
BACA DUA TAHUN TSUNAMI, LAPENA (INSTITUTE FOR CULTURE AND SOCIETY), 25 DESEMBER 2006
IKLAN
> > > Sulaiman Tripa
INI adalah cerita. Bukan cerita pendek. Tapi cerita yang tak putus-putus sampai kapanpun.
Akhirnya kusadari, bahwa iklan itu begitu penting. Perjalanan gampong duka itu masih terombang-ambing hingga kini: setelah 24 bulan berlalu; melewati sekitar 103 minggu; pasca 729 hari; 17.487 jam sudah; sekitar 1.049.760 menit, lebih dari 61.985.600 detik
Rusak parah yang terlihat dengan mata, ada korban 210 jiwa menurut pendata, butuh 71 triliun menurut ekonomi dengan kalkulasi matematika.
Ada selentingan, dalam jangka waktu itu, sudah dilakukan lebih dari 14.000 pertemuan, rapat, workshop, atau apapun namanya, oleh berbagai elemen. Jadi, dengan memakai rumus Matematika, dengan 17.487 jam yang sudah kita lewati, satu pertemuan, rapat, workshop, dan sebagainya, menghabiskan waktu sekitar 1,1 jam.
Tapi sudah sekian lama, banyak masalah yang masih tersisa. Semua seperti tersentak, bahwa tak hanya soal rumus Matematika. Butuh waktu, menurut mereka yang mengelola, padahal asa tak elok ditunggu terlalu lama. Menunggu adalah pekerjaan membosankan. Tak mengenakkan. Padahal mimpi sudah duluan datang, dengan berita ada bala bantuan yang datang dari mana-mana.
Cerita ini, untuk memperteguh ingatan, bahwa ada masyarakat di Indonesia, sama seperti masyarakat Amerika atau Eropa yang dengan segera menyumbangkan sebagian rezekinya agar orang tak tersiksa. Ketika tangan mereka mendekati pundi, ada harapan, biar semua masalah cepat selesai.
Tapi, kuberitahukan pada kawom-keurabat, ternyata bantuan sebungkus mie instan, sebotol air mineral, sebiji permen, sebuah boneka, secarik kertas, sepotong pena, tidak seperti orang melempar sebiji kerikil yang bisa dilempar dari ujong jurong tunong ke ujong jurong baroh.
Akhir-akhir ini, baru kusadari, bahwa sebuah bantuan, bagaimanapun kecilnya, akan melewati berbagai proses.
Entah kita pernah membayangkan betapa kumpulan bantuan dari orang-orang sudah bisa memperkerjakan begitu banyak orang di tanah Aceh, dengan fasilitas dan insentif yang beragam.
Selain orang yang bekerja, ada juga yang para perasa: menjual rumah, datang ke sana dengan membuka tabungan, datang menyumbang tenaga, ini adalah sukarelawan, yang bekerja dengan tulus tanpa imbalan.
Pada saat yang sama, kita juga melihat di sekeliling mereka, ada yang lain yang bernama para pekerja.
Dalam kepungan para pekerja, butuh berbagai media. Di samping berita, ada yang bernama pariwara. Tapi adakah yang mencoba-coba menghitung, dalam 729 hari itu, berapa ruang media yang sudah dipakai untuk pariwara yang dipasang oleh berbagai lembaga?
Mudah saja, bila itu didapat, tinggal gunakan rumus matematika untuk menghitung satu media berapa, lalu menghasilkan angka besarnya. Silakan lihat angka dana yang di sana, lalu kurangi dengan anggaran pariwara dan pekerja, berapa persen yang tersisa?
Itulah iklan. Menyambut pembangunan kembali tanah harapan –sekaligus garapan itu, butuh informasi-informasi yang umumnya, berkisah tentang keceriaan.
Namun di sekitar kita, masih ada iklan-iklan dukacita di tengah kepungan iklan-iklan yang bersukacita. Iklan seperti itu biasanya jarang mendapat perhatian. Apalagi bila sebuah iklan pencarian anggota keluarga korban disandingkan dalam satu halaman dengan iklan lowongan kerja.
Kalau lembaga yang sedang memberitahukan entah informasi apa, mampu dibayar karena memang ada disediakan dana. Lalu, siapa yang akan membiayai iklan-iklan untuk orang yang masih berduka?
Padahal banyak orang yang menjadi korban masih tinggal di barak. Kalau ditanya, mereka juga kepingin memasang iklan sebagaimana iklan-iklan yang dipasang oleh berbagai pencari tenaga kerja.
Wahai kawom keurabat, kegelisahan saya mungkin sangat subjektif. Maafkan kalau tak berkenan.
Seperti yang kukatakan dari awal, ini bukanlah cerita pendek, tapi cerita yang tak akan pernah putus selama kehidupan masih berdenyut.
Ada doa, agar tak ada yang menjadikan tanah bencana, di mana pun, sebagai tanah garapan, karena yang akan muncul justeru masalah baru yang mahadahsyat di kemudian hari.
Sepertinya, semuanya akan maklum.
Lamnyong, 25 Desember 2006.
