sulaiman's Site, Jak Piyoh

ReviewReviewReviewSintrenApr 12, '07 11:42 PM
for everyone
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Dianing WY
Bintang yang Digilai dan Dicerca
————–
Sumber berita:
Suara Pembaruan, 1 April 2007
————–

Judul Buku: Sintren
Penulis: Dianing Widya Yudhistira
Penerbit: PT Grasindo
Cetakan: 2007
Tebal: 295 halaman

Saraswati, seorang murid cerdas dari keluarga miskin, terpaksa menuruti permintaan ibunya untuk menjadi seorang sintren, karena gagal menikah dengan kirman, anak juragan Wargo. Dalam hitungan, Saraswati, dengan menjadi sintren dirinya bisa ikut membiayai sekolahnya.

Apa lacur yang terjadi justru ia menerima cercaan dari lingkungannya. Meski usianya baru 13 tahun, semenjak menjadi sintren, Saraswati semakin menunjukkan pesonanya sebagai pujaan lelaki-baik yang bujangan maupun yang sudah beristri; dari segala lapis-an dan golongan-sehingga ia menjadi pusat hinaan kaum istri.

Saraswati juga menyebabkan seorang gurunya, Ibu Kartika, memilih mengakhiri hidupnya karena tak bisa menerima kenyataan mantan kekasihnya menjadi gila lantaran cintanya bertepuk sebelah tangan pada Saraswati.

Sintren Saraswati benar-benar bak bintang yang sedang bersinar terang. Tetapi, mengapa akhirnya ia hanya bersedia menerima lamaran duda tua-yang tak sempat menyentuhnya karena keburu meninggal? Pun, ketika ia memutuskan menikah lagi, mengapa suami-suami berikutnya juga menemui nasib serupa, meninggal dalam hitungan sehari setelah masa pernikahan? Apa penyebabnya dan mengapa pula kemarahan kaum istri memuncak hingga berniat membakar rumahnya? Dianing Widya Yudhistira, pengarang yang produktif mencipta puisi dan cerita pendek, menceritakannya dengan gaya bahasa lisan yang sangat memikat. [Lenny, mahasiswa STT Jaffray]

link:
http://www.suarapembaruan.com/News/2007/04/01/index.html


ReviewReviewReviewFiqh Ibadah (Jawoe)Mar 11, '07 6:47 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Nonfiction
Author:Teungku Muhammad Yahya Abubakar Samalang
Lapena Bedah Buku Bahasa Jawoe

Banda Aceh, acehmagazine.com
Lapena (Institute for Culture and Sociaty) Banda Aceh meluncurkan dan membedahkan buku yang ditulis dalam bahasa Jawoe alias tulisan Arab-Melayu di Aula Pustaka Wilayah Aceh, Sabtu (10/3). Buku berjudul Fiqih Ibadah yang ditulis oleh Teungku M Yahya Aabubakar Samalangan ini dibedah oleh Ketua Majelis Pemusyawaratan Ulama Teungku Muslim Ibrahim dan M Yacob Ali tokoh dayah dari Pidie. “Buku ini nyaris sempurna. Patut diedarkan ke seluruh dayah di Aceh,” puji Muslim dihadapan puluhan peserta bedah buku.

Nada senada juga disampaikan oleh M Yacob yang menilai penulis memasukan hal-hal baru seperti persoalan parfum. Namun di sisi lain, pembedah juga menyinggung kesalahan penulisan pada beberapa halaman. Misalnya, pada pembukaan tidak tertulis ucapan basmallah. Seorang peserta Sayed mempersoalkan mengapa tidak dicantumkan nama penulis di sampul depan buku berwana hijau ini. “Menyangkut tidak tertulis nama penulis di sampul depan, ini kebiasaan penulis di masa dulu agar tidak takabur,” duga T Safir Iskandar Wijaya, dosen IAIN Ar-Raniry.

Direktur Eksekutif Lapena Helmi Hass menuturkan, buku ini layak diterbitkan dan diluncurkan karena membahas hal-hal penting yang dibahas dengan menarik. Helmi menyatakan, buku ke 10 yang diterbitkan oleh Lapena ini ditulis dengan bahasa yang indah. “2 April mendatang, kembali Lapena meluncurkan tiga buku sastra yang ditulis oleh Sulaiman Tripa, D Kemalawati dan Helvy Tiana Rosa,” jelas Helmi kepada acehmagazine.com.

Buku ini terdiri dari 10 bab, 133 pasal dan 145 halaman ini membahas detail tentang pedoman melaksanakan shalat, puasa, zakat dan kaifiyat haji-umrah. Buku ini diterbitkan atas dukungan BRR Aceh-Nias. Penulis buku ini M Yahya berasal dari pengajian Ta’lim Al-Sunnah Gampong Sangso Kecamatan Samalanga Bireun. (rizal)

dari
http://www.acehmagazine.com/index.php?action=HotNews&no=arf335


ReviewReviewReviewFiqih Ibadah (bahasa jawoe)Mar 8, '07 6:03 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Nonfiction
Author:Teungku M. Yahya Abubakar Samalanga
Lapena (Institute for Culture and Society) Banda Aceh, akan meluncurkan buku pada hari Sabtu, 10 Maret 2007, Pukul 9.30-12.30, bertempat di Aula Perpustakaan Wilayah Provinsi NAD, Lamnyong Banda Aceh.

Diskusi buku, akan menghadirkan Teungku Muslim Ibrahim (Ketua MPU ACeh) dan Teungku M. Yacob dari Groeng-Groeng, Pidie.

Mohon kehadiran siapa saja yang berkenan.

Salam,

ST


ReviewReviewReviewWanita dan IslamMar 8, '07 5:56 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Nonfiction
Author:Siti Zalikha, dkk
Eqi (http://fardelynhacky.multiply.com/tag/buku), kuambil punyamu ya... (enak aja kiks kikss....)

WANITA & ISLAM: Sebuah Telaah tentang Kedudukan Perempuan dalam Islam
Oleh: Fardelyn Hacky Irawani*

Buku yang berjudul “WANITA & ISLAM ini adalah buku kumpulam tulisan santriwati dayah salafiyah di Aceh. Ada enam santriwati yang ikut menyumbangkan tulisannya dalam buku ini antara lain: Siti Zalikha H. Ibrahim, Azizah Muhammad, Junaidah Mahmud, Maisarah H. Muhammad, Siti Radhiah H. Ridhwan Gapi, dan Safrida Hamdani. Buku ini diterbitkan pertama kali oleh penerbit LAPENA bekerjasama dengan Sartker BRR Pemulihan dan Peningkatan Kualitas Kehidupan Keagamaan NAD-Nias Desember 2006.

Saat mengikuti peluncurannya pada tanggal 13 Januari 2007 lalu, itu pertama kali saya melihat langsung buku yang berkover warna hijau tersebut. Seharusnya jauh-jauh hari saya mendapatkannya karena ternyata pada hari peluncurannya, dibuat pula acara bedah bukunya.

Hmm, sepertinya buku ini menarik. Begitu komentar saya saat melihat kover buku tersebut. Sungguh cantik. Warna hijau cerah dengan ilustrasi seorang perempuan cantik berkerudung. Tapi, don’t judge a book by it’s cover, begitu petuah lama. Maka sambil tetap mengikuti sesi bedah buku, saya mencoba membolak-balik lembaran-lembaran buku tersebut. Meski kemudian buku tersebut baru tuntas saya baca ketika saya sampai di rumah, tapi secara garis besar saya telah mempunyai gambaran tentang isi buku ini pada saat dibedah oleh para praktisi akedemisi dari Unsyiah dan IAIN Ar-Raniry.

Ada banyak sekali masukan dan kritikan terhadap buku ini. Terlebih lagi semua penulisnya adalah para penulis pemula. Lalu setelah saya tuntas membacanya di kemudian waktu, ’rasa’ yang saya punya terhadap buku ini tidaklah jauh berbeda dari ’rasa’ yang pernah disampaikan oleh para narasumber dan peserta bedah buku tersebut.

Buku ini diawali dengan kata pengantar dari penerbit LAPENA yang dalam hal ini diwakili oleh para penyunting buku: Helmi Hass, Sulaiman Tripa, Mohd. Harun Al Rasyid dan D. Kemalawati, juga tak lupa pengantar dari ’petinggi’ BRR kita Bapak Hasan Basri M. Nur.

Keenam penulis santriwati ini menulis tentang dunia perempuan dalam Islam. Tentang jilbab, aurat perempuan, warisan, hubungan pria dengan perempuan dan poligami. Masing-masing mempunyai gaya tersendiri dalam menyampaikan pendapat dan pandangannya.

Siti Zalikha H. Ibrahim dengan judul tulisannya “Islamikah Tradisi Jilbab Kita?” membahas tentang konsep jilbab, kerudung dan selendang, di mana para ulama mempunyai pendapat yang berbeda tentang hal ini. Perbedaan pendapat tersebut hanya tentang persoalan mengulurkan jilbab ke seluruh tubuh. Sementara tentang hukum berjilbab, penulis menekankan –dengan berbagai sumber akurat– bahwa hal tersebut bukanlah persoalan khilafiah (perbedaan pendapat), karena hal ini jelas-jelas perintah dari Allah sebagaimana yang tercantum dalam Al Qur’an. Selain menguraikan tentang beberapa fungsi jilbab untuk perempuan, penulis juga menguraikan tentang tradisi berjilbab masa kini. Ada bermacam corak. Dari yang syar’i hingga yang tidak syar’i. Perempuan masa kini boleh berjilbab dengan mengikuti model dan bentuk jilbab yang berlaku di masyarakat saat ini selama tidak bertentangan dengan ajaran islam yang sebenarnya, begitu tulis Siti Zalikha H. Ibrahim. Untuk hal ini, penulis mencontohkan bagaimana tradisi berpakaian perempuan-perempuan di bumi Sangaji Bima yang disebut rimpu, di mana cara mereka berpakaian sangat unik; mengikuti prinsip jilbab, bentuk dan modelnya sama seperti kain sarung, satu dipakai di bagian atas dan satu lagi dipakai di bagian bawah. Hal ini tentu saja sudah tidak cocok lagi dipakai untuk saat ini.

Azizah Muhammad dengan judul tulisannya ”Hak Wanita dalam Pembagian Warisan” banyak membahas tentang ahli waris, kadar harta warisan yang diperoleh perempuan, dan hikmah mengapa perempuan hanya mendapat sebagian harta warisan. Tentang hikmah ini, Azizah dengan konkret memberikan penjelasan bahwa terdapat perbedaan peran laki-laki dan perempuan setelah mereka menikah. Perempuan akan menjadi tangung jawab suaminya sementara laki-laki akan menjadi pencari nafkah untuk keluarganya.

Junaidah Mahmud dengan judul tulisannya “Hubungan Pria dan Wanita dalam Perspektif Islam” membahas lebih jauh tentang hubungan antara pria dan wanita yang bukan mahram dan pergaulan suami istri. Maisarah H. Muhammad dengan judul tulisannya “Poligami dan Hak Keistimewaan dalam Islam” banyak menulis hal-hal apa saja yang menyangkut poligami dalam Islam. Siti Radhiah H. Ridhwan Gapi menulis tentang “Jilbab dan Aurat Wanita dalam Konteks Islam” dan terakhir tulisan Safrida Hamdani yang berjudul “Keutamaan Wanita Salehah dalam Islam”.

Hmm, sebagai penulis yang mengaku baru pertama kali menulis, saya cukup ‘terkesima’ dengan adanya buku kumpulan tulisan ini. ‘Terkesima’ karena ternyata mereka bisa menulis tema-tema tentang ‘keperempuanan’ yang bisa jadi itu bagian dari kehidupan mereka. Lebih dari itu, sumber rujukan tulisan yang memang cukup komplit dan panjang yang bisa jadi merupakan bacaan yang sudah biasa mereka ‘santap’ selama mereka berada di lingkungan dayah.

Buku yang tebalnya 179 halaman ini boleh jadi akan menjadi rujukan bacaan bagi kaum perempuan yang ingin mengetahui lebih banyak tentang dunia keperempuanan dalam Islam. Bahasanya yang ringan dan tidak bertele-tele membuat buku ini enak dibaca.

Namun, entah kenapa, ketika saya membaca lembaran-lembaranya, saya kok merasa seperti membaca sebuah buku pelajaran agama di sekolah. Bisa jadi ini karena adanya sistem penomoran pada semua judul tulisan –bahkan pada sub judul– yang mereka buat dan itu cukup mengganggu. Entahlah, apakah mereka sudah sepakat terlebih dahulu untuk membuat jenis tulisan seperti itu ataukah mereka memang memiliki ‘gaya’ penulisan yag memang seperti itu. Ketika berbicara soal ‘gaya’ maka hal itu adalah sesuatu yang kita sendiri tidak sadari lahir dengan sendirinya. Lantas, kalau memang begitu, apakah mereka mempunyai kesamaan ‘gaya’? Atau malah mencoba untuk menyamakannya? Sebenarnya, silakan saja bagi mereka yang ingin menulis dengan gaya apapun. Namun ketika itu harus berhadapan dengan jenis tulisan seperti tulisan yang mereka buat dalam buku ini, maka penulisnya layak untuk memikirkan tentang ‘pembaca’nya.

Awalnya saya kira buku ini adalah sebuah buku kumpulan essei. Tapi ternyata saya kecele. Memang ada beberapa paragraf yang –saya kira– merupakan ide dari pikiran penulisnya. Membaca kelanjutannya, maka saya seperti dihadapkan pada kumpulan tulisan berbagai pendapat –terutama ulama– yang akhirnya dicoba rangkumkan oleh penulisnya.

Lantas, tentang setiap topik yang diangkat oleh penulisnya yag berbeda-beda –kecuali Siti Zalikha H. Ibrahim dan Siti Radhiah H. Ridhwan Gapi yang berbicara tentang topik yang hampir sama– tetapi dalam penyusunannya seolah-olah antara satu toipk dengan topik lainnya berhubungan. Padahal kita boleh saja memulai membaca dari judul manapun yang kita inginkan . Topik pertama bukan berarti kita harus membaca topik itu terlebih dahulu. Bisa jadi hal ini karena adanya sistem penomoran seperti saya katakan di atas sehingga kesannya seperti bagian dari bab.

Buku ini istimewa karena semua penulisnya santriwati Aceh. Pastilah mereka akan berbicara tentang perempuan dalam konteks Islam dan menghubungkan dengan budaya adat istiadat Aceh – kalau hal tersebut memungkinkan. Tapi lagi-lagi saya kecele, tak saya jumpai hal tersebut dalam tulisan mereka. Tak ada konteks ‘keacehan’ di sini. Bahkan Siti Zalikha H. Ibrahim harus jauh-jauh membandingkannnya dengan adat berpakaian ala rimpu daerah Sangaji Bima. Saya kira ada banyak konteks ‘keacehan’ di sekitar kita yang bisa diangkat dan ini akan menambah ‘keindahan’ isi buku. Mungkin yang diperlukan, penulis harus lebih ekstra ‘membaca’ tentang hal ini.

Terlepas dari berbagai hal di atas, buku ini memang layak untuk menjadi rujukan. Wallahu’alam.

Salam


ReviewReviewReviewMeusyenFeb 15, '07 5:09 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Anak Aceh
Meusyen

Anak-anak Aceh, sedang berusaha menulis cerita sendiri dalam buku ini. Dengan segala kelebihan dan kekurangan, buku ini sudah menampakkan warnanya yang luar biasa. Seperti judulnya, Meusyen, mereka seperti ingin memperbanyak sastrawan di Aceh.

Yang tulis, sangat muda-muda. Terus-terang, itu membuatku bangga. Ada Alimuddin, Fardelin (Eqi), Ferhat, dll.

Aku bahagia melihatnya, apalag diluncurkan di suasana yang tenang di Ulee Kareng, Rabu (14 Februari 2007) malam, bersama 4 judul buku lainnya. Hebat, selamat untuk semuanya!

ReviewReviewReviewSangat...Feb 8, '07 5:39 AM
for everyone
Category:Other
Kliping, Menyedihkan

Serambi Indonesia, 30 Desember 2006

Sama-sama “Menggarap” Wanita Belia
Ayah dan Anak Diserahkan ke Polisi

[ rubrik: Serambi | topik: Kriminalitas ]


LHOKSEUMAWE - Dinas Syariat Islam Kota Lhokseumawe
menyerahkan dua laki-laki (ayah dan anak) ke pihak
kepolisian karena diduga telah melanggar Qanun
Syariat Islam Nomor 14 Pasal 22 tentang Khalwat.
Menurut laporan masyarakat, ayah dan anak tersebut
sama-sama telah melakukan perbuatan yang sangat
aib yaitu berhubungan badan dengan seorang wanita
belia yang masih duduk di kelas III SMP.


Kepala Dinas Syariat Islam Lhokseumawe, Drs Murad
AB mengakui baru pertama sekali pihaknya menangani
kasus yang begini rupa. Sedangkan warga Batuphat
Barat, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe yang
merupakan tempat kejadian merasa sangat
dipermalukan dan mereka tak henti-hentinya
beristighfar jika mengingat kejadian itu. Kasus
perselingkuhan “dua lawan satu itu” terungkap
berdasarkan laporan masyarakat kepada Wilayatul
Hisbah (WH) Lhokseumawe. Masyarakat meminta WH
menjemput ketiga o rang pelanggar syariat Islam di
desa mereka, yaitu dua orang laki-laki, Sul (48)
bersama anaknya Muh (23) dengan seorang wanita
belia, El (19). Sul memiliki empat orang istri
bahkan sudah bercucu. Sedangkan Muh juga tak
lajang lagi, tetapi memiliki seorang istri dan
seorang anak.

Laporan masyarakat direspon oleh pihak Dinas
Syariat Islam dan mengirim WH untuk menjemput
ketiga orang tersebut pada pukul 21.30 WIB, Kamis
(28/12). “Ketiganya mengakui perbuatan mereka.
Karenanya, Dinas syariat Islam segera menyerahkan
mereka ke polisi untuk ditindaklanjuti. Kasus
begini rupa baru kali ini kita tangani,” kata
Kadis Syariat Islam Lhokseumawe. Murad
menjelaskan, masyarakat menyerahkan kasus ini
kepada Dinas Syariat Islam karena tak mampu lagi
menanganinya sekaligus untuk menghindari
terjadinya hal-hal yang tak diharapkan. Bahkan,
ayah kandung dari wanita belia tersebut sangat
mendukung kasus itu diproses secara hukum.

Beberapa pekan lalu, menurut ayah kandung El,
pihak keluarga telah melakukan pertemuan dengan
Muh, dan meminta laki-laki itu mempersunting
anaknya. Waktu itu Muh menyanggupi mahar satu
Quran, namun orangtua si perempuan menolak dan
harus seperangkat tempat tidur. Bahkan, dalam
pertemuan kedua, si laki-laki malah meminta
maharnya menjadi Rp 100.000. “Langsung saja saya
tolak,” tandas ayah wanita tersebut.

Makin heboh

Pada pertemuan ketiga, Rabu 19 Desember 2006,
keluarga El semakin terpukul karena kasus itu
ternyata ikut melibatkan Sul yang tak lain adalah
ayah dari Muh. Keterlibatan Sul diketahui langsung
oleh pihak keluarga berdasarkan pengakuan El
sendiri. Selanjutnya, kasus ketiga manusia ini
dilimpahkan ke pihak desa.

Pimpinan bersama tokoh-tokoh masyarakat Desa
Bautuphat Barat telah berusaha maksimal untuk
menyelesaikan kasus yang melibatkan dua laki-laki
dan satu wanita yang dinilai sangat aib ini.
Tetapi karena tak tercapai titik temu, akhirnya
masyarakat melimpahkan ke Dinas Syariat Islam.

Pengakuan ketiga pelaku

Kepada Serambi, Muh mengaku telah berbuat dosa
besar sebanyak dua kali dengan El yang dilakukan
di pekarangan rumahnya pada malam hari. Tapi,
menurut Muh, hal itu dilakukan tanpa ada
pemaksaan. “Itu terjadi sebelum bulan puasa lalu.
Saya siap bertanggungjawab,” kata Muh. Sedangkan
Sul (ayah dari Muh) juga mengaku telah melakukan
perbuatan itu sebanyak dua kali dalam dua bulan
terakhir. Napsunya disalurkan di rumah sendiri,
juga tanpa ada pemaksaan. “Saya siap untuk
bertanggung jawab,” ujar laki-laki beristri empat
tersebut. Pengakuan juga diungkapkan El. Wanita
yang masih duduk di bangku kelas III SMP ini
membenarkan perbuatan dua orang laki-laki yang tak
lain adalah ayah dan anak (Sul dan Muh).

Menurut El, dalam pertemuan terakhir dengan pihak
keluarga, yang mau bertanggungjawab hanya Sul
(sang ayah). “Tetapi saya tidak mau, seharusnya
yang mengawini saya yang melakukan pertama kali
yaitu bang Muh,” kata El.(sb)



ReviewReviewReviewDua Tahun TsunamiDec 25, '06 4:57 AM
for everyone
Category:Other
BACA DUA TAHUN TSUNAMI, LAPENA (INSTITUTE FOR CULTURE AND SOCIETY), 25 DESEMBER 2006

IKLAN
> > > Sulaiman Tripa

INI adalah cerita. Bukan cerita pendek. Tapi cerita yang tak putus-putus sampai kapanpun.
Akhirnya kusadari, bahwa iklan itu begitu penting. Perjalanan gampong duka itu masih terombang-ambing hingga kini: setelah 24 bulan berlalu; melewati sekitar 103 minggu; pasca 729 hari; 17.487 jam sudah; sekitar 1.049.760 menit, lebih dari 61.985.600 detik

Rusak parah yang terlihat dengan mata, ada korban 210 jiwa menurut pendata, butuh 71 triliun menurut ekonomi dengan kalkulasi matematika.

Ada selentingan, dalam jangka waktu itu, sudah dilakukan lebih dari 14.000 pertemuan, rapat, workshop, atau apapun namanya, oleh berbagai elemen. Jadi, dengan memakai rumus Matematika, dengan 17.487 jam yang sudah kita lewati, satu pertemuan, rapat, workshop, dan sebagainya, menghabiskan waktu sekitar 1,1 jam.

Tapi sudah sekian lama, banyak masalah yang masih tersisa. Semua seperti tersentak, bahwa tak hanya soal rumus Matematika. Butuh waktu, menurut mereka yang mengelola, padahal asa tak elok ditunggu terlalu lama. Menunggu adalah pekerjaan membosankan. Tak mengenakkan. Padahal mimpi sudah duluan datang, dengan berita ada bala bantuan yang datang dari mana-mana.

Cerita ini, untuk memperteguh ingatan, bahwa ada masyarakat di Indonesia, sama seperti masyarakat Amerika atau Eropa yang dengan segera menyumbangkan sebagian rezekinya agar orang tak tersiksa. Ketika tangan mereka mendekati pundi, ada harapan, biar semua masalah cepat selesai.

Tapi, kuberitahukan pada kawom-keurabat, ternyata bantuan sebungkus mie instan, sebotol air mineral, sebiji permen, sebuah boneka, secarik kertas, sepotong pena, tidak seperti orang melempar sebiji kerikil yang bisa dilempar dari ujong jurong tunong ke ujong jurong baroh.

Akhir-akhir ini, baru kusadari, bahwa sebuah bantuan, bagaimanapun kecilnya, akan melewati berbagai proses.

Entah kita pernah membayangkan betapa kumpulan bantuan dari orang-orang sudah bisa memperkerjakan begitu banyak orang di tanah Aceh, dengan fasilitas dan insentif yang beragam.

Selain orang yang bekerja, ada juga yang para perasa: menjual rumah, datang ke sana dengan membuka tabungan, datang menyumbang tenaga, ini adalah sukarelawan, yang bekerja dengan tulus tanpa imbalan.

Pada saat yang sama, kita juga melihat di sekeliling mereka, ada yang lain yang bernama para pekerja.

Dalam kepungan para pekerja, butuh berbagai media. Di samping berita, ada yang bernama pariwara. Tapi adakah yang mencoba-coba menghitung, dalam 729 hari itu, berapa ruang media yang sudah dipakai untuk pariwara yang dipasang oleh berbagai lembaga?

Mudah saja, bila itu didapat, tinggal gunakan rumus matematika untuk menghitung satu media berapa, lalu menghasilkan angka besarnya. Silakan lihat angka dana yang di sana, lalu kurangi dengan anggaran pariwara dan pekerja, berapa persen yang tersisa?

Itulah iklan. Menyambut pembangunan kembali tanah harapan –sekaligus garapan itu, butuh informasi-informasi yang umumnya, berkisah tentang keceriaan.

Namun di sekitar kita, masih ada iklan-iklan dukacita di tengah kepungan iklan-iklan yang bersukacita. Iklan seperti itu biasanya jarang mendapat perhatian. Apalagi bila sebuah iklan pencarian anggota keluarga korban disandingkan dalam satu halaman dengan iklan lowongan kerja.

Kalau lembaga yang sedang memberitahukan entah informasi apa, mampu dibayar karena memang ada disediakan dana. Lalu, siapa yang akan membiayai iklan-iklan untuk orang yang masih berduka?

Padahal banyak orang yang menjadi korban masih tinggal di barak. Kalau ditanya, mereka juga kepingin memasang iklan sebagaimana iklan-iklan yang dipasang oleh berbagai pencari tenaga kerja.

Wahai kawom keurabat, kegelisahan saya mungkin sangat subjektif. Maafkan kalau tak berkenan.

Seperti yang kukatakan dari awal, ini bukanlah cerita pendek, tapi cerita yang tak akan pernah putus selama kehidupan masih berdenyut.

Ada doa, agar tak ada yang menjadikan tanah bencana, di mana pun, sebagai tanah garapan, karena yang akan muncul justeru masalah baru yang mahadahsyat di kemudian hari.

Sepertinya, semuanya akan maklum.

Lamnyong, 25 Desember 2006.



ReviewReviewReviewPornoDec 22, '06 3:54 AM
for everyone
Category:Other
NEGERI PORNO
> > > Sulaiman Tripa

NEGERI ini, sudah menjadi negeri porno. Para pelaku porno seperti berlomba-lomba mendokumentasikan kisah pornonya. Ada orang-orang terhormat, juga ada orang-orang yang belum atau tidak terhormat.
Ironisnya, perilaku porno itu tak tak hanya dilakukan oleh orang-orang dewasa. Orang-orang yang masih berbau kencur juga tak kalah banyaknya. Belum habis kasus YZ (anggota DPR RI yang akhirnya mengundurkan diri) dan ME (penyanyi dangdut lokal), dan seorang oknum petinggi daerah di Kalimantan, tiba-tiba muncul Di (seorang pegawai magang di Pemerintah Bekasi) dengan berbagai pose syurnya. Foto yang diperankan Di, menggenapi beredernya foto-foto syur yang berseragam pegawai, di Jogjakarta, Surabaya, dan Malang beberapa tahun lalu.
Beberapa adegan porno yang terekam lalu beredar itu, merupakan sebagian kecil dari berbagai rekaman yang muncul di Indonesia. Di Bandung pernah muncul Bandung Lautan Asmara yang diperankan oleh dua mahasiswa. Begitu juga di Medan, Cianjur, dan Jakarta.
Yang disayangkan ternyata dari beberapa rekaman, ternyata diperankan oleh anak-anak yang baru gede (ABG). Cukup banyak foto-foto syur yang diperankan oleh mereka yang masih berseragam sekolah.
Untuk pemburu dokumentasi porno, berita-berita tentang adanya kisah terbaru yang dipublikasikan, segera diincar dengan berbagai cara. Pusat-pusat penjual VCD porno di Jakarta, misalnya, sepertinya selalu menemukan sesuatu yang baru untuk dijual kepada pembeli.
Semua perkembangan di negara kita, tentu saja sudah menggelisahkan. Proyeksi jual-beli hasil rekaman juga masih menjadi bisnis yang sepertinya menguntungkan, makanya itu berlangsung terus walau di berbagai daerah terancam dengan berbagai aturan negara.
Lihatlah bagaimana para remaja Indonesia mendokumentasikan kisah persetubuhannya dan ada orang yang mendapatkan dokumen itu, lalu didistribusikan kepada publik yang juga (sebagian) seperti haus kebutuhan ini.
Para remaja kita, terlihat seperti enjoy. Mungkin, karena perkembangan dunia yang begitu pesat teknologinya. Dulu, untuk menonton sebuah film harus menunggu artis memproduksi kasetnya berkeping-keping. Tapi kini, dengan kehadiran berbagai bentuk handycam (besar dan kecil) dan handphone, sangat mudah mendokumentasikan keseharian kita.
Hadirnya berbagai alat teknologi dengan komunikasi dengan persediaan berbagai fasilitas, juga memudahkan banyak orang mendokumentasikan berbagai hal. Dan itu dapat dilakukan di mana saja dengan biaya repodruksi yang sangat murah dan mudah. Bila memiliki personal computer, bisa langsung dikopi ke kepingan compact disk (CD) dan itu bisa diperbanyak hingga berkeping-keping.
Hal ini, kemudian menggambarkan sebuah alat teknologi selalu memiliki dua sisi yang sangat berdekatan: positif dan negatif. Handycam dapat digunakan untuk mendokumentasikan ceramah agama. Handycam juga dapat dipergunakan untuk mendokumentasikan kisah-kisah porno. Handphone bisa digunakan untuk berkomunikasi hal-hal yang baik, tapi bisa juga digunakan untuk hal-hal buruk; tergantung manusianya.
Di Jakarta, dokumentasi itu sangat mudah ditemukan. Di mana-mana, berbagai tempat menyuguhkan kepingan-kepingan CD porno, baik secara sembunyi-sembunyi, maupun terang-terangan.
Tempat yang paling besar menjual CD-CD porno adalah di Glodok. Kawasan ini sudah terkenal sebagai tempat penjualan VCD porno terbesar di Jakarta. Di sana orang seperti tak perlu malu-malu lagi karena orang lain juga datang ke sana tidak malu-malu. Orang-orang membeli berkeping-keping. Penjual membungkusnya dalam plastik pembungkus dan diserahkan dengan tidak malu-malu.
Mungkin, kenyataan seperti sudah mengharuskan kita untuk menanyakan; ada apa dengan negeri kita?
Apalagi ada kenyataan lain, bahwa televisi sepertinya juga cenderung menjadi saluran porno akhir-akhir ini. Sinetron-sinetron selalu bermaterikan tiga nilai: kekerasan, kemewahan, dan keseronokan perilaku remaja di dalamnya.
Ironisnya, hal itu seperti tidak bisa dibendung. Seluruh televisi yang bisa kita tonton dari bumi Aceh, tak terhindar dari kenyataan itu. Dalam sehari semalam, sebuah televisi menghabiskan 18 sampai 20 jam untuk hiburan. Lantas dimana waktu untuk agama, pendidikan, dan informasi yang diklaim juga merupakan bagian dari tujuan hadirnya televisi?
Fenomena negeri porno harus diakhiri. Caranya, negara harus memberi tekanan terhadap para pelaku yang berpotensi merusak moral generasi muda dan tua.
Memang masih ada masalah, yang mana yang dikatakan porno? Sepertinya ini sangat mudah untuk dijawab. Saya cenderung seperti yang diungkapkan Taufiq Ismail, bahwa porno, ketika kita akan malu terhadap apa-apa yang seharusnya memang harus ada malu untuk dinampakkan.
Ukuran masyarakat kota seperti Jakarta, tentu tidak bisa dijadikan alat ukur bagi daerah. Banyak hal yang di Jakarta misalnya, bukan lagi masalah, tapi di daerah-daerah masih menjadi masalah.
Khusus untuk televisi, sepertinya harus ada pressure kolektif kepada pengelola televisi yang terkesan mengejar segala sesuatu dengan keuntungan semata. Sudah saatnya mereka diingatkan bahwa televisi bukan hanya masalah untung atau rugi, tapi termasuk masalah masa depan sebuah bangsa. Dan saya kira, masa depan ini harus diselamatkan!


ReviewReviewReviewSusah Jadi ManusiaNov 30, '06 5:04 AM
for everyone
Category:Other
SUSAH JADI MANUSIA BIASA
> > > Sulaiman Tripa

AKHIR-akhir ini, kita seperti merasakan setrum berkali-kali, dengan melihat kenyataan bahwa seberapa besar pengaruh seks bebas di tanah kita yang dengan penuh kesadaran dan keyakinan kita yakini sebagai kawasan “Serambi Mekkah”.
Dalam setahun, dua, tiga atau lebih tahun belakangan ini, entah kita menyadari bahwa di daerah kita, di mukim kita, di gampong kita, atau bahkan di dalam rumah kita, mungkin ada orang-orang yang sangat beraroma dengan seks bebas.
Berita-berita media dalam dua tahun terakhir yang saya research melalui mesin pencari google.com dan yahoo.com, ada sekitar 47 kasus dari Aceh ditemukan orang yang sedang telanjang (dengan orang yang bukan pasangan sahnya). Dari 47 kasus itu, ada yang ditemukan di rumah, di tempat kontrakan, penginapan, bahkan dalam mobil. Dari 47 kasus itu juga, terdapat beragam profesi: ada oknum rakyat jelata, ada oknum orang beruang, ada oknum aparatur. Semua kalangan, pernah didapat atau ditangkap baik oleh masyarakat maupun oleh pihak yang berwenang.
Semua kasus itu masih ditambah lagi dengan banyaknya kasus “dugaan” berkhalwat yang ditangkap oleh masyarakat dan pihak yang berwenang.
Kondisi ini, sungguh menyedihkan. Sangat menyedihkan. Tapi menyedihkan bagi siapa? Ini menjadi semacam pertanyaan entah untuk siapa dan akan akan dijawab oleh entah siapa?
Kalau masalah ini, kita keluhkan sama orang-orang yang memiliki kuasa, sering ada jawaban: harus diselesaikan. Bila hal ini kita ungkapkan sama orang-orang yang kebetulan sedang memegang amanah, sering ada jawaban: butuh perencanaan, butuh badan, dan butuh anggaran. Lebih parah bila hal ini kita keluhkan kepada orang-orang yang memang menginginkan kebebasan tanpa batas, mereka akan mengatakan: itu bukan urusan saya.
Siapa yang seharusnya gelisah dengan kenyataan ini? ketika melihat fenomena semakin banyaknya orang-orang yang belum menikah tapi sudah bermain-main dengan (maaf) kemaluan pasangannya?
Barangkali, sebagian kita yang sering mengungkapkan kegelisahan terhadap itu, ada kemungkinan, di dalam rumah kita, di dalam gampong kita, di dalam mukim kita, di daerah kita, mungkin ada yang bermain-main dengan (maaf) kemaluan secara tidak sah.
Ada pertanyaan, siapa yang bersalah? Sepertinya susah untuk menjawab pertanyaan ini.
Anak-anak kecil di dalam kamar rumah kita hampir 24 jam menonton sinetron dan film yang ceritanya selalu berputar-putar antara ciuman, pelukan dan cara membuka pakaian pasangannya. Hal itu, tampak bagai bukan lagi sebuah kegelisahan yang patut diungkapkan karena penonton televisi seperti tak punya hak untuk menolak itu. Di sinilah sebenarnya peran lembaga-lembaga yang mengawasi program pertelevisian di Indonesia.
Ada juga acara-acara televisi yang sebenarnya secara terang-terangan memproklamirkan gaya hidup bebas. Ini menyedihkan. Sama menyedihkan ketika banyak anak-anak yang berusia baru gede ditangkap sedang bermesum entah di kamar rumah, di dalam mobil, di pantai.
Anak-anak yang ditangkap itu bisa berasal dari orang yang papa, bisa juga berasal dari orang yang berada (baik dalam konteks keuangan maupun kekuasaan). Jadi pupus susah anggapan bahwa kehidupan-kehidupan yang seperti itu sebenarnya sangat berkelas.
Ironisnya, beberapa anak yang kedapatan sedang berbuat mesum adalah anak-anak orang yang terpandang yang seharusnya menjadi panutan. Bukankah ini suatu kenyataan pahit dalam konteks kehidupan sosial-budaya di Aceh –termasuk agama.
Masihkah Aceh layak disebut sebagai wilayah yang kental dengan suasana yang sakral? Siapa yang akan menjawab ini? ketika kita merasakan suasana keseharian, apa yang kita kampanyekan, ternyata sedikit berbalik dari kenyataan? Sungguh ironis, bila kita sendiri tidak bisa menangkap keterasingan kita di sini. Apalagi ketika ada orang yang mengangkat bahwa ternyata tempat kita ternyata masih “bermasalah”, maka dalam sekejap, orang gampong kita, orang mukim kita, orang daerah kita, seperti bersepakat untuk marah walau sering dalam kenyataan tak berbuat apa-apa.
Lalu muncul sebagian simpulan: kita seperti mengkampanyekan hal-hal yang “melangit” dan seperti tak melihat masalah yang “membumi”.
Apa yang mau kita wariskan dengan kondisi seperti itu? Ketika kita juga melihat kenyataan dalam pelaksanaan syariat Islam juga mengalami keterbelahan dalam konteks khalwat?
Untuk orang-orang yang tidak memiliki relasi (secara kekuasaan dan keberdayaan), masyarakat kecil, bila kedapatan bermesum dan berkhalwat, dalam sekejap diproses. Tak ada hambatan dalam penangkapan, penahanan, peradilan, sampai eksekusi hukuman (cambuk).
Namun apa yang terjadi ketika yang terjadi terhadap orang-orang yang memiliki jaringan terhadap kekuasaan? Sering kasus tertutupi. Kalau pun dilanjutkan, itu juga harus melewati proses yang panjang, ada penasehat hukum yang selalu mendampingi, sampai selalu naik banding. Bahkan ketika ada vonis sekalipun, harus juga diperhatikan dalam pelaksanaan eksekusinya. Ini akan menjadi preseden buruk bagi masyarakat yang memantau atau melihatnya. Saya kira masyarakat selama ini memahami tentang apa yang terjadi.
Sebagian media juga turut mendhalimi dalam hal ini. untuk orang-orang kecil, kita paparkan foto mereka besar-besar dengan berita-berita yang juga dibuat menarik sedemikian rupa. Hanya sedikit media yang mampu dan mau memberitakan bila ada kasus yang menimpa orang yang memiliki kekuasaan atau setidaknya memiliki hubungan dengan orang-orang yang memiliki kekuasaan. Kalau pun ada berita, nama pelaku ditutup habis yang sangat berbeda ketika kita menginisialkan nama-nama orang kecil.
Dalam konteks pelaksanaan syariat Islam di Aceh, masalah-masalah seperti ini, rasanya sangat penting untuk didiskusikan, kemudian dikaji secara mendalam untuk memperoleh jalan penyelesaian, baik dalam konteks hukum maupun dalam konteks sosial-budaya-agama. Kalau tidak, kita akan selalu “melangit” dan lupa sedang “berpijak di bumi”.
Ada satu yang merugi bila ini tidak diperhatikan, bahwa orang-orang kecil nantinya akan selalu menyebut: susah jadi manusia biasa!



ReviewReviewReviewkunjungNov 3, '06 3:01 AM
for everyone
Category:Other
MUSIM KUNJUNG
> > > Sulaiman Tripa

MUSIM kunjung-mengunjung itu telah tiba kembali. Kalau tak aral melintang, dalam tahun ini, para peutua akan dipilih kembali. Dipilih secara langsung, membuat semua persiapan harus dilakukan dengan matang.
Komite pelaksanaan pemilih waktu pemilihan umum, sudah tidak dipakai lagi. Di sini, sudah ada aturan baru, di mana badan pelaksanaannya harus yang bertera independen di depannya. Merekalah yang bertanggung jawab proses pemilihan peutua sampai selesai.
Sejak beberapa bulan lalu badan itu sudah bergeriwat. Akhir bulan ini, badan independen sudah mulai melakukan pendataan penghuni gampong. Orang-orang didata dan diberikan kartu pemilih agar bisa mencoblos di hari “h”. Kartu pemilih itu yang jadi penanda seseorang gampong bisa atau tidaknya untuk ikut dalam proses pemilihan sang peutua.
Dengan bertambah dengan kartu pemilih itu, orang gampong sudah memiliki beberapa jenis kartu. Ada kartu penduduk, ada kartu organisasi, ada kartu profesi, ada kartu pemilih, dan sebagainya. Hitung-hitung, seorang gampong bisa memiliki empat sampai lima jenis kartu setiap tahunnya. Belum lagi mereka yang memiliki kendaraan, juga harus memakai kartu.
Jumlah jenis kartu tersebut, tentu sangat kurang bila dibandingkan mereka yang hidup di kota-kota. Berbagai jenis kartu diantar ke rumah, terutama yang berhubungan dengan bayar-membayar.
Tapi tujuan pemberian kartu di gampong-gampong akan berbeda dengan kartu bayar-membayar di kota-kota. Ini hanya untuk memastikan semua orang bisa ikut terlibat saat pemilihan peutua berlangsung.
Di gampong sedang ada perubahan paradigma. Dulu, proses pemilihan dilakukan oleh beberapa orang saja. Ada utusan para cerdik-pandai, pemuda, orang tua, perempuan, bahkan anak-anak. Penentu terpilihnya peutua berada di tangan beberapa unsur di gampong. Merekalah yang memilih peutua.
Sesuai dengan perkembangan demokrasi moderen, cara-cara seperti itu sudah dianggap tidak aspiratif lagi. Sudah tidak relevan. Berlakulah, one man one vote. Semua orang memiliki hak yang sama untuk memilih, walau semua orang juga berpotensi untuk tidak bisa memilih, mungkin karena alasan sesuatu semisal tidak sehat akal.
Persoalan akal sehat, tentu bukan hanya dialami mereka yang kebetulan dititipkan ke rumah sakit khusus masalah kejiwaan. Kalau masa penjajahan Belanda dulu, orang-orang yang dianggap bermasalah dengan akal sehatnya dan akan dikirimkan ke Sabang untuk jak sukat ie lam raga.
Ternyata masih banyak orang yang tak sehat akal di luar itu, dan lebih dari sekedar orang-orang yang dititipkan di rumah sakit yang menentukan seseorang bermasalah dengan kejiwaannya.
Ketika seseorang merasa terasing dengan dunianya, maka sebenarnya sudah dapat dianggap tak sehat akal. Tapi ini akan berbeda dengan pemahaman sebagian orang. Tak sehat akal, hanya dianggap orang-orang yang dititipkan di rumah sakit khusus masalah kejiwaan semata.
Padahal, di luar itu, banyak sekali masyarakat yang tak sehat akalnya. Orang-orang yang melakukan suatu kejahatan dengan sengaja, adalah orang-orang yang bermasalah dengan kejiwaan. Orang-orang yang tidak menggunakan ilmunya untuk kebenaran, juga dapat dimasukkan ke dalam golongan ini.
Jadi konsep tak sehat, menjadi sangat luas. Dengan diam saja membiarkan kezaliman, sudah bisa dianggap tak sehat akal. Apalagi kalau melakukan sesuatu yang berbenturan dengan nilai-nilai kebenaran.
Intinya, orang yang membiarkan kezaliman bisa dianggap tak sehat karena tak mampu memperbaiki jalan peradaban. Sederhananya, bagaimana bisa seorang ikut memilih orang lain, sedang untuk menentukan jalan kehidupannya ke arah yang lebih baik saja tidak mampu dilakukan. Bukankah begitu?
Nah, bila konsep ini diterima, maka sungguh orang yang tak sehat itu cukup banyak jumlahnya. Tapi kerap, pada akhirnya kenyataan seperti ini tidak bakal diterima sebagai sebuah konsep. Akhirnya, orang-orang yang tak sehat pun akan menentukan pilihan untuk memilih orang lain.
Syahdan, proses penggapaian hasil yang memuaskan akan dilalui dengan berbagai rumusan. Bagi seorang yang berkeinginan menjadi peutua akan membina hubungan yang baik dengan golongan-golongan sentral.
Salah satunya, ada Waki, sebagai seorang gampong yang berkemampuan cuap-cuap. Profesi ini memang tidak perlu cakap. Apalagi di samping meunasah, waki memiliki sebuah kedai kopi yang sangat strategis. Karena itu waki memiliki komunitas yang jelas.
Tak mengherankan bila hampir setiap waktu ada saja tamu yang datang secara bergantian. Tim sukses maupun tim tidak sukses, kerap singgah walau hanya sebentar. Paling tidak, mereka akan datang untuk setor muka. Sejak berbulan-bulan lalu sebelum muncul ketetapan tanggal pemilihan peutua, proses kunjung-mengunjung sudah berlangsung ramai.
Warung Waki, tak saja sebagai tempat minum kopi. Lokasi itu sudah terlanjur dianggap sebagai sentral membangun kekuatan politik. Siapa yang bisa menguasai warung itu secara efektif, biasanya ia akan memenangkan pemilihan setiap pemilihan.
Makanya semua calon peutua juga berlomba-lomba ke sana. Ketika tim sukses sudah dianggap tak lagi menjual, maka para calon sendiri yang datang ke sana dan berusaha untuk membayar harga kopi semua pengunjung.
Tak lupa, saat membayar harga kopi, para calon membisiki sesuatu ke telinga waki. Tak ada yang tahu apa maksudnya. Semua calon melakukan manuver serupa. Waki hanya mengangguk-ngangguk saja.
Ketika proses kunjungan selesai, waki membuat info untuk pengunjungnya yang ditempel di sudut kedai. Di sudut info, ditempel foto ukuran post card. Isinya kira-kira: telah berkunjung ke tempat kami yang ramai, Pulan yang terhormat, untuk saling duduk bersama mencari solusi berbagai persoalan.
Kerap, mencari solusi permasalahan hanya dilakukan saat mendekati proses pemilihan. Sesudah itu, semua berjalan sendiri-sendiri, tak ada lagi hubungan yang timbal-balik antara satu dengan yang lain)
Beberapa info sudah lebih dahulu tertempel di sana. Ini berarti sebelum Pulan, sudah ada beberapa calon yang lebih dulu hadir. Tapi sesudah beberapa waktu, orang juga tak bisa memprediksikan siapa yang akan menjadi pemenang, karena ternyata aturan yang membuat semua calon sudah mempersiapkan diri, ternyata belum selesai dibuat oleh pihak berwenang.
Tapi proses ini bagai harus dilalui bagi seorang yang ingin mencalonkan diri sebagai peutua. Terlepas apakah sesudah ia membayar kopi seluruh pengunjung kedai tapi akhirnya tak terpilih. Itu persoalan lain.
Akhir-akhir ini, karena musimnya kunjung-mengunjung, sudah banyak anak-anak muda yang menuntut ilmu datang ke warung. Mereka duduk berjam-jam sambil memesan kopi, dan tak perlu membayar karena secara bergantian calon peutua akan datang membayarnya sampai lunas.
Terbayangkah, kalau dalam setiap pemilihan, ternyata bayar-membayar kopi juga sangat menentukan? Ironisnya, itu sudah dianggap sebagai sehat.[]



ReviewReviewReviewSambil-sambilNov 3, '06 2:58 AM
for everyone
Category:Other
LUBANG
Sulaiman Tripa

TIBA-tiba, saya teringat lubang. Di beberapa persimpangan jalan di Banda Aceh, saya lihat sudah ada lubang yang dibuat oleh pihak-pihak yang mengurusi telepon, air bersih dan listrik. Padahal jalan itu, baru saja diperbaiki. Jalan itu sebenarnya sudah lumayan bagus.
Suasana ini, sesungguhnya lebih tepat disebut dilubangi, ketimbang hanya disebut sebagai lubang semata. Lubang adalah penanda, sedangkan dilubangi adalah pekerjaan yang membuat penanda.
Kehidupan di Kota Banda Aceh, kita sering dihadapkan dengan lubang karena dilubangi. Kalau kasusnya jalan, biasanya pelakunya tersebutlah perusahaan telepon, perusahaan listrik, dan perusahaan air bersih. Mereka seperti berlomba-lomba untuk membuat lubang.
Sangat sering kita menyaksikan keadaan jalan yang sudah baik, tiba-tiba sudah berlubang kembali. Ironisnya, setelah pekerjaan itu selesai, kerap dibiarkan dengan menutup lubang itu seadanya.
Bayangkan betapa besar potensi kecelakaan di jalan raya, hanya gara-gara lubang. Dan, kita seolah tak bisa menuntut siapa pun untuk bertanggung jawab, termasuk pihak-pihak yang membuat lubang yang seharusnya bertanggung jawab.
Ini pula yang memperlihatkan betapa pelayanan publik di jalan raya yang kita dapatkan ternyata sangat tidak seimbang dengan pajak yang kita bayar, katakanlah pajak kendaraan yang setiap tahun kita bayar.
Jadi dengan satu lubang saja, sudah berimplikasi kepada penghargaan terhadap pelayanan. Itu menjadi satu konsekuensi dari keberadaan lubang yang seharusnya telah dipikirkan oleh pihak-pihak yang bertanggung jawab.
Dengan satu lubang, ternyata beralir seperti air ke proses yang lebih dalam (jauh). Sebuah lubang, ternyata bisa membuka banyak lubang-lubang selanjutnya dalam konteks yang lain. Tentu, sebuah lubang, tanpa pekerjaan berupa dilubangi, adalah omong kosong.
Nah, dengan lubang di jalan ada potensi untuk dibuatkan lubang-lubang yang baru. Ini memang akan mengikuti konteks.
Dalam hal koordinasi, Pemerintah di Banda Aceh. Seharusnya, pihak-pihak yang menangani telepon, listrik atau air bersih, bisa didudukkan oleh mereka yang berwenang untuk merencanakan pelubangan jalan.
Ada dua implikasi dari sana. Pertama, akan ada pahe, paket hemat. Semua anggaran bisa disatukan untuk direncanakan satu melubangi hanya satu lubang bersama-sama. Tapi ini menimbulkan konsekuensi, tidak akan banyak anggaran yang bisa digunakan. Orang yang terlibat tidak akan banyak, otomatis orang-orang yang akan mendapatkan honor juga sedikit. Bayangkan bila dilakukan masing-masing, berapa orang yang akan mendapat honor di masing-masing lembaga itu. Fenomena ini seharusnya sudah saatnya diubah agar tercapainya paket hemat. Dengan pahe, penggunaan anggaran bisa lebih efisien, juga kontrol atas penggunaan anggaran bisa dilakukan dengan rapi. Di samping itu, dengan satu lubang, akan mudah menutupnya dan tidak akan berulang-ulang. Jadi, hana jipeujeut-peujeut, dibuat-buat, kata orang Aceh.
Kedua, dengan begitu kita pemakai jalan raya tidak akan muak dengan pelubangan yang dilakukan itu. Pelubangan hanya dilakukan sekali dan dilakukan bersama-sama, pada sekali waktu, dan akan ditutup bersama-sama pula. Ini tidak akan memperlihatkan ada perulangan. Hari ini dibuka lubang untuk telepon, lalu setelah beberapa hari ditutup –walau dengan kurang rapi. Lalu besoknya, giliran pemasangan entah pipa air bersih, lalu terbiarkan beberapa hari, dan ditutup –biasanya juga kurang rapi. Tidak lama berselang, muncul lagi yang mengurusi listrik, membongkar lubang kembali untuk dimasukkan kabel listrik, setelah itu proses penutupan terhadap lubang-lubang juga sering tidak rapi.
Konsekuensi lubang akan sangat jauh, orang-orang yang terperosok ke dalam lubang bertambah banyak. Apalagi di lubang-lubang yang dilubangi itu, seringkali tak dibuat semacam tanda, semacam bendera merah atau bendera warna apa yang menandakan di sana ada bahaya.
Tahukan apa yang sering dikatakan orang yang terperosok ke lubang? Makian, dan itu sungguh menggelisahkan karena akan menambah catatan dosa, terutama orang yang memaki karena orang yang dimaki sama sekali tidak mendengar.
Bila musim hujan, lubang-lubang itu akan menjadi masalah baru bagi pengguna jalan. Mereka tidak akan bisa mengingat di mana letak lubang-lubang.
Saya cerita tentang lubang jalan. Bukan lubang yang lain. Walau saya akui, dengan lubang jalan, belum tentu tak membuat lubang-lubang yang lain. Namanya dilubangi.[]

ReviewReviewReviewReviewBuku Baru Lapena "Nyanyian Manusia"May 12, '06 3:42 AM
for everyone
Category:Other
PELUNCURAN BUKU “NYANYIAN MANUSIA”

LAPENA (Institute for Culture and Society) kembali akan meluncurkan buku. Kali ini, buku antologi puisi yang ditulis Dr. Harun Al Rasyid M.Pd, berjudul “Nyanyian Manusia” (2006, Lapena). Ada 105 puisi di dalamnya.
Peluncuran akan dilaksanakan di Kampus Universitas Syiah Kuala, Kamis, 15 Juni 2006. “Karena Harun sebagai pendidik, kita ingin bukunya di luncurkan di sana,” kata Helmi Hass.
Pada saat itu, buku ini akan dibedah dan Harun akan menyampaikan proses penulisan kreatif kepada siswa.
Buku ini pertama kali diluncurkan di Malang (Jawa Timur) pada 15 Mei lalu. “Buku ini sebagai bungoeng jaroe Lapena kepada Harun yang telah sukses ujian disertasi doktornya di Universitas Negeri Malang (UNM),” kata Helmi Hass, Direktur Eksekutif Lapena.
Harun sendiri sebagai Ketua Lapena, yang sejak lembaga ini didirikan, ia masih sibuk kuliah doktoralnya di Malang. “Kini, ia sudah menyelesaikan doktornya, dan kembali ke habitat,” kata Helmi lagi, bangga.
Sebelumnya, Lapena sudah menerbitkan buku D. Kemalawati “Surat dari Negeri Tak Bertuan” (2006, Lapena), Sulaiman Tripa “Menunggu Pagi Datang” (2005, Lapena), dan “Ziarah Ombak” yang dieditori Kemalawati dan Sulaiman Tripa (2005, Lapena).


HIDUP adalah sebuah teka-teki! Jawaban yang tepat terkadang tidak memiliki korelasi dengan hakikat persoalan. Karena itu, konsep qadha dan qadar dalam perspektif Islam sulit terbantah dengan logika manusia yang nyatanya terbatas. Kita boleh saja merencanakan apa saja, tetapi Sang Khalik yang menentukan segalanya. Proposisi itu relevan dengan pengalaman hidup saya. Saya, misalnya, sengaja menyimpan ribuan puisi untuk suatu saat saya pilih untuk dibukukan. Apa yang terjadi? Semua puisi itu dibawa tsunami pada 26 Desember 2004 bersama istri dan kedua anak saya. Semua lenyap bersama rumah dan isinya. Rencana itu beku dalam air mata.
(Pengantar Harun Al Rasyid, “Saya Masih Ada”)


Bagi kami, sebagian puisi Harun bernuansa alam, menelusuri dunia religius, dan banyak juga yang berdimensi protes sosial. Di dalamnya juga sering ditemukan suara-suara kebenaran dalam penjelajahan kebijaksanaan hidup. Karena itu, kami optimis bahwa Harun akan terus melahirkan puisi untuk kepentingan kemanusiaan. Kami pantas menyampaikan 'salam damai' kepada Harun yang kini hidup sebagai duda sejak 26 Desember 2004. Tsunami telah menampakkan kebenaran kata Allah, kun fayakun. Dengan tsunami yang akhirnya Allah 'memanggil’ istri dan anak-anaknya. Kami bersyukur, dalam suasana yang demikian 'lirih' pun, Harun tetap menulis puisi, dan beberapa di antaranya telah dibukukan dalam edisi puisi tsunami.
(Helmi Hass, Direktur Eksekutif Lapena, “Puisi dan Hidup yang Manis”)

Salah satu peristiwa alam yang menggetarkan hati nurani seluruh bangsa ini, bahkan seluruh masyarakat internasional adalah gempa dan tsunami yang terjadi 26 Desember 2004 lalu di Nanggroe Aceh Darussalam. Peristiwa alam ini telah merakit kembali perbedaan pendapat dan pandangan menjadi satu kebulatan memberikan bantuan kepada masyarakat Aceh yang menjadi korban bencara alam tersebut. Berkenaan dengan sastra sebagai cermin kehidupan masyarakat, saudara Mohd. Harun al Rasyid memiliki ketajaman dalam menghadapi kehidupan ini. Perjalanan hidupnya dari waktu ke waktu diabadikannya dalam bentuk puisi. Perjalanan hidup yang menjadi misteri tak mampu manusia memprediksinya, hanya Sang Pencipta yang mengetahui segala rahasia alam ini. Melalui puisi yang terkumpul dalam buku ini, pembaca dapat memperluas cakrawala kehidupan yang tentu saja akan memiliki manfaat besar dalam perjalanan hidup ke depan. Suatu peristiwa yang terjadi pada seseorang atau sekelompok orang adalah pelajaran yang amat berharga bagi orang atau kelompok masyarakat lainnya. Tidak semua orang dapat menangkap peristiwa alam sebagai pelajaran. Oleh karena itu, apa yang dipaparkan penyair dalam buku ini merupakan renungan yang dalam tentang kehidupan, tidak hanya dirinya, tetapi umat manusia pada umumnya. Pengetahuan tentang kehidupan dan peristiwa alam yang dipadukan dengan pengalaman estetika dan sastra telah melahirkan karya sastra dalam bentuk puisi.
(Dendy Sugono, Kepala Pusat Bahasa, Jakarta)


TENTANG PENYAIR
Mohd. Harun al Rasyid adalah nama pena dari Mohd. Harun, sering juga digunakan C. Harun al Rasyid atau Harun al Rasyid. Ia lahir di Laweueng Pidie, Aceh, 5 Maret 1966. Menulis puisi sejak sekolah menengah pertama. Sejak 1993 menjadi guru bidang sastra di FKIP Univ. Syiah Kuala, Banda Aceh. Selama 1990—1994 bekerja sebagai wartawan Harian Serambi Indonesia Banda Aceh.
Selain menulis puisi, ia juga menulis esai, kritik sastra, feature, resensi buku, opini, dan cerpen. Puisinya dimuat dalam beberapa media dan dibukukan antara lain dalam antologi Kemah Seniman Aceh 3 (1990), Banda Aceh (1991), Nafas Tanah Rencong (1992), Lambaian (1993), Seulawah (1995), Keranda-Keranda (1999), Dalam Beku Waktu (2003), Putroe Phang (2003), Sankalakiri (2003), Piala Maja V (2004), Aceh, 8,9 Skala Richter, Lalu Tsunami (2005), Ziarah Ombak (2005), dan Lagu Kelu (2005). Kumpulan puisi perta-manya (dicetak terbatas) adalah Suara Pribumi (BP Swadaya Mandiri, Jambi, 1996). Cerpennya antara lain dibukukan dalam Remuk (2000).
Awal 1998 menyelesaikan studi magister di IKIP Malang. Bergabung dengan Dewan Kesenian Banda Aceh (DKB) sebagai wakil sekretaris sampai 1999. Tahun 2000 sebagai wakil ketua I Dewan Kesenian Aceh (DKA), tetapi Agustus 2001 mengundurkan diri karena studi doktoral di Universitas Negeri Malang (saat ini sedang menunggu ujian akhir). Tahun 2003 mendirikan Pusat Kebudayaan Aceh (Pusaka) bersama Dr. Abdul Djunaidi (almarhum) dan Nurdin F. Joes. Tahun itu juga mendirikan Lapena bersama Helmi Hass, Kemalawati, dan Saiful Bahri. Dalam tsunami Aceh, 26 Desember 2004, Harun kehilangan istri dan kedua anaknya serta seluruh harta benda, termasuk ribuan puisi pada buku tulis, makalah, dan komputer.
Kegiatan budaya di luar negeri antara lain, pada 15 September 2005, ia diundang Institut Alam dan Tamaddun Melayu, Universitas Kebangsaan Malaysia untuk ‘Ceramah Budaya’ pada acara Peluncuran buku Kumpulan Puisi Ziarah Ombak (Lapena, 2005); 18 September 2005 ceramah dan baca puisi di Pespustakaan Negeri Perak Malaysia. Sebelumnya, Desember 1999, diundang sebagai pemakalah dalam Dialog Utara VIII di Pattani, Thailand.



ReviewReviewKhanduri!May 11, '06 12:06 AM
for everyone
Category:Other
KHANDURI TAKZIAH DI GAMPONG MAWA
> > > Sulaiman Tripa (Penulis)

MAWA Pulah sudah menyerahkan segala urusan kepada Yang Maha Kuasa. Seluruh anggota keluarganya sudah meninggal semua dalam suatu bencana yang terjadi di gampong. Tak hanya keluarga Mawa Pulah, banyak anggota keluarga gampong yang turut menjadi korban.

Orang-orang gampong sangat yakin dengan adanya qadha dan qadar. Tak perlu ada yang gundah bila orang-orang gampong itu seperti sepakat, mengakui bencana itu karena gampong mereka selama sudah terlanjur ternoda. Tersiram noktah dalam berbagai bentuk dari perangai manusia.

Walau seluruh harta sekalipun. Tak ada yang bisa menghambat ketika Allah mau mengambil kembali. Maka nyawa, harta-benda dan seluruh isi jagad, adalah kekuasaan Allah untuk memberi dan mengambil kapan saja. Untuk menampakkan kekuasaan itu, Allah tak pernah membuat janji terlebih dahulu.

Karena sebagai sebuah kejadian yang tidak diketahui waktunya oleh makhluk, menyebabkan manusia sebagai salah satu makhluk, harus mengharapkan suasana indah di setiap waktu. Dan mereka sangat yakin akan kebenaran ajaran: “Bekerjalah untuk duniamu seolah-olah engkau akan hidup selamanya. Beribadahlah untuk akhiratmu seolah-seolah engkau akan mati besok.”

Dari anak-anak sampai dewasa, lelaki dan perempuan, semua mengenal ajaran itu. Sebuah konsep yang sangat tegas dalam upaya memberikan kekhusyukan bagi manusia dalam menghadapi Allah, dan tetap humanis dalam menghadapi sesama.

Makanya ketika musibah terjadi, semuanya berpulang kepada-Nya. Tidak ada gugat. Tidak ada maki. Tidak ada tuntutan. Semua menjadi satu sikap: menerima sebagai sebuah cobaan.

Di gampong, Mawa Pulah hanya melaksanakan khanduri untuk mentakziahi para anggota keluarganya yang meninggal. Khanduri yang dilaksanakan Mawa Pulah, sama sekali bukan untuk menghabiskan harta anak yatim.

Khanduri itu sebagai culture orang gampong dalam menyambut tamu-tamu yang datang. Sebagaimana mereka juga memegang teguh ajaran, bahwa seorang tamu adalah raja. Maka mereka akan memberikan sesuatu bagi para tamu, walau itu hanya secangkir air putih.

Itulah culture. Orang-orang yang datang pun harus tahu diri, bahwa tidak mungkin menghabiskan segala makanan yang sudah dihidangkan. Mereka yang datang bertamu menjunjung tinggi semangat lain, bahwa meminum dan makan seadanya sebagai penghormatan. Sama sekali bukan untuk menghabiskan rasa haus dan lapar.

Fenomena ini diimbangi pula dengan kebenaran ajaran yang diikuti masyarakat gampong, bahwa meminum harus dihentikan sebelum habis rasa haus, makan akan dihentikan sebelum habis masa lapar.

Ini adalah ajaran kontekstual kepada kita agar ketika makan, juga harus mengingat sesama manusia. Bahwa ada orang yang makan, yang disekelilingnya ada juga orang yang sama sekali belum makan.

Mawa Pulah tak pernah memberi undangan mewah untuk orang-orang yang bertakziah. Kepada orang-orang gampong, sudah ada bunyi tambo sembilan kali. Orang gampong sudah tahu bahwa kalau sembilan kali itu selalu berhubungan dengan musibah. Suara tambo orang yang musibah sangat berbeda dengan suara tambo yang memberitahukan akan adanya gotong royong.

Sedangkan untuk keluarganya yang jauh, Mawa Pulah hanya mengirim seutas surat, yang isinya kira-kira: telah meninggal dunia sebuah peradaban di gampong, mohon diteruskan kepada semua kawom-syedara. Lalu orang-orang yang membaca surat ini akan menyampaikan kepada orang lain secara berantai.

Orang-orang gampong akan mengunjungi rumah Mawa Pulah untuk bertakziah. Bukan untuk minum dan makan. Sedangkan tuan rumah memang berusaha memberikan sesuatu bagi rombongan yang datang untuk bertakziah.

Ternyata, setelah semua tahu ada yang meninggal dunia, banyak orang gampong yang mengunjunginya. Saat itu, mengunjungi rumah duka tidak selalu akan berhubungan dengan takziah. Seseorang yang datang bisa saja ingin menyetor wajahnya kepada semua hadirin, biar saat ada yang meninggal dunia di rumahnya, orang-orang juga akan datang.

Ada juga para pendatang di rumah duka yang selalu teringat untuk minum dan makan. Apalagi biasanya di rumah-rumah khanduri, makanan dan minuman sudah dipersiapkan secara spesial untuk orang yang bertakziah. Tapi makanan-makanan itu tetap bisa dinikmati oleh mereka yang tak melakukan takziah sekalipun.

Awalnya, fenomena seperti ini menjadi gejala yang aneh. Tapi lama-lama, apalagi sampai bertahun, fenomena ini tidak lagi menjadi aneh. Mawa Pulah dari hari ke hari harus menyiapkan tenaga ekstra untuk memasak makanan untuk tamu yang sebagiannya tidak bertakziah. Para tamu pun sudah cukup mengerti. Mereka selalu menyumbang dengan dana yang besar-besar agar Mawa Pulah tidak bermasalah untuk terus melaksanakan khanduri.

Dana itu, umumnya disumbang untuk memperbaiki rumah Mawa Pulah juga, karena masih ada beberapa anak kecil yang harus dihidupi. Sementara para tamu, mereka berusaha makan sepuasnya sesuai dengan jumlah sumbangan yang mereka bawa.

Tak hanya itu, para tamu juga tidak segan-segan membawa seluruh keluarganya agar dapat khanduri di rumah Mawa Pulah. Mereka semua akan memakan sepuasnya.

Nah, khanduri itu sudah menjadi khanduri raya yang luar biasa gaungnya. Khanduri itu telah menjadi pesta, di mana para tamu sudah sebagian kecil yang datang untuk bertakziah. Sebagian besar datang untuk makan masakan yang disediakan Mawa Pulah sehari-hari.

Mereka hanya berpikir bahwa mereka telah membawa sumbangan besar, maka tak ada salahnya memakan-makan sampai puas. Padahal waktu diberikan sumbangan, tamu-tamu yang datang dengan jelas berkata: “Mawa Pulah, ini sumbangan dari kami berjumlah sekian, sebagai ungkapan belasungkawa kami, hendaknya bisa dipergunakan untuk khanduri dan juga memperbaiki rumah Mawa yang sudah rusak berat ini!”

Tapi bagaimana Mawa bisa melaksanakan khanduri bila sebagian besar harus digunakan untuk mempersiapkan makanan yang kian hari sepertinya harus kian mewah.

Padahal hakikat khanduri sama sekali tidak mewah. Khanduri harus dilaksanakan secara sederhana: sebagai pengehormatan atas tamu yang datang. Tapi para tamu justru makin tak tahu diri. Mereka mengatakan mengerti nilai-nilai budaya di gampong, tapi mereka tak melaksanakannya. Mereka mengatakan menghormati kondisi gampong, tapi mereka datang bermewah-mewah.

Ironisnya, ongkos untuk mereka datang pun dibayar oleh masyarakatnya di gampong mereka. Seluruh warga di gampong lain juga berduka atas apa yang dialami Mawa Pulah, makanya mereka menyumbang walau tidak bisa menghadirkan tubuhnya. Nah, sumbangan itu pun digunakan untuk segala keperluan para pembawa sumbangan yang datang ke rumah Mawa Pulah.

Para warga di seluruh gampong berpikir, bahwa Mawa Pulah tak lagi bermasalah dengan kehidupannya. Tapi mereka sama sekali tidak mengetahui bahwa sumbangan mereka juga digunakan untuk kebutuhan para pengantar.

Khanduri yang seharusnya terlaksana sederhana, akhirnya berlangsung sangat mewah. Khanduri yang sama sekali tidak memperlihatkan bahwa Mawa Pulah sedang berduka. Khanduri ini hampir mirip dengan semua pesta besar yang siapa saja bisa datang untuk memakan sedikit makanan yang dimasak di rumah Mawa Pulah.

Para tamu pun datang bergelombang-gelombang begitu tahu Mawa Pulah sedang musibah. Tapi kedatangan para tamu yang awalnya berniat membantu menyemangati Mawa Pulah bisa berkehidupan kembali, malah kini menjadi beban berat yang akhirnya juga harus ditanggung Mawa.

Karena harus menyiapkan makanan yang banyak dan mewah, menjadikan khanduri itu sebagai khanduri raya. Sama sekali tak memperlihatkan kesederhanaan dan kedukaan. Apalagi hidangan yang dihidangkan, para tamu tak hanya memakan makanan saja, tapi juga membawa pulang piring-piring yang belum sempat ditertibkan Mawa Pulah dari atas meja.[]

ReviewReviewReviewLeumo Kap SituekMay 10, '06 11:54 PM
for everyone
Category:Other
LAGEE LEUMO KAP SITUEK
> > > Sulaiman Tripa

PERILAKU meu eu-eu, sama halnya dengan leumo kap situek. Kerap terlihat dalam kehidupan, bahwa eu dari orang lain menjadi gaya hidup dalam bentuk baru di sekitar kita. Ironisnya, sebagian yang merupakan pola baru yang ta eu, belum tentu kita paham akan maksud dan tujuannya.

Gambaran tentang terlihat banyaknya remaja di gampong kita yang sudah memakai anting menjadi salah satu contoh, apalagi daun telinga sampai ditindik berbaris. Padahal di daerah lain, anting kerap menjadi penunjuk, semisal mereka adalah seorang gay atau gigolo.

Di tempat kita, anting bagi anak laki-laki juga sudah terlanjut dianggap sebagai aksesoris. Melalui berbagai wacana, akhirnya anting tak lagi sebagai penunjuk.

Padahal anting itu hanya untuk manusia yang berjenis kelamin perempuan. Dalam kenyataan, mulai sulit menjelaskan sebuah hadis, bahwa haram hukumnya memakai pakaian perempuan bagi laki-laki, atau sebaliknya.

Seperti melihat orang-orang yang mengecat rambutnya dengan berbagai warna. Orang sudah tak mau tahu bagaimana dengan rambut yang bercat, akan bisa menyucikan tubuhnya.

Tersedia berbagai aksesoris yang dipakai tapi sangat jarang kita tahu maknanya. Celana rabak-robek yang terlihat di televisi, nyatanya juga dipakai anak-anak di gampong kita.

Proses itu berlangsung menggurita hingga akhirnya menjadi semacam “nilai” yang kita punya. Banyak orang tua yang akan merasa aneh bila anaknya, baik laki-laki maupun perempuan, tidak pernah membawa-bawa pacarnya kemana-mana, termasuk mengundang ke rumah.

Ketika saya di Jakarta, sebuah undangan pernikahan dan peresmian perkawinan, selalu dicetak dalam lembaran yang luks dengan foto-foto calon pengantin yang berfose bagai suami-isteri. Padahal mereka masih sebagai calon pengantin.

Apa yang terjadi, ternyata foto-foto yang tertempel di undangan, juga sudah mulai terlihat dalam lembar-lembar undangan mewah pernikahan orang-orang di Aceh. Sepasang calon pengantin yang sudah berfose layak suami-isteri, dan itu dibagi-bagikan kepada orang-orang yang akan diundang.

Mungkin ada rasa bangga ketika sebuah undangan, orang-orang melihat foto-foto seperti itu. Sama bahagianya ketika di awal ketika melihat bentuk undangan seperti itu di daerah lain.

Ini menjadi pertanda bahwa ada “nilai” lain yang sudah hadir di sekeliling kita. Kita tahu itu tidak sesuai dengan kehidupan kita, tapi kita seperti tak berdaya menolaknya.

Proses ini, bisa jadi kita memahami. Tapi tak jarang, karena proses meu eu-eu. Kita melihat orang, lalu kita tertarik, maka kita pakai, tanpa perlu melihat lebih jauh sesuai atau tidak dengan kehidupan kita. Dalam proses ini, kita menjadi semacam leumo kap situek.

Kita yang hidup dan berkehidupan di Aceh, sebagian besar, mengenal leumo dalam tiga kategori. Pertama, leumo kleut. Lembu kleut ini, sebenarnya leumo lheuh, tapi tak ada pemilik. Mungkin dulu ada pemiliknya, tapi karena tidak diperhatikan, leumo jadi mengungsi ke hutan belantara. Lalu, siapapun tak bisa lagi mengklaim bahwa itu milik seseorang.

Tapi sekarang, rasanya sudah jarang kita dengar tentang leumo kleut. Pasalnya, hutan belantara telah meninggal dunia. Manusia mengerdikan mereka, sehingga leumo kleut pun ikut menjadi korban.

Kedua, leumo seu’iet. Lembu ini, dipeueumpeun. Ia hanya tinggal di kandang. Saat seseorang kepingin hiburan, ia akan mengambil leumo dipeueumpeun itu untuk diadu. Katanya, biar tak seu’iet. Leumo yang mau dijual juga diadu, biar otot-otonya kencang.

Memang, leumo seu’it yang dipelihara orang-orang, bentuknya gagah bagaikan seorang impor. Harganya mahal, mungkin setara dengan nilai uang di negara orang. Badannya raya, seperti keturunan Eropa, Australia, atau Amerika.

Leumo-leumo itu mempunyai goh yang besar. Di atas badannya terbentuk seperti gunung. Biasanya, tanduk leumo jenis ini tak tajam.

Ketiga, leumo yang punya pemilik, tapi tak dikandangkan. Leumo jenis ini, akan mudah ditemui, baik di gampong maupun di kota. Leumo seperti ini, baru akan mencoba menghindar, bila kebetulan mereka sadari ada tim penertiban hewan yang datang. Mungkin mereka juga akan berpikir, sangat sayang bila tuannya harus menebus mereka yang sudah tertangkap.

Akhir-akhir ini, di berbagai kota, banyak sekali kita lihat leumo berkeliaran di siang hari. Ya, leumo masuk kota. Pada malamnya, mereka menindih jalan untuk melepaskan geriwatnya. Bahkan di halaman-halaman gedung mewah, terlihat bagai hutan belantara yang dipenuhi leumo.

Lalu jalan-jalan di Aceh, sudah melahirkan kenyataan baru, sebagai kandang leumo terpanjang di Asia Tenggara. Pasalnya setiap malam, leumo-leumo memang berkeliaran.

Ketiga jenis leumo ini, dalam persoalan makan, selalu karena meu eu-eu. Bila ada satu di antaranya yang makan sesuatu, maka yang lain ikut-ikutan, walau tak tahu apa yang dimakan.

Sebuah komunitas leumo, bila melihat kawannya mengunyah sesuatu, mungkin akan direbutnya. Termasuk situek. Mereka akan tetap saling merebut, walau sesudah merasakan, ternyata situek tak ubah bagai karet yang kenyal. Tapi karena ikut-ikutan, semua jadi ikut makan.

Akhir-akhir ini, leumo kap situek tak hanya leumo gampong. Leumo kota juga sudah doyan dengan kap situek. Di gampong-gampong, pohon pinang sudah banyak ditebang untuk dibawa ke kota saat perayaan lomba panjat pinang. Makanya situek sudah sangat jarang ditemui.

Orang-orang kecil semisal pekerja adee pliek u, akan menggunakan siteuk untuk pembungkus pliek yang diperas minyaknya. Orang-orang juga mempergunakan situek untuk membuat timba. Di kota, timba-timba itulah yang dilihat leumo dan mereka mencoba memakannya. Mula-mula satu, lalu saling merebut memakan situek yang sudah menjadi timba.

Ketika semua situek sudah dibawa gelombang tsunami, ternyata leumo tak kehilangan akal. Leumo berusaha mencari alternatif lain yang menyerupai situek, ditemukanlah plastik. Mula-mula dimakan oleh yang satu, lalu saling berebut. Mereka yang mendapat bagian akan mengunyahnya sampai pagi.

Mungkin leumo akan kembali kap situek ketika pinang-pinang yang ditanam di gampong sudah besar dan panen. Tapi di tengah panen, juga ada orang tua mengatakan untuk anaknya, lagee leumo kap situek.

Tamsil leumo kap situek menjadi ungkapan orang Aceh, berdasarkan kenyataan meu eu-eu. Maka bila ada seseorang tua yang mengatakan lagee leumo kap situek, seyogianya orang yang dikatakan akan mafhum, bahwa pekerjaan yang tidak kita mengerti maksudnya, konon lagi yang tak sesuai dengan “nilai” kita, sudah waktunya untuk ditinggalkan. Dan itu, tidak harus dengan dipaksa![]

ReviewReviewMusim Mengunjung!May 10, '06 11:49 PM
for everyone
Category:Other
MUSIM KUNJUNG ITU TELAH TIBA
> > > Sulaiman Tripa

MUSIM kunjung-mengunjung itu telah tiba kembali. Kalau tak aral melintang, dalam tahun ini, peutua Gampong Seulaseh akan dipilih kembali. Dipilih secara langsung, membuat semua persiapan harus dilakukan dengan matang.

Komite pelaksanaan pemilih waktu pemilihan umum, sudah tidak dipakai lagi. Di Gampong Seulaseh, sudah ada aturan baru, di mana badan pelaksanaannya harus yang bertera independen. Merekalah yang bertanggung jawab proses pemilihan peutua sampai selesai.

Sejak beberapa bulan lalu badan itu sudah bergeriwat. Akhir bulan ini, badan independen sudah mulai melakukan pendataan penghuni gampong. Orang-orang didata dan diberikan kartu pemilih agar bisa mencoblos di hari “h”. Kartu pemilih itu yang jadi penanda seseorang gampong bisa atau tidaknya untuk ikut dalam proses pemilihan sang peutua.

Dengan bertambah dengan kartu pemilih itu, orang gampong sudah memiliki beberapa jenis kartu. Ada kartu penduduk, ada kartu organisasi, ada kartu profesi, ada kartu pemilih, dan sebagainya. Hitung-hitung, seorang gampong bisa memiliki empat sampai lima jenis kartu setiap tahunnya. Belum lagi mereka yang memiliki kendaraan, juga harus memakai kartu.

Jumlah jenis kartu tersebut, tentu sangat kurang bila dibandingkan mereka yang hidup di kota-kota. Berbagai jenis kartu diantar ke rumah, terutama yang berhubungan dengan bayar-membayar.

Tapi tujuan pemberian kartu di Gampong Seulaseh akan berbeda dengan kartu bayar-membayar di kota-kota. Ini hanya untuk memastikan semua orang bisa ikut terlibat saat pemilihan peutua berlangsung.

Di gampong sedang ada perubahan paradigma. Dulu, proses pemilihan dilakukan oleh beberapa orang saja. Ada utusan para cerdik-pandai, pemuda, orang tua, perempuan, bahkan anak-anak. Penentu terpilihnya peutua berada di tangan beberapa unsur di gampong. Merekalah yang memilih peutua.

Sesuai dengan perkembangan demokrasi moderen, cara-cara seperti itu sudah dianggap tidak aspiratif lagi. Sudah tidak relevan. Berlakulah, one man one vote. Semua orang memiliki hak yang sama untuk memilih, walau semua orang juga berpotensi untuk tidak bisa memilih, mungkin karena alasan sesuatu semisal tidak sehat akal.

Persoalan akal sehat, tentu bukan hanya dialami mereka yang kebetulan dititipkan ke rumah sakit khusus masalah kejiwaan. Kalau masa penjajahan Belanda dulu, orang-orang yang dianggap bermasalah dengan akal sehatnya dan akan dikirimkan ke Sabang untuk jak sukat ie lam raga.

Ternyata masih banyak orang yang tak sehat akal di luar itu, dan lebih dari sekedar orang-orang yang dititipkan di rumah sakit yang menentukan seseorang bermasalah dengan kejiwaannya.

Ketika seseorang merasa terasing dengan dunianya, maka sebenarnya sudah dapat dianggap tak sehat akal. Tapi ini akan berbeda dengan pemahaman sebagian orang. Tak sehat akal, hanya dianggap orang-orang yang dititipkan di rumah sakit khusus masalah kejiwaan semata.

Padahal, di luar itu, banyak sekali masyarakat yang tak sehat akalnya. Orang-orang yang melakukan suatu kejahatan dengan sengaja, adalah orang-orang yang bermasalah dengan kejiwaan. Orang-orang yang tidak menggunakan ilmunya untuk kebenaran, juga dapat dimasukkan ke dalam golongan ini.

Jadi konsep tak sehat, menjadi sangat luas. Dengan diam saja membiarkan kezaliman, sudah bisa dianggap tak sehat akal. Apalagi kalau melakukan sesuatu yang berbenturan dengan nilai-nilai kebenaran.

Intinya, orang yang membiarkan kezaliman bisa dianggap tak sehat karena tak mampu memperbaiki jalan peradaban. Sederhananya, bagaimana bisa seorang ikut memilih orang lain, sedang untuk menentukan jalan kehidupannya ke arah yang lebih baik saja tidak mampu dilakukan. Bukankah begitu?

Nah, bila konsep ini diterima, maka sungguh orang yang tak sehat itu cukup banyak jumlahnya. Tapi kerap, pada akhirnya kenyataan seperti ini tidak bakal diterima sebagai sebuah konsep. Akhirnya, orang-orang yang tak sehat pun akan menentukan pilihan untuk memilih orang lain.

Syahdan, proses penggapaian hasil yang memuaskan akan dilalui dengan berbagai rumusan. Bagi seorang yang berkeinginan menjadi peutua akan membina hubungan yang baik dengan golongan-golongan sentral.

Salah satunya, ada Waki Brahim, sebagai seorang gampong yang berkemampuan cuap-cuap. Profesi ini memang tidak perlu cakap. Apalagi di samping meunasah, waki memiliki sebuah warung kopi yang sangat strategis. Karena itu waki memiliki komunitas yang jelas.

Tak mengherankan bila hampir setiap waktu ada saja tamu yang datang secara bergantian. Tim sukses maupun tim tidak sukses, kerap singgah walau hanya sebentar. Paling tidak, mereka akan datang untuk setor muka. Sejak berbulan-bulan lalu sebelum muncul ketetapan tanggal pemilihan peutua, proses kunjung-mengunjung sudah berlangsung ramai.

Warung Waki Hasan, tak saja sebagai tempat minum kopi. Lokasi itu sudah terlanjur dianggap sebagai sentral membangun kekuatan politik. Siapa yang bisa menguasai warung itu secara efektif, biasanya ia akan memenangkan pemilihan setiap pemilihan.

Makanya semua calon peutua juga berlomba-lomba ke sana. Ketika tim sukses sudah dianggap tak lagi menjual, maka para calon sendiri yang datang ke sana dan berusaha untuk membayar harga kopi semua pengunjung.

Tak lupa, saat membayar harga kopi, para calon membisiki sesuatu ke telinga waki. Tak ada yang tahu apa maksudnya. Semua calon melakukan manuver serupa. Waki hanya mengangguk-ngangguk saja.

Ketika proses kunjungan selesai, waki membuat info untuk pengunjungnya yang ditempel di sudut kedai. Di sudut info, ditempel foto ukuran post card. Isinya kira-kira: telah berkunjung ke tempat kami yang ramai, Pulan yang terhormat, untuk saling duduk bersama mencari solusi berbagai persoalan.

(Kerap, mencari solusi permasalahan hanya dilakukan saat mendekati proses pemilihan. Sesudah itu, semua berjalan sendiri-sendiri, tak ada lagi hubungan yang timbal-balik antara satu dengan yang lain).

Beberapa info sudah lebih dahulu tertempel di sana. Ini berarti sebelum Pulan, sudah ada beberapa calon yang lebih dulu hadir. Tapi sesudah beberapa waktu, orang juga tak bisa memprediksikan siapa yang akan menjadi pemenang, karena ternyata aturan yang membuat semua calon sudah mempersiapkan diri, ternyata belum selesai dibuat oleh pihak berwenang.

Tapi proses ini bagai harus dilalui bagi seorang yang ingin mencalonkan diri sebagai peutua. Terlepas sesudah ia membayar kopi pengunjung warung, akhirnya tak terpilih. Itu persoalan lain.

Akhir-akhir ini, karena musimnya kunjung-mengunjung, sudah banyak anak-anak muda yang menuntut ilmu datang ke warung. Mereka duduk berjam-jam sambil memesan kopi, dan tak perlu membayar karena secara bergantian calon peutua akan datang membayarnya sampai lunas.

Terbayangkah, kalau dalam setiap pemilihan, ternyata bayar-membayar kopi juga sangat menentukan? Ironisnya, itu sudah dianggap sebagai sehat.[]



ReviewReviewReviewSie Kameng!May 10, '06 11:46 PM
for everyone
Category:Other
SIE KAMENG HASAN, SIE ITEK HUSEIN
> > > Sulaiman Tripa

SEBENARNYA, tidak mampu mencari pasar unggulan tak hanya terjadi di sektor perikanan. Banyak sektor lain, semisal makanan, pariwisata, kekayaan kearifan lokal, dan sebagainya.

Membaca berita itu, saya teringat kepada berbagai hal lain, yang inti persoalannya ternyata, di samping masalah proses marketting dan jaringannya yang masih berlangsung sangat alamiah, juga harus ada upaya pembumian terhadap apa saja yang akan di lempar ke pasar.

Di sektor perikanan, kita memang memiliki kekayaan yang melimpah. Tapi pemasaran yang belum “menarik” membuat semua yang kita miliki masih dianggap sebagai “lokal”. Ada juga persoalan lain, ternyata tingkat konsumsi ikan kita sendiri juga masih sangat rendah, ketimbang beberapa negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.

Secara langsung, ini memang tidak tampak. Tapi secara tak langsung, saya kira berkaitan. Lobster dari Simeulu sudah dijual kemana-mana, dan kita harus tahu bagaimana rasanya, bagaimana mengolahnya, dan sebagainya. Sekarang yang menjadi masalah, kita hanya sebagai yang punya, sedang proses lain bukan kita yang melakukan. Ada orang lain yang akhirnya menjadi toke. Ikan tuna sudah sampai ke Jepang, juga begitu, tapi bukan atas nama kita. Itu ‘kan yang terjadi?

Teri (kareng) Panteraja atau Krueng Raya, juga dibawa toke ke daerah lain. Tapi yang terkenal justru teri lain yang ukurannya kecil-kecil, namanya Teri Medan. Kita lebih mengenal rasa Teri Medan ketimbang kareng Panteraja atau Krueng Raya. Di sepanjang jalan Banda Aceh – Medan, neuheun di Aceh menghasilkan udeung watt yang tidak sedikit. Tapi disayangkan semua proses tak berlangsung di sini.

Sama halnya dengan tika iboih. Anyam-menganyam tikar, dalam masyarakat kita sangat kurang melakukan terobosan. Sedang di banyak daerah, anyaman pandan sudah dijadikan berbagai aksesoris yang menarik. Bayangkan ketika anyaman pandan menjadi hiasan dinding yang mahal, atau pembungkus undangan perkawinan yang mewah.

Ketika saya pergi ke beberapa daerah, produk keramik ternyata tidak semurah yang dibayangkan. Barang-barang sederhana yang akhirnya sudah menjadi mewah. Makanya saya berfikir, barang-barang mewah bisa jadi dari yang sederhana. Walau diakui, bahwa tak semua mewah menjadi mahal harganya.

Intinya, saya kira di proses pengemasan- pemasaran dan pembumian, harus berlangsung selaras. Harus seperti kupi Aceh yang dulu hanya terkenal di Banda Aceh. Tapi kini di sudut-sudut Jakarta, warung-warung mie Aceh sudah menjual kopi yang bubuknya dibeli dari Banda Aceh. Jadi ketika orang yang sudah pernah minum kupi Aceh di Ulee Kareng, mereka bisa memuaskan diri dengan yang ada di sana.

Nah, bagaimana dengan sebuah masakan Aceh Rayeuk yang bernama ayam tangkap? Saya kira, belum apa-apa dibandingkan dengan Kentucky Fried Chitcken (KFC). Bagaimana ini bisa diubah? Tentu bukan perkara gampang.

Sebuah produk, akhirnya menggambarkan betapa hegemoni global juga berlangsung di atasnya. Globalisasi, mensyaratkan kebebasan pasar yang bagi penggagasnya, tentu sudah diperhitungkan kesiapan mereka dalam menguasai dunia.

Ini bisa jadi semacam bentuk kecemburuan akan produk impor yang laku keras di nanggroe kita. Mulai dari pakaian, perupa-an, rumah, sampai makanan. Misai sekalipun, banyak yang sudah menggunakan impor. Konon lagi anak-anak muda yang sudah mencat rambutnya warna-warni.

Kita harus menyaingi mereka. Masalahnya, bagaimana persaingan itu dibuat dengan tetap pada nilai-nilai yang kita miliki. Sie kameng Hasan di Banda Aceh, sie itek Husein di Peunayong, atau sate Matang di Bireuen, harus menyaingi segala produk impor, dengan tetap mempertahankan keacehannya.

Proses persaingan yang terjadi secara global, memang cenderung tidak sehat. Penguasa pasar besar dunia, menekan pasar sampai ke puak-puak. Ini adalah persoalan, dan saat yang sama kita harus berfikir bahwa pasar di dunia global, tak hanya berada dalam aspek ekonomi semata.

Ini merupakan sebuah bentuk kecemburuan dari upaya kebangunan kita untuk menyaingi segala impor yang ternyata lebih membumi di tempat kita. Ternyata kita masih kalah jauh, karena ternyata, kita masih belum melakukan apa-apa.

Kebangunan pasar dunia, juga menjadi “alat” untuk dominasi aspek yang lain. Sebuah perusahaan multinasional di Indonesia, atau Aceh, akhirnya berpengaruh ke dalam pengambilan kebijakan lain, di luar dari sekedar ekonomi. Inilah proses pasar dunia yang sedang berlangsung. Bukan apa-apa, karena Indonesia sebagai salah satu pihak di dalamnya, yang sejak 1995 sudah menandatangani World Trade Organization (WTO).

Saya ingin kembali ke asal, bahwa produk lokal memang harus berusaha keras menyaingi berbagai impor, walau itu berlangsung di tingkat lokal dan nasional, melalui usaha keras kita untuk membumikannya. Sudah saatnya, sie kameng Hasan, kupi Ulee Kareng, warung ayam tangkap Cut Dek, sie itek Husein, atau sate Matang, walau tak seperti KFC, tapi minimal bisa jadi seperti rumah makan Minang yang tersedia dari Aceh sampai Merauke. Sekali lagi, proses menyaingi itu, tak harus membuang “nilai-nilai asli” yang kita punya.

Dalam konteks yang lebih luas, ini juga bisa jadi alat jual dalam dunia pariwisata. Konsep kepariwisataan, kita juga harus memiliki desain sendiri berdasarkan nilai lokal. Itulah yang membumi. Sebuah tempat pariwisata, akhirnya jangan menjadi lokasi bercinta para remaja. Inilah yang tergambar akhir-akhir ini, tak hanya di Aceh, tapi juga di daerah lain.

Intinya, ada proses pemasaran yang maksimal dilakukan, proses berkehidupan juga berlangsung maksimal, dan itu tidak harus dengan proses hegemoni sebagaimana produk-produk global. Sederhananya, bagaimana mie Aceh akan terkenal di seluruh daerah. Aceh, dengan begitu, tak hanya terkenal dengan ganja yang akhir-akhir diberitakan Rajapost, ada penemuan di mana-mana.

Dengan proses demikian, makanan Aceh harus semegah Lumpia Semarang atau salak dan baju Dagadu Yogjakarta. Timphan asoe kaya dapat lebih terkenal dengan bika Ambon di Medan. Tapi bagaimana terkenal, bila kita sendiri tak pernah merasakan nikmatnya asoe kaya.

Harus dipikirkan bagaimana durian Tangse atau Lamno lebih dikenal dari rambutan Binjai. Seperti sepatu Cibaduyut yang seolah orang yang ke Jawa rugi bila tak membelinya.

Pernahkah kita berfikir, bahwa silop Jepang yang dijual di hampir seluruh Aceh, dan dipakai oleh sebagian besar orang Aceh, itu merupakan produk Sumatera Utara. Adalah kenyataan, kita sendiri juga sudah lebih menggunakan tikar plastik ketimbang tika iboih.

Akhirnya, ternyata proses pemasaran juga tidak hanya bertumpu pada produk. Tapi juga sejauhmana masyarakat Aceh menggunakannya dalam keseharian, sambil terus memperkenalkan pada orang lain.

Jangan seperti panyoet cilot, hanya untuk orang lain saja, sedang kita sendiri tak menggunakannya. Sebuah kampanye yang kita lakukan hanya untuk orang lain, itu sama saja dengan membuat rumah di angin.

Lihatlah bagaimana orang Bali menjual tradisinya dengan hidup dan berkehidupan. Tradisi orang Bali, bukan hanya untuk dijual sebagai sebuah “kampanye”, tapi mereka dalam keseharian juga hidup dengan itu.

Usaha yang seperti itulah, yang sangat diperlukan di Aceh.[]


ReviewReviewReviewTeater Gampong!May 10, '06 11:42 PM
for everyone
Category:Other
MELIHAT GAMPONG SEBAGAI TEATER
> > > Sulaiman Tripa (Penulis)

KEHIDUPAN di gampong, bisa dilihat sebagai sebentuk teater yang nyata. Kawasan ini bisa diperlebar atau diperluas. Dari sebuah gampong, menjadi mukim, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, atau bahkan negara. Semua bisa dilihat sebagai sebentuk teater yang asli.

Sebuah kehidupan bermasyarakat, diakui atau tidak, ibarat sebuah teater besar yang mempertontonkan lakon ratusan sampai jutaan pemain dengan jutaan peran yang berbeda-beda. Sebagai sebuah lakon, selalu saja ada sutradara.

Ada pertanyaan, bagaimana bila sang sutradara menyerahkan sepenuhnya jalan lakon kepada pemain untuk berimprovisasi di atas panggung tempat mereka bermain teater?

Ini bisa saja dibolak-balik. Tapi yang tidak bisa adalah sebuah lakon tanpa sutradara. Itu saja. Tetapi lakon bisa saja tanpa jalan cerita, tanpa naskah. Lakon bisa berjalan walau dengan berimprovisasi ria.

Sebagai sebuah improvisasi, tentu saja akan melahirkan dua kemungkinan. Tidak lebih dari dua itu. Kemungkinan pertama adalah para pemain menawarkan sebuah permainan yang akan dirasakan menarik oleh penonton. Prasyarat permainan ini adalah bila pemainnya piawai dan moral profesinya bagus.

Kemungkinan kedua, bisa saja permainan yang disuguhkan memalukan dan memilukan. Hal ini wajar, karena pemain yang tidak atau belum profesional, tidak mengetahui sepenuhnya tentang seluk-beluk improvisasi.

Tetapi menurut saya, bila ingin mencapai hasil seperti yang diinginkan, tentu semua pemain harus diarahkan dalam sebuah kerangka permainan yang tersusun apik. Hal ini akan menentukan seorang pemain akan mampu untuk memberi kenikmatan sebuah tontonan.

Bayangkan bila semua tontonan itu dipertontonkan untuk banyak orang, dimainkan oleh orang-orang yang beringas, berbakat KKN (korupsi, kolusi, nepotisme), dan berwatak menindas.

Para pemain ini akan bisa dibatasi bila alur logis selalu tersusun dengan menawarkan berbagai konsepsi dan strategi dengan peran bertingkat di masing-masing orang.

Memang sebuah lakon membutuhkan pemain yang lembut dan kasar. Sama seperti kehidupan, harimau membutuhkan domba, singa memerlukan pelanduk. Itulah kehidupan.

Hanya saja yang tak rasional bila seluruh pemain berwatak harimau. Tak ada yang berwatak domba. Ini bisa berbahaya. Karena bila ini yang terjadi, maka tak ada yang kuasa untuk mengatur harimau, dan tak ada yang kuasa untuk mengatur domba. Akhirnya menjadi wajar saat di atas panggung para pemain saling berebut sebagai komponen yang pluek-meupluek.

Semua pemain pada akhirnya tak rela bila ditempatkan sebagai orang yang tidak memiliki kuasa, apalagi sampai menjadi cadangan atau pendamping. Ketidakrelaan akan lebih fatal bila dimanifestasikan dengan amuk marah. Tidak dikabulkan sebagai posisi di atas, orang lain yang menonton dilibatkan untuk turut nimbrung ke pentas, bermain permainan yang berdasarkan improvisasi, bukan atas kepiawaian dan jalan cerita yang sudah disusun apik.

Saya kita itulah yang sedang berlangsung di sekitar kita. Ketika kita gagal menjadi pemimpin dan mendapat kekuasaan, lalu menjadikan orang banyak sebagai para rombongan intat linto untuk mendemo, mempertahankan, dan merebut kekuasaan.

Elite seperti tak senang bila hanya sebagai pemain cadangan. Semua ingin jadi dan mendapat peran utama. Maka terbentuklah faksi-faksi yang tajam. Dulu, warga satu partai politik ditundukkan dengan warga partai politik lain. Sementara, warga yang lain juga demikian. Jagal-menjagal pun berlangsung, walau secara halus.

Dalam konteks yang lain, improvisasi ini juga terjadi. Lihatlah orang-orang yang mengurusi suatu masalah, kemudian menjadikan rakyat sebagai atas nama. Orang yang ingin mendapatkan bagian pembangunan Aceh pascatsunami, menjadikan kesejahteraan rakyat sebagai alasan.

Jadi ini kenyataan gampong kita. Ini bisa saja terjadi dalam keluarga kita, ketika anak-anak kita juga dilibatkan dalam berbagai persoalan yang seharusnya, belum saatnya mereka merasakan itu.

Dengan kondisi yang demikian, tak pelak, apa-apa yang harus dilaksanakan dalam kehidupan, senantiasa berstandar pada politik. Politik sudah menjadi panglima.

Hal yang sama kerap terlihat juga dalam pengadilan. Sekarang lagi demamnya menyidang orang-orang ‘besar’ di masa “lalu”? Kadangkala, proses pengadilan berlangsung tidak sebagaimana tuntutan yang dimaui oleh hukum, tetapi bagaimana dengan kemungkinan politik. Hukum seolah sedang tidak menjadi panglima.

Sebagai bangsa yang berdasarkan hukum, kita malah diperlihatkan kekuasaan yang berkuasa secara ekonomi, sosial-budaya, dan sebagainya, bahkan atas hukum itu sendiri.

Kita tak lagi menjadi bangsa yang ramah dan adil, karena setiap hari proses pengadilan tidak lagi hanya untuk hukum, tapi juga untuk politik. Banyak kasus hukum pada akhirnya menjadi tidak masalah ketika tidak ada gugatan dari para pemain politik. Politik akan menjadi seperti pelaku hukum bila ada orang atau bagiannya yang bermasalah dan harus dihukum. Bila tidak ada persoalan, maka permasalahan hukum dianggap selesai.

Konsekuensi dari membangun politik sebagaimana panglima, yang menjadi patron kemudian adalah kita akan menjadi bangsa yang selalu saling curiga. Gampong yang satu dengan yang lain selalu saling bertanding, bukan bersanding. Ketika ada orang di gampong A yang menjadi penguasa lalu ditolak oleh orang gampong B, maka memobilisasi massa dari gampong kerap terjadi. Padahal belum tentu warga gampong akan tahu apa-apa tentang itu.

Suasana seperti ini haruslah diubah. Kita harus kembali memproklamasikan bahwa negara kita berdasarkan atas hukum, bukan berdasarkan kekuasaan. Tidak juga berdiri atas nama politik. Proses politik tidak harus memposisikan hukum sebagai subsistem.

Bila ini tidak bisa berjalan lurus, orang-orang gampong akan mencatat kenyataan sebagai suatu dagelan. Jalan sebuah lakon yang tanpa naskah atau alur logis. Maka improvisasilah yang dominan. Dan ini akan sangat berbahaya bagi banyak orang.

Jangan pernah mengira orang-orang di gampong tidak tahu apa-apa. Orang-orang gampong punya kemampuan merekam proses sejarah di kepalanya, walau tak kuasa untuk mencatat.

Tentunya jangan sampai lakon ini menjadi cerita dalam teater baru di masa depan. Dan nanti, itu yang akan membenarkan tesa bahwa proses teater yang nyata memang berjalan terus sampai akhir zaman.[]




ReviewReviewReviewKesenian Banda!May 10, '06 11:40 PM
for everyone
Category:Other
BERKESENIAN DI ACEH
> > > Sulaiman Tripa (Penulis)

SAAT ini, kesenian seperti tidak hanya lagi bertumpu dari harapan keindangan. Sebagaimana ungkapan: agama menjadikan hidup lebih berarah; ilmu membuat hidup menjadi lebih indah; seni membuat hidup jadi lebih indah.

Akhir-akhir ini, di berbagai jagad, seni tak lagi terbatas itu. Konsep kesenian dan berkesenian sekarang sudah lebih dari sekedar konsep untuk “indah”.

Ada tiga hal penting yang terdapat dari sebuah karya seni (apakah itu seni rupa, sastra, musik, teater, film, tari, dan sebagainya), yakni: Pertama, seni yang menjadi pembentuk nilai-nilai budaya dan peradaban.

Sebuah karya seni, merupakan bagian dari proses pembangunan pendidikan, identitas, karakter, solidaritas dan perilaku. Karya seni masa lalu yang dianggap tradisi, mungkin proses penciptaannya ketika karya itu lahir, belumlah termasuk tradisi.

Tari ranup lampuan, lahir melalui proses yang tidak tiba-tiba. Orang-orang yang menciptakan tari ranup lampuan, barangkali tidak memikirkan sampai sekarang itu termasuk dalam tradisi.

Selain itu, sebuah karya juga bisa menggambar kondisi masyarakat saat itu. Ini yang jarang dibedah, baik oleh pelaku seni, lembaga kesenian, maupun masyarakat secara umum. Padahal dengan mengkaji ini, akan terlihat bagaimana kondisi sosial-budaya, ekonomi, politik, bahkan kebangunan peradaban saat karya itu lahir.

Sebagai contoh, dalam seudati. Melalui kajian, proses lahirnya seudati akan menggambarkan kenyataan sosio budaya masyarakat Aceh saat karya seudati itu tercipta.

Kedua, sebuah karya seni juga sangat berpotensi menjadi ruang pemasukan ekonomi. Dalam konteks ini, “penjualan” produk kesenian umumnya melalui promosi pariwisata.

Hal ini telah dilakukan di berbagai daerah. Di Aceh, proses ini sebenarnya sudah dimulai, walau dalam konteks yang sangat terbatas. Dikatakan baru dimulai, karena Aceh belum bisa menghadirkan para pelancong untuk hadir ke sini karena kekayaan kesenian seperti halnya Bali dan Jogyakarta. Kalau pun ada, itu sangat kasuistik.

Pascatsunami, banyak orang luar yang datang ke Aceh, tapi bukan untuk melihat kesenian. Padahal, beberapa negara, jauh sebelumnya mengundang sebagian seniman untuk mempertotonkan produknya kepada mereka. Sayangnya, di tingkat lokal, potensi itu tak bersambung untuk mengubah kenyataan, bahwa rangsangan itu lahir bukan dengan mengundang ke sana, tapi akan datang ke tanah ini.

Ketiga, karya seni juga sebagai salah satu media efektif dalam perubahan sosial. Proses yang awalnya berkesenian paling aktual, adalah pelaksanaan rapai damai menyambut Perjanjian Damai Pemerintah dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sepanjang hampir 700 kilometer.

Tiga hal penting itu bisa saja bertambah. Tapi yang jelas, dari tiga hal akan bisa memetakan bagaimana konsep kesenian di masa depan. Masalahnya, seniman di Aceh tidak progresif untuk mendedah konsep pemetaan. Seolah-olah kesenian hanya berhubungan dengan dirinya. Padahal sebuah produk kesenian juga berhubungan dengan stakeholders.

Pemetaan ini dapat dilakukan dengan sederhana. Ketika sebuah produk kesenian tidak ada yang nikmati, bisa dihadirkan pertanyaan, kenapa (why)? Pertanyaan ini, akan terjawab dengan sendirinya bila pertanyaan lain sudah terjawab: apa (what) itu kesenian dan seniman? Untuk apa berkesenian? Siapa (who) stakeholders dalam berkesenian? Dan bagaimana (how) berkesenian?

Hanya dengan pemetaan yang bisa menjelaskan semua itu. Belum lagi misalnya dalam tatanan yang lebih besar, ternyata juga terkait dengan berbagai kelindan: kapitalisme salah satunya.

Melihat kenyataan seperti itu, paling tidak terdapat lima persoalan krusial yang dihadapi di Aceh: Pertama, sumberdaya (manusia, sarana-prasarana –termasuk masalah dana). Tapi saya menekankan bahwa sangat penting diperhatikan adalah SDM. Hanya dari SDM yang bisa membangkitkan semangat, bukan dari yang diluar itu, semisal dana, kantor, dan sebagainya. Kualitas SDM akan menentukan maju-tidaknya proses berkesenian.

Kedua, proses berkreativitas. Hal yang kurang diakui para seniman di Aceh adalah proses berkarya belum berlangsung terus-menerus. Secara umum, seniman belum melahirkan karyanya secara kontinyu. Kalau pun ada itu sangat kasuistik. Hal lain, ternyata tingkat produktivitas sudah mulai hidup di seniman-seniman yang berusia muda.

Ketiga, pentingnya manajemen dalam kesenian dan berkesenian. Mau tidak mau, bila ingin berkesenian secara profesional, manajemen juga harus disesuaikan dengan konsep manajemen modern, tanpa melupakan proses yang tradisi. Modern yang dimaksudkan adalah bagaimana seniman mampu memetik keuntungan positif dari kepungan global yang sudah sampai ke dalam celana dalam kita.

Keempat, pentingnya jaringan. Dalam kesenian dan berkesenian, ada yang dimanakan dengan sindikat. Beberapa seniman yang memiliki hubungan khusus dengan beberapa sumber informasi (dalam segala hal), akan disampaikan lewat sindikatnya.

Biasanya, hanya seniman yang berkarya secara terus-menerus akan dengan mudah mendapatkan sindikat dalam berkesenian. Tentu saja, hal ini harus ditopang oleh wawasan yang luas dan terbuka.

Kelima, pemasaran produk kesenian. Ada dua turunan, (1) apakah sebuah produk kesenian akan dinikmati oleh penikmatnya; dan (2) apakah sebuah produk kesenian akan dibeli oleh pembelinya.

Kelima hal tersebut sangat penting untuk dijawab. Proses penjawabannya, saya kira yang paling kontekstual dilakukan adalah pemetaan dan pembangunan jaringan (networking). Di dalam proses jaringan yang terbentuk, daya saing merupakan hukum alamiahnya. Hanya karena ada daya saing membuat kita akan memperkuat potensi sumberdaya, mempercantik manajemen, memperbagus kreativitas, dan bermotivasi memasarkan produk yang akan dinikmati oleh publik.[]


ReviewReviewReviewIklan Pinggiran!May 10, '06 11:39 PM
for everyone
Category:Other
KARENA SELAIN KITA, ADA MEREKA
(Setahun BRR dan Menanti Surat Cinta di Tahun Kedua!)
> > > Sulaiman Tripa (Penulis)

ADAKAH seseorang yang mengkaji berapa banyak dana yang harus dikeluarkan sebuah lembaga, instansi Pemerintah, atau nongovernment organization (NGO) untuk membiayai iklan-iklan di berbagai media sebagai salah satu upaya dalam melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh?

Pernahkah kita sesekali mengkaji, berapa banyak biaya iklan yang dikeluarkan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias sendiri dalam sehari, seminggu, sebulan, atau bahkan dalam setahun?

Terakhir, tentunya pertanyaan tentang berapa banyak sebuah media, menerima order iklan dari berbagai lembaga yang melaksanakan proses rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh tersebut?

Saya kira, belum ada yang melakukan penelitian ini secara lengkap. Walau diakui, ada beberapa orang yang sudah mencoba hitung-hitung angka-angka yang berhubungan dengan masalah ini.

Saya harus jelaskan terlebih dahulu, bahwa tulisan ini sama sekali tidak menyentuh berbagai makna iklan, sebagaimana sudah saya tulis melalui harian ini pada tanggal 22 Januari 2006, dengan judul tulisan: Menafsirkan Makna Sebuah Iklan.

Sekilas, inti tulisan tersebut, adalah: Pertama, iklan berpotensi menggugah rasa sosial kita terhadap persoalan sesama. Kedua, iklan ternyata menjadi penggambar wajah keterasingan kita dalam kehidupan di Aceh. Ketiga, iklan juga lebih dominan menjadi penyanjung ketimbang mengingatkan seseorang yang memperoleh jabatan. Keempat, banyak orang terbantu dengan iklan ketika berbagai persoalan kehidupan yang dialami begitu kompleks, ingin diselesaikan dengan tuntas walau harus meminta perhatian banyak orang sebagai pembaca. Betapa seorang korban yang mencari anaknya, sangat terbantu dengan iklan, yang sampai beberapa bulan digratiskan oleh Harian Serambi Indonesia.

Dari keempat hal itulah, saya kembali menemukan hal yang menarik setelah melihat berita-berita dan iklan di Serambi Indonesia edisi 12 April 2006. Dalam harian ini, tertera iklan-iklan yang menggembirakan, dan pada kolom yang sama juga tersiar kabar-kabar yang tidak menggembirakan.

Ada sekitar 33 iklan besar edisi tersebut. Ada 12 di antaranya adalah iklan yang berhubungan dengan proses rehabilitasi dan rekonstruksi: iklan mencari staff, hari berkabung, pengumuman pelelangan, pengumuman lomba, dan pengumuman kesimpulan dan rekomendasi acara.

Harian ini di hari tersebut memuat iklan pengusaha daerah sehalaman penuh tentang berkabungnya mereka atas sikap BRR yang menurut mereka, tidak berlandaskan kebersamaan dan kearifan lokal, dalam konteks pihak yang bangun-membangun.

Untuk iklan sehalaman, kalau tidak salah di Serambi Indonesia berharga sekitar Rp29 juta (belum termasuk diskon). Untuk jumlah ukuran itu, mungkin ada sesuatu yang penting untuk disampaikan. Menurut saya, pemberitahuan mereka sedang berkabung juga sebagai sebuah pernyataan untuk itu.

Sehari sesudah itu (13 April 2006), Pakta Integritas antara pihak-pihak yang berkepentingan ditandatangani. Berarti, iklan menjadi komunikatif. Apalagi menyangkut masalah ini, juga ada beritanya di halaman yang terpisah selain dipasang iklan.

Di bagian yang lain, Panitia Kongres Kebudayaan juga mengumumkan hasil kongres dan rekomendasinya, terutama bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Setengah halaman, tentu berharga Rp14,5 juta. Dan itu sebagai bagian dana pelaksanaan kongres yang berjumlah Rp1 miliar itu. Pada halaman lain, ternyata ada pula berita tentang keputusan dan rekomendasi kongres juga termaktub. Sebuah hasil yang terbaca, tentunya masih sangat ringan bila dilihat kompleksnya persoalan ke-budaya-an di sekeliling kita.

Saya kira pembaca juga sama seperti saya, di samping iklan itu, ada berita-berita yang tak menggembirakan. Realisasi anggaran BRR baru 0,03 persen, sebagai contoh. Bukankah ini sebagai sebuah ironis, karena setiap hari, banyak orang yang bersuara bahwa ada yang belum mendapat perhatian.

Berita lain adalah mosi untuk Rahmatsyah, walikota Lhokseumawe yang baru seminggu lalu, iklan-iklan ucapan selamat untuknya banyak termuat di harian ini.

Apakah kita memiliki perhatian besar yang sama seperti masalah ini terhadap berita yang lain semisal foto jalan elak di Muara Batu (Aceh Utara) yang tak kunjung diaspal, sehingga penuh dengan debu? Atau potret sebuah keluarga kaum dhuafa di halaman yang lain melalui sebuah berita foto?

Mungkin, perhatian kita tidak semenarik melihat iklan-iklan yang besar itu. Karena iklan-iklan memang sudah dibayar mahal