahku putus oleh klakson yang tak terfatwa hukumnya. Klakson rimba.

"Paling tidak. Aku bisa mendengar napasmu!"

"Atau menatap sendumu."

"Sungguh! Di manakah nyaringmu yang bul-bul itu? Segitu kangennya aku..."

Nyaringku pada masa lalu. Dulu sekali, kala seribu mentari nancap tombak jingga di kota ini. Rencong agung yang tersemat di pinggang. Ayat-ayat ditebarkan. Bumi yang hijau dan panen raya. Gadis-gadis bercindai panjang. Bulan penuh di malam-malam mendaras ilmu. Para tua berhikayat dan kami menyimak penuh hikmat. Meunasah berkibar menyibak langit. Kami melenggang dalam kemegahan. Kini segalanya menyilam. Sebentuk kenangan cuma.

Tak ada lagi suara kini. Ini musim tak ada cerita. Matahari tidur. Awan hitam berarak di ubun-ubun. Ayat-ayat menjadi iklan para pejabat kapitalis. Bumi yang merah oleh leleran darah. Amis!. Kami panen tangis dan tadarus luka. Para gadis cacat jiwa. Para yatim dingin dan lapar mengetuk pintu langit, menggedor Arsy Istawa. Di ujung sana mereka berpesta. Kami mendelong depan pintu barak. Plonga-plongo kehabisan frasa.

Maka lupakan aku, sayang!

?Lupa? Bahkan andai kau tak pernah ada, aku akan mencari yang sepertimu. Begitu abadi dukamu. Jibril pun gemetar oleh tangismu. Biarkan aku merengkuhmu?

Ah! Kamu masih seperti yang dulu. Tekad tinggi dan kepala batu. Andainya kita boleh berandai. Misalkan kita boleh bermisal. Kalau saja, sayang! Kalau saja aku ini pangeran bermahkota. Dan jari-jariku punya kuasa. Lidahku kuat dan fasih menembus pesta rimba yang tuli. Seperti penyair yang mengajari raksasa bahasa manusia. Akan kusulap rimba raya menjadi negeri yang indah penuh ampunan-Nya. Tak ada anjing tak ada buaya. Apalagi longisquama. Tak ada clurut yang mengerat perbendaharaan negara dan melarikan diri ke negeri tetangga lalu bersangkar di sana dengan rakusnya membetot separoh dari lumbung tuan rumah.

Tak ada lain, sayang! Palu-palu menjadi tumpul di gedung pengadilan. Sudah lama para clurut mengembara seantero rimba dan Semar mesem membiaknya kian raksasa. Sekalipun ia suka pergi jumatan ke Istiqlal, ia bukanlah Abid tapi Brutus mendhem ora sudi mikul. Ia ternakkan clurut secara massal dan sistemik, persis di halaman tengah istananya. Lalu para clurut ditebarnya menyeluruh, dari pucuk syaraf sampai pelosok kaki. Pesta raya yang tak ada dua di jagat bumi. Lihat betapa tambunnya mereka, mengantongi 600 trilyun dalam lambungnya. Bahkan Karun tak sampai seperseratusnya.

Lalu rakyat kebagian gempa, sayang! Puting beliung dan banjir bandang. Sejuta asap mengepul dan lumpur panas memburai. Udara sumuk dan gerah menjarah nafasmu. Tak tahan. Kau lari ke puncak gunung dan dilempar pijaran lava. Rakyat panik mencari samudra. Tapi ombak hitam bangkit dari tidur lautnya. Tegak tiga tombak. Laju gulung keruk. Satu kilometer permenit. Laut mencium darat, menggulung peta berikut peradabannya. Meninggalkan sunyi maha ngungun semesta.

Dan aku bisu!

Rontok gigi lidah kelu.

Aha! Jangan berandai lagi pada pangeran dan mahkota. Ini zaman buruk bagi imaji. Bahkan mimpi pun pakai disensor. Tigapuluh tahun disesak perang adalah musim seulanga gugur di perut Hawa. Namun tak gugur jua. Adakah waktu bagi cinta?

"Tak ada lain. Cinta bakal memberimu tangga naik. Kenakan sayapnya dan mari terbang bersama!?

Ah masa? Aku tak punya strategi mendatanginya. Tak kumiliki perangkat dan aku....ku kalah, Kekasih!

"Cinta itu serupa kemenangan. Ia datang dan pergi apa adanya. Tak acuh pada kalah atau menang. Begitu sederhana. Namun ia perkasa. Tak tumbang-tumbang ia oleh gempuran masa."

Jika begitu.

"Bukan jika, tapi nyata!"

Alangkah pahit kenyataan ini. Sayapku patah mustahil tumbuh sesudahnya. Meski kau paket lagi cinta, aku tak kuat menyambutnya. Maka biarkan ia mengabadi dalam sumur keindahan mata Yusuf. Biarkan para musafir menimbanya, mencecap segar dari kucuran airmata. Aku permisi. Maaf! Kubawa serta namamu menuju Ashabul Kahfi.

"Memangnya ada apa di situ, Cintaku?"

Ada Rahasia.

Salamu'alaik!***

Yogyakarta, 2006


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design - Copyright © 2005 sonnenvogel.com All rights reserved.