sulaiman's posts with tag: bedah buku
PEMBACA HARUS DIAJAK BERIMAJINASI
LAPENA (Institute for Culture and Society) Banda Aceh, Kamis (22/3), melaksanakan diskusi buku cerita anak, ”Indahnya Nikmat Tuhan” yang ditulis oleh Herman RN. Kegiatan tersebut berlangsung di Sekretariat Lamnyong, Banda Aceh, yang dihadiri berbagai kalangan.
Buku tersebut, sebagai diungkapkan Sulaiman Tripa, Pengelola Diskusi Lapena, merupakan hasil lomba menulis cerita anak yang dilaksanakan Satker Kebudayaan tahun 2006. ”Ada 10 karya yang dibukukan, dan dua buku dipercayakan penerbitannya ke Lapena,” ungkap Sulaiman Tripa, yang mengatakan, Lapena menerbitkan buku Herman RN dan bukunya yang berjudul ”Meunasah di Gamong Kamoe” yang sudah didiskusikan beberapa waktu lalu.
Diskusi buku tersebut, tambah Sulaiman Tripa, merupakan bagian dari program diskusi rutin yang membahas berbagai persoalan kebudayaan di Aceh. ”Kami yakin, kalaupun tidak sekarang, pasti suatu saat, yang kami diskusikan ini akan dibutuhkan oleh orang-orang Aceh, khususnya seniman dan pegiat kebudayaan,” tambahnya.
Untuk membahas buku Herman RN, Lapena mengundang seorang penulis. Beberapa kali cerita anaknya di muat Harian Kompas. ”Ini pertimbangan kita mengundang Hacky Irawani. Sebagai orang yang berpengalaman menulis cerita anak, ia pasti akan punya banyak catatan,” jelas Sulaiman, Fardelin Hacky Irawani, sekarang adalah pengurus Forum Lingkar Pena (FLP) Aceh.
Eqi –begitu ia sering disapa—sebenarnya juga peserta diskusi rutin Lapena. Dalam kesempatan itu, ia mengatakan bahwa menulis cerita anak pada dasarnya sama saja seperti menulis cerita remaja atau cerita yang kategorinya sedikit lebih berat. ”Bedanya, sasaran tulisan ditujukan terutama untuk anak-anak, dengan tidak menutup kemungkinan untuk bisa dibaca oleh orang dewasa. Setiap cerita mestinya mengandung pesan moral yang bisa diambil hikmahnya, menghibur dan menyenangkan dunia anak-anak,” kata mahasiswa Ilmu Keperawatan Unsyiah, itu.
Menurutnya, Herman telah melakukannya. Banyak sekali pesan moral yang bisa ditemui dalam buku ini. ”Mulai dari ajaran agama, mengagumi kebesaran Sang Pencipta, berbakti kepada orang tua, indahnya persahabatan, hingga rasa optimisme. Pesan-pesan tersebut telah tersampaikan secara eksplisit,” katanya tegas, yang mengakui telah membaca tiga kali buku ini.
Kelemahan Herman, menurut Eqi, mungkin ingin membuat tulisan yang bisa dibaca oleh siapa saja, terlihat dari penampilan fisik bukunya yang tak mendukung bahwa buku ini adalah buku anak. Eqi mencontohkan kebanyakan buku anak, pada halaman depan biasanya penerbit mencantumkan buku tersebut memang bacaan untuk anak-anak dan bentuk tulisan yang terlalu rapat-rapat. Tapi ini bisa jadi bukan pada penulis, tapi pada penerbit,” ujarnya.
Eqi juga menyayangkan, sepertinya Herman masih gamang dan tidak bisa melepaskan ego ketika ingin meyampaikan gagasan kepada orang lain di luar dirinya, sehingga terkesan mengurui. ”Selain terkesan sangat menggurui, ada beberapa pesan moral yang disampaikan penulisnya agar pembacanya tahu bahwa ’ini lho yang diinginkan oleh penulisnya’. Bila ini yang terjadi, maka pembaca tidak lagi diajak berimajinasi, karena ’pikiran’ penulis telah mendominasi,” ujar Eqi.
Pemaksaan ini, rinci Eqi, sangat terasa pada penggambaran karakter sang tokoh, yaitu Muhammad Rizki, di mana tokoh utama digambarkan begitu ’sempurna’ dalam hal sifat-sifat yang dimilkinya: rendah hati, penyabar, anak yang berbakti dan penurut terhadap orang tua, dan suka mendamaikan teman yang berkelahi. Sang tokoh benar-benar seorang yang heroik.
Hal lainnya, menurut Eqi, penggunaan metafora secara berlebihan yang bisa jadi terasa ’berat’ untuk dibaca anak-anak. Pada halaman 11 tertulis: Sementara buihnya itu adalah bumbu hidup yang perlu kita pelajari. Meski laut itu biru, ia mampu mengeluarkan buih yang memutih, artinya dia senang berbuat kebaikan. Meskipun ada satu dua buah buah dan ranting yang ikut ombaknya, itu hanyalah sebentuk kecil yang mengotori keindahan laut. Dan di halaman 34 tertulis: Rasa dikejar waktu pun masih menggerayangi alran darahku.
”Untuk menghindari pendominasian pikiran penulis dalam cerita, seharusnya penulis dituntut bersikap lebih bijak dalam penyampaian gagasannya,” saran Eqi, yang menjelaskan juga bahwa tema yang diangkat penulis sebenarnya cukup sederhana, yakni tentang bagaimana mensyukuri nikmat yang Tuhan berikan.
Kesederhanaan tema, terlihat dengan memadukan unsur lokal Aceh dan kemampuan Herman dalam menggarap cerita, menjadikan buku ini layak sebagai bahan perbandingan dan menjadi panduan bagi siapa saja. ”Dari judulnya saja, penulis sudah memberi sedikit gambaran pada pembaca bahwa untuk mengagumi kebesaran Allah, kita tidak perlu harus jauh-jauh mencarinya. Semua hal yang ada di sekitar kita, nikmat yang Allah berikan untuk kita: nikmat umur, rezeki, alam dengan segala isinya nan elok yang menyimpan kekayaan yang melimpah ruah untuk kita manfaatkan, nikmat kesehatan, dan masih banyak kenikmatan lainnya yang takkan sanggup bila kita ingin menghitungnya,” jelas Eqi lebih jauh.
Pesan tersebut terasa sangat kental pada buku ini. Sebagaimana halnya cerpen-cerpen Herman lainnya, cerita anak ini pun masih tetap mencirikan gaya seorang Herman RN: bahasanya yang mengalir, membuat pembaca merasa seperti sedang mengikuti arus air yang mengalir. Cerita dibuka dengan langsung perkenalan kepada sang tokoh yang bernama Muhammad Rizki, seorang anak nelayan di sebuah pedesaan yang saya kira berada di sebuah daerah pesisir. Hal ini terlihat pada kalimat: Aku suka minta Abu ikut melaut. Sudah menjadi suatu kebiasaan di kampung kami yang dekat dengan laut, orang-orang bermata pencaharian sebagai nelayan, begitu juga keluarga kami. Jika gelombang laut tak besar, Abu pasti mengizinkan untuk ikut bersamanya.
”Meskipun penulis tidak harus mengulang-ngulang kata ’Aceh’ untuk menyatakan tempat berlangsung cerita, pembaca sudah cukup disodori beberapa fakta bahwa cerita ini memang bersetting di sebuah daerah di Aceh; misalnya kebiasaan orang Aceh yang suka menyingkat setiap nama yang diawali dengan Muhammad menjadi Mad atau Ismail menjadi Ma’e (meskipun tidak semua), panggilan Agam untuk anak lelaki, penggunaan bahasa Aceh dalam beberapa potong percakapan dan sedikit fakta bahwa setting dalam cerita termasuk salah satu daerah yang terkena tsunami,” terang Eqi lagi.
Yang terakhir ini, menurutnya, bisa kita lihat dalam kalimat: Acara ramai-ramai seperti ini memang sering dilakukan sekolah kami ketika hari pembagian rapor tiba. Apalagi dulu, ketika laut belum menghancurkan rumah dan sekolah kami.
”Buku ini berhasil memotret kehidupan anak-anak dengan dunianya. Bersekolah, mengaji, dan bermain. Tak lupa juga penulis menyisipkan konflik permainan ala dunia anak-anak,” tambahnya, yang mengatakan bisa dibaca pada bagian 3: Kejadian di Lapangan Bola.
Karena sebuah peristiwa yang tak disengaja, terjadilah perkelahian antar anak-anak tersebut yang kemudian diakhiri dengan perdamaian melalui perantara sang tokoh utama.
Begitulah dunia anak-anak. Sebuah dunia yang terkadang membuat kita ingin bernostalgia, kembali ke masa kecil. Meski demikian, penulis tak selalu menggambarkan mereka harus mengikuti alur kehidupan layaknya kehidupan anak-anak. Anak-anak tersebut juga terkadang harus ikut ke ladang bagi yang orang tuanya seorang petani atau pergi melaut bagi yang orang tuanya nelayan, seperti yang dilakukan oleh tokoh utama dalam buku ini.
Eqi mengakui sangat memberi apresiasi terhadap novel ini karena di Aceh masih sedikit yang menulis cerita anak. ”Teorinya memang mudah, tapi susah waktu menuliskannya,” komentar Eqi.
Sastrawati, D Kemalawati, mengatakan kritikan Eqi sangat berisi. ”Tapi menurut saya, buku ini tidak mesti harus ditulis cerita anak. Kepada pembaca memang harus diberi kesempatan. Buku ini bisa dilihat bahwa ini buku anak. Dari covernya, depan dan belakang, sudah terlihat,” kata Kemalawati.
Ia melihat, Herman memang terlalu masuk dalam tulisan-tulisan yang serius. Inilah kelemahan penulis, yang terbawa arus untuk mengikuti pikirannya. Setting tempatnya sendiri, baginya tak masalah. Menarik untuk pemetaannya, misalnya jarak dari satu tempat ke tempat lain. Bisa jadi karena menganggap orang sudah tahu. ”Herman bukan menggurui, tapi karena terbawa diri, Herman tidak keluar dari dirinya,” ujarnya.
Kemudian ia berpesan agar menghindari banyaknya unsur bahasa, tapi kearifan lokal yang harus kita perbanyak untuk berbicara. Seperti buku Sulaiman, ini juga seharusnya ada glosarinya, biar orang-orang luar yang baca.
Masalah percetakan, mengirimkan naskah, inilah masalahnya. Setelah finalnya, kurang kontrol, dan kemarin perlu cepat. Kita tidak ingin terjadi, percetakan juga. ”Dalam banyak hal, cerita anak ini sudah unggul. Saya juga seperti itu, ada beberapa halaman yang juga bermasalah. Ada beberapa hal yang tidak perlu dijelaskan lewat glosari, tapi bisa langsung diceritakan dalam jalannya cerita,” katanya.
Direktur LBH Anak Banda Aceh, Ayu yang turut hadir mengatakan, tak semua anak-anak terbiasa dengan bermain. ”Banyak anak yang putus sekolah, yang tidak mendapatkan hak sebagaimana mestinya. Ada anak-anak yang tidak mendapatkan hak-hak sebagaimana mestinya. Misalnya sehabis tsunami, ada anak yang meninggal orang tuanya, tinggal sebatangkara,” kata Ayu, yang mengatakan pihaknya saat ini sedang mendampingi sekitar 50 kasus lebih tentang hak anak di pengadilan.
Ia berharap ke depan, cerita-cerita anak seperti ini juga menarik digarap. Anak-anak masa konflik dan tsunami, tentu mengalami masa yang berbeda yang memang membutuhkan perhatian.
Sementara itu, Ketua FLP Aceh, Ferhat, mengomentari tenang masalah percetakan, seperti besarnya huruf yang berbeda-beda, sehingga susah untuk membaca, warna ilustrasi yang ditimpa dengan tulisan. ”Penggunaan bahasa Aceh, bagusnya ada keterangan. Karena tak hanya di Aceh, tetapi juga di luar Aceh. Kemudian juga Setting, mungkin tak selalu dengan bahasa daerah,” ujarnya.[]
| Start: | Mar 23, '07 05:00a | | End: | Mar 23, '07 06:00a | | Location: | Lapena, Lamnyong |
Lapena (Institute for Culture and Society) Banda Aceh, akan melaksanakan bedah buku cerita anak “Indahnya Nikmat Tuhan, yang ditulis Herman RN, nanti: Kamis, 22 Maret 2007, Pukul 17.00 – 18.00 WIB, Lapena Lamnyong, samping Panglima Laot Aceh, Pembahas Fardelin Hacky Irawani (FLP Aceh) Undangan ini terbuka bagi yang berkenan, dan terima kasih.
Rabu, 7 Maret 2007, 09:05 WIB BUKU Kisah Konflik yang DatarReporter : Adi Warsidi
Bisakah konflik di Aceh dibaca tanpa mengernyitkan dahi? Cerita-cerita yang mengalir dengan datar, tanpa darah yang ditulis merah. Musmarwan Abdullah menulisnya mungkin, dalam sebuah kumpulan cerpen.
Judul : Pada Tikungan Berikutnya (kumpulan cerpen)
Penulis : Musmarwan Abdullah
Penyunting : D Keumalawati
Penerbit : Lapena Institute, Banda Aceh, 2006
Tebal : 104 halaman
DAMAI memang telah merekah di Aceh, meninggalkan konflik dalam bingkai lama. Tapi bisakah membaca konflik tanpa mengernyitkan dahi atau menitikkan air mata? Musmarwan Abdullah, seorang penulis kelahiran Kembang Tanjong, Pidie menjawabnya mungkin.
Dalam “Pada Tikungan Berikutnya’, dia menuliskan dengan irama yang ramah, tanpa merasa dendam dan berpikiran macam-macam. Judul sebuah cerpennya yang diatabalkan sebagai judul buku kumpulan cerpen itu, berkisah tentang seorang penulis cerpen yang kehilangan akal saat berhadapan dengan tentara berbaju loreng.
Sang tokoh -penulis sendiri- terpaksa menuruti apa saja kemauan tentara saat berangkat ke kantor sebuah media untuk mengambil honor tulisannya. Bukan push-up, bukan lari keliling lapangan, bukan tamparan yang didapat tokoh utama. Tapi membuktikan bahwa dia adalah penulis cerpen, seperti yang tertulis di Kartu Tanda Penduduk-nya.
Misalnya dalam sebuah frame cerpen itu;
... Tentara yang memeriksa KTP-nya membaca dengan suara agak tinggi. Nama : Musmarwan Abdullah ... Pekerjaan : Penulis Cerita Pendek. Sampai di sini mereka berhenti. Tentara yang membaca itu melihat kearah temannya. “Coba buktikan!” kata temannya itu.
Lalu mereka memberiku selembar kertas dan sebatang pena. Sambil tetap berdiri di situ aku menulis; “Tak ada yang dapat kuceritakan padamu kawan, disaat inspirasi telah menjadi langka di ruang kontemplasi para tukang tulis cerita...” Setelah itu, tukang tulis pun diizinkan berlalu.
Itulah dialog tanpa darah dalam menceritakan kisah saat keadaan Aceh serba darurat dan setiap jengkal tanah dipenuhi tentara lengkap senjata. Musmarwan tak sedang menulis kisah pembantaian di Simpang KKA, kisah Tgk Bantaqiah, kisah penangkapan aktivis, kisah kematian tanpa pengadilan dan seribu lainnya. Ia sedang merekontruksi sebuah cerita yang ringan dan menyentuh dalam cerpen-cerpennya, kisah-kisah yang kadang konyol saat berhadapan dengan hidup patuh pada penguasa.
Tidak semua cerita dalam kumpulan itu berlatar sisi lain konflik Aceh, tapi sepuluh cerpen itu lahir dalam kurun waktu sebelum damai. Bila digabungkan semua, masalahnya lumayan lengkap. Misalnya; ‘Cara Ia Membangunkan Aku’ yang berkisah tentang kelalaian sosial dalam masyarakat; seorang sarjana yang bangun, turun ke sawah meninggalkan impiannya.
Ada gaya satir dalam ‘Monyet’ yang penuh arti. Juga ‘Balada Pasien Jiwa’ yang berkisah soal larangan mencintai bunga di Rumah Sakit Jiwa. Sesungguhnya Musmarwan ingin mengkritik secara simbolik; dunia yang penuh kekangan sebenarnya adalah rumah sakit jiwa.
Selanjutnya kisah kehidupan yang kerap dialami sehari-hari dalam ‘Penyair dari Rhieng Blang’. Juga tentang orang-orang Aceh yang mulai ber-Tuhan lain; kekuasaan, jabatan dan harta. Saat tsunami datang mereka tak berdaya, dalam ‘Tuhan-tuhan Kami’.
Begitulah Musmarwan mengkritik pemerintah dan masyarakat dalam kehidupannya. Tak berteriak lantang, tak meninju lawan dan tak menggebrak meja, cukup dengan gaya cerita yang ringan penuh makna. Bahasanya pun renyah dan enak dibaca.
Namanya saja karya manusia, mungkin tak semuanya komplit. Ada kekurangannya. Kisahnya kurang bumbu, alurnya datar saja. Memang tak ada tragedi dalam kisahnya, tapi dibilang kocak pun belum memenuhi syarat. Kategori pembacanya mungkin untuk pemula, yang baru memahami sastra.
Kemudian cerpen-cerpen itu juga terlalu singkat untuk dinikmati, baru dibaca sudah ending. Lainnya soal penerbitan yang terlambat dari kisah-kisah yang ditulis. Seandainya ‘Pada Tikungan Berikutnya’ terbit semasa darurat di Aceh, mungkin akan lebih diburu pasar.
Apapun, ‘Pada Tikungan Berikutnya’ menjadi penting, bukan hanya karena ceritanya. Setidaknya, inilah salah satu goresan anak Aceh yang coba berkarya dan dibukukan. Memperkaya daftar penulis Aceh yang kerap tak dilirik dunia luar. Lalu, menambah khasanah buku-buku sastra di Aceh khususnya.
Soal kekurangan, jangan khawatir. Dalam peluncuran buku ini pada Februari lalu, Musmarwan berjanji akan memperbaikinya pada tikungan-tikungan berikutnya. [Adw]
http://www.acehkita.com/index.php?dir=news&file=detail&id=1671
 | Category: | Books | | Genre: | Nonfiction | | Author: | Teungku Muhammad Yahya Abubakar Samalang |
Lapena Bedah Buku Bahasa Jawoe Banda Aceh, acehmagazine.com Lapena (Institute for Culture and Sociaty) Banda Aceh meluncurkan dan membedahkan buku yang ditulis dalam bahasa Jawoe alias tulisan Arab-Melayu di Aula Pustaka Wilayah Aceh, Sabtu (10/3). Buku berjudul Fiqih Ibadah yang ditulis oleh Teungku M Yahya Aabubakar Samalangan ini dibedah oleh Ketua Majelis Pemusyawaratan Ulama Teungku Muslim Ibrahim dan M Yacob Ali tokoh dayah dari Pidie. “Buku ini nyaris sempurna. Patut diedarkan ke seluruh dayah di Aceh,” puji Muslim dihadapan puluhan peserta bedah buku. Nada senada juga disampaikan oleh M Yacob yang menilai penulis memasukan hal-hal baru seperti persoalan parfum. Namun di sisi lain, pembedah juga menyinggung kesalahan penulisan pada beberapa halaman. Misalnya, pada pembukaan tidak tertulis ucapan basmallah. Seorang peserta Sayed mempersoalkan mengapa tidak dicantumkan nama penulis di sampul depan buku berwana hijau ini. “Menyangkut tidak tertulis nama penulis di sampul depan, ini kebiasaan penulis di masa dulu agar tidak takabur,” duga T Safir Iskandar Wijaya, dosen IAIN Ar-Raniry. Direktur Eksekutif Lapena Helmi Hass menuturkan, buku ini layak diterbitkan dan diluncurkan karena membahas hal-hal penting yang dibahas dengan menarik. Helmi menyatakan, buku ke 10 yang diterbitkan oleh Lapena ini ditulis dengan bahasa yang indah. “2 April mendatang, kembali Lapena meluncurkan tiga buku sastra yang ditulis oleh Sulaiman Tripa, D Kemalawati dan Helvy Tiana Rosa,” jelas Helmi kepada acehmagazine.com. Buku ini terdiri dari 10 bab, 133 pasal dan 145 halaman ini membahas detail tentang pedoman melaksanakan shalat, puasa, zakat dan kaifiyat haji-umrah. Buku ini diterbitkan atas dukungan BRR Aceh-Nias. Penulis buku ini M Yahya berasal dari pengajian Ta’lim Al-Sunnah Gampong Sangso Kecamatan Samalanga Bireun. (rizal) dari http://www.acehmagazine.com/index.php?action=HotNews&no=arf335
 | Category: | Books | | Genre: | Nonfiction | | Author: | Siti Zalikha, dkk |
Eqi ( http://fardelynhacky.multiply.com/tag/buku), kuambil punyamu ya... (enak aja kiks kikss....) WANITA & ISLAM: Sebuah Telaah tentang Kedudukan Perempuan dalam Islam Oleh: Fardelyn Hacky Irawani* Buku yang berjudul “WANITA & ISLAM ini adalah buku kumpulam tulisan santriwati dayah salafiyah di Aceh. Ada enam santriwati yang ikut menyumbangkan tulisannya dalam buku ini antara lain: Siti Zalikha H. Ibrahim, Azizah Muhammad, Junaidah Mahmud, Maisarah H. Muhammad, Siti Radhiah H. Ridhwan Gapi, dan Safrida Hamdani. Buku ini diterbitkan pertama kali oleh penerbit LAPENA bekerjasama dengan Sartker BRR Pemulihan dan Peningkatan Kualitas Kehidupan Keagamaan NAD-Nias Desember 2006. Saat mengikuti peluncurannya pada tanggal 13 Januari 2007 lalu, itu pertama kali saya melihat langsung buku yang berkover warna hijau tersebut. Seharusnya jauh-jauh hari saya mendapatkannya karena ternyata pada hari peluncurannya, dibuat pula acara bedah bukunya. Hmm, sepertinya buku ini menarik. Begitu komentar saya saat melihat kover buku tersebut. Sungguh cantik. Warna hijau cerah dengan ilustrasi seorang perempuan cantik berkerudung. Tapi, don’t judge a book by it’s cover, begitu petuah lama. Maka sambil tetap mengikuti sesi bedah buku, saya mencoba membolak-balik lembaran-lembaran buku tersebut. Meski kemudian buku tersebut baru tuntas saya baca ketika saya sampai di rumah, tapi secara garis besar saya telah mempunyai gambaran tentang isi buku ini pada saat dibedah oleh para praktisi akedemisi dari Unsyiah dan IAIN Ar-Raniry. Ada banyak sekali masukan dan kritikan terhadap buku ini. Terlebih lagi semua penulisnya adalah para penulis pemula. Lalu setelah saya tuntas membacanya di kemudian waktu, ’rasa’ yang saya punya terhadap buku ini tidaklah jauh berbeda dari ’rasa’ yang pernah disampaikan oleh para narasumber dan peserta bedah buku tersebut. Buku ini diawali dengan kata pengantar dari penerbit LAPENA yang dalam hal ini diwakili oleh para penyunting buku: Helmi Hass, Sulaiman Tripa, Mohd. Harun Al Rasyid dan D. Kemalawati, juga tak lupa pengantar dari ’petinggi’ BRR kita Bapak Hasan Basri M. Nur. Keenam penulis santriwati ini menulis tentang dunia perempuan dalam Islam. Tentang jilbab, aurat perempuan, warisan, hubungan pria dengan perempuan dan poligami. Masing-masing mempunyai gaya tersendiri dalam menyampaikan pendapat dan pandangannya. Siti Zalikha H. Ibrahim dengan judul tulisannya “Islamikah Tradisi Jilbab Kita?” membahas tentang konsep jilbab, kerudung dan selendang, di mana para ulama mempunyai pendapat yang berbeda tentang hal ini. Perbedaan pendapat tersebut hanya tentang persoalan mengulurkan jilbab ke seluruh tubuh. Sementara tentang hukum berjilbab, penulis menekankan –dengan berbagai sumber akurat– bahwa hal tersebut bukanlah persoalan khilafiah (perbedaan pendapat), karena hal ini jelas-jelas perintah dari Allah sebagaimana yang tercantum dalam Al Qur’an. Selain menguraikan tentang beberapa fungsi jilbab untuk perempuan, penulis juga menguraikan tentang tradisi berjilbab masa kini. Ada bermacam corak. Dari yang syar’i hingga yang tidak syar’i. Perempuan masa kini boleh berjilbab dengan mengikuti model dan bentuk jilbab yang berlaku di masyarakat saat ini selama tidak bertentangan dengan ajaran islam yang sebenarnya, begitu tulis Siti Zalikha H. Ibrahim. Untuk hal ini, penulis mencontohkan bagaimana tradisi berpakaian perempuan-perempuan di bumi Sangaji Bima yang disebut rimpu, di mana cara mereka berpakaian sangat unik; mengikuti prinsip jilbab, bentuk dan modelnya sama seperti kain sarung, satu dipakai di bagian atas dan satu lagi dipakai di bagian bawah. Hal ini tentu saja sudah tidak cocok lagi dipakai untuk saat ini. Azizah Muhammad dengan judul tulisannya ”Hak Wanita dalam Pembagian Warisan” banyak membahas tentang ahli waris, kadar harta warisan yang diperoleh perempuan, dan hikmah mengapa perempuan hanya mendapat sebagian harta warisan. Tentang hikmah ini, Azizah dengan konkret memberikan penjelasan bahwa terdapat perbedaan peran laki-laki dan perempuan setelah mereka menikah. Perempuan akan menjadi tangung jawab suaminya sementara laki-laki akan menjadi pencari nafkah untuk keluarganya. Junaidah Mahmud dengan judul tulisannya “Hubungan Pria dan Wanita dalam Perspektif Islam” membahas lebih jauh tentang hubungan antara pria dan wanita yang bukan mahram dan pergaulan suami istri. Maisarah H. Muhammad dengan judul tulisannya “Poligami dan Hak Keistimewaan dalam Islam” banyak menulis hal-hal apa saja yang menyangkut poligami dalam Islam. Siti Radhiah H. Ridhwan Gapi menulis tentang “Jilbab dan Aurat Wanita dalam Konteks Islam” dan terakhir tulisan Safrida Hamdani yang berjudul “Keutamaan Wanita Salehah dalam Islam”. Hmm, sebagai penulis yang mengaku baru pertama kali menulis, saya cukup ‘terkesima’ dengan adanya buku kumpulan tulisan ini. ‘Terkesima’ karena ternyata mereka bisa menulis tema-tema tentang ‘keperempuanan’ yang bisa jadi itu bagian dari kehidupan mereka. Lebih dari itu, sumber rujukan tulisan yang memang cukup komplit dan panjang yang bisa jadi merupakan bacaan yang sudah biasa mereka ‘santap’ selama mereka berada di lingkungan dayah. Buku yang tebalnya 179 halaman ini boleh jadi akan menjadi rujukan bacaan bagi kaum perempuan yang ingin mengetahui lebih banyak tentang dunia keperempuanan dalam Islam. Bahasanya yang ringan dan tidak bertele-tele membuat buku ini enak dibaca. Namun, entah kenapa, ketika saya membaca lembaran-lembaranya, saya kok merasa seperti membaca sebuah buku pelajaran agama di sekolah. Bisa jadi ini karena adanya sistem penomoran pada semua judul tulisan –bahkan pada sub judul– yang mereka buat dan itu cukup mengganggu. Entahlah, apakah mereka sudah sepakat terlebih dahulu untuk membuat jenis tulisan seperti itu ataukah mereka memang memiliki ‘gaya’ penulisan yag memang seperti itu. Ketika berbicara soal ‘gaya’ maka hal itu adalah sesuatu yang kita sendiri tidak sadari lahir dengan sendirinya. Lantas, kalau memang begitu, apakah mereka mempunyai kesamaan ‘gaya’? Atau malah mencoba untuk menyamakannya? Sebenarnya, silakan saja bagi mereka yang ingin menulis dengan gaya apapun. Namun ketika itu harus berhadapan dengan jenis tulisan seperti tulisan yang mereka buat dalam buku ini, maka penulisnya layak untuk memikirkan tentang ‘pembaca’nya. Awalnya saya kira buku ini adalah sebuah buku kumpulan essei. Tapi ternyata saya kecele. Memang ada beberapa paragraf yang –saya kira– merupakan ide dari pikiran penulisnya. Membaca kelanjutannya, maka saya seperti dihadapkan pada kumpulan tulisan berbagai pendapat –terutama ulama– yang akhirnya dicoba rangkumkan oleh penulisnya. Lantas, tentang setiap topik yang diangkat oleh penulisnya yag berbeda-beda –kecuali Siti Zalikha H. Ibrahim dan Siti Radhiah H. Ridhwan Gapi yang berbicara tentang topik yang hampir sama– tetapi dalam penyusunannya seolah-olah antara satu toipk dengan topik lainnya berhubungan. Padahal kita boleh saja memulai membaca dari judul manapun yang kita inginkan . Topik pertama bukan berarti kita harus membaca topik itu terlebih dahulu. Bisa jadi hal ini karena adanya sistem penomoran seperti saya katakan di atas sehingga kesannya seperti bagian dari bab. Buku ini istimewa karena semua penulisnya santriwati Aceh. Pastilah mereka akan berbicara tentang perempuan dalam konteks Islam dan menghubungkan dengan budaya adat istiadat Aceh – kalau hal tersebut memungkinkan. Tapi lagi-lagi saya kecele, tak saya jumpai hal tersebut dalam tulisan mereka. Tak ada konteks ‘keacehan’ di sini. Bahkan Siti Zalikha H. Ibrahim harus jauh-jauh membandingkannnya dengan adat berpakaian ala rimpu daerah Sangaji Bima. Saya kira ada banyak konteks ‘keacehan’ di sekitar kita yang bisa diangkat dan ini akan menambah ‘keindahan’ isi buku. Mungkin yang diperlukan, penulis harus lebih ekstra ‘membaca’ tentang hal ini. Terlepas dari berbagai hal di atas, buku ini memang layak untuk menjadi rujukan. Wallahu’alam. Salam 
Sore yang indah menjadi lebih indah, terasa lebih nikmat dan menyenangkan, nikmatnya bukan karena banyaknya snack yang disediakan oleh panitia ataupun teh manis yang menjadi pelengkap sajian kecil itu. Tetapi karena diskusi hangat yang membahas tentang buku anak “Meunasah di Gampong Kamoe” yang ditulis oleh sastrawan Aceh, Sulaiman Tripa.
Kenikmatan itu justru menjadi lebih nikmat lagi saat “Meunasah di Gampong Kamoe” dibedah oleh seorang redaktur seni Koran Tempo yang juga seorang sastrawan Aceh yang saat ini menetap di ibu kota, siapalagi kalau bukan Mustafa Ismail yang tulisannya banyak kita jumpai dimana-mana, terutama yang menyangkut dengan sastra.
Selain Mustafa Ismail ada beberapa orang lagi yang namanya cukup popular dimasyarakat, yah…sebut saja seperti LK. Ara, penulis buku anak sekaligus pelopor tari Didong yang berasal dari Aceh Tengah, ada lagi Al Chaidar penulis buku Aceh Bersimbah darah yang berasal dari Lhokseumawe, juga sederet nama seperti D. Kemalawati, Din saja, Murizal Hamzah, Fardelyn Hacky Irawani, Alkaf dan Sulaiman Tripa selaku penulis yang sepertinya sangat ‘enjoy’ menikmati setiap kritikan dan masukan yang diberikan oleh para ‘eksekutor’ buku.
Membaca judulnya saja jelas tergambar pesan religi yang begitu kuat dari sang penulis untuk kembali mengajak para generasi muda Aceh agar back to meunasah, bukan apa-apa, sekedar menebak, barangkali inilah kegelisahan si penulis terhadap anak-anak muda Aceh yang kian hari kian jauh dari tata kehidupan islami yang bermuara dari meunasah atau madrasah.
Walau baru membaca sekilas, sepertinya buku tersebut enak dan ringan dengan gaya bahasa yang sederhana, yah…namanya juga buku anak-anak. Meskipun oleh pembedahnya dikatakan ada sebagaian kosakata yang tidak ‘kekanakan’ seperti halnya kata-kata galian C yang diucapkan oleh si tokoh Aku dalam cerita tersebut yang masih anak-anak, dan ada beberapa kosa kata lainnya, menurut saya ini bukanlah kesalahan yang berarti mengingat anak-anak sekarang daya nalarnya bahkan seringkali diluar fikiran orang-orang dewasa walaupun terkadang mereka tidak mengetahui apa yang mereka pikirkan.
Hal unik dan menarik lainnya dari buku ini adalah, cirri khas ke-Acehan yang sangat ditonjolkan oleh penulisnya. Mustafa Ismail sendiri mengakui, bahwa ada kosa kata-kosa kata yang telah dilupakan oleh banyak orang kembali ‘diingatkan’ oleh Sulaiman Tripa. Seperti halnya kata keujreun, meutiree dan lainnya.
Sebagai penulis yang telah terbiasa dengan buku-buku berat, karyanya yang satu ini saya kira patut diberi acungan jempol, karena, meski kita pernah menjadi anak-anak, tetapi membuat cerita anak itu tidaklah mudah, sebagai orang dewasa yang berusaha menyelami dunia anak-anak sangatlah sulit, jadi wajar saja jika ungkapan seperti galian C, atau kata dominan ikut terbawa dalam cerita.
Tidak ada gading yang tidak retak, buku sesempurna itu tetap saja ada celah untuk menjadi tidak sempurna, kecil sekali, seperti misalnya bahasa daerah yang tidak dicetak miring, atau tidak adanya foot notes atau catatan kaki sehingga ini mungkin agak sedikit menyulitkan bagi pembaca yang tidak mengerti bahasa Aceh. Tapi itu tentu saja bisa direvisi kembali.
Akan lebih sempurna lagi jika buku ini ada disetiap sekolah-sekolah dasar, karena selama ini buku anak-anak banyak yang ditulis oleh penulis dari luar Aceh, sehingga ketika dibaca oleh anak-anak Aceh secara tidak langsung akan ikut mempengaruhi pola pikir mereka juga bisa mengakibatkan lunturnya budaya local. Terus terang, saya iri dengan Sulaiman Tripa, produktif sekali. Salut Bang!!!
DISKUSI BUKU SULAIMAN TRIPA DI LAPENA
LAPENA (Institute for Culture and Society) Banda Aceh, Senin (26/2) sore membahas buku cerita anak yang ditulis Sulaiman Tripa berjudul “Meunasah di Gampong Kamoe”. Pembedah buku dalam kegiatan yang berlangsung di Sekretariat Lapena, Lamnyong tersebut, Mustafa Ismail, Redaktur Seni Koran Tempo, Jakarta.
Kegiatan diskusi ini diikuti oleh berbagai kalangan. Terlihat antara lain LK Ara, Dr Saleh Syafei, Zulfikar Sawang, Saiful Bahri, Wina Sw1, D Kemalawati, Din Saja, Al Chaidar, Fairus M Nur, Salman Yoga, Murizal Hamzah, Chuni, Syarifuddin Abe, Ihan Sunrise, dan beberapa penulis, guru, mahasiswa dari Banda Aceh.
Dalam kesempatan itu, Mustafa Ismail mengatakan, bahwa buku Sulaiman Tripa, menggarap tema yang menarik, dengan bahasa yang cukup mengalir. “Ada beberapa hal yang tiba-tiba dilupakan oleh penulis saat menulis cerita ini, ketika tokoh cerita sudah memaparkan hal-hal yang berat bagi anak-anak, semisal galian c, dampak lingkungan dan sebagainya. Mungkin menarik kalau masalah lingkungan, digambarkan saja bila membuang sampah maka menjadi kotor dan bisa sakit,” kata Mustafa, yang juga seniman Aceh di Jakarta itu.
Di sinilah kelemahan Sulaiman Tripa, ketika ia sebagai narrator tidak bisa melepaskan seluruhnya bahwa saat itu ia harus berpikir dan bertindak seperti anak-anak. “Ini wajar karena buku ini adalah buku pertama dia tentang anak-anak. Kita kan mengenal Sulaiman Tripa itu sebagai penulis cerpen, novel dan esai. Malah dalam beberapa bagian, kebiasaan menulis esai itu juga terbawa dalam cerita ini,” ungkap Mustafa, yang menggambarkan bahwa sebagian cerita di dalam buku cerita anak ini sudah tidak lagi anak-anak.
Dalam struktur cerita, ini hampir mirip dengan cerita remaja. Lagi pula mirip dengan catatan harian, sambung Mustafa. “Konflik tidak digarap. Kalau pesan memang dalam. Ini harus kita akui. Tapi terlepas dari kelemahan itu, kita berharap Sulaiman terus menulis, karena cerita anak masih kurang di Aceh, namun jangan lupakan catatan-catatan tadi,” ujarnya.
Seniman Aceh, Din Saja yang juga memberikan pendapatnya mengatakan, memang ada beberapa hal yang penulis seperti kecolongan. “Namun saya tidak melihat buku Sulaiman Tripa ini terlalu berat untuk anak-anak. Saya tidak melihat itu, dan saya berbeda dengan Mus,” sebut Din Saja, yang mengatakan bahwa untuk pendidikan, justru ini tidak berat.
Seperti beberapa penanggap lain, seperti Harun Nun Rasyid (Guru), Anita BS (Guru), Wina Sw1 (Penyair), dan Saleh Syafei (Dosen FH Unsyiah), Din Saja mengatakan terdapat beberapa kesalahan ketik. Ini kesalahan teknis, seperti ada kata yang tinggal atau pelompatan judul. “Khusus untuk bahasa Aceh, di samping dibuat miring, juga seharusnya diberikan tanda, biar jelas dan menjadi pembelajaran. Dan ini penting,” sebut Murizal Hamzah, seorang Jurnalis di Banda Aceh.
“Sangat bagus bila ada pemetaan kelompok sasaran. Buku ini mungkin bisa menjajaki itu, untuk melihat apakah akan komunikatif untuk cerita anak,” sambung Saleh Syafei.
Penulis senior Aceh, LK Ara, mengatakan akhir-akhir ini sudah menyelesaikan dua cerita rakyat, yang berbeda dengan proses yang dilakukan Sulaiman Tripa. “Saya menulis dongeng Aceh untuk menjadi cerita. Sedangkan Sulaiman menggunakan kebebasan. Ini memang berat. Namun saya tidak tahu apa penulis menggunakan kebebasan yang dikembangkan, atau digunakan imajinasi sebebas-bebasnya,” ungkap LK Ara dengan nada bertanya.
Ia menawarkan penulis yang menulis cerita, untuk meminta anak-anak yang menjadi sasaran kelompok cerita untuk membaca buku cerita. “Kalau mereka mengerti, biasanya itu akan bagus. Selebihnya saya sangat bahagia dengan karikatur yang dipasang di buku Sulaiman Tripa. Sangat hidup,” katanya.
Sekretaris Dewan Kesenian Banda Aceh, Saiful Bahri mengatakan penting untuk kegiatan-kegiatan diskusi buku anak, untuk sesekali mengikutsertakan psikolog anak, karena cerita anak memang mengandung berbagai perkembangan yang menyangkut dengan si anak. Ini sangat penting, katanya, yang diiyakan oleh beberapa peserta diskusi.
Menanggapi semua masalah, Mustafa Ismail menjelaskan bahwa kategori cerita penting. “Kita membayangkan anak-anak yang umumnya, kebiasaan. Ada memang anak-anak yang bacaannya lebih. Anak saya baru Kelas 3 SD, tapi sudah baca Novel ibunya yang tebal sampai ratusan halaman, itu sudah dibaca habis. Beberapa waktu lalu dia baca buku cerpen Hamsad Rangkuti yang habis dibaca dalam dua malam. Tapi ia tetap sebagai anak, dan kalau keseharian ia berproses dengan dunia anak, walau bacaannya lebih,” jelas Mustafa, yang juga suami Dianing WY, penulis perempuan yang karyanya “Perempuan Pencari Tuhan” sedang dimuat secara bersambung di Republika.
Kepala Divisi Penerbitan Lapena, D Kemalawati mengatakan bahwa buku Sulaiman Tripa merupakan buku ke-9 yang diterbitkan Lapena, dalam ditargetkan akhir tahun 2007 akan mencapai 14 buku. “Dalam buku ini ada beberapa kesalahan ketik, kami mohon maaf. Yang penting, hasil diskusi ini bisa menjadi pengalaman bagi semuanya. Sengaja Sulaiman Tripa tidak berbicara, karena teks ini memang sudah menjadi milik kita yang hadir,” kata Kemalawati, yang pada 2 April mendatang, bertepatan dengan ulang tahunnya, akan meluncurkan buku baru bersama Sulaiman Tripa. Mereka memiliki tanggal lahir yang sama.[]
Yth, teman-teman:
Lapena (Institute for Culture and Society) Mengundang semua yang berkenan hadir pada peluncuran dan bedah buku "Pada Tikungan Terakhir" karya Musmarwan Abdullah, besok, Selasa (13 Februari 2007) pukul 09.30 WIB di Aula Pustaka Wilayah Aceh, Jln T Nyak Arif Lamnyong Banda Aceh.
Pembedah, Ahmadun Yosi Herfanda (Redaktur Harian Republika), Moderator Fauzan Santa (Kepala Sekolah Dokarim), Baca Cerpen Erwinsyah.
Terima kasih sebelumnya.
Salem,
Lapena
Diskusi Buku Adat Laot di Aceh Institute
FORUM Diskusi Terfokus (FDT) Kebudayaan The Aceh Institute, melakukan diskusi buku “Selama Kearifan adalah Kekayaan: Eksistensi Adat Laot dan Panglima Laot di Aceh” yang ditulis M Adli Abdullah, Sulaiman Tripa, dan T Muttaqin, yang berlangsung di Balee Seumikee Aceh Institute, Jumat (9/2).
Dalam acara yang dibedah oleh Prof Dr Syahrizal Abbas, guru besar IAIN Ar-Raniry yang pernah menulis buku “Hukum Adat di Indonesia”, hadir sejumlah penulis, aktivis LSM, mahasiswa, dan sejumlah akademisi.
Dalam kesempatan itu, Prof Syahrizal mengungkapkan, bahwa adat laot, merupakan entitas masyarakat Aceh, khususnya masyarakat pesisir. “Dalam konteks masyarakat pesisir, ada laot sebagai sesuatu yang mengikat mereka, sesuatu yang dijunjung dan dipatuhi, karena ternyata, adat laot membawa kesejahteraan bagi masa depan kehidupan mereka,” kata Syahrizal, dalam diskusi yang dimoderatori Muhammad Alkaf dari Aceh Institute.
Lebih lanjut, Syahrizal mengatakan bahwa dalam buku tersebut, ada filosofi yang mendalam dari ayat Al-Quran, yakni munculnya kerusakan di darat dan di laut berasal dari ulah manusia. “Ini terlihat dalam beberapa esensi buku ini. Adat laot, itu sebagai sesuatu yang disepakati, bahwa adat mengatur semuanya seperti alat penangkapan ikan yang bijaksana, yang ramah lingkungan, yang tidak menganggu ekosistem, agar bibit-bibit ikan tidak habis. Itu diatur. Dan itu membawa manfaat bagi kehidupan mereka, tak hanya masyarakat di pesisir, tapi juga masyarakat secara umum. Inilah yang saya maksudkan hukum adat laot sebagai entitas yang melekat dalam manusia dalam konteks berhubungan dengan lingkungannya,” jelas Syahrizal.
Ada nilai ang menyatu, nilai adat, filosofi itu sebenarnya dalam konteks adat laot. Semua itu, menurut Syahrizal, adat laot menggunakan pendekatan komunitas, basic community. Menurutnya, ini berangkat dari filosofi bahwa berbicara adat adalah berbicara komunal, selain membicarakan tentang religiusitas.
Pembantu Dekan I Fakultas Syariah itu mengatakan, ikatan yang mengikat para nelayan, itu dalam konteks ikatan komunal. “Kalau ada satu nelayan, mengingkari dari ketentuan yang terlah ditentukan atau tak mengikuti, misalnya dengan menggunakan alat pancing yang tak sesuai, bom, itu ada sanksi adat laotnya. Ini menandakan, bahwa kalau ada satu orang yang bermasalah, itu dianggap masalah semua dan itu akan menganggu keseimbangan. Itulah esensi hukum adat komunalitas,” Syahrizal menjelaskan, bila ada yang menebang pohon di pesisir, bukan hanya ekosistem yang rusak, tapi juga nilai-nilai komunal juga akan rusak.
Apa yang dibangun dalam masyarakat Aceh, di laut, hutan, sawah, ada nilai filosofi, yakni manusia adalah bagian dari alam. Ini filosofi adat. Kalau dirujuk lebih dalam, filsafat misalnya, keberadaan manusia bagian tak terpisahkan dengan alam. “Jadi kalau ada orang merusak hutan, ekosistem, laut, itu sebenarnya merusak dirinya sendiri. Jadi hukum adat laot itu mengatur hal-hal seperti itu. Kita harus memberi kesempatan bibit ikan berkembang biak,” jelasnya panjang lebar, yang juga menyebutkan bahwa bila dikaitkan dengan hukum lingkungan, misalnya, eksistensi adat laot sungguh luar biasa.
Isi yang diungkapkan dalam buku ini merupakan hal-hal penting untuk diketahui. Dan ini memang harus menjadi kajian akademisi ke depan untuk menggalinya lebih jauh. “Banyak hal yang tentu harus dilihat dengan analisis yang lebih dalam. Dalam buku ini menjelaskan misalnya tentang khanduri laot. Menurut saya, seperti dijelaskan dalam buku ini, bukan hanya berkaitan dengan makan dan minum dan rutinitas. Khanduri laot itu sebagai bentuk rasa syukur kepada Pencipta, ini juga bisa ditangkap dalam konteks agama. Kemudian khanduri juga bisa sebagai jalinan atau ikatan sosial, kalau ada persoalan diselesaikan saat khanduri. Juga sebagai wahana untuk bertemu,” ujarnya.
Ada hal yang menarik, menurutnya, dalam konteks panglima laot ke masa. Khususnya yang berkaitan dengan orang-orang yang dipilih untuk mengurus adat laot, itu salah satunya adalah orang yang mampu meredam emosional. Kalau menurut Prof Hakim Nya Pha seperti yang dikutip dalam buku ini, bahwa oran-orang yang mengurus adat ini adalah orang-orang yang arif.
Prof Syahrizal memberi penekanan, bahwa untuk menjadi panglima laot memang hanya nelayan semata, tidak boleh yang bukan nelayan. Walaupun ada orang lain yang lebih pandai, tidak boleh menjadi panglima laot.
Menyangkut orang-orang temperamental, Syahrizal melihat bahwa pengaruhnya dari alam yang mengajarkan, suara gelombang laut membuat pelaut harus bersuara keras, kalau tidak akan hilang suaranya. Barangkali, ini juga terbawa dalam pertemuan-pertemuan gampong. Tapi yang jelas, lingkungan mengajarkan mereka untuk keras suara agar bisa menyaingi suara gelombang. “Saya yakin, hati mereka tidak seperti itu. Itu hanya proses alam yang tidak sampai kepada hati, karena hati masyarakat pesisir juga lembut-lembut,” jelasnya.
Satu kekurangan yang penting juga dikampanyekan adalah pemahaman terhadap adat laot. Hal ini dilakukan sebelum dilakukan revitalisasi dan penegakan hukum adat laot. “Ini penting dilakukan, agar orang-orang di Aceh mengetahui dan memahami hal-hal yang berkaitan dengan adat laot. Dan itu perlu dilakukan sosialiasi,” katanya, yang menyebut, buku ini sudah termasuk bagian dari membangun komunal secara cerdas.
Menjawab pertanyaan peserta, Prof Syahrizal menyebutkan tentang system hukum di Indonesia. Menurutnya, hukum dalam konsep dogmatis doktrin, harus didukung oleh living law. “Banyak masalah sekarang timbul dan ternyata tidak bisa selesai hanya mengandalkan dogmatis doktrin. Orang-orang juga cenderung ada sisa masalah ketika di pengadilan, ketimbang dengan proses mediasi atau penyelesaian sengketa alternatif. Sebenarnya kearifan lokal sudah mengajarkan kita banyak hal,” dmikian Prof Syahrizal.[]
| |