sulaiman's Site, Jak Piyoh

Blog EntryPemenang Cerber FeminaJul 13, '07 1:06 AM
for everyone

Pengumuan Sayembara Cerber Femina

http://www.femina-online.com/event/event_detail.asp?id=67&views=33

                    

Dari 250 karya yang berpartisipasi dalam Sayembara Penulisan Cerber femina tahun 2006, akhirnya femina berhasil menentukan yang terbaik. Kami memang sengaja memperpanjang masa lomba, dengan maksud agar para peserta memiliki waktu lebih panjang untuk menciptakan karya terbaik. Penangguhan waktu itu memang tak sia-sia. Selain jumlah peserta meningkat, kualitasnya juga cukup menggembirakan.

 

Nilai nominal hadiah bagi para pemenang tahun ini istimewa. Karena pada lomba Cerber tahun 2005 tidak ada pemenang I dan II, maka hadiah untuk kedua peringkat tersebut diakumulasikan untuk para pemenang Sayembara Cerber femina tahun 2006, termasuk dengan menambah 1 (satu) pemenang penghargaan.

 

Kalau biasanya Pemenang I mendapatkan hadiah uang sejumlah Rp10.000.000, maka hadiah kali ini menjadi Rp12.000.000. Pemenang II yang biasanya mendapatkan hadiah uang sejumlah Rp8.000.000, kali ini berhak meraih Rp9.000.000. Hadiah Pemenang III yang seharusnya Rp5.000.000 kali ini mendapatkan Rp7.000.000.  Untuk pemenang penghargaan yang biasanya berjumlah 3 orang dengan hadiah @Rp3.000.000, maka kali ini kami memilih 4 pemenang penghargaan dengan hadiah @Rp5.000.000.

 

Untuk Sayembara Cerber femina selanjutnya, jumlah pemenang dan nominal hadiah akan dikembalikan lagi ke kondisi semula.

 

PENILAIAN UNTUK LOMBA MELIPUTI:

  Isi cerita (daya tarik dan kebaruan tema)

• Cara bertutur (lancar dan memikat)

• Logika dan jalan cerita

• Perwatakan dan pengembangannya dalam konflik cerita

• Bahasa (tertata baik dan enak dibaca)

 

DEWAN JURI:

• Marlini Hasan Pontoh (femina): Ketua

• Ayu Utami (penulis): Anggota

• Veronica Wahyuningkintarsih (femina): Anggota

• Tina Savitri (femina): Anggota

• Terry E.S. Endropoetro (femina): Anggota

 

PEMENANG I - Rp12.000.000

WAHYU SAYEKTI KINASIH, YOGYAKARTA

TANGGUL KALI BEDOG

 

PEMENANG II - Rp9.000.000

SOFIE DEWAYANI, ILLIONIS, AMERIKA SERIKAT

RAHASIA RAHASIA

 

PEMENANG III - Rp7.000.000

SULAIMAN TRIPA, BANDA ACEH

AKHIRNYA SENJA

 

4 PEMENANG PENGHARGAAN  - @ Rp5.000.000

• TAUFIQ SAPTOTO ROHADI, SUMEDANG

MAD MAN SHOW

 

• ASTRID PRIHATINI WD, SOLO

PERHENTIAN TERAKHIR

 

• LISA ANDRIYANA, JAKARTA

DARI TEPIAN SUNGAI MUSI

 

• ELVI FIANITA, TANGERANG

APHRODITE

 

Keputusan dewan juri Sayembara Cerber femina 2006 ini bersifat mengikat, tidak dapat diganggu gugat, dan tidak diadakan surat-menyurat.

 


Juara I

Anton Widyanto, staf pengajar Fakultas Tarbiyah IAIN Ar Raniry: “Quo Vadis Formalisasi Syariat Islam di Aceh (Konflik Ideologis antara Neo Tradisionalisme, Neo Revivalisme dan Neo Modernisme),” Nilai 86,2.

 

Juara II

T Mukhlis, Pengajar Inshafuddin, Banda Aceh: “Lembaga Adat Gampong Sebagai Pengendali Sosial Masyarakat Terhadap Pelaksanaan Syariat Islam di Aceh,” Nilai 81,5.

 

Juara III

Sulaiman Tripa, Staf Pengajar Fakultas Hukum Unsyiah: “Apresiasi Masyarakat dalam Pelaksanan Syariat Islam di Aceh,” nilai 81,2.

 

Harapan I

Abidin Nurdin M.Th.I, IAIN Ar-Rrniry, Banda Aceh, “Revitalisasi Lembaga Adat dalam Penerapan Syariat Islam di Aceh” nilai 81.

 

Harapan II

Muhammad Adnan Hasan Lc, IAIN Ar-Raniry, “Kekecewaan Masyarakat dalam Mengimplementasikan Syariat Islam di Aceh” nilai 77,7.

 

Harapan III

Agustin Hanapi, Apresiasi Masyarakat terhadap Pelaksanaan Syariat Islam di Aceh” nilai 77,5.


Blog EntryCerber AKHIRNYA SENJAJul 13, '07 12:06 AM
for everyone
Ada beberapa teman yang minta dikirimin cerberku yang di femina, "Akhirnya Senja". Ini dia, silahkan diklik sendiri:

Bagian I:
http://www.femina- online.com/ cerber/cerber_ detail.asp? id=540&views= 2895
Bagian II:
http://www.femina- online.com/ cerber/cerber_ detail.asp? id=541&views= 2782

Blog EntryBedah Karya di FLPMay 31, '07 2:45 AM
for everyone
Menulis harus jelas siapa  kepada siapa tulisan tersebut ditujukan, begitu yang selalu saya dengar ketika sudah menyelesaikan sebuah tulisan, dalam bentuk apapun. Ketika sudah tepat sasaran maka mungkin pesan-pesan yang diusung seorang penulis dalam tulisannya akan tersampaikan kepada siapa yang penulis ingin sampaikan. Hal itu juga yang sangat kita tekankan bersama saat diadakan diskusi bedah karya bulanan Forum Lingkar Pena, Minggu, 27 Mei 2007.
Kali ini karya yang dibedah adalah cerpen Arniati yang berjudul Baba.  Sebuah judul yang diangkat dari nama dari sang tokoh utama. Cerpen yag berkisah tentang seorag anak yang bernama Baba yang berasal dari keluarga yang kurang mampu. tema yang diangkat adalah tema yang sudah sangat sering kita dengar yaitu tentang sunatan masal. Cerita yang ditekankan oleh penulisnya dalam cerpen ini adalah tentang "keresahan" seorang Baba yang belum melunasi pembayaran uang untuk sunatan masal di sekolahnya yang diperuntukkan khusus untuk anak-anak kelas enam yang belum disunat termasuk Baba. Ketika akhirnya sang Ibu tak juga menunjukkan tanda-tanda akan memberi uang sisa pembayaran, Baba pun berniat untuk mengambil uang dalam tabungannya.
Sementara tema yang diangkat, sunat masal, tentu sudah cukup sering mendengarnya. Seperti yang saya tulis di atas, inti penekanan pada cerita ini adalah tentang biaya sunat masal yang harus ditanggung keluarga. Meski jumlahnya hanya separoh, saya menangkap kesan bahwa jumlah yang separoh itu tetaplah jumlah yang teramat besar bagi keluarga Baba. Yang menjadi pertanyaan kemudian: apakah sunat massal membutuhkan biaya sedemikian besarnya sehingga seorang Baba kemudian menjadi anak yang tidak percaya diri di sekolahnya. Setahu saya, yang namanya sunat masal, nikah masal, atau apapun yang massal-massal, tidak pernah dipungut biaya apapun. Ini menyangkut soal logika cerita. Ketika berbicara dari "ranah" yang satu ini, penulis harusnya lebih banyak melakukan "riset" tentang hal apa saja yang ingin ditulisnya sehingga persoalan yang diangkat penulis tidak terkesan hanya tempelan saja  atau "pengada-adaan" dari penulis. Harusnya penulis lebih berhati-hati terhadap hal ini.
Konfliknya juga terasa masih kurang "menggigit". Cerita terasa sangat datar bahkan cenderung membosankan. Cerita berakhir bahagia dengan kejutan dari sang Ibu. Pihak sekolah tiba-tiba saja membebaskan kewajiban pembayaran uang sunat massal yang separuhnya lagi. Sebuah ending yang terasa sangat mudah sekali atau "mungkin" dimudah-mudahkan. Kenapa tiba-tiba saja ada pembebasan pembayaran uang sunat masal? Harusnya penulis jangan mudah terjebak untuk segera menyelesaikan ending yang seperti ini. Barangkali inilah "penyakit" penulis pemula: ingin menyelesaikan cerita setuntas-tuntasnya dan sebahagia-bahagianya. Padahal sudah cukup sering kita dengar: ending bukanlah  penyelesaian sebuah cerita.
Kembali lagi ke persoalan siapa sebenarnya pembaca kita? Atau kepada siapa tulisan itu kita tujukan? Apakah cerpen yang berjudul Baba ini termasuk cerita anak atau bukan, sepertinya penulis masih kabur dalam menentukan siapa pembacanya. Dari segi bahasa, tentu tak cocok disebut cerita anak karena penggunaan bahasa yang  terlalu "berat" untuk dicerna oleh pembaca anak-anak. Lalu ada beberapa kalimat yang terasa sangat panjang dan melelahkan untuk dibaca bahkan oleh pembaca dewasa sekalipun.
Saya yakin, dengan kegigihan seorang Arniati yang saya tahu tak pernah lelah untuk terus belajar, cerpen ini akan menjadi lebih baik ke depan. Mudah-mudahan tulisan singkat ini bisa menjadi pembelajaran untuk kita semua. Wallahu 'alam.

Blog EntryMenulis BukuMay 31, '07 2:40 AM
for everyone

Lapena Tetapkan Enam Santri Aceh Menulis Buku
Ahad, 27 Mei 2007 08:06

Banda Aceh, NU Online
Lembaga penulis Aceh, Lapena, menetapkan enam dari 97 santri di seluruh Provinsi Aceh yang berhak mengikuti program pembinanaan dan penulisan buku tentang keagamaan.

Koordinator program pembinaan dan penulisan buku bagi santri dayah terpadu, Sulaiman Tripa, di Banda Aceh, Sabtu, mengatakan, sebelum menulis buku, keenam santri, yang terdiri dari tiga laki-laki dan tiga perempuan itu akan mengikuti workshop selama lima bulan.

Keenam santri tersebut adalah Zahrul Bawady (Dayah terpadu Bustanul Ulum Kota Langsa), Adhia Rizki Ananda (Dayah Jeumala Amal Lueng Putu), M. Maimun AR (Dayah Babun Najah, Ulee Kareng), Erlindawati, (Dayah Al-Muslimun Lhoksukon), Uun Auliaus Sakinah dan Raudhatul Jannah, keduanya dari Dayah Ruhul Islam Anak Bangsa Aceh Besar.

Ia menjelaskan, workshop itu sendiri akan melibatkan empat pakar yang sebelumnya terlibat dalam evaluasi. Materi-materi yang akan dipertajam antara lain penggunaan bahasa yang benar, pengorganisasian gagasan serta substansi dan pendalaman materi.

"Bagi peserta yang terpilih kita wajibkan mengikuti sejumlah agenda selama lima  bulan. Kepada mereka juga diberikan sejumlah fasiltas, seperti uang transport, honorarium selama tiga bulan, dan sebagainya. Mereka juga akan kita hadirkan saat peluncuran buku nanti," tutur Sulaiman.

Berbeda dengan dayah salafi (pesantren tradisional), minat menulis santri dari dayah terpadu dinilai cukup tinggi. Ini menjadi potensi tersendiri dalam pengembangan masa depan pendidikan Aceh.

Kegiatan itu sendiri merupakan hasil kerja sama dengan Satker bidang Agama BRR Aceh-Nias.

Pada tahun lalu, kata Sulaiman, Lapena telah melakukan kegiatan serupa, tapi terfokus pada santriwati dayah salafi. "Kegiatan tahun lalu itu telah menghasilkan sebuah buku yang ditulis enam  santriwati dayah salafi. Tahun ini kita coba garap penulisan buku dari santri dayah terpadu. Ternyata minatnya cukup tinggi," lanjut Sulaiman.

Ia menjelaskan, pihaknya menerima sebanyak 97 naskah yang dikirim santri dari 18 dayah terpadu se-Aceh.

Tahun lalu hanya menerima enam naskah. Pada tahun ini menerima sebanyak 97 naskah, sehingga perlu membentuk sebuah tim penilai khusus yang terdiri dari Dr. Mohd. Harun Al-Rasyid, Dr. Nurjannah Ismail, Tgk. Abdul Jabbar dan Fuad Mardhatillah.  

Setelah melakukan evaluasi selama dua minggu tim evaluasi tersebut menetapkan enam calon penulis tetap. "Enam orang inilah yang kita bina untuk melahirkan sebuah buku keagamaan pada tahun ini," ujar Sulaiman yang telah melahirkan sejumlah buku. (ant/sam)

http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=9307


Blog EntryTegangan Diri dan Nilai SejagadApr 21, '07 5:06 AM
for everyone

PEMBACAAN SEKILAS  ANTOLOGI NYANYIAN MANUSIA

KARYA MOHD. HARUN AL- RASYID

 

 


TEGANGAN DIRI DAN NILAI SEJAGAT

Oleh Wildan Abdullah

 

Prolog

 

            Tak banyak hal dapat saya ungkapkan saat ini. Di sela- sela kesibukan sebagai pelajar di Negeri seberang, saya disuguhi tugas oleh Lapena untuk membaca puisi- puisi Mohd. Harun al- Rasyid (selanjutnya Harun).

            Ada 82 judul puisi dalam antologi ini, yang dapat dipilah atas tiga periode persepuluh tahunan seperti terlihat dalam Tabel berikut.[1]

 

 

Periode

Tahun

Jumlah Puisi

80- an (41 Puisi)

1987

1988

1989

2

23

16

90- an (Puisi)

1990

1991

1992

1993

1994

1995

1996

1998

1999

9

4

2

1

1

2

2

2

4

2000- an (14 Puisi)

2001

2004

2005

7

2

5

Total

 

82

 

            Berdasarkan data dokumentasi yang saya miliki, keseluruhan puisi tersebut pernah terbit dengan judul Lagu Pilu Orang Kuyu­­[2] setahun lalu, selebihnya, beberapa puisi dalam antologi ini juga pernah dimuat dalam antologi bersama, seperti dalam antologi Seulawah[3]. (Kupanggil Namamu, Muhammad” dan “Laporan Kegalauan”), dalam antologi Putroe Phang[4] (Nyanyian Orang Utan”, Tanaah dan Air sedang berduka”. “ Kita Asyik Bicarakan Perdamaian”, dan “Anak- anak yang Mulutnya Terkatup Bermohon kepada Ayaah dan Ibunya”), dalam antologi Keranda- keranda[5] (Nyanyian dari Kerajaan Semut”, Lagu Pilu Orang Kuyu”, dan “Anak- anak yang Mulutnya Terkatup Bermohon kepada Ayah dan Ibunya”), dalam antologi Ziarah Ombak[6] (“Kenangan dalam keikhlasan” dan “Aku Bertanya                 pada-Mu”).

 

 

Gengre dominant : Puisi Lirik

            Sebagian besar puisi Harun adalah puisi lirik. Hal ini ditandai oleh kehadiran pesona pertama aku atau kami atau lainnya, yang dalam tradisi bersastra sering disebut dengan “si aku lirik”. Harun belum terbiasa dengan gengre puisi naratif, atau dialogis. Ada memang beberapa yang mengarah pada naratif[7], tapi tetap dalam kerangka lirik. Sebagai catatan kecil, Harun bisa berhasil dengan gengre naratif, simak saja puisi “Balada Anak Kecil” atau puisi “Kisah Pemburu Dosa”.

            Puisi lirik sering diasumsikan sebagai refleksi diri penyair. Ini keliru. Sumber inspirasi boleh jadi diri, tetapi manakala karya itu dihidang kepada pembaca, pengalaman diri tadi boleh berpindah menjadi milik pembaca. Nilai universal mesti berlaku pada setiap karya sastra.

            Tetapi, dalam kumpulan ini tetap dapat disimak sejumlah puisi yang benar- benar mempribadi penyairnya. Diantaranya adalah dua puisi yang digubah pada 1998 dan khusus dipersembahkan kepada dua adik kandungnya, yaitu puisi “Sajak Kehidupan II” dan “Sajak Kehidupan IV. Dalam puisi pertama, yang ditujukan kepada Amri al- Rasyid Harun antara lain berujar, //Kepada siapapun diceritakan /kita tetap anak petani/...../kenanglah/syair kecil diantara merdu suling/doakan jagung cepat bersutera/ dan kita berlari sambil bercanda//. Rupanya semacam kenangan masa kecil manakala Harun masih di Laweung atau entah dimana. Ini yang disebut semacam kerinduan arkepal. Dalam puisi kedua, yang ditujukan kepada Ridwan al- Rasyid, Harun masih juga menyanyikan lagu desa, lagu anak petani…./….dimulut samudera/melarutkan diri jadi garam/ yang disari petani renta//. Pengalaman personal dalam kedua puisi ini agak sedikit hambar sehingga memungkinkan menjadi milik kita.

            Nada yang senada dijumpai dalam puisi “Lagu Cinta dari Tanah Gayo” (1991), yang dipersembahkan “Kepada nour zainura’[8]. Puisi ini berisi rasa cinta Harun kepada Nora :

            Di teduh Laaut Tawar

            Kulayari cinta padamu

            Lihatlah depik menari

            Menembang syair masa depan     

            ………………….

Begitu dalam cinta Harun. Ia melambangkan Nora sebagai bunga pujaan : mawarku, mawar dari pesisir/dikau pun dapat tumbuh disini. Harun bercita- cita agar bersedia hidup dimana saja bersama Nora, termasuk didataran tinggi tanah Gayo. Imajinya mengembang dan berujar lagi,

Simak lagi depik bersyair

Dan benih cinta pun akan subur

Dalam sejuta rindu[9]

……………………

 

            Ada puisi yang ditulis 16 hari sebelum tsunami : Nostalgia di Ruang Sempit”. Puisi ini khusus ditulis “bagi Nora, inong dan agam”. Dua yang akhir adalah buah cinta Harun bersama Nora, yaitu Inong Nabila Harza dan Agam Muyassar Harza. Keduanya turut pergi bersama ibunya pada pagi tsunami itu. Mereka kini sedang menanti kepulangan ayahnya di pintu surga. Harun pun memfirasati hal itu dalam bahasa falsafah cintanya.

Semakin mendalam saja harum itu

Mengelopak dalam lingkar kelopaknya

Mengembang dalm gerimis kasih

 

            Itulah buah dari ke-harum-an mawar dari pesisir tadi, yang dapat tumbuh dan berkembang dimana- mana, termasuk di kawasan perumahan Cot Paya. Dalam keniscayaannya sebagai manusia, Harun menyatakan sikap :

Aku ingin mengintai dan bersandar

Pada harum itu

Yang semakiin harum

Dalam kuntum

           

Sebagaimana puisi lirik pada umumnya, puisi personal Harun ini tidak luput dari pengutamaan perasaan dan permainan rima. Berbagai imaji visual, dengaran, atau kinektik beradu dalam satu suasana syahdu, dan membawa angan pembaca kepada pengenalan diri Harun yang sebenarnya.

Semakin mendalam saja kenang

Pada gelombang sayan

Yang kian menarikan irama buih

Memutih

Aku ingin larut dalam gelombang itu

Membenamkan harum

Mendendangkan kasih

 

            Atas kepergian keluarganya, Harun tidak berhenti sampai disitu. Selama 42 hari (Pidie, 31 Januari- Jakarta, 13 Maret 2005) Harun merangkai kata menjadi “Kenangan dalam Keikhlasan”, puisi yang digubah khusus bagi anak perempuannya, Inong Nabila Harza, sangat personal, memang sehingga tersusun untai :

                       

Tiga tahun lalu

                        Ayah tinggalkan engkau, sayang

                        Dalam kabut bandara Sulatan Iskandar Muda

                        …………………………

 

Ya, tiga tahun sebelum 2005 Harun pergi meninggalkan keluarga karena…./Ayah pergi merenangi samudera Ilmu/ …….di Universitas Negeri Malang. Tentu saja Inong Nabila harus…..tinggal dalam ketulusan hati sang ibu. Harun bicara lagi secara ekplisit :

 

Tiga tahun lalu

Ayah tinggalkan engkau menjelang ulang tahun ketiga

Kasihku bertaburan antara Banda Aceh- Malang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tapi. Apa hendak dikata jika

             

                        Sekarang Ayah tinggal sendiri[10]

                        Menghitung senyummu yang selalu mengembang

                        Menghitung hobimu untuk berenang

                        Mengenang bibirmu mengeja firman Tuhan

 

Sungguh sangat biografis puisi ini. Betapa puisi ini sulit untuk lekang dari diri penyairnya dan sukar menjadi milik semua. Ada asumsi dalam dunia sastra bahwa semakin universal karya itu maka semakin mungkin bernilai “tambah” karena mampu melampaui jarak masa dan jarak territorial. Namun, kemampuan memberi apresiasilah yang lebih menentukan kadar mutu setiap karya yang ada. Yang amat mendidik adalah gaya Harun menutup puisi ini :

 

                        Andai engkau masih menikmat udara bumi

                        Segera kembali

                        Karena senyummu abadi di hati

                        Namun, jika engkau telah pergi berkelana di taman Tuhan

                        Ayah ucapkan selamat jalan ananda tersayang

                        Jangan lagi berpaling ke belakang

                        Karena Ayah telah ikhlaskan

 

Dalam kondisi kehilangan istri dan dua anaknya, Harun mampu berucap seperti itu, seketika pula saya teringat dengan tulisan berikut ini :

            “Dan diantara kenikmatan terbesar adalah kegembiraan, ketentraman, dan ketenangan hati. Sebab, dalam kegembiraan hati itu terdapat keteguhan pikir, produktivitas yang bagus, dan keriangan jiwa…..Adapun modal utama untuk meraih kebahagiaan adalah kekuatan atau kemampuan diri untuk menanggung beban kehidupan, tidak mudah goyah oleh goncangan- goncangan, tidak gentar oleh peristiwa- peristiwa,….[11]

            Gambaran kenikmatan hidup seperti tersebut diatas sepenuhnya dapat ditelusuri dalam kehidupan pribadi sang penyair Mohd. Harun al-Rasyid. Karya puisi yang terhimpun di dalam Nyanyian Manusia pun sebagian besar bekehendak mengajarkan manusia meneladani hidup yang demikian. Hidup yang nikmat, yaitu hidup yang gembira, hidup yang tentram, dan hidup yang berketenangan hati.

            Fenomena keseharian yang menunjukkan adanya hubungan antara makhluk dan hubungan dengan-Nya dalam kehidupan, dijalin secara estetis oleh Harun dalam sebagian besar puisinya. Sebagai contoh ditunjukkan puisi “Nyanyian Manusia”, yang diawali dengan bait yang bernuansa hubungan vertikal.

 

                        Oh yang Maha agung

                        Ajari aku menghitung bintang

                        Dan seluruh rahasianya

                        Turunkan dia dalam sajadah

                        Biar sujudku bertambah- tambah

 

Tetapi, tiba- tiba masuk citra kemanusiaan (hubungna horizontal)

 

                        Tiupkan aku ruh kesadaran

                        Agar setiap deru nafas piatu

                        Menyetakkan dinding cintaku

 

Begitulah cara Harun mendakwah kita. Puisinya personal. Ia masih ada. Ia hidup. Dan baginya, “HIDUP adalah ….teka-teki”,[12] yang jawabnya antara lain ada dalam puisi.

            Disamping suka memotret diri, Harun juga gemar merekam perihal ranah negeri Aceh ini, yang juga masih merupakan bagian dari diri. Harun lahir di Laweung. Asli Pidie. Aceh sejati. Hal ini tampak dalam jiwa puisi- puisinya yang membumi. Bagi Harun, di tahun- tahun berlalu, Aceh Negeri yang diujung pulau, tanah yang dirajam cintanya. Di sanalah

 

                        Ribuan gallon darah membeku

                        Di sungai- sungai kemunafikan

                        Di ladang- ladang keangkamurkaan

                        Di jalan- jalan penuh perjanjian hawa nafsu

                        Di rumah- rumah damai tanpa moral

                        Di nurani kemanusiaan yang gamang.

                        (“Nyanyian Anak Pengungsi”)

 

Bukanlah hal yang naïf jika ia mengeluh, ibu. Lihat itu mata bulan/terluka/bumi penuh air mata. Kenapa ? Karena ……senjata- senjata gatal mulutnya/menyalak dimana- mana/menggigit angin/…sisa- sisa sepi/….(“Nyanyian Anak Bumi).

            Didalam puisi “Nyanyian dari Kerajaan Semut” tidak ditemukan sepatah katapun yang menjadi identitas Aceh. Tetapi, manakala bait berikut dibaca, tidaklah keliru jika imaji kita memastikan keterkaitan suasananya dengan Nanggroe kita.

           

                        Bila kami tersesat tanpa visa

                        Ke negeri saudara- saudara

                        Karena asyik berlayar dalam impian surgawi

                        Atau menuruti angin kemenangan

                        Jangan lempari kami ke laut

                        Karena di laut kami tak bisa bersarang

                        Jangan lempari kami ke api

                        Karena api berpangkal kematian

                        Berikan saja kami sebatang pohon kehidupan

 

Harapan tersembunyi semestinya kita tangkap secara jernih. Karena Harun sendiri masih melanjutkan, //O,, kami yang hidup di sarang- sarang/kehidupan sah milik kami/ dibawah langit kemerdekaan/ di rentang zaman silih berganti/…

            Dalam puisi “Banda Aceh” (1889) Harun menguntai kegelisahan jiwanya dalam nada prihatin seperti berikut :

 

                        Banda Aceh kotaku, kota cinta

                        Kota bunga pernah tersingkir

                        Kala kelelawar enggan mengawini putik durian

                        Dan kenanga ditebang gorilla

                        Hingga gadis- gadis kehilangan harum rambutnya.

 

            Seperti Harun hendak merangkum banyak hal dalam puisi ini. Ia turut mencatat air Krueng Aceh yang mengalir merah, senyum Baiturrahman, kherkhof mengalir merah, senyum Baiturrahman, Kherkhof  yang menyimpan kerangka (Belanda), gunongan tempat para bangsawan, cakrodonya dan Pinto khop-nya, Kuta Darudunia, serta Krueng Daroy. Di sini juga ia menyebut sejumlah tokoh seperti Sultan Iskandar Muda yang menatap heran pada gajah putih, Putri Sendi yang kembali ke Pidie membelah Seulawah dalam senyum sesalnya. Semuanya tampak gelisah dan memprihatinkan. Dan Harum dengan pintar melanjutkan,

 

                        Banda Aceh kotaku, kota Syuhada

                        Luka- luka memanggilku, juga kekasihmu

                        Jika ada wangi darah

                        Jangan risau pada sejarah

 

            Masih dalam tahun 1989 itu juga, Harun menulis dengan sinis keadaan kawasan yang kerap dilaluinya, Lamnyong.

 

                        Ahai Lamnyong kekasihku

                        Bersabarlah bila engkau sedang dibedaki

                        ……………..

                        Lamnyong gadisku

                        Kutemukan engkau dalam banyak catatan lelaki.    

                        Kini orang- orang seberang laut telah kuundang

                        Membangun kolam renang dan taman untukmu

                        ………………

                        Lihatlah kapal- kapal berlabuh diteluk

                        Sekali lagi, lupakan harga tanah kita

                        ………......

                                    (“Melintas Lamnyong”)

 

            Demikianlah cara Harun bicara tentang dirinya, juga tentang Negerinya, yang selalu berada dalam tegangan antara realita dan pembayangan. Satu hal yang pasti, ia telah bicara. Menulis untuk kita. Untuk semua.

 

Epilog

            Antologi  ini tidak memberikan gaya atau model kehidupan yang menyeluruh bagi kita. Tetapi, melalui Nyanyian Manusia ini, Harun al-Rasyid akan penglihatan hati, pendengaran hati, perabaan hati, dan perasa hati kita, serta pencecapan hati semua, tentang beragam corak perilaku anak manusia.

            Lebih dari itu semua, di dunia kampus, setelah A. Hasjmy baru kini lahir yang agak mapan : sastrawan puisi kita, Mohd Harum al- Rasyid. Sebelumnya pernah ada yang coba- coba, seumpama Ibrahim Hasan, Nurdin Abdurrahman (alm), Nur Gani Asyik (alm), T.A Sakti, atau A. Rahman Kaoy. Kita, akademikus, harus bangga pada mereka. Sastrawan yang berkarya atas dasar naluri dan nurani. Ya, naluri mereka tajam, dan nurani mereka beriman. Sedikit sekali yang bisa. Di sini, di Kopelma ini, banyak professor atau doctor, tapi sedikit sekali karya tulis, dan sangat langka akan karya sastra. Lebih sedikit lagi yang mau membacanya. Saya tutup catatan ini dengan ajakan “ mari gauli karya Bangsa sendiri !.

 



[1] Ada keinginan mengkaji kecenderungan tema per periode dimaksud. Mungkin ada pertemuan lanjutan untuk membahasnya.

 

[2]  Diterbitkan oleh Lapena pada Juli 2005. tidak ditemukan keterangan apapun perihal pernah terbit dengan judul berbeda, urutan yang serupa, oleh penerbit yang sama. Sebuah kekeliruan dari segi etika penerbitan dan tuntutan akademiknya. Tiga judul terakhir dari Lagu Pilu Orang Kuyu tidak disertakan dalam kumpulan Nyanyian Manusia. Untuk mengukuhkan daya kreativitas yang mapan, semestinya dalam penerbitan ulang ini disertakaan puisi- pusi tahun 2006.

 

[3] Judul Lengkapnya adalah Seulawah :antologi Sastra Aceh Sekilas pintas, editor L.K. Ara, Taufik Ismail dan Hasyim K.S. diterbitkan pada 1995 (?).

 

[4] Diterbitkan pada 2002 oleh Dewan Kesenian Aceh (Editor Ridwan Amran dkk)

[5] Diterbitkan oleh Dewan Kesenian Aceh bekerjasama dengan Elsaam dan Koalisi NGO HAM pada tahun 2000 (Editor C. Harun al- Rasyid dkk ; nama lain Mohd. Harun al- Rasyid)

[6] Diterbitkaan oleh Lapena pada tahun 2005 (Editor D. Kemalawati dan Sulaiman Tripa)

[7] Lihat misalnya puisi “Kisaah Pemburu Dosa”, “Dara Dusun di Dermaga ketika Senja Turun”, Pensiunan Yang Jadi Petani Rentaa kepada Anaknya”, atau “Catatan Buruan Seorang Penyair”.

[8] Nour Zainura alias Nora adalah isteri pertama Harun, yang turut meninggal manakala terjadi petaka tsunami 26 Desember 2004. mari panjatkan doa kepadanya : alfatihah !

[9] Saya tidak tahun apakah dalam dua atau tiga malam berlalu sudah maujud syair- syair cinta manusia setengah baya darinya. Semoga!

[10] Semestinya mereka tahun bahwa Ayah tidak sendiri lagi. Kini

[11] Dipetik dari La Tahzanjangan Bersedih” Karya Dr. ‘Aidh al-Qarni (2005 : 68)

[12] Baca kalimat pertama ucapan pengantar antologi Nyanyian Manusia.


Blog EntrySastra dan Identitas AcehApr 21, '07 5:01 AM
for everyone

BISAKAH SASTRA MENJADI PENUNJUK IDENTITAS ACEH?

> > > Sulaiman Tripa (Penulis)

[Makalah ini, sebagai pemantik diskusi dwimingguan Forum Lingkar Pena (FLP) Aceh, Beurabong, 22 April 2007).

 

TERUTAMA, saya harus menjelaskan bahwa bahasan ini terjadi hanya proses “pembacaan”, bukan hadir dari proses “ajaran”. Hal ini penting diingatkan, agar kita tidak hanya terpaku dengan apa yang saya sampaikan, tapi senantiasa berusaha mendapatkan berbagai bahasa