Menulis harus jelas siapa kepada siapa tulisan tersebut ditujukan, begitu yang selalu saya dengar ketika sudah menyelesaikan sebuah tulisan, dalam bentuk apapun. Ketika sudah tepat sasaran maka mungkin pesan-pesan yang diusung seorang penulis dalam tulisannya akan tersampaikan kepada siapa yang penulis ingin sampaikan. Hal itu juga yang sangat kita tekankan bersama saat diadakan diskusi bedah karya bulanan Forum Lingkar Pena, Minggu, 27 Mei 2007.
Kali ini karya yang dibedah adalah cerpen Arniati yang berjudul Baba. Sebuah judul yang diangkat dari nama dari sang tokoh utama. Cerpen yag berkisah tentang seorag anak yang bernama Baba yang berasal dari keluarga yang kurang mampu. tema yang diangkat adalah tema yang sudah sangat sering kita dengar yaitu tentang sunatan masal. Cerita yang ditekankan oleh penulisnya dalam cerpen ini adalah tentang "keresahan" seorang Baba yang belum melunasi pembayaran uang untuk sunatan masal di sekolahnya yang diperuntukkan khusus untuk anak-anak kelas enam yang belum disunat termasuk Baba. Ketika akhirnya sang Ibu tak juga menunjukkan tanda-tanda akan memberi uang sisa pembayaran, Baba pun berniat untuk mengambil uang dalam tabungannya.
Sementara tema yang diangkat, sunat masal, tentu sudah cukup sering mendengarnya. Seperti yang saya tulis di atas, inti penekanan pada cerita ini adalah tentang biaya sunat masal yang harus ditanggung keluarga. Meski jumlahnya hanya separoh, saya menangkap kesan bahwa jumlah yang separoh itu tetaplah jumlah yang teramat besar bagi keluarga Baba. Yang menjadi pertanyaan kemudian: apakah sunat massal membutuhkan biaya sedemikian besarnya sehingga seorang Baba kemudian menjadi anak yang tidak percaya diri di sekolahnya. Setahu saya, yang namanya sunat masal, nikah masal, atau apapun yang massal-massal, tidak pernah dipungut biaya apapun. Ini menyangkut soal logika cerita. Ketika berbicara dari "ranah" yang satu ini, penulis harusnya lebih banyak melakukan "riset" tentang hal apa saja yang ingin ditulisnya sehingga persoalan yang diangkat penulis tidak terkesan hanya tempelan saja atau "pengada-adaan" dari penulis. Harusnya penulis lebih berhati-hati terhadap hal ini.
Konfliknya juga terasa masih kurang "menggigit". Cerita terasa sangat datar bahkan cenderung membosankan. Cerita berakhir bahagia dengan kejutan dari sang Ibu. Pihak sekolah tiba-tiba saja membebaskan kewajiban pembayaran uang sunat massal yang separuhnya lagi. Sebuah ending yang terasa sangat mudah sekali atau "mungkin" dimudah-mudahkan. Kenapa tiba-tiba saja ada pembebasan pembayaran uang sunat masal? Harusnya penulis jangan mudah terjebak untuk segera menyelesaikan ending yang seperti ini. Barangkali inilah "penyakit" penulis pemula: ingin menyelesaikan cerita setuntas-tuntasnya dan sebahagia-bahagianya. Padahal sudah cukup sering kita dengar: ending bukanlah penyelesaian sebuah cerita.
Kembali lagi ke persoalan siapa sebenarnya pembaca kita? Atau kepada siapa tulisan itu kita tujukan? Apakah cerpen yang berjudul Baba ini termasuk cerita anak atau bukan, sepertinya penulis masih kabur dalam menentukan siapa pembacanya. Dari segi bahasa, tentu tak cocok disebut cerita anak karena penggunaan bahasa yang terlalu "berat" untuk dicerna oleh pembaca anak-anak. Lalu ada beberapa kalimat yang terasa sangat panjang dan melelahkan untuk dibaca bahkan oleh pembaca dewasa sekalipun.
Saya yakin, dengan kegigihan seorang Arniati yang saya tahu tak pernah lelah untuk terus belajar, cerpen ini akan menjadi lebih baik ke depan. Mudah-mudahan tulisan singkat ini bisa menjadi pembelajaran untuk kita semua. Wallahu 'alam.