HIKAYAT KURA-KURA BERJANGGUT
AZHARI
Hikayat Zulfikar
Dahulu kala, ketika waktu masih ditentukan oleh beberapa orang, kapal masih bergantung pada kecerlangan bintang-bintang juga nujuman, dan para perompak merupakan musuh utama Sultan, hiduplah seorang Tukang Cerita yang mengandalkan bual dan kebohongan. Pada musim di mana angin gila dan angin ekor duyung menguasai lautan ramailah bandar di belakang rumah oleh awak dan anak kapal yang menunggu amuk lautan reda.
Saat gempita itulah si Tukang Cerita turun dari gunung. Sehabis Ashar dia selalu datang ke bandar itu, karena dia bergantung hidup pada kemurahan hati para pelaut yang tidak mengindahkan waktu magrib, karena terbius oleh cerita-cerita si Tukang Cerita.
Pelaut-pelaut itu memberikannya kain Koromandel, keramik Campa, permadani Persia, batik Jawa, kemenyan Barus, candu Magrib, dan kisah-kisah pelayaran. Segala pemberian itu, oleh Tukang Cerita, dijual kembali setelah bandar tak lagi ramai. Sementara kisah-kisah pelayaran adalah bahan-bahan cerita baru baginya, yang dikocok dengan begitu lihainya, sehingga nyaris tidak kelihatan rupa aslinya. Dalam melumatkan cerita, mulutnya itu sempurna tiada terkira, melebihi batu giling yang paling tajam sekalipun. Pelaut-pelaut malang itu tak pernah sadar bahwa cerita yang disampaikan Tukang Cerita itu ialah kisah yang pernah mereka ceritakan.
Maka, setiap dia menyelesaikan satu cerita, yang terkesan dipanjang-panjangkan, dengan sikap seolah-olah ingin mengetahui kesan pendengar setianya atas cerita yang baru saja dia selesaikan, dia lantas bertanya pada dua-tiga orang pelaut,?Bagaimana ceritaku barusan? Kalian percaya? Pengalaman apa yang kaudapat dalam pelayaran kali ini Ranir? Wahai, Pasha ceritakan padaku tentang gadis-gadis negeri Atas Angin? Atau siapa di antara kalian yang pernah dihadang oleh perompak Kleng? Memang perompak Kleng terkenal kebuasaan dan kekejamannya, tapi satu hal mereka selalu dikalahkan oleh perompak Lamuri. Baiklah, akan kuceritakan tentang perompak Lamuri pada kali yang lain. Tak ada gunanya menceritakan tentang mereka sekarang, itu sama saja dengan berdoa agar mereka datang. Dan itu tak hanya menyusahkan kalian tapi juga merusuhkan pikiran Sultan Kita Yang Mulia. Sekarang hayo ceritakan dulu padaku pengalaman kalian.?
Maka berceritalah para pelaut itu, sementara Tukang Cerita mendengar dengan seksama sambil menggangguk-anggukan kepalanya. Saat satu per satu para pelaut itu selesai menceritakan ceritanya, Tukang Cerita bertepuk tangan. Tepuk tangan itu tentu saja bukan untuk menghormati kepiawaian bercerita para pelaut itu, melainkan pada saat yang bersamaan dia sudah menemukan bahan cerita baru untuk beberapa hari kemudian, bahkan kalau beruntung untuk musim angin gila dan angin ekor duyung mendatang. Dengan demikian Tukang Cerita tak akan pernah kehabisan bahan ceritanya.
Mulut Tukang Cerita sama tajamnya dengan Zulfikar, pedang kesayangan Sultan. Dan dia binasa di ujung Zulfikar. Konon kabarnya, dia binasa karena Kura-kura Berjanggut.
Ceritanya tentang Kura-kura Berjanggut telah membuat Sultan begitu terhina. Mungkin maksud si Tukang Cerita mulia, dia ingin menghibur para anak kapal yang singgah dari pelbagai penjuru lautan yang telah menunggu lama di bandar oleh suatu huru-hara di lautan. Tapi mungkin saja Sultan menangkap maksud lain dari cerita si Tukang Cerita.
Hari-hari menjelang putusnya leher si Tukang Cerita oleh Zulfikar, kapal-kapal yang merapat di Bandar Lamuri tak terbilang jumlahnya, bandar penuh, kapal-kapal berderet hampir menyentuh tepi cakrawala! Kapal-kapal itu singgah di Bandar Lamuri bukan disebabkan oleh musim angin gila atau angin ekor duyung. Laut tenang. Langit bercahaya. Tak ada waktu yang lebih bagus untuk berlayar selain pada musim ini. Tapi ini musim perompak Lamuri datang mengganas. Sudah bertahun-tahun tak terdengar kabar berita tentang perompak Lamuri. Tak ada yang bisa menerka kapan muncul dan hilangnya rompak Lamuri. Tak juga ahli nujum kepercayaan Sultan. Tiba-tiba saja sudah terdengar tentang kapal yang karam di laut lepas. Jika berlalunya musim angin buruk dapat dipastikan oleh tiga kali pukulan genta penjaga menara ? maka angkat sauhlah kapal-kapal yang ingin melanjutkan pelayaran ? maka siapa yang bisa memastikan akhir tualang rompak Lamuri? Bahkan, bertambah cemaslah raut wajah para saudagar kapal tatkala melihat kapal-kapal perang Sultan yang memburu perompak pulang dengan layar hangus dan tiang rubuh, padahal kapal-kapal perkasa itu telah dilengkapi dengan meriam dan bubuk mesiu buatan Ottoman.
Oleh keganasan perompak Lamuri kapal-kapal tak ada pilihan. Bagi kapal yang sedang merapat untuk istirahat di Bandar Lamuri sebelum melanjutkan perlayaran yang lama ke negeri Atas Angin harus menunggu lebih lama sampai armada laut Sultan berhasil membersihkan jalan pelayaran dari keganasan para perompak. Begitu pula dengan kapal-kapal yang sedang berlayar dari Bawah Angin menuju Atas Angin untuk sementara terpaksa membuang jangkar di Bandar Lamuri.
Bandar Lamuri sebenarnya tempat menunggu yang paling pas bagi kapal-kapal itu disebabkan oleh kedudukan Bandar tepat di mulut pintu antara bandar-bandar Atas Angin dengan bandar-bandar Bawah Angin. Namun sejak lima tahun terakhir bandar itu sepi dari kapal-kapal yang singgah, sejak orang kulit putih merebut Bandar Malaka. Begitu Malaka direbut penguasa putih langsung menurunkan ongkos merapat kapal setengah kali lipat dari tarif Bandar Lamuri. Hal ini tak lepas dari peran Si Ujud.
Memang khianat Si Ujud itu! Geram suara Sultan yang melaknat Si Ujud masih terdengar sampai hari ini. Menurut Hikayat Taman-taman Kenikmatan yang dikarang oleh pengarang istana paling cemerlang pada masa itu, Sultan menyesal kenapa sampai tak memancung leher Si Ujud di ujung Zulfikar ? setelah orang celaka itu menghasut sekelompok orangkaya lingkaran Kleng untuk menggerakkan sebuah pemberontakan ? namun hanya menghukum buang Si Ujud ke Malaka.
Tentu saja si pengarang istana yang cerdas punya alasan kenapa Sultan sampai tak melakukan tindakan itu. Tersurat di hikayat itu Sultan masih menyimpan sesal yang dalam karena pada tahun yang lewat dia dengan ringan melayangkan Zulfikar ke leher anak kandungnya. Anak kandung yang malang itu dituduh telah membagi kenikmatan dengan seorang selir kesayangan Sultan. Menurut hikayat itu pula, setelah si anak kandung binasa, Sultan berjanji untuk menyimpan Zulfikar dan hanya menggunakan pada saat-saat yang penting. Sultan mungkin beranggapan gerakan Si Ujud tidak begitu menggentingkan kedudukannya sehingga tak perlu menyelesaikan nasib Si Ujud di ujung Zulfikar.
Namun tidak begitu kalau menurut para ahli hikayat, terutama orang kulit putih, yang hidup ratusan tahun kemudian setelah kejadian itu. Menurut penafsir hikayat kulit putih yang tertarik dengan Hikayat Taman-taman Kenikmatan secara tersirat alasan Sultan menyimpan Zulfikar yang terkenal itu adalah disebabkan pada malam hari setelah hari pemancungan itu Sultan beroleh mimpi yang aneh. Dalam mimpi itu Sultan didatangi seorang sahabat Nabi. Dan sahabat itu mengatakan bahwa Zulfikar merupakan pedang kesayangannya, biasa dipakai untuk membela agama anjuran Nabi. Dan pedang itu sendiri merupakan pahala dari Nabi karena dia seorang sahabat yang setia. Dalam mimpi itu Sultan sempat bertanya: wahai saidina bagaimana hingga pedang ini berada di tangan Kadi Malikul Adil dan Kadi menyerahkan padaku? Sang Sahabat hanya menjawab: laut begitu luas, oleh karena itu laut dapat menghanyutkan segala sesuatu kepada siapa saja, kepada orang yang saleh maupun tidak. Sejak mimpi didatangi sahabat nabi itulah Sultan menyimpan pedangnya yang biasa sering ia pakai untuk memancung orang-orang terhukum ? tanpa peduli besar atau kecil kesalahan orang hukuman, terutama apabila orang terhukum itu kerabat dalam istana.
Di tanah buangan awalnya Si Ujud menjadi orang biasa. Bahkan penguasa Malaka tidak diperkenankan Sultan melakukan hubungan apapun dengan Si Ujud. Bukan masalah bagi penguasa tanah taklukan Sultan itu, selain Si Ujud buruk pekertinya, penguasa Malaka itu tak ingin punya masalah dengan Sultan yang perkasa, salah sedikit saja bukan tak mustahil Zulfikar kembali menyeberangi lautan ditambah pasukan seribu gajah untuk menghukum kekhilafan penguasa tanah taklukan.
Nasib Si Ujud berubah setelah orang kulit putih merebut Malaka dan menumpas penguasa taklukan Lamuri. Sultan Lamuri tak kuasa menghentikan langkah orang kulit putih di tanah taklukannya, dan hanya mampu menatap saja dari seberang lautan. Sebab di tanahnya sendiri pada saat yang bersamaan meletus beberapa pemberontakan orangkaya Lingkaran Kleng sekutu Si Ujud, yang melarikan diri ke Hutan Halimun. Usai menumpas pemberontakan di tanahnya sendiri orang kulit putih sudah terlalu kuat di Malaka. Beberapa penyerangan kilat yang dilakukan bala tentara laut Sultan dipatahkan oleh orang kulit putih. Maka Sultan berencana menyiapkan rencana perang yang lebih besar dan matang terhadap orang kulit putih di Malaka. Untuk itu kapal-kapal perang yang dilengkapi meriam paling ampuh dan terbaru telah dipesan kepada Kekhalifahan Ottoman. Untuk itu kas kesultanan harus ditambah. Untuk itu ongkos masuk kapal di Bandar Lamuri mesti dinaikan. Sebab ini pula yang membuat kapal-kapal niaga tidak memilih Malaka sebagai tempat singgah saat terjadi huru-hara di lautan yang disebabkan oleh perompak Lamuri. Kabar tentang akan diserangnya orang putih di Malaka tak hanya datang dari Lamuri, seluruh sultan yang menguasai bandar-bandar Bawah Angin juga sedang menyiapkan hal yang serupa. Akan tiba waktunya nanti.
Si Ujud kemudian diangkat sebagai penasihat orang kulit putih khusus untuk Urusan Lamuri dan Tanah Taklukannya. Karena Si Ujud, menurut orang kulit putih, dia memendam dendam terhadap Sultan. Bukan kepalang senangnya Si Ujud oleh pahala itu. Maka disampaikanlah oleh Si Ujud beberapa siasat yang dianggap dapat melemahkan Lamuri. Begitu Sultan menaikan ongkos masuk kapal, Si Ujud menyarankan agar penguasa kulit putih di Malaka justru mengumumkan tarif masuk kapal di Malaka setengah dari harga Bandar Lamuri. Hasilnya, akan kelihatan pada musim angin buruk mendatang. Benar kata Si Ujud, hampir setengah dari kapal-kapal yang dulu singgah di Lamuri pindah ke Malaka. Itulah sebab utama sepinya Bandar Lamuri selama lima tahun terakhir.
Itulah sebab utama sampai kenapa Sultan menyesal tak memancung kepala Si Ujud dengan Zulfikar lima tahun silam.
Bandar Lamuri bertambah sepi tatkala orang kulit putih mendirikan sebuah rumah bordir yang besar sekali di Malaka. Muka Berseri nama rumah bordir itu. Muka Berseri telah menghibur ribuan pelaut setiap musim angin buruk tiba. Rumah bordir yang pengusahaannya langsung di bawah kesyabandaran didirikan juga atas saran Si Ujud. Berkata Si Ujud, ?Betapa aku sering mendengar sepinya hati para pelaut setiap kapal mereka singgah di Lamuri. Di Lamuri tak ada rumah bordir, tak diijinkan Sultan yang alim, padahal sudah kubilang berkali-kali para pelaut itu tak semuanya seagama dengan kita. Aku belum selesai bicara kulihat Sultan yang lalim itu sudah memegang Zulfikar-nya. Siapa tak gentar melihat Zulfikar. Selama ini hati pelaut yang sepi hanya dihibur oleh bual dan cerita bohong Tukang Cerita sialan. Sungguh kasihan nasib pelaut yang singgah di sana.?
Dari mulut para pelaut dalam lima tahun terakhir rumah bordir Muka Berseri sudah menjadi begitu masyur.
Sementara si Tukang Cerita sendiri sejak sepinya Bandar Lamuri sudah jarang turun ke bandar. Dia telah begitu banyak kehilangan pendengar setianya, kawan-kawan yang bisa diajak gembira bersama. Dia hanya turun gunung apabila mendengar hal-hal yang besar saja terjadi di bandar. Dalam lima tahun terakhir itu misalnya, dia pernah turun gunung, saat mendengar ada puluhan kapal perang yang merapat. Armada dari Turki. Rombongan yang disebut Sultan sebagai Kebaikan Hati Khalifah. Seluruh rakyat menyambut rombongan itu. Termasuk si Tukang Cerita. Dia langsung membentangkan tikar, dia memukul-mukul rapai untuk menarik hati para awak dan anak kapal dari Turki. Dengarlah ceritaku, dengarlah ceritaku, serunya. Namun tak lebih dari sepuluh orang anak kapal yang mendekat ke arahnya. Dan mau mendengar ceritanya, mungkin karena mereka belum tahu kehebatan cerita si Tukang Cerita. Hari itu Tukang Cerita hanya mengisahkan satu kisah saja. Selebihnya dia mengorek-ngorek cerita dari anak kapal apa maksud kedatangan rombongan Kebaikan Hati Khalifah menjumpai Sultan, dan memang itu tujuannya. Gembira juga hatinya tatkala mendengar bahwa sepuluh orang yang mendengar ceritanya itu ingin menyeberang ke Malaka, ikut dalam satu kapal yang ingin mencari hiburan di sana.
?Jika kalian ke rumah Muka Berseri dan kebetulan berjumpa dengan kawan-kawanku -- mereka pasti kenal aku andai kalian katakan baru saja dari Lamuri -- katakan pada mereka persedian anggur dan canduku sudah habis semua, sementara sekarang aku mempunyai banyak cerita, terutama satu cerita yang tak pernah mereka dengarkan: Hikayat Kura-kura Berjanggut.?
Begitulah, sekali lagi Tukang Cerita pun turun ke bandar sejak bandar sepi dari kapal yang singgah, begitu mendengar banyaknya kapal yang merapat di bandar akibat mengganasnya rompak Lamuri.
?Apa kabar kawan-kawan semua? Muka Berseri telah memisahkan kita begitu lama,? sapanya dengan hati riang gembira begitu melihat ratusan anak kapal merapat ke dekatnya.
Semua anak kapal ikut tertawa disapa Tukang Cerita, kawan lama mereka.
?Berceritalah Tukang Cerita. Berceritalah. Kau pasti punya simpanan cerita yang tak terkira. Aku khusus membawakanmu anggur kekekalan yang disimpan di dalam gudang rumah orang Peranggi. Anggur ini tak hanya menghangatkan tubuhmu tapi juga pikiranmu. Kau harus mencobanya,? sambut seorang anak kapal.
?Ya berceritalah Tukang Cerita. Ceritakan tentang rompak Lamuri, kalau kau tahu tentang mereka.? berkata anak kapal yang lain.
?Hoho, jangan salah sangka kawan-kawan semua. Hari ini aku tak akan menceritakan tentang rompak Lamuri, belum saatnya. Dan kuanjurkan janganlah kalian dirisaukan oleh perompak itu. Biarlah para nakhoda dan saudagar, juga laksamana dan Sultan Kita Yang Mulia saja yang memikirkan itu. Mari kita bersenang-senang terlebih dahulu, bukankah sudah lama kita tak berjumpa,? jawab Tukang Cerita.
?Kau benar Tukang Cerita. Berceritalah sesuka hatimu. Jika saja kemudi kapal berada ditanganku tentu kapal kami akan kuarahkan kemari, tak mampir di Malaka meskipun di sana ada Muka Berseri,? berkata anak kapal yang lain.
Mendengar itu tertawa terbahak-bahaklah Tukang Cerita hingga air matanya berderai dan lengket di bulu mata.
Maka berceritalah Tukang Cerita sore itu tentang segala ihwal. Bercerita sampai matahari terbit lagi keesokan harinya. Bercerita pula beberapa anak kapal tentang bandar-bandar yang mereka singgahi, dan pengalaman cinta mereka di setiap bandar. Melupakan kapan kapal-kapal mereka bisa angkat sauh dari Bandar Lamuri, dan janji Sultan menumpas perompak yang mengganas.
Berhari-hari Tukang Cerita bercerita menghibur para anak kapal yang menunggu Sultan menumpas perompak Lamuri. Sampai Tukang Cerita kehabisan ceritanya, sampai anak-anak kapal sadar bahwa telah begitu lama mereka menunggu di Bandar. Dan kalau kaulihat semakin hari kapal-kapal kian bertambah banyak merapat di bandar, deretannya hampir menyentuh ubun-ubun cakrawala. Tak ada yang berani melanjutkan perlayaran, kapal-kapal masih menunggu datangnya kabar baik dari kesyahbandaran, kalau tak indah maka kapal-kapal akan mengalami nasib seperti sembilan kapal berbendera Sinhala yang tak bisa menunggu lebih lama karena dikejar perayaan hari keagamaan di sana -- kapal-kapal itu membawa bertong-tong dupa untuk kebutuhan perayaan. Dan tong-tong itu kini terapung-apung di antara celah-celah kapal yang menunggu.
Hingga pada suatu hari ketika Tukang Cerita sedang bercerita kepada para anak kapal, sesungguhnya cerita itu adalah cerita lama yang pernah diceritakannya, datanglah beberapa puluh orang mendekat ke kerumunan itu. Melihat yang datang pecahlah kerumunan itu menjadi dua bagian bagai laut yang dibelah Musa, memberikan ruang pada yang datang. Ternyata para nakhoda, saudagar kapal, jurumudi, dan mualim yang telah membelah kerumunan itu. Melihat siapa-siapa yang datang berdirilah Tukang Cerita seketika menghentikan ceritanya. Sungguh besar hati Tukang Cerita, sebab biasanya golongan ini adalah yang paling susah diajak gembira bersama. Para petinggi kapal ini seolah tahu bahwa apa yang diceritakan Tukang Cerita ialah bual dan bohong semata, atau terlalu tinggi selera mereka untuk mendengar kisah-kisah yang dikocok Tukang Cerita hanya sebagai kisah biasa.
?Singkat saja Tukang Cerita, hari ini aku ingin mendengar perkara bajak laut Lamuri. Aku tahu kau tahu segalanya tentang mereka,? berkata seorang nakhoda tua.
?Tun, kau rupanya, nakhoda kapal Ikan Pari. Apakabar perempuan berleher gading dari Magribi?? tanya Tukang Cerita.
Bersemu merah paras nakhoda tua itu disapa Tukang Cerita.
?Katakan sejujurnya apa yang sebenarnya terjadi di laut kita!??
?Dan kau Abdul Kadir, jurumudi ternama kesayangan saudagar Barus, kawan lama sekapal yang bersumpah tak akan menjejak tanah sebelum orang putih meninggalkan Malaka. Apakah aku harus terharu? Kau melanggar sumpah untuk mendengar ceritaku??
Yang paling takjub mendengar percakapan itu ialah para awak kapal yang belia usianya. Baru tahu mereka ternyata Tukang Cerita punya hubungan dengan para petinggi kapal mereka. `
?Tidak. Aku tidak tahu apa-apa tentang rompak Lamuri. Karena mereka tak ada. Dan bukankah Sultan sudah berjanji untuk menumpas perompak di lautnya secepat laju kapal kalian??
?Kau bohong, kau tahu segalanya, bukankah kau bagian dari perompak itu!? Dan tidakkah kaudengar satu armada belum kembali setelah dua jumat mengejar kapal perompak? ?
Heninglah semua jamaah Tukang Cerita mendengar pernyataan terakhir Abdul Kadir.
?Kau benar belaka Abdul Kadir, kita berdua pernah menjadi bagian dari rompak Lamuri. Semua orang di bandar ini tahu semua tentang hal ini. Tapi itu dulu, berpuluh-puluh tahun silam, mungkin saat itu wahai anak kapal semua kalian belum lagi melihat dunia. Aku nakhoda kapal perompak Lamuri yang paling ditakuti selingkar laut Atas dan Bawah Angin, dan kau Kadir salah seorang jurumudi kapal kita yang paling kukagumi. Ditanganmu kemudi kapal kita secepat Zulfikar memenggal sebuah kepala. Itu dulu, waktu Sultan masih membutuhkan kekuatan kita di lautan. Sampai suatu hari Sultan Kita Yang Mulia mengatakan dia tak membutuhkan kita lagi sebagai sekutu lautnya. Hari itu Zulfikar baru saja tiba di tanah ini. Seorang mufti dari seberang lautan mempersembahkan pedang itu kepadanya. Bukankah kalian mendengar, hari itu kukatakan kepada Sultan jika tiang-tiang kapal kita bisa bicara, tiang-tiang kapal itu akan mengatakan bahwa orang kulit putih dalam perjalanan menyeberang kemari dan kitalah kekuatan pertama yang akan mencegah kedatangan mereka, untung saja aku masih bisa menjaga mulutku untuk tidak mengatakan bahwa perjalanan orang kulit putih tidak bisa dilihat oleh Zulfikar di tangannya itu, dengan begitu aku telah menjaga perasaannya yang mudah tersinggung itu, dan bukankah kalian tahu apa jawaban Sultan saat itu? Pamanku itu hanya memelukku dan mengucapkan: terima kasih kemenakan atas peringatanmu. Kita semua kecewa mendengar ketetapan hatinya, tapi kita menghormati Sultan kita, mematuhi kata-katanya. Maka aku menolak saranmu untuk melakukan pemberontakan wahai Qaran,? kata Tukang Cerita mendekat ke arah seorang abesy, lalu memeluk orang itu, ?Sudah besarkah anak dara Bukharamu? Kuharap kau selalu memenuhi janjimu untuk mengunjunginya setidaknya dua tahun sekali.?
?Ya. Aku dalam perjalanan untuk berjumpa Zulaikha. Tapi kabar tentang perompak itu menghentikan langkahku di bandar ini. Bandar yang sejujurnya tidak ingin kuinjak lagi hanya saja karena kudengar kabar tentang perompakan di laut Lamuri, maka kuarahkan kemudi ke bandar celaka ini, kukira kau kembali dipanggil Sultan.?
?Wahai Qaran dan kawan lama lainnya. Huru-hara di lautan menyebabkan kita berjumpa lagi. Tak pernah terbayang olehku kita bakal berjumpa lagi seperti ini. Sultan punya keputusan kalian juga punya keputusan, begitu pula denganku. Kalian memilih meninggalkan Lamuri untuk selamanya, pergi entah kemana, juga merasa kecewa denganku yang tak mampu membela kepentingan kalian. Sementara aku yang tak ingin kemana-mana, karena cintaku pada tanah ini, memilih berumah di dalam hutan, kutampik rumah pemberian Sultan. Lama di dalam hutan, hilanglah pengetahuanku tentang lautan, sekali-kali aku turun ke bandar dan menjadi Tukang Cerita, bertanya-tanya tentang kabar kalian dari para anak kapal yang mau mendengar ceritaku. Dengan begitu lunaslah sedikit rinduku pada kalian. ?
?Sebelum kalian pergi dari hadapanku. Dan memang itu yang harus kalian lakukan sebab aku tak lebih tahu dari kalian siapa sesungguhnya para perompak Lamuri kini kuharap kalian masih mau mendengarkan ceritaku tentang Kura-kura Berjanggut. Kisah ini dulu sering kuceritakan kepada kalian, di tengah lautan, di atas geladak kapal saat angin mati, saat kita berhari-hari dalam jemu yang panjang menunggu datangnya angin. Seperti kalian ketahui begitu aku selesai menceritakan hikayat Kura-kura Berjanggut, keesokan harinya layar kapal seperti besi berani: menarik angin dari segala penjuru. Di antara kalian masih ada yang percaya, mungkin sampai hari ini, hikayat itu adalah mantra penarik angin. Tapi ini adalah salah satu leluconku dengan mualim angin kita yang cerdas itu. Dia melihat bintang-bintang di langit, dan mengatakan padaku, tujuh hari lagi angin akan berhembus. Maka aku mengumpulkan kalian semua di atas geladak. Dan menceritakan hikayat itu. Betapa gembira hati kalian tatkala aku menceritakan hikayat itu, sebab bakal terbebaskan dari hari-hari menungu angin yang membosankan. Semoga dengan hikayat ini kapal kalian bisa berlayar keesokan harinya.?
Dahulu kala, waktu segala binatang dan pepohonan masih bisa bicara, dan bandar ini belumlah bernama, hiduplah seekor raja kura-kura menguasai selingkar lautan ini. Kura-kura itu disegani oleh makhluk sepenjuru lautan karena kecepatan dan keperkasaannya.
Sampai pada suatu hari di ujung lautan terlihatlah sebuah kapal, dan diselingkup kapal itu dibungkus oleh kabut hitam. Di atas geladak kapal itu terlihat seekor unta. Hanya seekor unta.
O, keperkasaan dan kuasa membuat raja kura-kura menjadi kurang waspada. Padahal petuah lama mengatakan apabila kau melihat sebuah kapal dengan unta di atas geladaknya segera usirlah kapal itu. Sebab itu adalah unta yang diusir Nabi Sulaiman, nabi junjungan segala binatang. Dosa apakah yang membuat orang sesabar Sulaiman sampai mengusir unta itu? Di tanah Sulaiman dia telah menyebarkan banyak fitnah dan kebohongan, sering membuat Sulaiman susah tak kepalang. Setelah diusir dari tanah Sulaiman, unta celaka itu menipu pula pelaut keturunan Nabi Nuh. Dicurinya kapal keturunan Nuh. Dengan kapal itu dia berharap bisa mendapatkan doa seribu penguasa dunia, dengan doa dan kapal itulah dia berharap dapat kembali pulang ke tanah Sulaiman. Jika sekarang orang-orang mencari dimana kapal Nuh yang masyur itu pasti tak ditemukan sebab disembunyikan unta buangan. Perompak-perompak di seluruh lautan tak pernah mencari kapal itu, takut dikutuk unta buangan.
Setelah dibuang Sulaiman, dengan kapal itu, dia masih saja menyebar kabar kebohongon ke seluruh penjuru lautan karena dengan cara berbohong itulah dia mendapatkan doa para penguasa dunia, sebab tak ada raja yang sudi berdoa untuk unta usiran Sulaiman.
Akibat yang ditimbulkan oleh kebohongannya itu sungguh luar biasa, membuat sesiapa yang percaya menjadi gelap takdir hidupnya sepekat kabut yang menudungi kapal sang unta.
Seperti kura-kura yang pernah hidup di bandar ini.
Kepada kura-kura unta mengatakan sungguh aneh kura-kura yang dilihatnya ini, sebab di tanah Sulaiman dan di seluruh penjuru lautan yang pernah disinggahinya semua kura-kura ada janggutnya. Awalnya marahlah kura-kura mendengar kabar yang disampaikan unta. Tersinggung perasaannya. Katakan padaku di mana aku bisa membeli janggut wahai unta pembawa berita? Kata kura-kura. Tertawalah unta mendengar pertanyaan kura-kura. Kau tak perlu menghabiskan seluruh kekayaanmu kalau hanya untuk mendapatkan sejumput janggut di dagumu, pesan Sulaiman, berdoalah untuk kesalamatan unta kelana ini. Maka akan tumbuhlah janggut di dagumu itu.
Maka berdoalah kura-kura untuk keselamatan unta usiran. Setelah mendapatkan doa raja kura-kura unta itu pun pergi bersama kapal dan kabut yang memayungi kapal dengan hati seluas samudera.
Karena doa keselamatan itu pekatlah hidup kura-kura sampai anak cucunya, sampai hari ini. Perhatikan sungguh lambat jalannya kura-kura sekarang. Sampai sekarang kura-kura berjalan lambat karena mencari-cari janggutnya yang jatuh di tanah, kura-kura menyangka Sulaiman melemparkan begitu saja janggutnya di tanah.
Keesokan harinya setelah Tukang Cerita menceritakan hikayat Kura-kura Berjanggut laut masih saja begitu tenang, angin seperti membujuk kapal yang berbaris sampai tepi cakrawala untuk berlayar.
Correze, September 2006